Halo Arvin!

Halo Arvin!
Berkunjung


__ADS_3

Selama 2 hari Arvin sibuk menghadiri acara dengan beberapa studio game lokal di Bandung terkait kerjasama teknologi game. Saat ini Arvin sedang membidik industri-industri yang perkembangannya pesat dan menjanjikan untuk mendukung perusahaannya yang bergerak di bidang IT.


Salah satu keunggulan keunggulan Arvin adalah sangat visioner terhadap kerjasama IT diberbagai bidang yang tidak pernah Aditama Corp coba. Idenya lebih segar dan mengikuti zaman. Membuat Arvin tetap menjadi andalan perusahaan meskipun skandal tentang pernikahannya sempat menjadi masalah bagi para petinggi Aditama Corp.


Tanpa Nara ketahui, Arvin mengalami saat-saat sulit diperusahaan karena skandal pernikahannya dengan Nara. Beberapa wakil direksi menolak Arvin untuk memimpin perusahaan karena dianggap tidak mencerminkan pemimpin yang baik dengan perilakunya yang tidak bermoral. Membuat buruk citra perusahaan.


Mereka menyetujui untuk menggantikan Arvin dengan Angga. Namun keributan tersebut berhasil diredam dengan campur tangan Candra. Acara makan malam yang mereka hadiri dulu adalah isyarat Candra pada keluarga dan rekan bisnisnya bahwa Arvin yang akan melanjutkan legasinya.


Nara baru mengetahui hal-hal tersebut dari Adam, juniornya sekaligus sekretaris baru Arvin yang saat ini juga ikut menemani business trip ke Bandung. Adam juga banyak memberikan informasi mengenai isu serta gosip-gosip yang tersebar di kantor mengenai dirinya dan Arvin.


Semua hal yang mengenai Arvin, keluarganya dan perusahaan membuat hatinya berat. Nara belum menetapkan hati akan menerima Arvin. Tapi dia sudah berjanji akan membesarkan anak mereka bersama, itu artinya Nara juga mau tidak mau terlibat dalam urusan-urusan Arvin yang lain.


Nara melihat Arvin yang tertidur kembali setelah subuh. Acara 2 hari kemarin sepertinya menguras energinya. Makanya dia bermalas-malasan seperti sekarang. Padahal dia menjanjikan akan berkeliling Kota Bandung pada Nara.


“Vin, lo bilang mau ngajak jalan-jalan. Kok masih tidur sih? Nanti keburu siang! Ayo bangun cepetan!” Kata Nara mencoba membangunkan Arvin yang tidur telungkup di kasur hotel.


“Yang mana? Kalau yang bawah udah bangun dari tadi.” Balas Arvin saat terbangun. Menggeliat malas kemudian duduk di kasur.


“Cowok gila!” Kata Nara memukul lengan Arvin, menyebabkan laki-laki itu meringis kesakitan.


Setelah kejadian beberapa waktu lalu dan pembicaraan mereka, Arvin mulai lebih berani melontarkan candaan-candaan dewasa pada Nara dengan cukup nyaman. Meskipun akan Nara balas dengan cibiran jijik dan pukulan kesal.


Arvin tahu Nara tidak benar-benar marah. Dia hanya belum terbiasa dengan perilaku dan perkataan Arvin yang seringkali tanpa kontrol seperti itu. Sedikit demi sedikit mereka mulai nyaman untuk menunjukkan diri mereka sebenarnya dan apa adanya.


Ini adalah hal yang sangat Arvin harapkan. Hubungan mereka tidak secanggung dulu. Mereka lebih nyaman dengan keberadaan satu sama lain.


Arvin sibuk mengendarai mobilnya, menembus jalanan Bandung yang cukup macet ketika weekend. Bagaimana tidak, kota tersebut menjadi tujuan wisata orang-orang ibu kota untuk sekadar melepas penat dan mencari suasana baru yang sejuk dan nyaman. Mereka berdua juga sama.


Beberapa kali Nara juga datang kesini bersama keluarga ataupun rekan kerja. Liburan dan berjalan-jalan ditempat wisata dan mencicipi kuliner khas Bandung yang beragam.

__ADS_1


“Vin, lo gak mau nyeritain sesuatu gitu sama gue?” Tanya Nara mencari topik pembicaraan.


“Apa misalnya?”


“Soal kerjaan. Kantor.”


Nara tahu bagaimana tempat kerjanya itu, 4 tahun bekerja disana dan hapal bagaimana orang-orang memakan gosip dan isu terhangat menjadi sarapan harian mereka. Salah satu alasan dia tidak mencoba menghubungi teman kantornya lagi setelah sekian lama juga karena hal tersebut.


Bisa dibayangkan reaksi mereka ketika tahu bahwa Nara menjadi istri Arvin, apalagi karena hamil diluar nikah. Selain gosip dan cibiran. Biasanya para atasan akan mencoba menyingkirkan orang-orang yang dianggap berperilaku tidak sesuai norma. Mereka bertingkah seperti polisi moral.


Nara mengerti saat Adam menceritakan posisi sulit Arvin saat kabar tentang pernikahannya tersebar. Para petinggi akan kehilangan kepercayaan dan respect-nya pada Arvin.


“Semuanya oke kok. Kita dapet beberapa kerjasama baru. Laporan kuartal keempat aman. Kamu mau taunya soal apa?” Jawab Arvin santai.


Nara tidak bisa mengatakan dengan jujur bahwa ada perasaan khawatir yang tiba-tiba dia rasakan untuk Arvin. Aneh untuk mengatakannya dan tentu saja aneh dia merasa bersimpati dengan posisi Arvin yang cukup sulit diperusahaan. Kenapa tiba-tiba dia peduli?


“Ngga kok. Cuma pingin tau aja. Gue kangen kerja soalnya.”


“Gue mau kerja lagi, tapi gak dikantor lo.”


“Emangnya kenapa?”


“Ya menurut lo sendiri? Lo juga dapet tekanan karena hubungan kita kan? Soal kabar tentang lo sama gue?”


Sial! Nara terpancing mengajukan pertanyaan itu!


Arvin tersenyum tipis, “Aku sih gak ada masalah. Kalau kamu ngerasa kurang nyaman balik lagi, mungkin emang gak usah  kerja dikantorku.”


“Lo beneran dapet tekanan karena masalah kita?”

__ADS_1


“Adam yang bilang?” Tanya Arvin “Masalah moralitasku gak berpengaruh sama kinerja. Lama-lama mereka juga paham sendiri gak ada untungnya ngurusin hubungan personalku sama cewek manapun. Ga ngaruh sama kerjaan. Lagian si kumis juga punya banyak masalah moral dimasa lalu tapi tetap stand as leader kok. Kenapa? Kamu khawatir ya sama aku?” Arvin tersenyum dan menatap sekilas Nara dan mengalihkan pandangannya lagi ke jalan.


“Ngga. Siapa bilang?” Balas Nara merengut. Malu untuk mengakui bahwa dia memang sempat khawatir Arvin mengalami kesulitan.


“Tenang aja. Suami kamu gak lemah dan gak gampang down cuma karena digosipin aneh-aneh. Aku cuma lemahnya sama kamu doang.” Goda Arvin.


“Huweek. Makin menjijikkan gombalannya.”


Arvin hanya tertawa mendengar respon Nara. Tapi hatinya menjadi hangat mengetahui Nara ternyata diam-diam mengkhawatirkannya. Mungkin.


Mobil berhenti disalah satu perumahan di daerah Dago. Nara bingung sesaat ketika Arvin menyuruhnya turun dari mobil. Disini tidak ada tempat menarik apapun. Hanya rumah warga biasa yang asri dan tertata dengan baik.


“Ngapain kesini?”


“Sebenernya aku ngajak kamu ke Bandung bukan cuma buat liburan doang sih. Aku mau kenalin kamu sama keluarga aku.”


“Bukannya udah pas acara makan malam dulu.”


“Itu keluarga dari si kumis. Ini keluarga ibu kandung aku, adiknya nenek. Dulu aku sering berkunjung kesini sama nenek.”


Nara terlihat ragu. Dia benar-benar tidak siap untuk bertemu keluarga Arvin yang lain. Dia masih mengingat rasa canggung dan ketegangan saat diperkenalkan pada orang-orang baru di keluarga Arvin. Saudara-saudara jauhnya yang tidak Nara kenal.


“Tenang aja. Beda kok dari yang dulu.” Kata Arvin yang menyadari keraguan dan rasa khawatir dalam sorot mata Nara.


Terpaksa Nara mengikuti Arvin turun dari mobil. Rumah dua lantai dengan cat berwarna putih dan taman yang sangat asri menyambut mereka. Baru saja Arvin membuka pagar, seorang laki-laki seumuran Arvin datang dengan wajah sumringah.


“Maneh kamana wae tara kadieu?” (Kamu kemana aja jarang kesini?)


"Sibuk atuh urang mah. Jelema penting." (Aku sibuk. Sekarang orang penting.)

__ADS_1


Arvin menjabat tangan dan memeluknya. Mereka tertawa sambil terus berbincang dengan Bahasa Sunda. Nara baru tahu kalau Arvin sangat fasih berbahasa Sunda. Mereka seperti teman lama yang terpisah dan saling merindukan.


__ADS_2