
Arvin kelimpungan mencari Nara kemana-mana. Dia mengitari semua ruangan di penthouse-nya. Tapi tidak menemukan Nara dimanapun. Perasaan panik menguasai Arvin.
Jangan-jangan Nara kabur. Jangan-jangan dia sebenarnya tahu tadi malam dia menemui Keysa.
Setiap detik Arvin semakin tak bisa mengendalikan perasaan paniknya. Dia berjalan menuju walk in closet, semua barang dan baju Nara masih ada disana. Tersusun rapi memenuhi hampir setengah tempat itu. Nara tidak mungkin kabur tanpa membawa baju-bajunya, kan? Sedikit perasaan lega mencul dihatinya.
Arvin sejak tadi masih terus menghubungi ponsel Nara tanpa henti. Meskipun selalu berakhir dengan suara “Maaf nomor yang Anda hubungi tidak menjawab” dari operator telepon. Harapannya melambung ketika entah telepon keberapa puluh akhirnya diangkat.
“Halo Nara, kamu dimana?” Tanya Arvin tergesa.
“Halo, Pak Arvin? Ini Bi Marni.” Jawab suara disebrang sana.
“Nara dimana? Kok handphone-nya ada sama Bi Marni? Kenapa dari tadi gak angkat telepon aku?”
“Tenang, Pak. Tenang dulu.” Balasnya menenangkan Arvin yang membredel banyak pertanyaan, “Ini kita lagi di IGD—“
“Kok bisa ada di IGD? Nara kenapa?”
“Tadi pagi pas saya dateng, Neng Nara perut bawahnya sakit sama pusing dan sakit kepala katanya. Saya udah kompres anget kayak dulu tapi gak mempan malah tambah sakit. Jadinya kita ke IGD aja. Sekarang udah gak apa-apa. Neng Nara lagi tidur abis dapat perawatan.”
“Kok Bi Marni gak telepon aku sih?”
“Kata Neng Nara gak usah. Suruh telepon pak satpam yang dibawah aja minta bantuan biar cepat. Takut kenapa-kenapa kalau nunggu Pak Arvin pulang.”
“Makasih ya, Bi. Aku kesana sekarang.”
F*ck!
Arvin terus mengumpat dalam hati, mengutuk dirinya sendiri karena lupa menghubungi Nara semalaman dan tak tahu bahwa istrinya sendiri sakit. Dia meninggalkan Nara sendirian yang sedang kesakitan. Kalau saja tak ada Bi Marni yang datang untuk bekerja pagi ini, mungkin Nara tidak akan selamat.
Tapi kenapa Nara tidak mencari dan mengubunginya ketika dia tidak enak badan? Padahal Arvin menghilang semalaman. Apa karena dia tidak sempat memikirkan Arvin karena kesakitan? Tidak mungkin. Perasaan aneh ini mengganggu hatinya.
Setelah sampai di IGD, Arvin menemui dokter jaga dan meminta penjelasannya terkait kondisi Nara dan memastikan tidak ada yang serius terjadi pada Nara dan bayinya. Setelah mendapatkan penjelasan dokter, Arvin merasa lega karena kondisinya sudah membaik. Meskipun dokter memberikan rujukan untuk memeriksakan ke dokter kandungan nanti.
“Kata dokter gak perlu dirawat. Cuma observasi aja beberapa jam udah boleh pulang.” Kata Bi Marni saat Arvin menghampiri mereka. Kemudian duduk di salah satu kursi dekat ranjang Nara. Menatap istrinya itu yang tertidur.
“Tadi pagi Nara kesakitan banget ya?” Tanya Arvin menyesali kebodohannya meninggalkan Nara. Harusnya dia cepat pulang setelah keluarga besar Keysa datang.
__ADS_1
Arvin tidak tahu sejak kapan Nara sakit. Mungkin sudah dari lama sebelum Bi Marni datang untuk menolongnya. Arvin tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Nara dan kandungannya.
“Iya, saya sempat panik juga pas Neng Nara nangis perutnya sakit padahal udah saya kompres.”
“Makasih udah nolongin, Bi.”
“Iya.” Balas Bi Marni, “Pak Arvin gak apa-apa, kan? Kok kayak kecapekan gitu? Kerja sampe kurang tidur ya? Istirahat aja sambil tiduran disini. Kalau ada apa-apa nanti saya kasih tau.” Lanjut Bi Marni saat melihat kantung mata menggelayut dimata Arvin.
Setelah mendengar itu Arvin baru menyadari tubuhnya merasa sangat lelah dan pusing. Sejak tadi dia hanya fokus karena panik saat mengetahui Nara masuk rumah sakit. Sampai melupakan kalau semalaman tak sempat tertidur karena menemani Keysa dan mengurus pemakaman ibunya.
Keadaan susah mulai tenang. Arvin merasa mengantuk tiba-tiba. Tak begitu lama Arvin juga tertidur dikursi, disamping ranjang Nara.
...****************...
“Kamu gak mau nanya aku habis darimana tadi malam?”
Nara bersandar pada beberapa bantal sambil mengelus perutnya yang masih terasa kencang. Meskipun tidak sesakit tadi pagi. Setelah 6 jam berada di IGD, dia diizinkan pulang. Sekarang dia berada dikamar merasa tak karuan saat berhadapan dengan Arvin.
Semalaman dia tidak bisa mengontrol dirinya untuk terus menangis. Perasaannya terluka saat Arvin pergi menemui Keysa. Tanpa mengatakan apapun padanya, Arvin langsung pergi hanya dengan panggilan telepon perempuan itu. Bahkan saat malam hari seperti kemarin.
Hatinya bergemuruh hebat. Nara tidak paham kenapa bisa sekecewa itu melihat Arvin dengan perempuan lain. Padahal Nara tahu sejak dulu bahwa Arvin memang masih menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Menyimpan memorinya dengan rapi, bahkan digaleri foto ponselnya.
Entah kenapa Arvin merasa jengkel mendengar ketidakpedulian Nara. Seakan dia menghilang pun dari dunia Nara takkan masalah.
“Kamu tau kan sebenernya aku kemana?”
Nara tidak menjawabnya. Hanya menghembuskan napas keras. Kesal dengan tingkah Arvin. Perutnya tiba-tiba menegang kembali mengingat Arvin pergi bermalam dengan Keysa.
Menyebalkan!
“Aku habis nemenin Keysa. Ibunya masuk ICU dan meninggal tadi malam, aku stay disana sampai pagi. Aku minta maaf gak ngasih tau kamu dulu. Tadi malem kamu udah tidur, jadi gak aku bangunin.”
Ini salah satu dari sekian banyak alasan Nara sering mengentikan dirinya sendiri agar tidak jatuh hati pada Arvin. Dia pemain wanita. Tidak bisa dipercaya. Dengan mudahnya mengobral janji padanya. Padahal dia masih bersimpati pada perempuan lain seperti itu.
“Oh. Dia gak apa-apa lo tinggalin? Padahal sekarang dia pasti lagi butuh lo banget.” Ucap Nara sinis.
“Kamu gak peduli aku pergi semalaman dan ketemu sama cewek lain?”
__ADS_1
“Ngga. Kenapa? Lo berharap gue peduli lo ngapain dan cemburu, gitu?” Ucap Nara berbohong.
Arvin merasa terusik dengan perkataan Nara. Perasaan tidak nyamannya sejak pagi saat tidak melihat notifikasi dari Nara membuatnya kecewa. Arvin ingin Nara merasa cemburu. Sedikit saja. Tapi ternyata tidak ada perasaan itu sama sekali. Kenapa saat Arvin merasa sudah dekat dengan Nara, tiba-tiba dia selalu menarik dirinya kembali? Seakan tidak pernah memberikan harapan padanya beberapa waktu lalu.
Iya.
Arvin berharap Nara cemburu dan marah padanya saja. Dibandingkan bersikap tidak peduli seperti sekarang. Membuat hatinya tidak nyaman dan tidak berharga.
Mereka terdiam cukup lama. Arvin mengatur emosinya dengan bernapas teratur. Menghilangkan resah dan kecewa yang bertubi-tubi menghantamnya.
Nara merasa gemuruh didalam hatinya kian kencang mendengar Arvin dengan mudahnya mengatakan menemui perempuan lain. Seperti tanpa penyesalan. Seperti semua itu hal yang wajar. Dia ingin menjerit sekarang juga.
“Rendah banget emang pikiran lo. Ngerasa hebat gitu bikin orang lain harus ngerasa cemburu dan butuh bantuan lo? Dia ngasih makan ego lo yang gede itu dengan ngehubungin lo pas dia butuh? Lo ngerasa jadi pahlawan, kan?” Ucap Nara memecah hening.
Rasanya ingin meledak. Dia menyimpan semua perasaan mengganjalnya sejak malam. Merasakan sakit hingga menangis hingga pagi hari. Kini dia tidak mampu mengendalikannya lagi.
“Maksud kamu apa bilang kayak gitu?”
“Kalau lo dengan gampangnya dateng ke dia karena dia butuh lo. Harusnya lo kejar dia, Vin. Jangan malah terus maksa gue buat punya perasaan sama lo, sok perhatian sama gue, dan ngobral janji lo kalau bisa bahagiain gue. Nyesel gue sempat percaya sama omongan lo!” Nara mulai tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dan kata-katanya. Air matanya meluruh turun tak terkendali.
Tidak. Tidak.
Arvin ternyata salah.
Nara cemburu.
Dia mulai berbicara cepat dan meluapkan amarah serta kekesalannya. Arvin tersenyum sekilas merasa menang. Sia.l! Harusnya dia tidak boleh seperti ini.
“Nara tenang dulu.” Ucap Arvin menghentikan Nara yang terisak, dan mencoba memeluknya. Nara menepis tangan Arvin dan menjauhkan tubuhnya.
“Kalau lo serius sama gue dan mau hidup bareng gue. Kenapa lo pergi dan prioritasin cewe lain?”
“Aku minta maaf. Aku salah.”
“Gue gak percaya sama lo, Vin!”
Arvin memeluk Nara yang masih emosi dan terisak. Semuanya terasa membingungkan. Dia senang sekaligus menyesal. Harusnya Arvin memang tidak datang menemui Keysa. Tapi kenapa Arvin merasa senang melihat reaksi Nara sekarang?
__ADS_1