
Nara masih bergulung dikasur hingga siang hari, membaca salah satu novel karya Khaled Hosseini yang membuatnya menangis tersedu-sedu dan menyisakan sampah tisu disekitar kasur. Padahal hari ini weekend, tapi kegiatan Nara hanya itu-itu saja. Dia sekarang akan berkutat dengan buku dan beberapa kelas online untuk menghilangkan kebosanan.
Sebenarnya Nara ingin kembali bekerja seperti dulu. Tapi Arvin belum memperbolehkannya bekerja kembali. Selain itu karena kehamilannya, kondisi Nara terkadang naik turun. Seharian dia bisa merasa sangat sehat. Sehari kemudian dia akan merasa sangat lemas, mual, hingga muntah-muntah yang cukup mengganggu aktivitasnya. Padahal trimester pertama sudah dia lewati. Namun gejala-gejala tersebut belum menghilang.
“Jalan-jalan yuk!” Ajak Arvin, menyingkap selimut yang membelit tubuh Nara.
Hari ini dia libur, tapi Nara malah memilih sibuk dengan novel-novelnya yang sedang dia gandrungi. Padahal Arvin sudah mengatakan akan membuat Nara jatuh cinta. Kalau mereka sibuk sendiri seperti ini, mana bisa Arvin mendapatkan hati Nara. Tidak boleh seperti itu. Arvin sedang mempertaruhkan derajatnya sebagai laki-laki penuh pesona yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta.
“Mau kemana sih? Capek, mending dirumah aja.” Balas Nara malas.
“Udah ikut aja. Pasti seru kok.”
“Gak mau. Lo terakhir kali bilang ‘ikut aja’ ujung-ujungnya pasti nemenin lo manggung. Ogah gue kesana lagi.”
“Bukan. Aku gak akan ketemu anak-anak. Ini cuma kita berdua doang. Ayo cepetan! Cewek hamil juga harus jalan-jalan biar sekalian olahraga dan nyari hiburan.”
Semua paksaan dari Arvin membuat Nara menyerah pada akhirnya. Sekarang mereka sedang berdiri di basemen. Nara masih merengut kesal pada Arvin yang selalu seenaknya. Arvin mengeluarkan 2 helm dari loker penyimpanan. Menyerahkan salah satunya pada Nara.
“Kita naik motor?” Tanya Nara kaget. Teringat motor Kawasaki Ninja berwarna hijau yang pernah Arvin pakai ke kantor tempo hari. Dia tidak menyukainya.
Arvin mengangguk, “Kalau pake mobil nanti macet, lama dijalan.” Jawabnya ceria.
Tangannya dengan tiba-tiba menyelipkan rambut Nara yang terurai ke belakang telinga. Kemudian memasangkan salah satu airpods di telinga kanan Nara. Satu pasangan airpods lagi dia tempelkan di telinga kirinya. Nara menatap bingung Arvin, tidak mengerti yang dia lakukan.
“Dengerin musik sebelah-sebelahan biar gak sepi.” Kata Arvin sambil tersenyum, menjawab Nara yang terlihat kebingungungan. Dengan lembut memasangkan helm padanya.
Nara mendengus sebal ketika Arvin mulai mengeluarkan motornya. Motor besar itu sulit untuk dinaiki oleh Nara yang pendek. Untung saja Arvin dengan sigap membantunya. Mereka sudah bersiap akan berangkat. Tapi tangan Arvin menjulur kebelakang, meraih tangan Nara yang memegang handle di belakang tempat duduknya dan mengarahkannya ke pinggang Arvin, agar dia memeluknya.
“Nanti jatoh.” Kata Arvin.
Iya. Iya. Nara tahu dia harusnya memeluk Arvin dibandingkan behel motor, untuk keselamatannya. Tapi tentu saja Nara gengsi melakukannya. Sekarang dia sudah tidak ada pilihan. Memeluk kencang Arvin yang bersiap ngebut dijalanan.
Saat motor menyala, terdengar suara musik yang keluar dari airpods ditelinga kanan yang dipasangkan Arvin tadi. Suara penyanyi perempuan dengan merdu bersenandung. Lagu pertama yang berada dalam playlist Arvin hari ini adalah Make You Feel My Love dari Adele. Mengisyaratkan pada Nara bahwa Arvin akan melakukan apa saja agar Nara merasakan cintanya. Seperti yang disenandungkan oleh penyanyi tersebut.
Motor melaju, menembus jalanan kota. Nara bisa merasakan punggung hangat Arvin. Wangi khasnya yang bercampur parfum begitu kuat saat Nara menyandarkan kepalanya padanya, serta musik terdengar lembut ditelinga. Sesaat Nara merasa seperti sedang melakukan adegan-adegan romantis dalam film. Membuatnya tak berhenti menyunggingkan senyum. Mungkin jika tak terhalang helm, orang akan mengira Nara gila karena terus tersenyum.
Aneh. Arvin selalu memberinya perasaan aneh, yang membingungkan dan juga menyenangkan.
Padahal Nara setiap hari mengendarai motor bersama dengan Reza. Memeluknya seperti ini juga. Tapi tak pernah merasakan hal-hal kecil manis seperti yang dilakukan Arvin. Darimana idenya untuk mendengarkan musik dan berbagi earphone seperti ini?
Playlist Arvin hari ini berisi lagu-lagu romantis dari Adele, Aerosmith, Kaleb J, Troye Sivan, Bryan Adams dan masih banyak lagi yang diperdengarkan selama perjalanan. Mereka berdua, mendengarkan musik yang sama. Benar-benar absurd dan kekanakan. Namun Nara mengakui, dia sangat menyukainya.
__ADS_1
...****************...
“Seaworld?” Kata Nara kaget saat Arvin membawanya kesana. Arvin hanya mengangguk ceria, dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
“Lo kira gue anak TK apa dibawa kesini?”
“Kenapa emangnya? Orang dewasa juga banyak yang nge-date disini kok.” Jawab Arvin tak peduli kemudian menuntun Nara masuk ke akuarium besar itu.
“Terus lo mau gue liatin ikan-ikan doang, gitu? Kayak bocah banget sih lo, Vin!” Nara terus menggerutu. Tapi tetap mengikuti kemana Arvin membawanya.
Nara benar-benar tidak mengerti isi otak Arvin. Terkadang dia sangat keren, dengan ide-idenya yang tak biasa dan romantis seperti tadi. Sesaat kemudian Nara menyesali pernah memujinya, karena sekarang Arvin bertingkah kekanakan. Menunjuk ikan-ikan yang berada disana dengan wajah yang sumringah. Persis seperti anak SD yang berada disebelahnya.
Melihatnya senang seperti itu, Nara tak punya pilihan dan bergabung dengannya. Melihat-lihat ikan yang berwarna-warni. Pada akhirnya sedikit demi sedikit Nara menikmati ide kekanakan Arvin untuk datang kesini. Memandangi ikan berenang ternyata cukup menyenangkan. Tak lama Nara mulai menyukai tempat ini dan dengan bersemangat menunjuk ikan-ikan yang dia tahu juga.
“Kamu tau gak kalau kuda laut yang hamil cowoknya?” Tanya Arvin tiba-tiba saat mereka melihat kuda laut disalah satu akuarium sedang berenang dan melayang-layang.
“Hmm..gue pernah denger.”
“Mereka moody, ngidam dan muntah-muntah juga kayak kamu gak ya?”
Nara tertawa dengan pertanyaan Arvin yang tidak jelas. Arvin sepertinya memang alien. Isi kepalanya terlalu aneh untuk Nara mengerti. “Apa sih, Vin? Lo gak jelas banget.” Kata Nara masih tertawa.
“Tapi mereka hebat banget loh. Cowoknya nyediain kantong embrio, mengatur aliran darah, konsentrasi garam, ngasih nutrisi dan oksigen biar anak-anaknya bisa tumbuh dan lahir. Kalau bisa aku pingin kayak gitu juga.”
“Iya, aku aja yang hamil. Biar kalau ada hal jelek dan buruk terjadi, aku aja yang ngerasain. Bukan kamu.”
Nara tidak tahu bagaimana menanggapi perkataan Arvin. Dia hanya mengatupkan mulutnya, memandang lurus ke arah kuda laut yang sekarang berenang terpencar-pencar. Entah pernyataan itu tulus atau hanya gombalan yang biasa Arvin lakukan pada pacar-pacarnya, yang jelas hati Nara menjadi tak karuan mendengarnya.
“Nanti lo di kata-katain juga sama orang-orang. Emang lo mau kayak gitu juga?”
“Iya. Semuanya biar aku aja yang kena. Soalnya aku yang salah.”
“Lo mau ngegombal?”
“Emang ini kedengeran kayak gombalan?”
“Iya. Cringe banget. Pasti lo bilang kayak gitu juga sama mantan-mantan lo.”
“Mantanku gak ada yang hamil kayak kamu.”
“Ya maksudnya..ngajak mereka ke tempat-tempat kayak gini. Terus ngomong ga jelas kayak tadi.”
__ADS_1
“Aku gak pernah ngajak mantan-mantanku kesini kok.”
“Terus kemana? Hotel? Karoke? Tempat remang-remang?”
Arvin tertawa, “Emang kesan aku cowok kayak gitu ya?”
“Iya. Berandalan. Mesum.”
“Aku cuma ngajak mereka jalan ke mall, belanja, fine dining, biar mereka terkesan dan nganggap aku keren.”
“Terus kenapa gue gak diajak kayak gitu juga? Fine dining kek paling ngga.”
“Kamu mau?”
“Gak juga.”
“Aku cuma mau liatin sama mereka kalau aku kaya dan keren doang sih, makanya ngajak kesana.”
“Sama gue ngga, gitu?”
“Kan kamu udah tau kalau aku emang kaya dan keren.”
“Dih. Siapa bilang lo keren? Lo kayak bocah alay, tau gak?”
Arvin terus tertawa menanggapi komentar-komentar Nara padanya. Dia menyukai Nara yang jujur dan berkata semaunya seperti ini. Tanpa pemanis dan pujian-pujian. Arvin juga terkadang tidak bisa mengontrol ucapannya dan berkomentar tidak jelas pada sesuatu seperti Nara. Mungkin mereka memang sebenarnya tak jauh berbeda.
“Aku gak perlu liatin hal-hal kayak gitu ke kamu, soalnya sebagian cuma buat pamer aja. Aku kan mau bikin kamu jatuh cinta, aku mau liatin hal-hal sederhana yang aku suka ke kamu. Aku suka ke akuarium lihat ikan, suka pantai, suka camping, suka hiking, suka musik, suka jalan-jalan gak jelas, tapi sekarang aku lagi suka banget sama kamu.” Katanya sambil tersenyum lebar.
“Tuh kan. Jijik banget gombalan lo. Hueeeek.” Kata Nara memasang wajah geli.
Dia meninggalkan Arvin yang masih tertawa dengan gombalan super murahnya itu. Arvin menyusul Nara yang sekarang sudah berjalan di depannya, kemudian bergelayut manja ke lengannya. Mereka terus berkeliling melihat-lihat, sesekali memotret ikan-ikan yang mereka anggap menarik.
Anehnya Nara sekarang tidak keberatan ketika Arvin bertingkah seperti itu. Dia kekanakan, gombalannya sangat menjijikan, dan pikirannya sangat tidak masuk akal. Arvin juga tidak berhenti mengoceh tentang fakta-fakta aneh ikan-ikan yang mereka lihat. Memang sepertinya Arvin sangat menyukai ikan seperti yang dikatakannya tadi.
Nara hari ini tidak bisa berhenti tertawa dan tersenyum. Semua hal yang dilakukan Arvin membuat hatinya terasa ringan. Berjalan-jalan seperti ini seperti satu bagian sederhana dihidupnya namun menyenangkan. Nara tidak pernah tahu akan menikmati waktunya bersama Arvin seperti sekarang.
Aquarium Date❤️
__ADS_1