
Kepulangan Arvin dan Nara disambut oleh keluarga. Mereka sudah menantikannya, karena selama beberapa tahun pasangan ini memilih mengasingkan diri setelah kehilangan yang cukup hebat. Padahal, keluarga selalu siap jika mereka butuh bantuan atau hanya sekadar bercerita.
Tapi semua orang punya caranya sendiri untuk menyembuhkan luka, mungkin dengan cara pergi sejenak dari orang-orang terdekat seperti itu, mereka bisa lebih leluasa memperbaiki hati.
Selama beberapa waktu, Arvin dan Nara disibukkan berkunjung ke rumah orang tua mereka. Bercengkrama kembali bersama saudara. Sudah banyak yang berubah setelah mereka pergi cukup lama dari Indonesia, seperti orang tua mereka yang kini mulai tampak menua, Dania yang semakin pintar berbicara, Angga yang sudah memiliki anak laki-laki yang tampan, dan Audrey yang bersiap menikah dalam waktu dekat.
Mengkin diantara banyak perubahan disekitarnya, Nara dan Arvin merasa tetap sama saja. Tapi sebenaranya banyak perubahan besar dihati mereka. Kesalahan-kesalahan mereka dimasa lalu telah membuat keduanya semakin bijaksana memaknai hidup dan hubungan mereka.
Arvin mulai kembali lagi menjabat sebagai pimpinan diperusahaannya, berdua bersama Angga. Setelah kasus besar yang mengguncang perusahaan tersebut, ternyata banyak karyawan-karyawan biasa yang juga ikut bekerja sama menyokong kebusukan petingginya. Beberapa memilih mundur, sementara orang-orang yang bertahan menjalani proses audit dan pemeriksaan yang ketat untuk melihat keterlibatan mereka.
Banyaknya pegawai baru terutama diposisi-posisi penting sempat membuat perusahaan tidak stabil, kasus ini juga menyebabkan kepercayaan pemilik saham dan beberapa perusahaan yang bekerja sama menjadi goyah. Untung saja Angga dengan sigap menyelamatkan wajah perusahaan.
Meskipun jauh, Arvin masih terlibat dalam banyak keputusan penting diperusahaan. Dia tidak begitu saja lepas tangan menyerahkan pekerjaan pada Angga. Arvin tahu kakaknya itu juga cukup sibuk dengan semua hal diluar pekerjaannya. Maka dari itu pergantian posisi mereka sekarang bukanlah hal yang sulit bagi Arvin.
“Kamu mau kerja disini lagi, gak?” Tanya Arvin saat Nara duduk di sofa ruang kerjanya. Berkunjung untuk mengajaknya makan siang bersama.
“Ogah kalau atasannya kamu! Di rumah aja aku dikerjain terus apalagi disini.”
“Dikerjain apa? Aku gak pernah nyuruh-nyuruh kamu ngerjain hal berat. Di rumah aku kasih ART, supir, tiap minggu ada yang rawat kebun juga.” Protes Arvin.
“Bukan dikerjain itu, tapi dibikin mandi terus. Capek!” Nara membolak balik majalah yang tergeletak di meja dengan malas.
Arvin tertawa kencang mendengarnya. “Itu bukan dikerjain, tapi lagi disayang.”
“Mana ada disayang kayak gitu. Bikin badan sakit semua. Katanya sayang tapi tiap hari diajak main gulat.” Nara sebal pada kelakuan suaminya itu yang semakin sulit dikontrol.
Arvin beranjak dari tempat duduknya, kemudian membungkukan tubuhnya untuk mengecup pipi Nara yang sekarang sibuk membolak-balik halaman majalah di sofa.
“Tapi kamu suka juga, ‘kan?” Bisiknya, membuat Nara salah tingkah.
__ADS_1
Benar. Dia menyukai semua sentuhan yang Arvin lakukan. Malah lebih parahnya lagi, setiap hari Nara semakin menyukai laki-laki ini. Sikapnya yang hangat dan menyenangkan. Kata-kata gombalnya yang membuat salah tingkah sekaligus menenangkan. Termasuk sentuhannya yang seakan membuatnya terbang.
“Yuk makan!” Ajak Arvin.
Mereka keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift untuk turun ke parkiran. Nara jadi mengenang masa-masa bekerja disini. Meskipun dulu Arvin adalah atasan yang menyebalkan, namun Nara cukup menyukai pekerjaannya. Saat tahu kehormatannya telah direnggut bosnya sendiri, dia langsung memilih keputusan besar untuk berhenti. Kemudian membenci setiap kenangannya disini.
Nara tidak menemukan teman-teman lamanya lagi disini. Mereka memilih resign dari kantor karena merasa takut akibat bekerja sama dengan Rivanno untuk menyebarkan gosip mengenai Arvin lewat group chat yang mereka buat. Semua itu ide Rivanno. Meskipun sekarang mereka benar-benar meminta maaf dan menyesal atas perbuatannya.
Dulu Nara hanya pegawai biasa, sekarang setiap langkahnya berpapasan dengan karyawan diperusahaan, mereka akan menyapa dan memberi hormat padanya. Sekarang dia adalah satu-satunya perempuan yang menyematkan nama Aditama dinama belakangnya, sebagai istri sah pemilik perusahaan ini. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan. Tiba-tiba merasa seperti seorang Cinderella.
Mereka sudah duduk di Le Quartier, salah satu restoran Prancis yang terkenal di daerah Senopati. Nara tiba-tiba mengajak Arvin untuk makan siang dengan menu makanan Prancis karena menonton tayangan di youtube. Dia sangat penasaran tentang rasa Escargot. Salah satu olahan yang terbuat dari bekicot yang dibumbui dengan bawang putih, cuka, dan bumbu lain.
Nara sedikit ragu saat makanan tersebut dihidangkan di meja. Dia hanya menatapnya lama sambil menggigit bibir bawahnya dengan gusar. Padahal sudah menonton orang-orang memakan ini di internet berualang-ulang kali, hingga Nara tergoda untuk mencobanya. Tapi sekarang dia tampak ngeri melihatnya, walapun bekicot tersebut sudah dikeluarkan dari cangkangnya.
“Ayo dong makan! Masa dilihatin terus dari tadi? Katanya mau makan Escargot sampe merengek terus minta kesini,” kata Arvin yang melihat Nara masih ragu untuk memakan makanannya.
“Rasanya aneh gak ya?”
“Tapi kamu makan penyu berani.”
“Ya kan beda. Lagian suppon banyak manfaatnya buatku, ‘kan? Aku bisa kuat seminggu bercocok tanam.”
Nara langsung memelototi Arvin yang sudah mulai berada diluar jalur pembicaraan. Dia kemudian menghadapi kembali makanannya dengan penuh pertimbangan.
Sepotong Escargot kecil diambil menggunakan garpu, dengan hati-hati Nara mencicipinya. Rasanya lembut dan gurih. Tapi tiba-tiba perutnya bergolak, setelah beberapa saat menelan makanan tersebut.
“Ra, kenapa?” Tanya Arvin ketika melihat Nara langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergegas ke toilet.
Nara tidak memedulikan panggilan Arvin, lekas saja dia berjalan menuju toilet, memuntahkan isi perutnya di kloset. Padahal dia baru makan satu suapan, tapi perunya terasa diaduk-aduk tak karuan. Semua dia muntahkan tidak bersisa, bahkan makan paginya pun sekarang ikut keluar. Tiba-tiba tubuhnya lemas dan pusing setelah muntah. Nara duduk sebentar ditoilet untuk beristirahat.
__ADS_1
Menyebalkan!
Ternyata makanan orang kaya tidak terlalu cocok untuknya. Dia tidak benar-benar menjadi Cinderella seperti bayangannya. Bisa-bisanya sekarang dia alergi makanan.
Setelah kuat berdiri Nara kembali ke mejanya. Arvin terus memandanginya dengan khawatir karena tiba-tiba Nara keluar dengan wajah pucat dan keringat yang berkumpul di dahinya.
“Kamu gak apa-apa, hah? Jangan-jangan kamu keracunan makanan ini. Aku panggilin manager-nya suruh cek kualitas makanannya,” ucap Arvin sangat khawatir.
“Gak usah. Pulang aja. Kayaknya aku emang gak cocok aja makan ini. Tuh yang lain biasa aja makannya.” Kata Nara menunjuk dengan dagunya ke meja lain yang memesan Escargot juga.
Mereka akhirnya pulang tanpa menimbulkan keributan apapun. Meskipun Arvin sangat ingin protes terhadap restoran tersebut, tapi mungkin masalah sebenarnya bukan dari kualitas makanan. Melainkan Nara yang tidak terlalu familiar dengan menunya.
“Masih mual dan pusing? Mau ke dokter gak? Siapa tahu beneran keracunan,” ucap Arvin saat mengendarai mobil pulang. Dia jadi terpaksa pulang lebih dulu dari kantor karena Nara yang tiba-tiba sakit.
“Gak ah. Aku pingin tiduran aja. Masih mual dan pusing sih, tapi gak kayak tadi.”
Mobil berhenti di lampu merah. Tertahan beberapa menit disana. Saat itu Nara tiba-tiba melihat warung yang menjual es campur. Sepertinya enak memakan es campur untuk meredakan rasa mualnya.
“Vin, aku mau es campur itu. Kayaknya seger ya.” Nara menunjuk warung yang berada di sebrang.
“Hah?” Arvin menengok ke arah yang Nara tunjuk. “Ck… Es campur bikin dirumah aja. Bi Yayah juga bisa bikin yang kayak gitu.”
“Gak mau! Aku pingin es campur di warung itu. Aku turun nih.”
“Heh jangan sembarangan turun tengah jalan kayak gini ya! Kamu mau ketabrak? Tunggu sebentar jangan turun disini, aku cari tempat parkir dulu.”
Setelah lampu merah berubah hijau, Arvin segera melajukan mobilnya mencari parkiran yang tidak jauh dari jalan menuju warung es campur yang ditunjuk Nara. Dari sana mereka berjalan kaki sebentar menuju lokasi yang dituju.
Nara memesan es campur yang diinginkannya, dengan bersemangat dia melahapnya. Wajahnya yang sempat terlihat pucat dn lesu kini berubah menjadi berwarna kembali. Namun beberapa menit kemudian dia mendorong mangkuk es campurnya ke depan Arvin. Wajahnya cemberut.
__ADS_1
“Udah ah kenyang. Ternyata gak seseger yang aku kira. Perutku makin gak enak. Habisin nih cepet, aku pingin pulang.”
Arvin tidak berkata apa-apa, namun dari reaksinya dia jelas terlihat bingung sekaligus jengkel dengan ulah istrinya yang membingungkan hari ini. Tiba-tiba merengek ingin memakan sesuatu, tapi setelah memakannya malah justru tidak berselera lagi. Aneh.