Halo Arvin!

Halo Arvin!
Alyosha


__ADS_3

“Bapak, bayinya udah gak ada detak jantungnya. Bayinya udah meninggal dalam kandungan,” ucap Dokter Yustia dengan berat hati.


“Gimana maksudnya, Dok?” Tanya Arvin bingung. Padahal kalimat yang digunakan oleh Dokter Yustia sangat sederhana, tapi Arvin tidak bisa mencernanya sama sekali.


Meninggal dalam kandungan? Bayinya sudah tidak ada?


Rasanya dia tadi masih tertidur dan berharap yang didengarnya hanya mimpi. Tapi sekarang dia benar-benar berada di rumah sakit, menggenggam tangan Nara yang kesadarannya mulai hilang. Melihat pemandangan para perawat dan dokter yang sibuk menelepon. Satu orang mengguncang pundaknya, membuatnya menapaki tanah kembali. Masih dengan perasaan linglung.


“Sekarang Bu Nara harus masuk ruang operasi ya, Pak. Kita akan lakukan prosedur operasi caesar untuk mengeluarkan bayinya. Dokter Inez dan perawat nanti yang bantu menjelaskan serta tanda tangan dokumennya,” ucap Dokter Yustia dengan cepat.


“…Ambil dari PMI…”


“… Ruang Operasi 3 udah oke, Dok!”


“Dokter Amri siap buat anestesi…”


Semua suara-suara yang didengar Arvin terasa begitu asing dan jauh. Seperti menonton film dari kejauhan. Dia juga berjalan seakan melayang, berpindah dari IGD ke ruang tunggu operasi.


Perawat berbicara padanya, tapi tidak satupun yang diingatnya. Entah itu menyuruhnya untuk menyetujui apa atau menandatangan apa. Arvin seperti tubuh yang kosong saking kebingungan dan shock.


Operasi berjalan sekitar 1,5 jam. Perawat mempersilakan Arvin untuk masuk ke ruang operasi. Dia mengenakan baju khusus berwarna hijau dan mengenakan masker. Dia melihat Nara yang masih tertidur, siap dipindahkan ke ruang recovery. Sementara itu perawat menuntunnya melihat sosok yang masih sedikit berbalut cairan merah, seperti sebuah boneka, kulitnya pucat membiru, dan matanya tertutup.


Seketika lutut Arvin terasa lemas tak bertulang, dia menangis. Melihat bayi kecil yang dinantikannya selama ini sudah tidak bernapas, bahkan sebelum mereka sempat bertemu.


Hatinya begitu berat, Arvin yakin dia baru pertama kali mengalami kehilangan hebat seperti ini. Bahkan sakitnya tidak sebanding dengan kehilangan mamanya, ayahnya, ataupun neneknya. Arvin benar-benar terluka, menangis dan rasanya ingin menjerit di ruangan itu.


Tidak peduli dengan banyaknya dokter atau perawat yang melihatnya penuh kesedihan, Arvin tetap menangis. Dia menyentuhkan jemarinya pada bayi kecil tak bernyawa itu.

__ADS_1


Pipinya terasa lembut, membuat seketika hatinya bergetar pilu. Tidak ada lagi kehangatan pada sosok tersebut, apalagi tangis. Ruangan itu terasa semakin dingin, hingga jauh masuk ke dalam kulitnya—pada hatinya.


Arvin meminta izin untuk menggendong anaknya sebentar. Meskipun awalnya perawat tampak ragu, namun Dokter Yustia memberikan izin. Mengerti kalau Arvin butuh waktu untuk bisa melepaskan kepergian anaknya.


Tubuhnya ringan, ringkih, hanya diam dan terkulai tanpa energi saat Arvin mendekapnya di dada. Jauh berbeda saat dia menggendong Aisha—anak yang dia temui saat kontrol ke dokter kandungan, ataupun Dania keponakannya. Mereka hangat, terus bergerak, dan berceloteh. Arvin mengharapkan hal yang sama juga ketika memeluk anaknya.


Air matanya terus meluruh, masih mencoba mencerna dan merelakan. Meskipun hatinya enggan. Perasaannya terluka dan kacau. Tapi bayi dalam dekapannya sudah sedingin kenyataan yang harus dihadapinya. Mau tidak mau Arvin harus menerimanya.


“Alyosha, kok tinggalin Papa duluan? Padahal Papa udah nungguin kamu. Papa sayang sama kamu.” Bisiknya.


Saat itu Arvin ingin menjerit tapi semua keinginan tersebut dia kuburkan dalam dekapan dan ciuman pertama dan terakhir pada kening Alyosha.


...****************...


Nara mendengar banyak suara di telinganya, suara Arvin, para perawat yang tidak dikenalnya, sekilas dia mendengar suara Dokter Yustia dikejauhan. Mengatakan detak jantung bayinya sudah tidak ada, sebelum akhirnya semua menjadi gelap dan hening. Mimpi yang aneh, pikirnya.


Arvin berada disampingnya, bungkam. Ekspresinya gelap tak terbaca. Sinar matanya hilang, dengan mata bengkak dan memerah. Pandangannya entah dia tujukan kemana. Tidak ada suara yang keluar diantara mereka.


Nara terlalu bingung dan lemas untuk sekedar bertanya.


Bukan. Nara sedang menghindar dan menyangkal dari perasaan dan firasat yang dengan kasar mengetuknya. Mengatakan semua tidak baik-baik saja.


Mereka berdua hanya bersikap tenang, menyembunyikan badai dalam hati yang tidak bisa dikendalikan.


Perawat masuk ke kamar, mengecek sesuatu di infusannya, memberinya obat, menyuruhnya berlatih duduk, dan menggerakkan tubuh yang membuatnya terasa nyeri disemua sisi.


Semua tenang kembali, matahari sudah mulai tinggi. Jam di dinding menunjukkan pukul 06.30. Padahal seingatnya dia terbangun pukul 23.00 malam.

__ADS_1


Nara mengelus perutnya yang sudah tidak lagi membuncit. Masih bingung kemana perginya makhluk di dalam sana. Selama berbulan-bulan, disana ada seseorang yang menghuninya, bergerak layaknya ikan dalam akuarium sempit. Menendang, memukul, berputar dan bermain.


Si penghuni perutnya itu sangat pintar, dia akan menyahut ketika Nara dan Arvin memanggilnya, meskipun beberapa waktu terakhir ini dia sering sekali mengabaikan orang tuanya.


Makhluk kecil dalam perutnya itu juga sangat sabar dan lapang dada, buktinya dulu dia memaafkan Nara yang sangat bodoh karena berusaha melenyapkannya.


Bayi kecilnya itu juga penuh cinta, mempersatukannya dengan Arvin. Kemudian membawa banyak orang-orang baik dan penuh maaf ke hidup mereka.


Arvin masih belum membuka mulutnya, hanya memperhatikan semua gerakan Nara lewat matanya.


“Bayinya belum dibawa kesini ya, Vin?” Suara Nara terdengar serak, pertama kali berucap setelah lama sunyi. Air matanya turun ke pipi, meluruh deras tak terkendali.


Nara tahu apa yang terjadi. Semua kelebatan ingatannya, suara-suara yang didengarnya, firasatnya, serta mimpi-mimpinya mengatakan dia sudah kehilangan bayinya. Ketiadaan sosok anak disisinya menegaskan bahwa semua hal itu nyata.


Arvin bangkit dari kursi, lekas mendekap Nara di dadanya. “Dia gak akan dibawa kesini. Bayi kita udah meninggal,” kata Arvin dengan suara yang tak kalah parau.


Kata-kata yang paling tidak ingin Nara dengar seumur hidupnya. Membuat dunianya nyaris terbelah dua. Dari sedu sedan, menjadi isakan, kemudian berubah menjadi jeritan pilu yang menenggelamkan dirinya pada kesedihan yang dalam.


Nara tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk meraung, mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya setelah operasi. Semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan anak yang dikandungnya. Bayi yang dinantikannya berbulan-bulan. Sosok yang paling ingin dia temui.


Nara tidak pernah bisa mendengarkan tangisan pertamanya. Suara itu kembali pada Sang Pencipta tanpa sempat dia tangkap dan ingat dalam memorinya.


Mereka berdua menangis saling memeluk. Berusaha meredam kesedihan satu sama lain, meskipun saat ini keduanya sedang tidak mampu saling menguatkan. Semua hal yang ingin mereka lakukan hanya tenggelam pada rasa pilu, sendu, rindu dan kelabu yang hilang bersamaan dengan nyawa anak pertama mereka.


Dua orang yang tidak sempat menjadi orang tua.


 

__ADS_1


__ADS_2