Halo Arvin!

Halo Arvin!
Tanggung Jawab


__ADS_3

Semua orang kini menatap Nara. Ekspresi Ayahnya, Ibunya, dan Reza sulit dibaca, antara tidak percaya, bingung, marah, entah apalagi. Nara menciut di ranjangnya. Kepalanya menjadi begitu pusing dan tubuhnya lemas kembali. Rasanya ingin pingsan lagi saja untuk menghindari semua tatapan kearahnya.


Ini tidak mungkin!


Bagaimana bisa dia hamil semudah itu? Bagaimana bisa hanya melakukanya sekali saja dia sudah hamil?


Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus dia katakan kepada semua orang ini?


“Ra, apa maksudnya ini? Kamu hamil? Siapa yang hamilin kamu?” Reza menemukan kesadarannya kembali setelah sempat kaget dengan penuturan dokter. Bagaimana Nara bisa hamil? Bahkan selama pacaran mereka tidak pernah saling menyentuh.


“NARA!” Bentak ayahnya.


Tubuh Nara nyaris tak memiliki kekuatan, dia bahkan tak sanggup untuk berbicara. Hanya kebisuan dan air mata yang turun kepipinya.


“Astaghfirullah.. Astaghfirullah..” Kini giliran Ibunya yang menangis meratap. Memukul-mukul dadanya, tak percaya anak gadis yang begitu dibanggakannya sudah mencoreng nama keluarga.


“Siapa bapaknya? Nara!” Ayahnya semakin marah karena kebisuan Nara. Dengan satu sentakan dipundak, ayahnya membuat tubuh lemah Nara terduduk dari posisinya.


“Bilang sama bapak! Siapa yang hamilin kamu? Hah!”


Nara bisa merasakan cengkaraman tangan dipundaknya, dia meringis kesakitan. Tapi tetap diam, sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Ayahnya terus membentaknya, Nara hanya bisa tertunduk melihat jemari yang dia kepalkan. Butiran air mata jatuh kesana.


“Nara, cepetan jawab pertanyaan Bapak!”


“Arvin.” Jawab Nara diantara tangisnya.


Iya. Laki-laki sialan itu yang sudah menodainya dan membuatnya hamil. Kedua orangtuanya pasti sudah tahu siapa Arvin. Laki-laki yang mereka terima baik beberapa minggu lalu adalah predator ganas yang telah menghabisi masa depan putri mereka.


Semua orang tercengang, kaget dengan jawaban Nara. Namun yang paling terlihat adalah amarah Reza. Dia pernah bertemu Arvin saat menjemputnya kala hujan. Sepanjang minggu itu, Reza terus membicarakan betapa tidak sukanya dia pada kata-kata yang diucapkan Arvin. Mungkin dalam hatinya, dugaannya selama ini benar. Bahwa Nara sangat tertarik pada bosnya yang kaya raya itu dibandingkan dengannya. Hingga dengan berani melakukan perbuatan bejad dengannya. Meskipun sebenarnya bukan seperti itu yang terjadi.


Nara yang bodoh. Nara yang lambat. Nara yang keras kepala. Seandainya dia tidak mengabaikan pertanyaan Arvin dulu dan langsung mengeceknya. Dia bisa menggugurkan kandungannya saat itu juga. Tapi dia terlalu percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, sangat mempercayai bahwa dia tidak mungkin hamil semudah itu. Hanya karena satu malam saja berhubungan dengan laki-laki br*ngsek itu.

__ADS_1


Setelah itu semua kejadian rasanya seperti sebuah film hitam-putih. Nyaris tanpa warna. Yang diingatnya adalah wajah Reza yang dipenuhi rasa kecewa dan amarah, tuduhan dan cemoohan yang dia lemparkan pada Nara nyaris tak bisa diingatnya, dia melangkah pergi dari IGD dengan air mata yang menggenang disudut matanya.


Ayahnya tak mau membawanya pulang. Namun ibunya terus menjerit-jerit memohon pada ayahnya agar tidak meninggalkan Nara di IGD.


Padahal perjalanan ke rumah dari klinik tak lebih dari 15 menit, namun rasanya seperti sejuta tahun yang paling menyakitkan yang pernah Nara rasakan. Selama perjalanan itu pula, yang Nara dengar hanya isak tangis ibunya.


Ah Ibu! Bagaimana Nara bisa setega ini menyakitinya? Melangkahkan kaki pada Arvin si laki-laki jahat hari hari itu. Harusnya dia pulang saja, memeluk ibunya. Mengatakan bahwa pernikahannya batal saat itu. Karena ternyata sekarang hasilnya sama saja. Reza tetap pergi dan pernikahannya juga terancam gagal.


Kegelapan terjadi di rumah Nara, ibu tak berhenti menangis diruang tengah. Amelia berusaha menenangkannya, tapi kesedihan dan kekecewaannya tak bisa hilang. Sementara ayahnya berbicara ditelepon dengan anak sulungnya, Naufal. Yang sekarang sedang berada di site perkebunan kelapa sawit di Riau untuk survey urusan pekerjaan.


Nara sudah bisa membayangkan kakaknya akan sangat marah. Mungkin saja memukulinya saat dia sampai ke rumah. Ayahnya bukan apa-apa dibandingkan kakaknya, yang sangat tegas terhadapnya. Apalagi sekarang Nara mencoreng nama baik keluarga. Hamil diluar nikah.


Padahal sejak dulu kakaknya itu selalu menginterogasi setiap laki-laki yang dekat dengan Nara, termasuk Reza. Tak akan dia biarkan adik perempuan satu-satunya dinodai oleh sembarang tangan pria.


Dikamar, Nara hanya bisa bergulung dikasur, bingung, takut, dan kecewa. Pada dirinya sendiri. Nara seakan bisa mengulang setiap detik reaksi kedua orangtuanya dan Reza di klinik tadi. Sekarang dia harus bagaimana? Harus apa?


“Dek,” Panggil Amelia lembut. Kakak iparnya itu mencoba untuk tenang dan netral menghadapi keadaan yang kacau seperti saat ini. Dia membelai rambut Nara lembut. Mencoba bersimpati dan memahami keadaan adik iparnya itu.


“Aku gak mau, Kak. Aku gak mau ketemu sama Arvin. Ini gak sengaja. Ini salah Arvin!” Rengek Nara.


“Bu Asih tadi udah telepon bapak,  Reza gak mau lanjutin pernikahannya. Mereka marah-marah dan minta ganti rugi buat semua biaya yang udah dikeluarin untuk persiapan nikah. Dan sekarang kamu lagi hamil, ga mungkin kamu mengandung sendirian tanpa suami. Kamu harus minta pertanggungjawaban dari Arvin, Ra.”


“Aku bisa gugurin kandungannya, Kak.”


“Astaghfirullah.. Nara! Kamu gak boleh kayak gitu. Kamu malah nambahin dosa kamu dengan bunuh anakmu sendiri.”


“Aku gak peduli. Aku ga mau punya anak dari Arvin, ga mau kalau harus nikah sama dia!” Teriak Nara histeris. Ketakutan semakin menyelubungi hatinya. Dia tidak akan sanggup menikah dengan orang yang menghancurkan kehidupannya. Nara sangat membenci Arvin.


“Terus kenapa kamu bisa sampai ngelakuin perbuatan kaya gitu, Ra? Kamu tahu kan akibatnya kalau berbuat kayak gitu? Kamu udah dewasa dan sangat tahu resikonya.”


“Aku ga sadar ngelakuin itu, Kak. Aku mabuk dan Arvin manfaatin aku...aku gak pernah mau ngelakuin itu sama dia.” Isak tangis tak berhenti.

__ADS_1


Nara menceritakan semua detail kejadian yang dialaminya hari itu. Untuk pertama kalinya bisa menceritakan semuanya sekarang, pada Amelia. Entah kenapa dia merasa lebih aman menceritakannya pada kakak iparnya. Nara tahu diantara semua orang, Amelia yang paling waras menerima kebodohannya. Saat ini Amelia bukan musuhnya yang akan menjustifikasi semua perbuatannya.


Benar saja, Amelia bersimpati padanya. Semua ini memang bukan sepenuhnya salah Nara. Keduanya salah. Tapi diantaranya, Nara lah yang paling dirugikan. Amelia memeluk tubuh Nara yang masih gemetar karena menangis. Berharap suaminya besok tidak menghajar adiknya ini dengan brutal. Amelia sangat khawatir. Suaminya dan kedua orangtuanya harus tahu bagian cerita yang tak pernah Nara ungkapan.


 


...****************...


Arvin baru saja menyelesaikan latihan band-nya. Akhir-akhir ini dia lebih rajin ke Groove Bar, hanya sekedar menggenjreng gitar dan mengobrol dengan pegawai disana, yang semuanya adalah teman-teman Arvin. Entah kenapa pikirannya masih belum tenang dan terus memikirkan keadaan Nara.


Sudah hampir satu bulan semenjak kejadian itu. Tak seharipun dia melupakannya. Keinginannya adalah mendengar suara gadis itu lagi, memastikan bahwa dia baik-baik saja. Meskipun perasaannya sangat aneh ketika semakin hari, semakin dekat dengan hari pernikahan Nara dengan pacarnya.


Kenapa dia bisa seperti ini?


Apa karena kejadian malam itu sehingga Arvin tidak bisa melupakan Nara?


Setelah berpamitan pada teman-teman, Arvin keluar bar. Menenteng gitar elektrik kesayangannya menuju mobil. Sebelum menyalakan mesin, Arvin membuka handphone-nya yang lama dia simpan di saku celana kerjanya. Dilayar tertera nomor tak dikenal menghubunginya dua kali. Tak sempat Arvin angkat. Mungkin karena dia tadi sibuk mengobrol dengan Ganjar. Nomor itu menghubunginya lagi. Penasaran dengan panggilan tersebut, Arvin mengankatnya.


“Halo, Arvin.”


“Ya? Siapa?”


Jeda beberapa detik, Arvin bisa mendengar suara tangis dibalik telepon, “Gue hamil, Vin.” Suara tangis semakin jelas terdengar setelah itu.


“Nara?”


“Lo bakal tanggung jawab kan , Vin? Lo bakal tanggung jawab, kan?” Gumam Nara diantara tangisnya.


“Iya. Gue akan tanggung jawab. Gue besok ke rumah lo.”


Harusnya Arvin sekarang meratap, bingung, takut, atau melarikan diri dari semuanya. Tapi anehnya dia merasa tiba-tiba memiliki harapan, seperti perasaan senang yang tidak bisa dijelaskan. Jelas dia sebenarnya merasa takut. Entah apa yang akan orang tua Nara lakukan padanya. Juga kenyataan bahwa dia harus memberitahu orang tuanya juga, menambah daftar skandal dan perilaku buruk yang akan disematkan untuknya.

__ADS_1


Anehnya semua ketakutan itu bercampur dengan perasaan lega. Dia bisa menemui Nara kembali.


__ADS_2