Halo Arvin!

Halo Arvin!
Kangen


__ADS_3

Semua berjalan kembali seperti biasanya setelah kepergian Candra beberapa waktu lalu. Hal yang tidak biasa hanya Arvin yang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Kini Arvin lebih sering lembur. Hampir setiap hari.


Kegiatan kantornya tersebut menyita banyak waktu untuk bersama Nara di rumah. Jujur saja membuatnya menjadi kesepian. Arvin akan pulang lebih malam dalam keadaan lelah. Bahkan gombalan-gombalan mesumnya pun nyaris jarang didengar lagi.


Nara mengerti bahwa Arvin kelelahan, tapi dia tidak terlalu menyukainya. Meskipun tak pernah dia ucapkan langsung pada Arvin. Saat ini adalah salah satu waktu yang cukup sulit untuk Arvin, karena sekarang dia sudah menjadi penerus keluarga Aditama.


Belum lagi masalah penolakan oleh beberapa petinggi perusahaan, membuat masalahnya semakin sulit ditangani. Nara tidak ingin merengek meminta perhatian Arvin saat ini, meskipun dia ingin melakukannya setiap hari. Dia harus bisa mengerti dan mendukungnya saat ini.


Arvin pulang pukul 22.30, dengan rambut yang sudah acak-acakan tak karuan dan wajah yang lelah. Dia duduk disamping Nara yang berada di sofa, membaca bukunya.


“Kenapa belum tidur? Nungguin aku ya?” Tanya Arvin memeluk dan mengecup pipi Nara. Dia menyandarkan kepalanya dipundak Nara.


“Ngga, lagi baca buku aja. Soalnya gak bisa tidur.”


“Jangan tidur kemalaman, kata dokter kan harus banyak istirahat.” Arvin mengecup perut buncit Nara. “Pasti nih karena dedek yang bucin cowok novel, makanya mama gadang terus. Padahal yang keren tuh anak band kayak papa.” Lanjutnya menggoda.


“Kamu kalau kalau ada masalah dikantor bilang ya sama aku. Jangan dipendam sendiri.”


“Semuanya masih under control. Gak usah khawatirin aku, tenang aja. Makan yang banyak, istirahat, dan ga usah banyak pikiran. Semua masalah kantor bisa aku atasi sendiri.” Kata Arvin meyakinkan Nara.


Dia tahu istrinya itu sangat khawatir karena jam kerjanya semakin panjang dan selalu pulang kelelahan. Meskipun posisinya sekarang membuat Arvin sedikit kewalahan. Tak ada masalah yang cukup menyulitkannya.


Sejak dulu Arvin tidak pernah punya cita-cita menggantikan posisi ayahnya di perusahaan. Dia benci harus melakukan tugas seperti ini. Tapi dengan meninggalnya Candra, Arvin tidak punya pilihan lain.


“Beneran ya?”


Arvin mengengguk. Mengecup bibir Nara sekejap. Kemudian berdiri meregangkan badannya dan menuju kamar mandi. Namun tangan Nara menahannya agar Arvin duduk kembali.


“Boleh gak aku peluk kamu lebih lama? Jangan kemana-mana dulu.”


Arvin tersenyum dan duduk kembali, menggendong Nara dipangkuannya, kemudian memeluknya erat. Sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini. Arvin juga sangat merindukan waktu bersama Nara seperti biasanya. Meskipun ingin, saat ini dia tidak bisa.


“Maaf ya. Aku sibuk banget jadi gak bisa manjain kamu. Sebentar aja, aku masih adaptasi sama semua kerjaan ayah diperusahaan dan diluar perusahaan.”


“Gak apa-apa. Aku ngerti kok kamu lagi sibuk banget. Cuma aku lagi kangen aja sama kamu.” Nara menyandarkan kepalanya di dada Arvin. Dia benar-benar menyukai perasaan seperti ini lagi.


Arvin sedikit terperanjat dan tertawa kecil, “Kayaknya baru pertama kali kamu bilang kangen sama aku. Bilang lagi! Kalau kamu bilang kangen lagi, aku tambahin 10 menit pelukannya.”

__ADS_1


Nara mendongak ke wajah Arvin, “Kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen kangen.”


“Kalau sebanyak itu berarti aku peluknya sampai pagi.” Balas Arvin sambil tertawa. Tidak menyangka Nara bertingkah seperti itu.


“Iya. Aku mau dipeluk sampai pagi sama Pak Bos yang super sibuk.”


“Oke. Kalau gitu aku mandi dulu. Badanku bau keringat.”


“Gak mau! Sebentar lagi. Aku suka wangi kamu pas pulang kerja.”


“What?” Arvin terkekeh kembali mendengar jawaban sangat tak terduga dari Nara.


Sejak hamil muda Nara selalu menyukai wangi Arvin. Wangi saat dia selesai mandi yang terasa segar beraroma sabun. Wangi saat dia berangkat bekerja dengan koleksi parfumnya yang beragam. Wangi saat dia pulang bekerja, parfum yang tersisa dengan aroma khas milik Arvin, entah kenapa membuat Nara terobsesi.


“5 menit aja ya. Aku mau mandi, badanku udah lengket dan gatel, Oke? Habis itu aku nanti peluk kamu sampai pagi.”


Nara mengangguk patuh dan menggosokkan hidungnya di kemeja laki-laki itu. Terlihat sangat aneh memang. Tapi ini adalah kesenangannya sendiri.


Melihat hal tersebut membuat Arvin tertawa. Dia mengecup puncak kepala Nara dengan lembut. Entah sejak kapan, dunianya bisa semenyenangkan ini dengan kehadiran Nara.


[Anna : Ini Anna. Gue dapat nomor lo dari Adam. Please join group chat kita.]


Tiba-tiba pesan tersebut masuk ke ponsel Nara, beserta undangan masuk ke sebuah group chat. Nara ragu untuk membalas ataupun menanggapi undangan tersebut. Setelah kejadian di pernikahan anak Pak Akmal dulu, dia benar-benar tidak ingin berhubungan lagi dengan rekan kerjanya dulu.


Tapi Nara penasaran apa yang akan mereka lakukan. Setelah mereka dimarahi dan ditantang oleh Arvin seperti dulu, mereka tidak mungkin berbuat jahat, kan? Lagi pula ini hanya group chat. Jika mereka menulis hal tidak menyenangkan, Nara akan segera keluar dari sana. Akhirnya Nara memilih menerima undangan tersebut.


[Anna: Thanks udah mau gabung di gc ini, Ra. Kita semua mau minta maaf secara personal sama lo. Buat semua kata-kata jahat dan tuduhan kemarin sama lo.]


[Tiwi: Kita gak bermaksud kayak gitu. Kita baru tahu kalau kejadiannya gak kayak yang kita bayangin. Semua bukan salah lo doang. Bukan lo yang ngegoda Pak Arvin.]


[Dewi: Gue tahu, lo korban juga dikejadian ini. Maafin kita ya, Ra. Pokoknya kita bakal terus bela lo, kalau ada anak yang ngata-ngatain lo atau Pak Arvin disini.]


[Tiwi: Kita beneran menyesal banget, Ra. Maafin kita yaa, Please!]


[Nara: Kalian ngomong kayak gini karena Arvin udah resmi jadi penerus keluarga Aditama dan pemimpin perusahaan, kan? Biar posisi kalian aman dikantor. Arvin ngancam kalian?]


[Anna: Ngga kok, Ra. Pak Arvin malah gak pernah nyari ataupun ngomongin apa-apa sama kita. Tujuan kita beneran cuma buat minta maaf.]

__ADS_1


[Dewi: Bener, Ra. Percaya deh sama kita. Malahan kita mau bantuin lo, buat jadi kuping dikantor. Soalnya gue dapet kabar kalau Pak Arvin lagi banyak musuhnya disini.]


[Nara: Gue gak tertarik gosip murahan.]


[Anna: Ini bukan gosip murahan, Ra. Kemarin Pak Rudi  baru keluar karena gak mau bekerja dibawah Pak Arvin. Suami kamu hampir kalang kabut ditinggalkan CMO berpengalaman kayak Pak Rudi.]


Nara terdiam membaca chat tersebut. Arvin tidak pernah menceritakan apapun, meskipun dia sudah mendesak suaminya itu untuk berbagi kesulitan yang dia alami pada Nara. Posisi CMO salah satu yang paling krusial di perusahaan mereka, sebagai pengemban tugas marketing untuk semua produk layanan perusahaan.


[Nara: Terus gimana sekarang?]


[Anna: Untungnya 2 hari setelah itu Pak Arvin bawa temennya. Katanya sih kenalan pas di Melbourne dulu buat gantiin Pak Rudi. Sekarang kayaknya banyak yang bakalan out juga dari perusahaan, terutama orang-orang penting.]


[Tiwi: Kalau menurut gue sih malah bagus mereka pada pergi. Pak Arvin bisa bikin formasi baru yang gak pada skeptis sama atasan sendiri. Cuma ya, susah cari orang berpengalaman apalagi C-Level dalam waktu singkat.]


[Dewi: Tahu gak? Gosipnya lagi. Pak Arvin seringkali clash sama Pak Rivanno. Padahal sama sepupu sendiri. Mereka gak pernah satu pemikiran. Malah kemarin proyek kerjasama buat bangun database gagal total. Gara-gara mereka gak satu suara. Padahal bangun database dengan security system yang aman tuh bisa milyaran loh. Tapi hancur total.]


Nara terhenyak membaca semua hal-hal yang terjadi diperusahaan sekarang. Pantas saja Arvin sangat kelelahan setiap kali pulang. Dia juga terlihat sangat sibuk dengan semua urusan kantor dan terfokus hanya untuk itu. Nara merasa tidak punya kemampuan apapun untuk menolong Arvin. Dia tidak begitu paham dengan keputusan bisnis dan kerjasama seperti itu. Ilmunya belum sampai pada tahap itu.


Nara hanya bisa berdoa semoga Arvin bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan keadaan perusahaan stabil setelah kepergian banyak pejabat penting disana. Dia akan lebih sering memperhatikan dan melayani Arvin ketika pulang ke rumah.


Bel pintu berbunyi. Menyadarkan Nara dari semua kekhawatiran tentang masalah yang dihadapi oleh Arvin. Dia segera membuka pintu dan mendapati Lena sudah berada didepan.


“Bu Lena. Silakan masuk.” Kata Nara ramah. Aneh melihat ibu mertuanya itu berkunjung. Ini pertama kalinya dia datang kesini.


“Arvin bilang dia sibuk. Jadi kamu gak ada yang nemenin. Gak apa-apa kan ibu kesini?” Ucap Lena sambil duduk di sofa. Dia sudah terlihat segar dan ceria dibandingkan terakhir Nara lihat.


“Iya, gak apa-apa. Saya seneng kok Bu Lena kesini.” Kata Nara canggung.


“Ibu aja manggilnya. Kamu kan udah bukan pekerja lagi. Tapi anakku toh? Santai aja jangan terlalu tegang.”


Nara hanya menyunggingkan senyum. Meskipun mereka sering berbicara, tapi Nara masih belum terlalu akrab dengan Lena. Apalagi memanggilnya dengan sebutan ibu. Terakhir kali mereka berbicara di rumah sakit, Lena berakhir menangis tersedu karena bercerita ditengah perasaan tertekan dan sedih karena Candra dirawat.


Sekarang Nara bingung harus mencari topik apa untuk dibicarakan dengan ibu mertuanya ini.


 


 

__ADS_1


__ADS_2