
Arvin hari ini merasa sangat lelah, meeting membahas keuangan memang memakan waktu dan menguras energinya. Apalagi dia harus menghadapi Angga yang selalu saja menyela dan protes dengan beberapa usulannya. Setiap hari rasanya dia ingin pergi, mecopot jabatannya yang masih berstatus pengganti ayahnya. Tapi jelas tidak bisa, sekarang dia punya Nara. Orang yang harus dia hidupi. Arvin harus bekerja alih-alih memanfaatkan kasih sayang ayahnya dengan memberikannya uang dan semua fasilitas mewah yang dia nikmati.
Saat masuk ke penthouse-nya, Arvin mendengar suara Nara yang sedang muntah-muntah. Nara selama ini tidak pernah mengalami gejala morning sickness, dan mual-mual. Meskipun setiap hari dia terlihat lemas dan pucat. Segera saja dia berlari menghampiri suara tersebut.
Nara sudah terduduk dilantai kamar mandi, menangis, memegang perutnya, dengan wajah yang pucat pasi. Keringat bermuculan di dahinya. Darah mengotor rok yang dikenakan Nara. Melihat pemandangan itu, Arvin kaget. Arvin sudah paham apa yang terjadi dengan gadis itu, tanpa bertanya sekalipun. Tanpa berkata apapun dia langsung menggendong Nara dan turun lewat lift menuju basemen tempat dia memarkirkan mobil.
“Perut.. gue .. sakit.. Vin..” Kata Nara terbata saat dalam perjalanan, air mata berjatuhan tak kendali, dan kini tangannya mencengkram lengan Arvin dengan keras. Wajahnya semakin pucat, lebih dari biasanya.
“Bentar lagi nyampe. Tahan bentar, Ra.” Kata Arvin berusaha menenangkan. Namun dia sendiri juga panik setengah mati. Bagaimana tidak, dia baru saja pulang dan mendapati istrinya sedang dalam kesakitan seperti itu.
Saat Arvin sudah mencapai IGD, Nara tak sadarkan diri. Segera saja dokter melakukan tindakan medis untuk menolong Nara. Infus segera dipasangkan ke tubuh Nara dan beberapa obat yang disuntikan ke dalam selang. Arvin diminta menunggu beberapa waktu oleh perawat, hingga dia tidak bisa melihat Nara yang sedang dalam perawatan.
Batin Arvin rasanya campur aduk. Dokter belum memberikan penjelasan apapun. Namun Arvin tahu ada yang tidak beres dengan kandungan Nara. Apakah dia keguguran? Ketakutan timbul membuatnya stress. Kehamilan Nara memang membawa masalah di kehidupan mereka, Tapi Arvin tidak ingin kehilangan calon bayinya.
“Suaminya Bu Nara ya?” Kata seorang dokter perempuan yang baru saja menangani Nara.
“Iya, dok. Istri saya gak apa-apa kan dok?”
“Istri bapak sudah diberi tindakan dan diberi obat untuk penguat kandungan, pendarahannya tidak terlalu parah, dan kami sudah melakukan USG untuk melihat kondisi janin. Untungnya masih ada kantung janin, meskipun kita belum tahu apakah masih bagus atau sudah rusak. Kita tunggu sambil dilakukan pengobatan sampai pendarahannya selesai.”
“Maksudnya janinnya belum keguguran, dok?”
“Jadi begini, Pak. Keguguran itu ada beberapa jenis dan tahapnya. Kondisi Bu Nara saat ini dinamakan abortus imminens, dimana terjadi pendarahan namun masih terdapat kantung janin dan masih berada di uterus. Disarankan untuk rawat inap dan bed rest selama beberapa hari. Kita akan meresepkan obat untuk menguatkan kandungannya.”
__ADS_1
Arvin mengangguk dan paham dengan penjelasan dokter yang sangat ramah tersebut.
“Sebelumnya Bu Nara sedang mengkonsumsi obat tertentu atau jamu dan minuman herbal lain?” Tanya dokter.
“Saya rasa ngga sih, dok.” Jawab Arvin, seingatnya Nara tidak makan dan minum yang aneh. Sarapan selalu Arvin buatkan untuk Nara setiap pagi, dan makan siang akan dibuatkan oleh Bi Marni sebelum dia pulang pukul 13.00 setiap hari.
“Kalau Bu Nara mengkonsumsi minuman herbal atau jamu dan obat yang tidak diresepkan oleh dokter kandungan, lebih baik dihentikan dulu ya. Kalau ada keluhan kesehatan selama kehamilan lebih baik langsung periksa daripada mengkonsumsi obat sembarangan.” Tutur dokter tersebut, kemudian dia pergi untuk kembali berjaga di pos dokter IGD.
Nara dipindahkan ke ruang rawat inap malam itu. Dia sudah diberi obat tidur agar bisa beristirahat semalaman. Arvin duduk di kursi samping ranjang Nara, memperhatikannya tertidur dengan damai. Perasaannya sangat lega karena Nara dan bayinya selamat. Meskipun seperti yang dijelaskan oleh dokter, perlu pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi kandungan Nara. Untuk saat ini hanya perasaan lega saja sudah cukup. Arvin tidak meminta lebih.
...****************...
“Gue keguguran kan, Vin?” Tanya Nara lemah saat dia sudah terbangun pagi itu. Wajahnya masih pucat.
Arvin menggeleng, “Nggak. Dokter bilang belum keguguran, janinnya masih dalam perut lo. Makanya diresepin buat penguat kandungan.”
“Iya. Masih kok. Makanya minum obat biar kehamilan lo kuat.”
“Tapi kemarin gue pendarahan, terus perut gue kram dan sakit.. Kenapa? Kok bisa gue masih hamil?”
“Dokter kemarin ngejelasin, gue lupa istilah medisnya apa, tapi dia bilang kantung janinnya masih aman, dan pendarahannya juga ga parah. Untung aja gue cepet-cepet bawa lo ke rumah sakit. Jadi bisa langsung ditanganin deh.” Kata Arvin menjelaskan, Nara masih memasang wajah kebingungannya, “Udah gak apa-apa. Lo baik-baik aja kok.” Lanjut Arvin menenangkan.
STOP!
__ADS_1
Tidak. Nara tidak baik-baik saja mendengarnya. Semua penjelasan Arvin membuatnya sangat jengkel. Kenapa bayi itu masih ada dalam perutnya? Padahal dia sudah sangat kesakitan kemarin dan mengalami pendarahan. Harusnya dia sudah gugur seperti yang dikatakan oleh dokter aneh itu. Harusnya usaha Nara menggugurkan kandungannya berhasil.
Ini bencana!
Nara harus segera pulang dan meminum obat sialan yang membuatnya keakitan itu lagi. Mungkin harusnya Nara menenggak 2 pil sekaligus dan menghabiskan botol ramuan yang tersisa satu lagi. Agar semua ini segera berakhir. Nara benci kandungannya masih selamat.
“Gue pulangnya kapan?”
“Gak tau, dokter suruh lo bed rest beberapa hari disini. Bisa jadi lebih lama kalau kondisi lo masih butuh perawatan.”
Menyebalkan! Menyebalkan!
Harusnya dia tidak seperti ini. Kenapa sih rencananya selalu gagal? Kenapa sulit sekali melepaskan diri dari Arvin dan hal yang berhubungan dengan dia? Kenapa bayi itu masih saja berada dalam pertunya?
Nara marah dan kesal pada dirinya sendiri. Apalagi hari itu kondisi tubuhnya juga sangat lemah dan harus selalu dibantu oleh Arvin. Nara benci harus dapat bantuan dari laki-laki menyebalkan ini. Kenapa dia sok perhatian padanya? Perkataannya benar-benar lembut dan dia sangat peka terhadap kebutuhan Nara. Padahal dulu dia sangat menyebalkan. Kasar, sombong, bermulut tajam, dan tidak sopan. Harusnya Arvin terus seperti itu, agar Nara juga bisa terus membencinya.
Benar-benar sandiwara paling tidak bermutu! Semua perilaku Arvin sekarang pasti pura-pura.
Nara berharap Arvin membencinya juga. Kemudian mereka bisa saling melepaskan dan tidak usah saling menipu seperti sekarang. Jangan sok perhatian padanya. Nara tidak membutuhkannya sama sekali. Membuatnya muak!
“Lo mau sarapan sekarang gak? Abis itu minum obatnya.” Tanya Arvin sambil menyiapkan makanan Nara yang sudah disediakan rumah sakit.
“Ga mau. Gue ga nafsu makan.”
__ADS_1
“Tapi lo harus minum obat, Ra.”
“Gue mual, ga mau makan. Ga usah banyak omong deh lo!” Protes Nara kesal.