Halo Arvin!

Halo Arvin!
Take It Slowly


__ADS_3

Ibu sudah bersiap untuk pulang. Beberapa baju dan barangnya mulai dia bereskan ke dalam tas. Sementara Nara terus saja menempel mengikutinya. Tak ingin ditinggalkan sendirian lagi. Namun ibunya berjanji akan sering menghubunginya sekarang.


Setelah berpamitan dengan Nara, Ibu menunggu jemputan dari Kakak Amelia di lobby bersama Arvin yang bersiap akan berangkat bekerja. Mereka duduk berdua di sofa panjang berwarna hitam di dekat resepsionis. Sambil terus menatap keluar siapa tahu jemputan akan tiba segera.


“Nara nyusahin kamu ya, Vin?” Kata Ibu memulai pembicaraan.


“Sedikit.” Kata Arvin tersenyum.


“Bilang banyak juga gak apa-apa. Ibu ngerti kok.” Balas Ibu sambil tertawa. “Kalau kamu udah ga bisa ngendaliin dia, ga bisa ngeyakinin dia, jangan disakitin ya. Bawa pulang aja ke rumah. Meskipun Bapak belum buka hatinya lagi, tapi sebenernya dia sayang sama Nara.”


“Aku juga sayang sama Nara kok, Bu.”


Ibu tersenyum mendengar jawaban dari Arvin, “Dari dulu emang Nara kayak gitu, keras kepala banget.”


“Jadi pernah tuh dulu, bapak cuma bisa kuliahin Naufal, apalagi kuliah jurusan teknik biayanya gede. Kita gak kepikiran Nara juga pingin kuliah, dikirain bakal kayak temen-temennya yang lain, habis SMA lanjut kerja dipabrik atau nikah. Bapak juga ga kepikiran anak gadisnya sekolah tinggi-tinggi. Ga ada biaya juga. Tapi Nara tetep kukuh pingin lanjut, dia kejar beasiswa, dia magang, part time biar bisa terus lanjut kuliah. Apa yang dia mau, harus terlaksana pokoknya. Dia bakal usaha mati-matian buat itu. Makanya pas batal nikah dan putus sama Reza, dia mungkin ngerasa semuanya gak adil, gak sesuai sama yang dia mau dan perjuangkan. Makanya sampai sekarang kamu susah buat ngeyakinin dan ngeluluhin dia.” Lanjutnya bercerita.


Arvin baru mendengar hal ini. Dia sangat tahu bagaimana Nara dan sifat-sifatnya. Keras kepala, persisten, dan ambisius. Tapi tidak pernah sekalipun melihat hal tersebut sebagai bagian yang berhubungan dengan cerita masa lalu dan kondisi-kondisi yang mendorongnya hingga seperti itu.


Nara pernah mengatakan dia tidak pernah ke acara musik seumur hidupnya karena sibuk belajar, magang, ataupun part time. Hal itu lucu dan aneh untuk Arvin. Bukannya menikmati masa muda dengan melakukan hal menyenangkan, saat itu Nara sedang memperjuangkan semua keinginan dan mimpinya.

__ADS_1


Dia menyayangi Nara, tapi belum memahami semua perilakunya. Penolakan-penolakannya pada Arvin mungkin hal yang wajar dia lakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari perasaan kecewa.


 Sama halnya seperti hidupnya, Nara juga punya hidup dan perasaan yang rumit. Bukan orang yang berjalan dijalan lurus dan indah seperti yang Arvin bayangkan selama ini. Memiliki keluarga yang lengkap dan saling menyayangi bukan berarti membuat hidupnya otomatis mudah dan indah.


Arvin merasa bersalah karena terlambat mengerti hal seperti ini, sekonyong-konyong memaksakan juga keinginannya pada Nara. Menyalahkannya yang terus-terusan bersikap menyebalkan padanya. Kemudian memaksanya untuk menyayanginya, melahirkan anaknya, dan membesarkannya tanpa mau mengerti hal-hal sulit dan ketidakadilan yang dia alami selama ini. Arvin ingin lebih mengenal Nara dan ingin Nara juga melakukan hal yang sebaliknya. Agar mereka pada akhirnya saling memahami kemana arah hubungan ini akan dituju.


“Tuh, Bang Agus udah dateng.” Kata Ibu menunjuk mobil Avanza berwarna silver yang terparkir di depan lobby. Mereka kemudian berdiri dari sofa.


“Arvin” Kata ibu lembut menahan lengan Arvin yang hendak pergi menuju mobil yang terparkir di depan. “Jagain Nara ya. Biarpun kesalahan kalian sulit buat dimaafkan. Tapi Ibu pingin kalian terus melanjutkan hidup dan bahagia bareng-bareng.” Lanjutnya sambil memeluk Arvin.


Entah berapa lama Arvin tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu. Mungkin hanya beberapa kali dalam hidupnya dia melakukan hal itu, dengan Ibu kandungnya ataupun dengan Lena. Hidupnya nyaris tidak pernah merasakan dicintai oleh ibu. Mungkin ayahnya menyayanginya, tapi ada kesalahan-kesalahannya dimasa lalu yang meninggalkannya luka yang belum bisa dia maafkan Arvin hingga saat ini.


Perasaan hangat menjalari hatinya. Arvin mengeratkan pelukannya pada Ibu. Pantas saja Nara begitu limbung tanpa sosoknya. Karena baru beberapa kali ini Arvin bertemu dengan Ibu Nara, dia juga sudah menyayanginya sedemikian rupa. Andai saja hidupnya lebih sederhana. Andai saja dia terlahir dikeluarga yang baik-baik saja. Mungkin sepanjang hidupnya, Arvin bisa merasakan pelukan kasih sayang seperti ini dari seorang ibu.


Televisi menyala mengeluarkan suara nyaring, namun Nara tidak memperhatikannya sama sekali. Dia hanya menyandarkan kepala ke sofa, memegang remote, dan menatap lurus layar tersebut tanpa berkedip. Pikirannya sedang berjalan tak tentu arah, sama seperti hatinya. Ragu, bimbang, dan takut berkumpul menjadi satu. Setelah ini, apa yang harus dia rasakan dan apa yang harus dia lakukan dengan Arvin? Nara tidak mampu menjawabnya.


“Kamu masih kangen sama ibu?” tanya Arvin yang baru saja pulang dari kantor. Melihat kondisi Nara yang terlihat lesu. Mungkin pertemuan sekali itu belum bisa membuatnya baikan. Arvin akan menjadwalkan pertemuan-pertemuan lain dengan Ibu agar Nara bisa kembali hidup seperti manusia.


Nara menoleh, melihat Arvin telah berdiri di ruang tengah. Meletakkan tas dan blazernya di salah satu sofa dan mulai melucuti dasinya. Entah kenapa jantung Nara tiba-tiba berdetak tak beraturan melihat sosok Arvin seperti itu. Padahal dia sudah sering melihatnya dengan setelan kantornya. Tapi kenapa sekarang Nara malah berpikir dia sangat keren. Well, sebenarnya memang Arvin selalu terlihat keren setiap hari. Hanya saja Nara menolak pujian pada orang yang menyakitinya itu.

__ADS_1


“Nanti aku minta lagi ibu buat dateng kesini lebih sering. Biar kamu gak sedih terus.” Lanjut Arvin.


Nara berdiri dari sofa. Mendekatkan tubuhnya dan memeluk Arvin. Meskipun bingung dan kaget, Arvin tetap membalas pelukan tiba-tiba itu. Kemudian membenamkan wajahnya di rambut Nara yang wangi dan halus. Tubuh mungil Nara terasa hangat dan lembut. Arvin sangat menyukai sensasi yang diberikan Nara pada dirinya.


“Makasih udah bawa ibu kesini.” Bisik Nara, kemudian melepaskan pelukannya dari Arvin. Tapi mereka tetap berdiri saling berhadapan.


“Gue belum sayang sama lo, dan gak janji bakal sayang sama lo. Tapi gue mau besarin anak ini bareng-bareng. Biar dia punya keluarga yang lengkap.” Lanjutnya menatap lekat ke mata Arvin.


“Gak apa-apa. Kita jatuh cintanya pelan-pelan aja.” Balas Arvin sambil tersenyum, mendekatkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Nara.


Nara terlonjak kaget, menjauhkan Arvin dengan mendorongnya. “Ga ada nyium-nyium sembarangan kayak gitu. Apalagi di depan umum kayak kemarin.” Kata Nara panik dan salah tingkah. Rasanya jantungnya akan meledak tak beraturan. Arvin selalu saja membuat hatinya menjadi tak karuan.


Menyebalkan!


“Oke. Oke. Sorry.” Balas Arvin ringan. Dia menggeliat malas meregangkan tubuhnya. “Makan diluar yuk! Aku lagi males masak nih.” Lanjutnya ceria.


“Gue mau makan steak, sama gelatto, sama churros.” Kata Nara.


“Kamu kelaparan atau kesetanan?” Tanya Arvin sambil tertawa, membuat Nara sebal dan mencubit lengannya hingga mengaduh.

__ADS_1


“Gue ngidam. Lo tau ngidam gak sih?” Jawabnya galak.


“Iya. Iyaa. Kamu mau ngidam apa aja aku turutin kok, sayang.” Kata Arvin sambil mengacak-acak rambut Nara. Kemudian berjalan pergi menuju toilet. Membuat hati Nara semakin tak terkendali dengan tingkahnya.


__ADS_2