Halo Arvin!

Halo Arvin!
(Bukan) Malam Pertama


__ADS_3

Nara masih mengingat terakhir kali berada disana. Panik, ketakutan, dan rasa sakit yang dia rasakan bercampur menjadi satu. Pagi buta Nara mengumpulkan pakaiannya yang berhamburan di ruangan entah dimana. Semua itu masih terekam dibenaknya. Saat ini Nara berdiri dengan canggung di dekat pintu, enggan masuk ke penthouse Arvin.


Sekarang dia harus tinggal berdua dengan Arvin, entah apa yang laki-laki itu bisa lakukan padanya.


“Ngapain sih lo berdiri terus disana? Mau cosplay jadi patung selamat datang?” Tanya Arvin setelah mengangkut barang-barang Nara dan menyimpannya di walk in closet-nya.


“Gue gak mau sekamar sama lo.”


“Apartemen gue cuma ada 1 kamar. Ga usah ribet deh lo.”


Nara melangkahkan kakinya ke kamar tidur, mengambil bantal dan selimut kemudian melemparkannya ke sofa.


“Lo tidur di sofa.”


“Dih ogah. Ini kan apartemen gue, kok gue sih yang tidur disofa?”


“Terus lo mau gitu biarin cewek yang lagi hamil tidur di sofa?”


“Tadi lo ga mau gue bahas-bahas soal kehamilan lo. Giliran kayak gini aja pakai kartu kehamilan lo biar gue nurut. Ogah ah, pokoknya kita tidur dikamar.”


“Gue gak mau deket-deket sama lo, apalagi sekamar sama lo. Satu lagi, jangan sentuh gue!” Bentak Nara kemudian masuk ke kamar dan menguncinya.


Semua hal tentang ruangan ini mengingatkan Nara tentang malam menyebalkan itu. Pemandangan lampu yang berkelap-kelip dari jendela besar yang berhadapan langsung ke tempat tidur membuat pikirannya suram. Seumur hidupnya, Nara tidak akan melupakan hari dimana kehomatannya direnggut begitu saja oleh Arvin.


Tanpa sadar air mata turun ke pipinya. Nara duduk di ranjang, terisak. Merasa sedih, sepi, takut, dan bingung. Dunianya seperti jungkir balik dalam semalam. Dia ingin sekali pulang, merasakan kasur dikamarnya yang hangat dan nyaman. Dia ingin sekali kembali bersama Reza, kali ini Nara akan memeluknya erat. Tapi semua keinginan itu tak akan pernah bisa dia wujudkan. Orang tuanya secara tidak langsung sudah mengusirnya, membiarkan Nara tinggal bersama Arvin dan Reza tak akan pernah memaafkan perbuatannya. Selama beberapa jam Nara terus menangis, menggulung diri dibalik selimut hingga dia tertidur.


***

__ADS_1


Suasana benar-benar sepi dan asing saat Nara terbangun. Dilihatnya jam digital di nakas menunjukan pukul 00.15, sudah lewat tengah malam. Rasa lapar yang melilit perutnya tiba-tiba Nara rasakan, membangunkannya dari tidur yang nyenyak.


Perasaannya menyesal karena menolak tawaran Arvin untuk makan tadi sore. Sial! Kalau saja Nara tidak kesal dan gengsi pada Arvin, pasti dia sudah memakannya. Sekarang Nara sangat ingin memakan I fu mie yang dipesankan Arvin untuknya, atau apa saja. Nara benar-benar lapar hingga perutnya terasa sakit.


Setelah mempertimbangkan cukup lama, Nara keluar dari kamar. Ruangan tengah dan dapur cukup gelap. Hanya pendar cahaya dari kitchen set. Arvin tetidur di sofa, mengenakan kaos polos berwarna abu-abu dan celana hitam, meringkuk dibalik selimut. Setiap kali melihat wajah Arvin hanya kekesalan yang ada dihati Nara.


Segera di melangkahkan kaki ke dapur mencari-cari apapun yang bisa di makan, biskuit, buah, atau apa saja yang bisa menyelamatkan jeritan diperutnya yang sangat kelaparan. Namun tak ada satupun yang bisa ditemukan. Di lemari es hanya ada beberapa botol air dingin. Dengan sebal Nara menutupnya.


Kenapa sih Arvin hidup seperti ini? Apa dia tidak pernah makan? Kenapa terlihat seperti gelandangan dan orang kekurangan?


Nara menghampiri Arvin yang tertidur dengan nyenyak di sofa. Mengerucutkan bibirnya saat melihat wajah menyebalkan suaminya itu. Damai, tenang, nyaman. Harusnya Arvin tidak merasakan itu semua. Dia harus sama menderitanya dengan Nara. Satu tepukan keras Nara daratkan ke lengan Arvin. Terperanjat karena tamparan tiba-tiba itu, Arvin terbangun. Matanya nyalang menatap ke sekitar dan melihat Nara duduk di sofa kecil disebelahnya.


“Ngapain sih lo?” Tanya Arvin kesal.


“Gue laper.” Jawab Nara sambil cemberut, kedua tangannya dilipat kedada, matanya menatap galak pada Arvin.


“Gue laper. Di apartemen lo gak ada makanan.” Ulang Nara lagi. Sebenarnya Nara benci harus membangunkan Arvin. Dia gengsi harus meminta tolong padanya. Tapi sekarang keadaan darurat, perutnya perih dan sakit, butuh segera diisi. Sedangkan Nara tak punya sepeserpun uang untuk membeli makanan di minimarket dibawah apartemen.


“Kan gue bilang juga apa, makanya kalau gue tawarin makanan tuh ya dimakan!” Kata Arvin memarahi Nara.


“Kenapa sih di apartemen lo ga ada makanan sama sekali? Lo miskin ya?”


“Ck.. Gue belum sempat belanja dan gue juga jarang makan disini.” Arvin kesal pada Nara yang bertingkah seenaknya, membangunkan tidurnya dan sekarang marah-marah tidak jelas. Tapi dia tidak tega melihat dia kelaparan. Pasti dia sangat lapar sampai membangunkannya seperti sekarang. “Nih. Pesen gofood aja. Lo gak ada HP kan?” Kata Arvin menyerahkan handphone-nya pada Nara.


“Bilangin suruh taruh di lobby aja sama pak satpam, kalau malem kurir ga boleh naik ke atas.” Arvin kemudian membaringkan dirinya di sofa menutup tubuhnya dengan selimut, “Kasih tau gue kalau udah, nanti gue yang ambil dibawah.” Lanjutnya, matanya kini sudah terpejam kembali.


Nara memilih memesan burger karena restoran tersebut buka 24 jam. Menunggu selama 30 menit, sambil memainkan handphone Arvin. Sebenarnya karena bosan, bukan karena ingin tahu tentang Arvin. Di galeri fotonya banyak foto-foto bersama teman-temannya, grup band, acara musik, camping, pemandangan laut, gunung, buku-buku, dan gitar-gitar mahal.

__ADS_1


Tak ada foto keluarganya sama sekali disana, Arvin juga jarang memotret dirinya sendiri. Kebanyakan foto bersama teman-temannya saja. Jari Nara terhenti saat melihat satu foto, Arvin memeluk dan mencium pipi seorang perempuan. Kemudian foto lain yang menampilkan perempuan tersebut sendiri, tampak sangat cantik. Rambut bergelombang, kulit putih, dan wajah seperti campuran western. Nara teringat kembali perempuan yang digandeng Arvin setelah selesai acara musik dulu, berdua dibawah payung dan saling tersenyum. Nara lupa kalau Arvin juga punya pacar. Bagaimana hubungan mereka setelah Arvin menikah dengan Nara? Perasaan mengganjal tiba-tiba tumbuh dihatinya. Segera dia tutup galeri foto tersebut.


Panggilan telepon tiba-tiba terdengar. Mengagetkan Nara yang baru saja diam-diam membuka privasi di handphone Arvin, seakan baru saja tertangkap basah. Arvin segera merebut handphone itu dari tangan Nara.


“Iya iya. Simpen aja di Pak Satpam ya. Saya segera turun.” Kata Arvin menjawab panggilan tersebut.


Arvin segera pergi keluar menjemput makanan yang Nara pesan. Dia kembali 5 menit kemudian, membawa kantong yang langsung diserahkannya pada Nara. Tanpa berkata apapun dia langsung melanjutkan tidurnya kembali.


Entah kenapa perasaan Nara rasanya campur aduk setelah melihat perempuan digaleri foto Arvin. Apakah perempuan itu sedih karena harus merelakan Arvin menikahinya? Apakah mereka putus? Rasanya dia sudah merusak hubungan orang lain. Nara mengerti kesedihan perempuan itu saat pasangannya memilih orang lain, dia juga masih dalam kondisi patah hati setelah kehilangan Reza. Harusnya semua ini tidak terjadi. Seandainya saja dia tidak hamil. Nara semakin benci dengan kehamilannya.


Dia menggigit buger sambil menangis, sesekali terisak dengan air mata yang berjatuhan. Kenapa perasaannya sangat mudah berubah hari ini. Tiba-tiba sedih, kesal, sedih lagi, kesal lagi. Nara tidak menyukainya.


Arvin datang tiba-tiba dan menyeka air mata Nara yang berjatuhan dipipi dengan punggung tangannya. Kemudian duduk bergabung dengan Nara di meja makan. Memperhatikan wajah Nara yang mengunyah sambil menangis di depannya.


“Kenapa lo nangis?” Tanya Arvin lembut, wajahnya masih terlihat mengantuk.


Nara hanya menggeleng, tak memberikan jawaban.


“Besok gue suruh pembantu gue beliin banyak makanan, biar lo gak laper tengah malam. Udah gak usah nangis, nanti lo tersedak.”


Arvin terus memperhatikan Nara makan, sambil bertopang dagu. Mengulas sedikit senyum dibibirnya saat melihat perempuan didepannya dengan lahap memakan burger, ayam crispy, dan kentang goreng sambil terus bercucuran air mata. Lucu. Sangat lucu.


“Ngapain sih lo liatin gue makan?” Tatap Nara sebal.


“Kasihan lo makan sendirian.”


“Gue gak butuh dikasihani sama lo. Ga usah liatin gue! Risih tau gak!”

__ADS_1


Arvin tertawa kecil kemudian menunduk dan membaringkan kepalanya di meja. Tak lama dia tertidur, karena masih sangat mengantuk. Tapi dia tetap menemani Nara duduk di meja makan hingga selesai.


__ADS_2