Halo Arvin!

Halo Arvin!
Selamat Jalan


__ADS_3

Melbourne


“Pak Canda udah nunggu di café dari tadi pagi.” Ucap Yanuar saat berjalan disebelah Arvin yang baru saja menyelesaikan kelasnya.


“Ya siapa suruh nunggunya dari pagi. Udah dibilangin aku ada kelas pagi.” Gerutu Arvin, menarik ujung resleting jaketnya keatas.


Sekarang sudah bulan September, musim semi di Melbourne mulai merekah. Tapi udara masih saja terasa dingin untuk Arvin. Menurut aplikasi di handphone-nya saat ini suhu udara sekitar 65°F. Ya. Masih lebih baik dibandingkan musim panas. Arvin tidak suka musim panas dan udara panas disini.


Mereka terus berjalan ke Howard St, kearah Ample Café & Bar tempat Candra menunggu. Letaknya tak jauh dari Universitas Melbourne. Mereka hanya butuh berjalan kaki sebentar hingga sampai di sebuah bangunan dengan warna  mencolok diantar gedung-gedung kelabu.


Arvin masuk ke dalam café tersebut, mencari sosok ayahnya diantara beberapa pengunjung yang sedang menyantap makanan. Candra duduk di dekat jendela, memandang ke arahnya dan tersenyum kemudian melambaikan tangan. Arvin duduk di depannya dan mereka memesan makanan. Sejak pagi Candra hanya meminum kopi menunggu Arvin selesai kuliah.


“Ngapain kesini?” Tanya Arvin tanpa basa basi.


“Ayah ada urusan di Melbourne, sekalian jenguk kamu. Sampai kamu kuliah master disini ayah belum pernah jenguk. Kamu masih tinggal di apartemen lama?”


“Gak dijenguk juga gak masalah.” Ucap Arvin ketus. “Hmm.. masih Clayton sekitaran Monash.” Lanjutnya malas.


“Loh kenapa gak pindah? Kan jauh dari kampus sekarang. Kamu butuh mobil? Atau nanti ayah cariin apartemen baru disekitar sini?”


“Aku udah dapet apartemen baru. Minggu depan pindah. Gak usah sok peduli lah. Basi.”


“Here is your order.” Kata seorang pramusaji ramah memotong pembicaraan mereka. Dia menyajikan makanan di depan mereka. “The ample burger, reuben, and roasted pumpkin bowl.” Lanjutnya.


“Umm.. Sorry. Is there nuts in it?” Tanya Arvin menunjuk semangkuk salad dengan berbagai sayuran dan sausnya yang pekat.


(Apakah ini mengandung kacang?)


“Yeah. Maple glazed almond and walnut.”


“Can we order another one? My father has nuts allergic.”

__ADS_1


(Bisakah kami pesan yang lain? Ayahku punya alergi kacang.)


“Oh sorry. We didn’t aware of that. We can change this salad with another menu with nuts free if you want.”


(Kami minta maaf. Kami tidak mengetahui hal tersebut. Kami bisa mengganti salad ini dengan menu lain tanpa kacang jika Anda mau.”


“Yeah. That would be better. Thank you.”


Candra tersenyum memandang Arvin yang sedang berbicara dengan pramusaji tentang alerginya. Merasa senang dengan perhatian kecil anaknya tersebut. Padahal tak semenit tadi Arvin mengatakan jangan sok peduli. Tapi dirinya sendiri pun masih sangat peduli pada ayahnya.


Meskipun  hubungan mereka kurang baik dan Arvin selalu menjawab dengan ketus padanya, jauh didalam hatinya dia masih memperhatikan hal-hal kecil tentang ayahnya.


“Habis lulus kamu pulang kan, Vin?” tanya Candra setelah mereka selesai makan. Arvin hanya menghela napas dalam, tanpa menjawab.


“Ayah udah nyiapin posisi buat kamu diperusahaan. Kamu ngambil double degree dengan major bisnis dan IT buat itu, kan?”


“Siapa bilang? Aku sekarang ngambil master di IT karena gak mau nerusin perusahaan ayah. Aku mau jadi programmer, kerja biasa aja di tech industry.”


“Tapi ayah mau aku jadi pemimpin perusahaan, kan? Bukan ditempatin dibagian yang aku pingin? Aku gak akan balik ke Indo abis lulus.”


Mereka terdiam. Tak saling berbicara lagi untuk beberapa waktu. Arvin memandang keluar jendela pada beberapa orang yang kebetulan melintas di depan café.


“Kamu pulang ke Indonesia abis lulus, Vin. Jangan merantau kejauhan. Kalau kamu gak mau kerja diperusahaan. It’s okay. Asal kamu pulang. Kita bicarain ini nanti. Meskipun mau gak mau kamu bakal bertanggung jawab sama posisi itu.” Ucap Candra.


“Jangan tinggal terlalu jauh. Ibu kamu kangen banget sama kamu, Vin. Kalau ayah udah gak ada. Siapa nanti yang jagain?” Lanjutnya sendu.


Arvin tidak menjawab. Masih sibuk melihat orang berlalu-lalang lewat jendela café.


...****************...


Baru tadi pagi Arvin merasakan hangat dari genggaman tangan ayahnya, sekarang kehangatan itu menghilang. Terkubur dibalik tanah merah yang sedikit demi sedikit menutupi sosoknya. Padahal masih banyak yang ingin dia katakan, masih banyak pertanyaan dibenaknya, dan masih banyak hal yang ingin dia lakukan dengan ayahnya.

__ADS_1


Arvin tahu sekarang sudah terlambat. Harusnya dari dulu dia mencari tahu tentang perasaan-perasaan kedua orang tuanya. Mencari tahu tentang kebenaran-kebenaran yang mereka sembunyikan rapat dihatinya.


Padahal berulangkali mereka mencoba meraih hati Arvin. Sayangnya kebencian dan prasangka jelek selalu menguasainya, karena mereka meninggalkannya, karena mereka tidak pernah menghubunginya.


Doa-doa diucapkan oleh pemuka agama dan orang-orang yang mengantar ke tempat peristirahatan terakhir Candra. Tangis tak bisa Lena tahan, kini dia tak bisa lagi melihat sosok suaminya.


Dia membencinya bertahun-tahun atas pengkhianatan dan kebohongannya. Tapi dia juga begitu mencintainya, semua kenangan indah dan kebersamaan mereka tak bisa digantikan oleh apapun.


Selama ini dia berpikir membencinya, tapi setiap hari dia mencurahkan perhatiannya pada laki-laki itu. Memenuhi kewajibannya sebagai istri, mempertahankan rumah tangganya karena perpisahan hanya akan meninggalkan lebih banyak luka untuk anak-anak mereka. Lena pikir begitu. Tapi hatinya ternyata masih untuk Candra selamanya.


Meskipun kepercayaannya rusak dan perasaannya sakit. Setiap hari dia ingin membuktikan padanya bahwa dia adalah istri terbaik yang pernah dimilikinya. Membunuhnya perlahan dengan cintanya, hingga Candra akan selalu merasa bersalah pernah berpaling darinya.


Lena juga terus bertahan untuk Arvin. Agar tiap saat dia punya alasan untuk tetap behubungan dengan anak itu. Jika dia melepaskan Candra, itu artinya dia juga akan melepaskan Arvin. Anak yang sudah dirawat dan disusui dari bayi. Anaknya. Miliknya.


Meskipun hingga sekarang, Lena masih sangat takut pada kebencian yang selalu Arvin arahkan padanya. Atas semua kebohongan dan pengabaiannya demi memenuhi janji pada ibu Kartika.


“Kamu ke mobil duluan ya, Ra. Aku nyusul bentar lagi.” Kata Arvin pada Nara saat semua orang mulai meninggalkan tempat pemakaman.


Arvin butuh waktu berdua dengan ayahnya. Bukan. Sekarang dia sendirian. Seperti tadi pagi saat berada di rumah sakit. Apakah ayahnya mendengar permintaan maafnya? Apakah ayahnya bertahan hampir setahun terakhir ini untuk mendengar permintaan maafnya? Apakah pada akhirnya semua permintaan maaf dan penyesalan Arvin tersampaikan padanya?


“Kenapa sih sampai akhir ayah tetep diam? Kenapa gak bilang dari dulu semuanya biar aku gak salah paham? Kenapa gak jujur kalau ayah jauh-jauh ke Melbourne cuma karena kangen aku? Kenapa cuma ngirimin kue dan hadiah ulang tahun tapi gak pernah ngabarin? Kenapa nyuruh Pak Haris buat maksa daftarin aku jadi ketua OSIS? Kenapa nyuruh anak kenalan ayah temenan sama aku dan masukin aku ke band mereka? Kenapa ngirim Nara ke hidup aku? Sampai sekarang aku masih punya banyak pertanyaan buat ayah. Aku kira masih punya banyak waktu buat kita mulai lagi. Kenapa ayah ninggalin aku lagi?”


Hujan perlahan mulai turun. Membasahi tanah pemakaman yang masih baru itu, termasuk baju Arvin. Tapi dia tidak bergeming. Tetap diam berdiri disamping makan ayahnya. Membiarkan hujan menyamarkan air mata, yang sejak tadi tak bisa dia tunjukkan.


“Arvin, ayo pulang. Kamu kebasahan, nanti sakit.” Ucap Nara memayungi Arvin yang hampir basah kuyup.


Nara tahu Arvin sedih dan sangat ingin berada disana lebih lama. Tapi hujan mengguyur cukup deras. Dia tidak ingin suaminya itu sakit. Sedih dan sakit adalah kombinasi yang buruk untuknya.


Arvin membalikkan tubuhnya menghadap Nara, mengambil payung yang nara pegang. Kemudian memeluk tubu mungkil istrinya itu. Tersedu. Meskipun suaranya tersamarkan juga oleh hujan, sama seperti air matanya.


Nara membiarkan saja laki-laki terus memeluknya sambil menangis. Ditengah hujan dan tanah pekuburan. Arvin harus melepaskan ayahnya yang tak sempat dia bahagiakan. Mengucapkan selamat jalan untuk selamanya.

__ADS_1


 


__ADS_2