
Arvin memeluk Nara dari belakang, mengagetkannya yang sedang mencuci piring. Tadi dia mengendap-endap masuk agar nara tidak tahu hari ini dia pulang lebih awal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mendapatkan pelukan tiba-tiba seperti itu membuat Nara berteriak kaget. Hampir meninju Arvin.
“Kenapa ngagetin sih? Kamu kok jam segini udah pulang? Kenapa gak ngasih tahu pulang cepet?” Kata Nara memberedel Arvin dengan pertanyaan bertubi-tubi. Tapi kemudian berbalik dan membalas pelukan Arvin.
“Sabar. Satu-satu nanyanya, udah kayak wartawan aja.” Balas Arvin terkekeh. “Aku pulang cepet karena kerjaanku udah beres semua hari ini.” Lanjutnya dengan ceria.
“Kok bisa? Bukannya kerjaan kamu lagi banyak? Terus masalah dikantor kamu gimana? Udah beres? Orang-orang yang jahatin kamu disana, gimana?” Nara tidak bisa berhenti bertanya dan berbicara dengan cepat karena khawatir dengan Arvin.
“Nara, Calm down!” Ucap Arvin pelan-pelan menenangkan Nara. Dia tahu istrinya itu begitu khawatir. Meskipun tidak diberitahupun, Nara pasti mencari tahu sendiri dari Adam tentang yang sedang dihadapi Arvin di kantor.
Sudah berulang kali Arvin mengatakan untuk berhenti mengkhawatirkannya, tapi tentu saja Nara tidak akan menurutinya begitu saja tanpa penjelasan apapun. Meskipun begitu Arvin merasa sangat senang saat Nara khawatir padanya, membuatnya merasa begitu dicintai. Sekaligus takut, karena dia tidak ingin istrinya itu banyak pikiran.
“Masalah masih banyak, orang jahat ada dimana-mana. Tapi kerjaan aku udah selesai hari ini. Soalnya aku lagi rajin banget pingin pulang ketemu ayang.”
“Jadi masih banyak masalah ya di kantor?”
“Tiap hari emang ada masalah, kan?” Arvin tersenyum kemudian mengecup bibir Nara. “Kamu khawatirnya berlebihan. Aku udah bilang kalau suami kamu ini kuat.”
“Bohong! Dulu kamu sampe stress terus minum-minum. Itu apa?” Nara mengerucutkan bibir dengan kesal.
“Kan waktu itu aku stress karena belum dapetin kamu, makanya jadi makin stress pas kerjaan gak ada abisnya. Sekarang aku gak usah khawatir lagi, kamu udah jatuh ke pelukanku.”
“Ih jijik! Mulai lagi gombalan gak jelasnya!” Nara mencoba melepaskan pelukan Arvin. Tapi laki-laki itu tidak membiarkannya, dia malah menghujani Nara dengan kecupan di seluruh wajah. “Arvin gak mau! Basah!” Protes Nara saat menerima serangan dari bibir Arvin.
“Mandi bareng yuk!” Bisik Arvin ditelinga Nara.
“Aku udah mandi.”
__ADS_1
“Mandiin aku kalau gitu.”
“Kamu pasti mau mes—”
“Aku kangen kamu. Makanya pulang cepet dan ngerjain kerjaannya rajin banget.” Ucapnya dengan suara dalam dan indah, “Aku sebenernya lagi high tension. Gak konsentrasi dibawa kerja.”
Suara bisikan Arvin benar-benar membuat Nara sulit menolaknya. Dia juga sangat merindukan semua sentuhan Arvin. Padahal dulu dia membencinya setengah mati. Saat ini yang ingin Nara lakukan hanya menghabiskan waktu dengan suaminya. Menyerahkan seluruh tubuhnya untuk laki-laki itu.
“Kamu udah harus mulai puasa kalau perut aku udah makin gede. Gak akan aku kasih, sekarang aja udah gampang cape dan sesak napas.” Protes Nara.
“Kan masih bisa pake ini.” Ucap Arvin menyapukan ibu jarinya dibibir Nara.
“No!” Tolak Nara tegas.
Arvin terkekeh, “Hands.” Lanjutnya mengangkat salah satu tangan Nara dan menautkan jemarinya.
“I’ll consider it.”
Dia menyalakan speaker bluetooth kecil yang tersimpan di dekat deretan skincare dan toiletries. Kemudian memilih playlist di ponselnya. Kali ini bukan lagu rock yang keras dan menghentak. Tapi kumpulan lagu Soul R&B. Lagu Pay dari Aftertheparty terputar paling pertama.
Arvin mulai melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam air berwarna hijau. Wangi menyeruak dari sana. Membuatnya semakin menikmati sensasi dan suasana seperti ini.
Nara masuk ke kamar mandi hanya menggunakan bathrobe-nya. Tersenyum malu melihat Arvin yang sudah masuk ke dalam bathtub. Merendam diri disana dan menunggunya bergabung.
Perlahan bathrobe yang dikenakannya dia tanggalkan, berjalan masuk bergabung kedalam air bersama Arvin yang sejak tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari Nara.
Pandangannya begitu fokus menatap makhluk indah yang kini sudah dia dekap didalam air. Kulit lembutnya membuat sensasi aneh yang menyenangkan dihatinya. Arvin menelusuri setiap incinya. Dimulai dari punggungnya hingga keatas dadanya.
__ADS_1
Ketika Arvin menyentuhkan bibirnya disana, suara Joji menyanyikan lagu Test Drive terdengar merdu ditelinga. Bercampur dengan suara desa han Nara yang lembut. Sesuatu dalam diri Arvin terpantik tiap kali mendengar suara itu keluar dari mulut Nara.
Membuatnya kehilangan kendali dan arah. Arvin merasa seketika bebannya hilang saat menautkan dirinya dengan Nara. Hanya ada perasaan aman dan nyaman yang melingkupinya.
Bibirnya beralih ke leher Nara, dia menyingkirkan rambut basah yang menghalanginya. Erangan semakin tak terkendali. Semakin Arvin memainkan jemari dan bibirnya, semua tubuh Nara bereaksi.
Setelah sekian lama semenjak masalah keluarga bertubi-tubi menghantam emosi mereka, hingga tak ada waktu untuk saling melepaskan penat satu sama lain. Akhirnya hari ini pertama kalinya mereka bertemu lagi, dalam dekapan dan penyatuan yang menggembirakan.
Suara musik yang mengiringi semua sentuhan mereka dilatar belakang, nyaris seperti white noise. Lagu Get You dari Daniel Caesar mengawali Arvin untuk menautkan dirinya dalam tubuh Nara. Air dari bathtub berjatuhan ke lantai seiring gerakan dan hentakan yang mereka lakukan.
Menenggelamkan kewarasan diantara keduanya. Nara dengan pasrah mengikuti semua gerakan tubuh Arvin yang membuatnya linu, sakit, dan penuh kenikmatan. Kepala dan punggungnya yang berada ditepian bathtub terus bergerak selaras dengan ritme musik yang mengalun lambat penuh perasaan.
Setiap kali Arvin melakukannya, rasanya seperti diterbangkan keudara. Nyaris sulit kembali lagi kebumi karena terbawa arus permainannya. Terutama kali ini, Arvin melakukannya sangat romantis. Nara jadi bertanya-tanya sendiri apa yang terjadi dengan laki-laki ini. Kenapa semua sentuhannya terasa sentimental?
"Nara, I love you. It's looping without end. Whatever the future might happen, please stay close with me." Bisik Arvin ditengah erangan dan napas yang terengah-engah.
Suara musik bersahutan dengan erangan, des ahan, dan rintihan di dalam kamar mandi. Semakin malam, semakin larut perasaan mereka dan semakin bersatu jiwa serta tubuh mereka. Satu dari sekian aktivitas yang membuat mereka terlupa dunia nyata dan masalahnya.
Sementara didalam kamar, suara telepon masuk dan pesan yang terus berdenting di ponsel Nara tak ada habisnya. Puluhan pesan dikirimkan oleh Anna, Tiwi dan Dewi ke group chat yang mereka buat. Bertanya, meminta konfirmasi, dan mengabarkan dengan panik.
[Anna : Ra, personal assistant-nya Pak Rivanno itu mantannya Pak Arvin?]
[Dewi: Gosipnya udah kesebar di gc anak kantor dari tadi sore, Ra. Mereka masih pacaran sampe sekarang?]
[Tiwi: Nara, are you okay? Please answer my call.]
[Anna: Nara, hubungan lo sama Pak Arvin baik-baik aja, kan?]
__ADS_1
Sebuah foto terlampir dikirimkan pada group chat tersebut. Ada Arvin dan Keysa, menautkan bibir dengan mesra disalah satu ruangan kantor yang sepi.