
Arvin turun ke dapur untuk mengambil air minum. Jam dinding di kamarnya menunjukan pukul 23.15. Langkahnya pelan sambil sesekali menguap karena masih mengantuk, namun dia kehausan. Arvin terperanjat saat melihat ayah mertuanya sedang duduk sendirian di dapur. Melamun.
“Bapak kenapa belum tidur?” Tanya Arvin mendekati meja makan.
“Susah tidur kalau gak sama istri,” balasnya sambil tertawa.
“Mau aku bikinin kopi? Atau teh mungkin?”
“Teh aja.”
Arvin menyiapkan teh panas untuk ayah mertuanya, kemudian bergabung duduk di meja makan. Kantuknya seketika hilang. Mereka menyesap sesekali minuman tersebut. Hening dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, serta canggung yang ternyata masih menggantung diantara keduanya.
“Bapak boleh nanya sama kamu?” Ahmad memulai pembicaraan. Arvin mengangguk dengan cepat menjawabnya. “Kamu beneran sayang kan sama Nara?” Lanjutnya.
“Aku sayang banget sama Nara.”
“Bukan karena dia lagi ngandung anak kamu, kan?”
“Aku sayang semua hal yang ada pada Nara. Bukan karena bayi yang ada dalam perutnya aja. Bapak pasti khawatir ya?”
Ahmad tersenyum dan mengangguk. “Semua orang tua pasti khawatir sama anaknya. Takut pilih pasangan yang salah dan menyakiti mereka. Apalagi kalian kan kenalnya juga belum lama, terus nikah karena kejadian yang gak diinginkan. Bapak takut nanti Nara patah hati lagi dan disia-siakan sama laki-laki kayak dulu. Padahal udah sayang, keluarga udah kenal, terus gak lama mau nikah. Tapi malah tiba-tiba mundur dan mutusin. Meskipun sekarang Bapak mikir kalau dilanjut juga percuma, malah kayaknya bakal saling menyakiti juga karena udah gak sepaham. Bapak cuma mau memastikan aja kamu punya niat baik berumah tangga sama Nara.”
“Aku paham kok, Pak.”
“Kamu pasti paham, sebentar lagi kamu punya anak gadis toh? Pasti ngerti gimana perasaan Bapak, kekhawatirannya, lukanya, bebannya. Kalau kamu udah gak sayang sama Nara, tolong balikin ke rumah baik-baik. Jangan disakitin apalagi di duain atau diselingkuhin. Meskipun banyak kekurangannya, istri kamu tetap anak perempuan berharga di keluarganya. Ngerti kan, Vin?” Ahmad menatap lekat mata menantunya.
Arvin mengangguk. Dia juga sudah sangat paham tentang ini. Entah itu neneknya, ibunya, dan sekarang ayah mertuanya mengatakan hal-hal yang sama. Untuk menjaga pernikahan dengan tidak menyakiti dan menduakan pasangannya. Arvin juga sudah merasakan sendiri bagaimana sulitnya hidup karena sebuah perselingkuhan. Semua orang tersakiti pada akhirnya.
Mungkin hal seperti ini juga akan menjadi kekhawatiran Arvin juga, 25 tahun mendatang. Ketika anak perempuannya sudah dewasa dan memilih pasangan. Mungkin juga Arvin tidak akan sesabar Ahmad menghadapi laki-laki lancang yang menodai anaknya, dia pasti sudah habis dicekik saat kali pertama bertemu dengannya. Tapi Arvin mungkin harus belajar dan mencontoh mertuanya, meskipun melalui perjalanan panjang dalam memaafkan, dia tetap menjadi orang tua yang sangat baik dengan memberikan banyak kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.
Malam itu Arvin menemani Ahmad bercerita hingga pukul 02.00 pagi. Mengenai banyak hal dihidup mereka, bertukar pendapat dan diberikan petuah serta nasehat. Ahmad tidak menyangka menantunya ini mudah diajak bicara, padahal untuknya berbagi adalah hal yang cukup sulit. Mungkin Laila memang benar adanya, kini dia tidak usah khawatir lagi tentang hidup Nara. Menantunya itu akan menjaga anaknya, bertanggung jawab, dan menjadi lebih dewasa setelah kesalahannya di waktu muda.
__ADS_1
...****************...
“Yang kayak gini mah Bapak juga bisa, ngapain harus panggil tukang kebun?”
Ahmad sibuk menanam pandan kipas dan lantana di taman depan rumah Nara. Rumput-rumput liar juga tak lupa dia bersihkan agar area itu mudah ditanami serta dihias. Batu koral juga ditambahkan agar menjadi lebih estetik sesuai dengan permintaan Nara.
“Tapi kan capek, Pak. Mending sewa tukang kebun. Lagian aku nanti disebelah sana pingin tambahin kolam ikan kecil gitu, sama tambahin tanaman vertikal di dindingnya.”
“Ya udah minta sama suamimu bangun kolam kecil. Mahal kalau pake tukang kebun. Tamannya kecil begini juga.”
“Dih dia mana mau ngurus yang beginian. Gak bisa diharapkan urusan mempercantik rumah kalau sama Arvin. Pasti gak mau ribet dan nyuruh orang. Lagian mana bisa dia bikin kolam.”
“Nanti Bapak kesini lagi buat beresin tamannya. Bapak jago bikin kolam kecil gitu mah.”
Nara tersenyum senang. Ayahnya akan berkunjung lagi ke rumahnya lagi. Membuatnya semakin berharap dan berbahagia dengan hubungan yang kembali membaik diantara mereka. Ahmad bergabung dengan Nara di kursi taman sederhana disana, meminum es jeruk segar dalam sekali tegukan.
“Sore ini Kak Naufal jemput. Aku udah telepon Ibu dan ceritain soal Bapak yang nginep disini.”
“Oh doang,” jawab Nara sambil tertawa.
“Ck… Ngambeknya awet banget tuh nenek-nenek.” Ahmad memasang muka masam.
Sebenarnya di dalam hatinya dia tahu Laila pasti sudah memaafkannya. Mungkin juga sangat berbangga hati karena datang ke rumah anak bungsunya untuk merekatkan hubungan kembali. Dia sendiri juga bangga, untuk pertama kalinya dia sangat bangga dengan dirinya sebagai seorang ayah. Belajar menjadi orang tua yang lebih baik dan bijaksana meskipun usianya sudah senja.
Pukul 17.00 mobil Naufal sudah terparkir di depan rumah Arvin. Ahmad juga sudah siap dan menunggu 30 menit sebelumnya di teras, sambil duduk-duduk di kursi bersama Arvin dan Nara. Mereka menghampiri mobil untuk melepas kepulangan Ahmad. Terlihat Laila duduk di kursi belakang dengan cemberut sambil bersedekap.
“Bu, jangan ngambek terus. Kasihan tuh Bapak ditinggal 3 hari doang udah jadi kurus gitu.” Kata Naufal dari balik kemudi menggoda ibunya.
“Biarin aja jadi kurus, biar perutnya gak kayak pejabat korupsi. Gede dan buncit. Lagian siapa suruh punya watak kok keras banget kayak batu gitu.” Jawab Laila ketus.
Ahmad membuka pintu pintu belakang mobil, kemudian duduk disebelah Laila. Melihat suaminya masuk, Laila menggeser duduknya tidak ingin berdekatan. Namun dia tetap mencium tangan suaminya itu meskipun tatapannya enggan. Dengan manja, Ahmad mencolek lengan istrinya yang sedang kesal tersebut.
__ADS_1
“Jangan marah-marah terus dong, Neng. Nanti keriputnya tambah banyak. Jadi gak cantik nanti.” Ucap Ahmad menggoda.
“Kiiiwww!” Seru Naufal kemudian tergelak. Diikuti Arvin, Amelia, dan Nara.
“Cieeee… Digombalin,” ucap Nara dan Amelia bersamaan. Mengejek kedua orang tua mereka yang sedang bertengkar.
“Aduh romantis banget sih pasangan yang telat muda ini. Kalah deh kita-kita,” ujar Amelia.
“Ya kalah lah, kalian belum ada apa-apanya sama Bapak dan Ibu kalau urusan romantis. Ya kan Neng Cantik?” Goda Ahmad lagi pada Laila.
“Ih geli banget. Uweek.” Nara tidak tahan mendengarnya, seperti dejavu dengan semua gombalan receh Arvin yang selalu diucapkan untuknya. Pantas saja Arvin dan ayahnya sangat mudah untuk akrab, ternyata mereka laki-laki sejenis yang suka menggombal.
Setelah saling meledek, akhirnya mereka berpamitan pulang. Tak lupa mereka juga berjanji akan saling menghubungi saat sampai dan berkunjung kembali.
Kebahagiaan kini meluap-luap dihati Nara, keluarganya utuh dan berbaikan kembali. Mereka juga lebih dekat sekarang, dengan berkomunikasi lebih baik dan saling memperbaiki diri. Keluarga Arvin juga sekarang hubungannya semakin baik, apalagi Lena dan Audrey yang sangat perhatian padanya. Tidak mungkin ada yang lebih membahagiakan bagi Nara dari ini. Dia bersyukur dengan semua hal-hal baik yang terjadi sekarang, setelah melewati banyak momen yang kurang menyenangkan.
Arvin duduk di sofa ruang tengah sambil merengut dan menatap Nara tanpa henti. Wajahnya terlihat kesal tiba-tiba entah untuk alasan apa. Menyadari hal tersebut Nara mendekatinya dan duduk disebelahnya.
“Kenapa sih kok mukanya asem banget?”
“Kamu gak tahu salah kamu apa?”
“Ngga. Aku gak ngerasa salah apa-apa, dari tadi pagi aku sama Bapak kok. Gak bikin salah sama kamu.”
“Ya itu dia salah kamu! Aku seharian gak dapet cium. Kamu tahu gak kalau aku gak di kasih sun beberapa jam langsung lowbat?” Arvin memeluk Nara dan mendaratkan kecupan dipipinya.
“Ih apaan sih cowok gak jelas!” Nara mencoba menyingkirkan pelukan Arvin.
“Jangan gitu dong, Ra! Kamu harus rajin cium aku sekarang, kan Si Bos udah gak dikasih izin bertarung.”
“Arvin!” Kata Nara kesal.
__ADS_1
Arvin tergelak dan semakin erat memeluk istrinya. Bergelayut dengan manja, membuat Nara pasrah saja menerimanya.