Halo Arvin!

Halo Arvin!
Hati Yang Goyah


__ADS_3

Nara pulang ke penthouse cukup malam. Saat masuk kesana dia melirik jam ditangan yang menunjukkan pukul 22.30. Biasanya Arvin akan sibuk meneleponnya saat dia sudah pulang tapi Nara tak berada disana. Kali ini tidak ada panggilan apapun yang masuk ke ponselnya. Mungkin akhirnya Arvin juga sudah tidak peduli dengannya. Kemudian memilih Keysa yang memenuhi cinta dan kebutuhannya.


Nara tidak peduli.


Bohong.


Hatinya tidak nyaman dan kecewa saat Arvin tidak menghubunginya. Apalagi ketika teringat Keysa, dan perhatian Arvin padanya. Membuat hatinya tiba-tiba terasa sakit.


Mungkin Arvin maupun Reza bukanlah orang yang tepat untuk Nara. Rasanya dia tidak menerima cinta yang sangat dibutuhkannya sekarang. Keduanya menghilang direbut keadaan dan perempuan lain.


Nara juga tak mau mengenal Arvin lebih jauh agar mengerti, karena saat itu pula dia akan bersinpati. Beresiko sekali saat hatinya mulai menaruh simpati pada Arvin, dia akan dengan mudah jatuh pada perasaannya sendiri. Nara sudah memutuskan untuk mengakhirinya saja. Terus berbohong tentang perasaan sebenarnya.


“Darimana? Kenapa jam segini baru pulang?”


Arvin duduk di salah satu sofa ruang tengah. Menatap Nara dengan wajah tak senang. Kemeja kerjanya terlihat kusut dan rambutnya juga acak-acakan. Hingga jam segini Arvin masih mengenakan baju yang sama seperti tadi pagi saat berangkat bekerja. Mungkin dia juga baru sampai.


“Ketemu mantan. Sama kayak lo.” Jawab Nara kemudian duduk di sofa. Saling berhadapan dengan Arvin.


“Kamu mau balas dendam, gitu?” Ucap Arvin kesal.


“Gue terlalu terhormat buat balas dendam dengan selingkuh kayak yang lo lakuin.” Nara mengambil undangan dari Reza dan menyimpannya pada meja di depannya. “Gue baru aja ngelepasin masa lalu dengan lapang dada.” Kata Nara tersenyum pahit.


Arvin memandang dari jauh undangan yang diletakkan Nara di meja. Rupanya mantan tunangan Nara sudah memilih perempuan lain untuk dinikahi. Arvin lega, dia tidak akan mengusik Nara. Ya, walaupun selama ini laki-laki itu tidak pernah mengusik apapun.


Mereka terdiam cukup lama. Tenggelam dalam pikiran masing-masing dan memilih apa yang harus dikatakan untuk satu sama lain.


“Gue pingin nanya sama lo sesuatu, Vin. Lo harus jawab jujur.” Ucap Nara memecah hening. “Sebenernya gimana perasaan lo sama Keysa?” Lanjutnya memberanikan hati untuk bertanya.


“Aku masih punya perasaan sama Keysa.”


Nara tahu. Sangat tahu.


Tapi kenapa mendengarkan kalimat itu terucap langsung dari bibir Arvin membuatnya lebih terluka? Apakah benar Nara sudah sejatuh hati ini dengan Arvin? Tangannya gemetar dan air matanya ingin turun berlarian dari tempatnya. Sekuat tenaga Nara tetap mencoba tenang.


“Terus sama gue apa? Kenapa ngejar-ngejar gue dan terus ngeyakinin gue biar hidup bareng lo? Karena ngerasa bersalah dan gak sanggup bunuh bayi dalam perut gue?”


“Aku sayang sama kamu. Bukan cuma soal tanggung jawab ataupun rasa bersalah. Aku sayang kamu dan semua yang aku lakukan bukan pura-pura.”


“Terus mau lo apa, Vin? Lo gak bisa ngasih harapan sama gue dan Keysa sekaligus. Lo harus milih salah satu.”


Arvin mengangguk. Dia sudah memilih. Mungkin akan menyakiti hati seseorang. Dia sudah siap dengan resikonya.


“Kalau gitu jangan pilih gue, Vin. Lepasin gue. Sebelum gue punya perasaan terlalu jauh sama lo. Jangan khawatir soal anak. Gue bakal ngurus dia sendiri. Gue gak mungkin bunuh anak kita.” Nara mencoba menguatkan hatinya mengatakan ini. Air matanya akhirnya meluruh juga.


Reza bilang dia akan menemukan cinta yang dia butuhkan. Arvin juga buktinya tidak bisa memberikan itu padanya. Merasa diperjuangkan dan dicintai satu-satunya. Nara tidak mau banyak berharap akan menerima cinta dari orang yang mengatakan masih memiliki perasaan pada mantannya.


“Nggak. Aku pilih kamu. Tolong kasih aku kesempatan buat buktiin sama kamu lagi kalau aku beneran sayang sama kamu.”


“Kenapa mempersulit diri sendiri sih, Vin? Lo masih sayang sama Keysa, dan gue yakin dia juga masih sayang sama lo.”


“Terus kamu sendiri gimana? Perasaan kamu sendiri gimana sama aku, Ra?”

__ADS_1


“Gue gak sedalam itu suka sama lo. Berpisah sama lo gak akan bikin gue sehancur pas putus sama Reza.”


Bohong. Nara merasa hancur juga sekarang.


“Gue pasti baik-baik aja tanpa lo. Jangan khawatir soal gue atau anak kita.”


Bohong. Nara tidak baik-baik saja.


“Tolong jangan maksa gue lagi biar sayang sama lo. Lo gak tulus ngelakuinnya. Jangan pilih gue.”


Bohong. Nara ingin diperjuangkan sekali lagi dan dipilih oleh Arvin.


Nara membenci dirinya sendiri karena kebohongan yang dia ucapkan, untuk melindunginya dari perasaan kecewa jika Arvin benar-benar memilih perempuan lain dan masih memiliki perasaan padanya. Semakin hari semakin takut menghadapi kenyataan bahwa Arvin akan kembali pada Keysa. Secepat dia pergi meninggalkannya malam itu. Tanpa kata-kata, berpamitan, ataupun izinnya.


Meskipun demikian, Nara juga tak sanggup untuk terus melanjutkan hubungannya dengan Arvin. Dia ingin dipilih, sekaligus ingin mengakhiri hubungan. Karena terlalu banyak rasa sakit yang dia hadapi sampai banyak hal terasa membingungkan.


Semua ketakutannya untuk jatuh hati pada Arvin ternyata memang beralasan. Perasaan asing yang selama ini Nara rasakan ternyata memang sebuah peringatan. Hati Arvin bukan untuk dirinya saja. Tapi milik orang lain juga. Intuisinya tidak salah.


Arvin berdiri dari sofa, berjalan ke arah Nara. Berlutut di depan dan menggenggam erat kedua tangannya. Dia mendongak menatap langsung mata Nara yang masih berlinang air mata.


“Dengerin aku, Ra. Selama ini aku gak pernah pura-pura sayang sama kamu. Aku serius waktu bilang gak akan ninggalin kamu, gak akan bikin kamu kekurangan, dan ngasih hati aku buat kamu.”


“Tapi lo sama Keysa—“


“Aku berhenti berhubungan sama dia mulai sekarang. Aku bakal milih kamu dan terus milih kamu. Bukan cuma karena kamu lagi hamil anakku. Tapi karena aku sayang sama kamu.”


“Gue gak percaya sama lo, Vin.”


“Gue gak mau. Gue takut, Vin. Please jangan maksa gue.” Ucap Nara masih terisak.


Arvin menyentuh tengkuk Nara, mengarahkannya membungkuk dan mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu. Basah dan hangat. Arvin menelusuri bibir Nara dengan lidahnya.


Lembut dan menenangkan. Nara membenci hatinya yang lemah dengan semua sentuhan Arvin. Setiap detik kecupannya membuat hati Nara gentar. Padahal Nara yakin tidak akan membiarkan Arvin menggoyahkannya. Setiap kali sentuhan itu datang, Nara semakin ingin diperjuangkan dan mencobanya kembali.


Ini tidak benar.


Hatinya bukan untuk dipermainkan oleh laki-laki yang punya perasaan pada perempuan lain.


Nara mendorong Arvin menjauh. Melepaskan bibir lembutnya.


“Arvin, aku gak bisa—“


Tanpa menunggu, Arvin mendaratkan kembali ciumannya. Tak memberi Nara kesempatan untuk beralasan. Arvin tahu Nara juga menginginkannya. Tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja. Semua ini masih bisa diperbaiki. Mereka bisa memulai kembali.


Nara mendorong kembali tubuh Arvin. Lelah dengan semua perasaan yang menghantam hatinya. Membuatnya sedih dan terus goyah.


“Please, jangan kayak gini, Vin—“


“Aku tau kamu sayang sama aku juga, Ra. Kasih aku kesempatan. Jangan bilang kamu mau pisah sama aku.”


“Aku gak bisa percaya sama kamu!” Ucap Nara histeris diantara tangisnya.

__ADS_1


“Kalau gitu percaya sama perasaan kamu sendiri! Tanya sama diri kamu, Ra. Kamu rela hubungan ini berakhir tanpa sempat nyoba buat jalanin ini dengan cara yang benar?”


“Ga ada yang benar! Kamu gak bisa ngasih hati kamu buat aku sepenuhnya. Kamu terus maksa aku buat jatuh hati sama kamu, tapi kamu sendiri gak bisa, Vin!”


“Aku bisa! Aku udah jatuh hati duluan sama kamu, Ra! Makanya kasih aku kesempatan buat buktiin sama kamu kalau semua hal dihidupku cuma buat kamu.”


“Terus gimana sama Keysa, Vin?”


“Aku udah akhiri hubungan aku sama dia. Gak akan kontak, bantuin, ataupun peduli lagi sama dia. Sama kayak kamu lepasin masa lalu kamu.”


Nara menggeleng. Dia takut memulai hubungan ini. Berdiri diatas keraguan dan ketidakpercayaan. Semuanya akan mudah berakhir dan hancur. Tapi Nara juga takut meninggalkan Arvin. Dia takut sendirian menghadapi dunia. Apalagi setelah selama ini Arvin terus melindunginya.


Arvin mengecup bibir Nara kembali. Mengulanginya hingga Nara semakin jatuh dan limbung akan perasaannya sendiri. Dia tidak akan berhenti. Melakukannya lagi dan lagi. Sampai Nara menyerah dan memberi kesempatan padanya.


“Arvin!” Bentak Nara menjauhkan Arvin lagi.


“Bilang kalau kamu sayang sama aku juga, Ra!”


Nara semakin terisak. Terpojok dengan semua kata-kata dan paksaan Arvin. Hatinya benar-benar goyah.


“Nggak.” Nara menggeleng dan terisak. Masih kukuh dengan kebohongannya. Padahal hatinya berontak dengan hebat.


Sudah dia katakan, tidak akan menyerah begitu saja. Arvin mendekatkan wajahnya kembali dan memagut bibir Nara. Menenggelamkan Nara pada sentuhannya. Arvin tidak ingin mendengar bualan dan sangkalan Nara lagi. Sudah waktunya mereka jujur dan memulai kembali hubungan ini.


“Aku benci sama kamu!” Ucap Nara saat Arvin melepaskannya.


Arvin menggeleng, “Nggak. Coba lagi.” Katanya tidak terima. Kemudian mendaratkan bibir lembutnya kembali pada Nara.


“Aku takut. Tolong berhenti!” Pinta Nara memohon. Dia semakin tak bisa menolak Arvin.


Arvin menggeleng lagi, “Kalau gitu jujur.”


Arvin melanjutkan kembali sentuhannya pada bibir Nara. Dia tidak mau semua usahanya sia-sia. Dia tidak mau perasaannya tak berbalas. Dia tidak mau kalau harus kehilangan Nara. Karena semua yang dia rasakan pada Keysa tak akan sebanding dengan yang dia rasakan pada Nara. Semua itu sudah usang dan berakhir. Cinta yang Arvin butuhkan hanya dari Nara saja.


“Iya. Aku sayang sama kamu, Vin. Tolong berhenti!” Ucap Nara akhirnya. Merasa kalah sekaligus lega. Dia menangkupkan kedua tangan diwajahnya. Menangis sejadinya.


Arvin memeluk Nara. Dia tahu semua itu. Namun mendengarnya langsung menguatkan hatinya. Memberikan harapan dan juga keyakinan baru. Arvin akan terus memilih Nara. Diatas semua perasaannya pada perempuan manapun di dunia ini.


Hari ini Arvin sudah memutuskan untuk memulai kembali hubungan mereka. Tanpa kebohongan.


“Aku tahu. Makanya jangan tinggalin aku. Kita udah saling melepaskan masa lalu, kita mulai hubungan ini dari awal, Ra. Tanpa orang lain selain kita berdua dan anak kita.” Bisik Arvin di telinga Nara.


“Tolong buka hati kamu buat aku.” Lanjutnya.


Nara tak menjawab dan masih terisak.


“Kasih kesempatan aku buat memperbaiki diri.”


Nara mengangguk. Dia menyerah. Semua ini melelahkan. Hatinya juga lelah terus berlari dan berbohong. Kali ini saja. Dia juga akan berjuang, seperti layaknya dia diperjuangkan. Memberi seperti layaknya dia menerima cinta dari Arvin. Dan mencoba memaafkan. Meskipun dia tidak tahu mengarah kemana semua maaf dan pengampunanya akan membawa hubungan mereka.


“Aku sayang kamu. Jangan takut lagi.”

__ADS_1


 


__ADS_2