
Nara menggulung kembali tubuhnya dibalik selimut pagi ini. Kepalanya berdenyut terasa sakit, matanya bengkak, dan suaranya serak. Meskipun begitu hatinya nyaman dan lega. Setelah mengucapkan perasaan dan kegusaran dihatinya kepada Arvin semalaman penuh.
Mereka berdua berjanji pada satu sama lain untuk memulai kembali semuanya dari awal. Pernikahan atas dasar cinta, kejujuran dan kepercayaan. Bukan lagi Arvin dan Nara yang menikah karena harus mempertanggungjawabkan perbuatan hamil diluar nikah.
Hatinya kini menjadi lapang dan tenang. Sekarang dia akan belajar mencintai Arvin dengan segala kerumitan hidupnya. Mungkin tidak akan mudah, tapi Nara akan berusaha menjadi pendamping yang baik untuknya. Memberikan cinta yang Arvin butuhkan, sama seperti cinta yang sudah Arvin berikan padanya.
“Kamu kenapa tidur lagi?” Tanya Arvin sambil berbaring dan memeluk Nara dari belakang.
“Kepalaku sakit.” Jawab Nara dengan suara serak. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Arvin.
“Makanya aku bilangin jangan sambil nangis ceritanya.”
“Ya gak bisa lah. Air matanya turun sendiri.”
“Bumil cengeng.” Ucap Arvin sambil terkekeh.
“Kok kamu malah ngeledek gitu sih?”
“Gak ngeledek kok.” Tapi jelas Arvin memang sedang menggoda Nara. “Mau makan apa? Biar cepet minum obat.” Lanjutnya.
“Pingin yang berkuah dan hangat.”
“Hangat? Kayak pelukan aku maksudnya?” Arvin memeluk lebih erat. Menggosokan wajahnya ke rambut Nara.
“Nggak. Pelukan kamu tuh mesum.” Nara menjauhkan Arvin dari tubuhnya. “Udah sana ah! Aku lagi sakit kepala!”
“Ya udah aku pergi asal cium dulu.”
Nara mengecup singkat bibir Arvin. Namun tampaknya laki-laki itu tidak senang. Dia malah merengut dan mendengus kesal.
“Kamu beneran gak tau cara ciuman yang bener? Sini aku ajarin.”
Arvin mendekatkan wajahnya, bibir mereka bertemu dan dia mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Nara. Sontak saja membuat Nara kaget. Dia mendorong Arvin. Pagi-pagi seperti ini dia sudah menyerangnya dengan liar. Nara belum siap untuk hal-hal seperti itu.
Apalagi tadi malam Arvin benar-benar semaunya, melakukannya berulang-ulang dan membuat Nara kewalahan. Mungkin bagi Arvin itu hanya ciuman, tapi untuk Nara semua sentuhan membuat hatinya kewalahan.
“Kenapa sih? Masih takut sama aku?” Bisik Arvin.
“Aku lagi gak enak badan.” Balas Nara berbisik.
“Sorry. Kalau gitu aku masak sarapan dulu biar kamu bisa makan dan minum obat.”
“Oke.”
__ADS_1
“Tunggu ya, Princess! Chef Arvin masak dulu.”
Mereka saling berbisik satu sama lain seperti sedang membicarakan rahasia. Nara tertawa geli mendengar panggilan Arvin untuknya. Laki-laki ini benar-benar penggombal ulung. Anehnya Nara semakin terbiasa dan sekarang menyukainya.
...****************...
Setelah minum obat dan tidak sejenak, tubuh Nara lebih segar. Sakit kepalanya sudah menghilang. Tapi dianya kembali lapar. Sambil tersenyum Nara mengelus perutnya yang kian hari semakin membuncit.
Tapi menurutnya, memasuki trimester kedua ini semuanya berjalan sangat lancar. Tubuhnya tidak cepat lemas, pusing atau mual. Meskipun kadang emosinya juga masih turun naik. Namun tubuhnya lebih stabil dibandingkan sebelumnya.
Nara menantikan jadwal kontrol berikutnya untuk melihat perkembangan bayi dalam perutnya. Pasti sekarang dia sudah semakin pintar, karena Nara semakin sering merasakan desiran aneh yang membuatnya geli sekaligus kaget.
“Kenapa ngelus perut terus? Sakit?”
Arvin duduk di ranjang, menyandarkan diri ke tumpukan bantal dan memegang salah satu novel koleksi Nara. Dia sejak tadi memperhatikan Nara yang terbangun kemudian mengelus perutnya
“Dedeknya gerak-gerak.” Jawab Nara ceria.
“Serius? Mana?” Arvin langsung penasaran dan meletakkan tangannya diperut Nara. Dia menunggu beberapa saat, tapi tidak merasakan apapun. Alisnya tertaut bingung.
“Gak ada. Gak kerasa apa-apa.” Kata Arvin setelah memegang perut Nara cukup lama.
“Ada kok. Pokoknya ada gerak aneh. Kayak ada ikan dalam perut.”
“Gak kerasa. Apa karena baru 18 minggu?” Tanya Arvin kecewa. Akhirnya dia hanya mengelus perut Nara dengan lembut. Dia sangat menyukai sensasi aneh mengelus oerut buncit tersebut. Hatinya hangat. Senyuman tiba-tiba melengkung dibibirnya.
“Baca buku kesukaan kamu. Kok kamu doyan banget baca novel mafia tampan, suami dingin, CEO keja—“
“Berisik! Itu kan cuma fiksi, buat hiburan doang.” Kata Nara sambil menutup mulut Arvin.
“Kan fiksi bisa jadi selera terpendam kamu.” Goda Arvin menyingkirkan tangan Nara dari mulutnya. “Kamu mau aku acting kayak gitu juga gak? Aku bisa kok. Biar kamu makin suka.”
“Gak usah! Aku suka kamu yang aneh dan ngeselin kayak sekarang kok.”
“Oh ya? Kalau gitu sun dulu.”
“Ogah!” Nara mendorong Arvin yang mendekat dengan bibir mengerucut minta dicium.
Arvin pura-pura merengut kecewa. Kemudian mengambil ponsel yang bergetar diatas nakas. Dia membuka pesan yang dikirimkan padanya dan membalasnya segera.
“Siapa?” Tanya Nara penasaran mencondongkan tubuh melihat Arvin membalas pesan. Nara takut itu berasal dari Keysa. Perasaan cemburu melesat menyakiti hatinya.
“Gege. Nanyain gitar yang mau aku jual. Kenapa?”
__ADS_1
“Pinjem hp kamu dong?”
Arvin menyerahkannya pada Nara. Meskipun wajahnya terlihat bingung.
“Kamu udah blokir nomor mantan kamu, kan?” Tanya Nara sambil cemberut.
Arvin tersenyum kemudian mengangguk. “Udah, Sayang. Kenapa? Gak percaya? Coba lihat aja. Udah gak ada apa-apa soal dia di hp aku.” Arvin kemudian merangkul pinggang Nara. Menyandarkan kepalanya di pundak Nara, sambil terus memperhatikan istrinya yang sibuk memainkan ponselnya.
“Pasti kamu masih nyimpen foto dia.”
“Foto? Kayaknya aku gak pernah simpen foto dia. Banyakan juga foto kamu di hp aku.” Ucap Arvin kemudian mengecup leher Nara. Membuatnya bergidik. Arvin tertawa kecil dan menegakkan tubuhnya.
“Ada kok. Aku liat foto dia pas kamu pinjemin hp buat pesen gofood pas pertama kali aku tinggal disini.”
Arvin mengerutkan dahi, berpikir. Tapi dia tidak mengingat apapun. Apalagi menyimpan foto Keysa setelah mereka putus. Dia hanya mengedikkan bahu tidak peduli.
Galeri foto di ponsel Arvin kini berisi foto-foto Nara yang Arvin ambil diam-diam. Nara bisa melihat foto-foto yang dia ambil saat ke akuarium, ke museum, saat jalan-jalan di Bandung, saat menunggu antrian kontrol di RS, dan saat tertidur. Malah dia memotret Nara dari belakang, mengenakan gaun tidur yang roknya setengah tersingkap.
“Kenapa sih kamu fotoin aku lagi tidur? Serem tau ga, kayak orang mesum!” Ucap Nara tidak senang.
“Ya emang kenapa? Kan gak fotoin cewek sembarangan. Aku fotoin istri sendiri. Soalnya menggoda banget.”
Arvin menyapukan sentuhan tangannya dipaha Nara, dan mengelusnya lama. Nara membiarkannya saja dan fokus mencari foto Keysa digaleri foto Arvin. Meskipun rasanya aneh dan geli.
“Tuh kan. Ada!” Seru Nara menemukan foto-foto Keysa di ponsel Arvin. Kemudian langsung menghapus semuanya.
Nara cemberut dan terlihat bad mood melihat wajah Keysa kembali, meskipun hanya ada di ponsel Arvin dan dia segera menghapusnya. Dia benar-benar benci melihat perempuan itu. Membayangkan Arvin selalu bersamanya sejak remaja menambah kekesalan Nara.
Arvin mengecup bibir Nara singkat, “Jangan cemberut. Jadi gak cantik. Aku gak inget pernah nyimpen foto itu. Hapus aja semua yang menurut kamu ganggu. Lagian aku juga udah hapus kenangan sama dia. Mau fokus bikin yang baru sama kamu.” Kata Arvin tersenyum.
“Gombalnya jago banget sih.”
“Iya dong. Aku udah banyak pengalaman.” Kata Arvin ceria. “Tapi kalau yang ini belum. Soalnya baru pertama ngelakuinnya sama kamu.” Lanjut Arvin, menelusuri kulit paha Nara yang halus. Menyelipkan jarinya pada dalaman yang Nara kenakan.
Seketika Nara terlonjak kaget saat Arvin menyentuhnya, hingga dia mendorong Arvin menjauh. Dia langsung berdiri dan turun dari kasur.
“Gak mau. Jangan dulu.” Ucap Nara setengah berteriak. Kemudian berlari keluar kamar.
Arvin kecewa dan merebahkan diri diatas kasur.
Tenang, Vin! Tenang!
Besok masih bisa.
__ADS_1
Dia masih punya banyak waktu untuk melakukannya. Selamanya. Arvin tersenyum membayangkannya.
Dasar pikiran kotor!