Halo Arvin!

Halo Arvin!
Potongan Informasi


__ADS_3

Nara gugup. Mencoba mengatur napasnya meskipun sulit. Tangan kirinya masih menggenggam Arvin, dan tangan kanannya dia kaitkan ke lengan Arvin. Mencengkramnya dengan sekuat tenaga. Entah apa yang akan dia hadapi didalam, yang jelas Nara tidak siap. Tidak akan pernah siap.


Ini bukan pertama kalinya Nara masuk ke rumah besar keluarga Aditama. Sekitar 3 kali dia pernah kemari, mengurus berkas-berkas penting yang harus ditanda tangani oleh Candra saat dia sedang sakit. Bertemu dengan Lena pun sudah puluhan kali Nara lakukan. Tapi bukan sebagai menantu keluarga ini.


Apalagi saat ini bukan pertemuan keluarga biasa, tapi sebuah acara besar. Dilihat dari dekorasi, jamuan, pelayan yang berkeliling menyajikan makanan dan tamu-tamu yang hadir begitu banyak. Ruangan tamu, ruang tengah, hingga area kolam renga sudah terisi manusia dan banyak sekali meja-meja dan kursi disana. Nara menelan ludah. Merasa ngeri harus terjebak diacara seperti ini. Sangat jauh dari kehidupannya.


Di ruang tengah yang luas, duduk Candra. Tangannya bertumpu pada tongkat yang entah sejak kapan digunakannya. Nara baru melihatnya dengan kondisi seperti itu sekarang. Tubuhnya yang agak gempal, uban dirambut dan dikumisnya mulai tubuh subur, namun sorot matanya masih tajam dan penuh wibawa. Nara baru pertama kali menyadari Arvin memiliki mata yang sangat mirip ayahnya.


Lena berdiri disampingnya, tangan kanannya berada di pundak Candra. Menempatkan diri dengan protektif dekat suaminya yang tak lagi sehat. Saat Nara berjalan kearah mereka, pandangan mereka saling bertemu. Senyum tipis Lena sunggingkan padanya. Sejak dulu dia memang bukan pribadi yang ramah. Cenderung dingin dan tegas. Menambah kekhawatiran Nara tentang pertemuan keluarga ini.


“Nah ini baru dateng anak bungsu sama menantuku.” Kata Candra ceria pada beberapa orang yang mengerubunginya saat berbicara. Mereka memberi salam pada Candra.


Lena langsung memeluk Nara, membuat tangannya terlepas dari genggaman Arvin. Dengan canggung Nara membalas pelukan tersebut. Sementara Arvin berdiri disebelahnya tanpa ekspresi. Lena sama sekali tidak menganggap kebaradaan Arvin.


“Sehat kamu, Ra?” Tanya Lena. Aneh mendengar perempuan ini begitu ramah padanya.


“Iya. Baik kok, Bu.”


“Ibu mau kenalin sama saudara-saudara keluarga Aditama. Biar kamu bisa tau, siapa aja keluarga kita.” Ucapnya sambil merangkul Nara, mengajaknya untuk berkeliling.


Namun Nara langsung melirik kearah Arvin, mencari bantuan. Dia benar-benar takut jika harus berkenalan sendiri tanpa didampingi suaminya. Tangannya terulur meraih tangan Arvin. Lena melihat pemandangan itu tersenyum tipis.


“Ga apa-apa kok. Ga usah takut.” Kata Lena seakan bisa membaca kekhawatiran Nara. “Yanuar!” Lanjutnya berkata pada salah satu pelayan dan menjentikan jari.


Yanuar langsung menunduk, tanda mengerti perintah dari Lena. Dengan sigap dia memukul gelas wine dengan sendok, suara berdenting terdengar nyaring. Perhatian para tamu teralih pada suara tersebut. Kini semua mata tertuju pada Lena yang masih menggandeng Nara disebelahnya. Suara-suara obrolan dan dengung lenyap. Berganti hening yang membuat Nara disergap rasa panik. Dia langsung mengencangkan genggaman pada Arvin.


“Selamat malam semuanya.” Kata Lena nyaring dan terdengar berkarisma. “Sebelumnya terima kasih sudah hadir di acara kecil-kecilan ini. Akhir-akhir ini saya dan suami tidak bisa menghadiri acara saudara dan rekan-rekan karena kesehatan suami masih belum pulih pasca operasi. Tapi syukurlah sekarang sudah jauh lebih baik dan kesempatan ini kita pergunakan untuk membangun relasi dan saling berkomunikasi lagi. Mungkin merayakan juga atas kesembuhan dan membaiknya kondisi kesehatan suami saya.” Lena memberi jeda, semua orang bertepuk tangan ikut berbahagia dengan kabar gembira mengenai kesehatan Candra.


“Selain itu, malam ini juga spesial sebagai salah satu momen perkenalan untuk anggota keluarga baru kami. Menantu pertama kami. Ini Nara, Istri Arvin yang sekarang sedang mengandung cucu kami.”


Seperti yang Nara duga, dia menjadi bahan tontonan. Banyak mata menyelidik ingin tahu tentang dirinya. Beberapa diantara mereka berbisik-bisik kemudian tertawa dengan orang disebelahnya. Nara tahu pasti itu bukan pembicaraan yang baik, melainkan cibiran dan penghakiman untuknya.


Nara membenci situasi ini. Rasanya ingin menyublim saja, hilang bersama udara. Lebih dari 2 menit Nara menjadi tontonan publik tersebut, sebelum akhirnya Lena mempersilakan tamu untuk menyicipi hidangan dan bersantai kembali.


“Kok tante gak dikasih tau kamu nikahnya kapan, Vin?” Tanya seorang perempuan dengan tubuh pendek dan agak gemuk. Merangsek maju kearah mereka.


“Acaranya kecil-kecilan kok, tante. Gak banyak yang dateng.” Jawab Arvin.


“Kok kecil-kecilan. Masa nikah keluarga Aditama ga ada resepsi sih? Nanti orang-orang pada ngomongin. Udah tau kamu sekarang jadi bahan omongan.”

__ADS_1


“Kita ga ngadain resepsi atau pesta-pesta dulu soalnya Mas Candra lagi ga sehat, Wid.” Bela Lena. “Ini Tante Widia. Adiknya Mas Candra.” Kata Lena memperkenalkan perempuan didepannya pada Nara.


“Lulusan mana kamu?” Tanya Widia sinis.


“UI, tante.”


“Kerja apa sebelum ini? Kok bisa ketemu Arvin?”


“Saya dulu sekertarisnya Arvin.”


“Walah.. Bapak sama anak sama aja. Kamu tuh udah tante kasih tau cewe-cewe dari keluarga bagus. Maunya sama bawahan.” Sindir Widia pada Arvin.


“Maksudnya keluarga bagus tuh apa? Nara juga dari keluarga baik-baik kok.” Jawab Arvin geram.


“Kalau baik-baik ga mungkin hamil duluan toh, Vin. Malu-maluin aja. Kamu tau, kamu tuh jadi bahan omongan tiap kumpulan. Ga bener kamu tuh dari kecil. Milih cewe juga ga becus.”


“Terus menurut tante, hidup tante juga udah bagus gitu? Ngerasa paling bener? Padahal cuma numpang hidup sama ayah. Berapa perbulan yang tante habisin buat shopping dan foya-foya ga jelas itu? Suami tante ga mau bayarin?”


“Mulut kamu tuh, Vin. Sama orang tua ga ada adabnya. Emang gini nih kalau di didik sama keluarga cewe rendahan tuh. Harusnya kamu tinggal disini aja dari kecil biar ga liar kayak sekarang. Dasar anak pela—”


“Widia stop!” Kata Lena tegas. “Jangan bahas ini lagi. Apalagi sampai kedengeran Mas Candra. Kondisinya masih belum baik.” Lanjutnya.


“Arvin, kamu itu—” Kata Lena mencoba menasehati Arvin.


“Ga usah komentar, dia yang mulai duluan.” Potong Arvin cepat.


Lena berdecak kesal dan mengabaikan Arvin. Dia kembali mengarahkan fokusnya pada Nara. Mengajaknya berkeliling berkenalan dengan saudara jauh, sepupu, dan rekan kerja Candra yang sudah mereka anggap keluarga.


Sebenarnya Nara bisa melihat mereka ingin banyak mengomentari dan bertanya padanya. Namun mereka mengurungkan niatnya untuk berbicara terlalu kasar padanya, karena Arvin membuntuti dibelakang. Tanpa disembunyikan dia memasang wajah tidak senang saat orang-orang itu menanyai Nara dengan pertanyaan berlebihan.


Nara merasa tenang dengan keberadaan Arvin disekitarnya. Menghilangkan kecanggungan karena harus berkenalan dengan orang-orang penting yang tak Nara ketahui. Lain halnya dengan Lena yang beberapa kali mendelik kearah Arvin karena dia terus mengikuti mereka.


“Kamu bisa gak diem aja, Vin? Ngobrol sama ayah kamu kek.” Kata Lena yang kesal melihat Arvin terus mengekor dibelakang dan memotong pembicaraan saat Nara diperkenalkan pada orang-orang.


“Ga mau. Aku harus memastikan Nara ga kena hinaan diacara kayak gini.”


“Emang kamu pikir ibu bakal biarin mereka hina menantu ibu? Biarpun jelas perbuatan kalian itu aib keluarga.”


“Terus kenapa bikin acara kayak gini dari awal? Biar puas pamerin kalau aku ini aib?”

__ADS_1


“Arvin! Acara ini biar kamu bisa akrab sama saudara dan kolega bisnis ayah kamu. Ga lama lagi kamu bakal jadi penerus Aditama.”


“Si kumis belum mati. Kenapa ngomongin soal penerus sekarang sih?”


Arvin menarik Nara menjauhi Lena. Sudah cukup acara basa-basi menyebalkan ini. Dia memang menyetujui untuk datang, tapi sekarang moodnya sudah hancur. Arvin paling malas ketika orang tuanya mulai membahas tentang penerus keluarga.


Nara tidak banyak protes hari ini. Dia mengikuti Arvin kemana saja, merasa asing diacara seperti ini. Selain itu perdebatan Arvin dan keluarganya membuat Nara takut salah berkata. Sejak tadi dia mengunci mulutnya. Memperhatikan apa yang terjadi dengan keluarga rumit suaminya.


Tubuhnya juga merasa tidak nyaman. Mungkin karena seharian dia gugup menghadapi acara malam ini. Tangannya memang sudah tidak sedingin es lagi, seperti saat sebelum masuk kemari. Tapi entah kenapa seluruh tubuhnya rasanya demam sekarang. Perkenalan tadi juga menguras energi Nara tiba-tiba. Sangat lelah. Dia ingin cepat pulang dan tidur.


“Jangan bilang lo mau kabur dari acara, Vin.” Kata seorang laki-laki menghalangi langkah Arvin untuk meninggalkan tempat tersebut.


“Minggir lo!” Ucap Arvin kesal. Menyingkirkan orang yang menghadangnya.


“Kok lo gitu sih sama sepupu sendiri? Ga mau ngobrol sama gue? Lo masih marah karena gue deketin Key?”


Arvin menghentikan langkahnya. Menatap laki-laki didepan dengan ekspresi kesal.


“Gila banget sih lo. Key digantungin, tiba-tiba bawa cewe lain jadi istri. Berarti gue ga apa-apa dong langsung gas aja sama dia sekarang?” Laki-laki itu tertawa jahil.


Key?


Siapa? Keysa?


Nara bingung dengan situasinya sekarang. Seseorang yang tidak dikenal muncul membicarakan hal yang dia tidak tahu. Terlalu banyak informasi yang harus Nara cerna dipertemuan hari ini. Membuatnya sangat lelah dan pusing. Kakinya rasanya sudah tidak berpijak ditanah karena terlalu lemas. Pertengkaran Arvin dengan tantenya, pembicaraan Arvin dengan ibunya, penerus Aditama, sekarang muncul sepupu Arvin yang membahas tentang Key? Siapa Key?


“Bisa diem ga lo?”


“Mending lo cepetan kabur deh. Lo cuma dijadiin tumbal karena si Arvin ga mau kawin dan nyakitin Key.”


Dengan sekali gerakan Arvin mencengkram kerah baju laki-laki itu. Ekspresinya gelap. Dia bisa saja langsung memukul sepupunya yang berbicara seenaknya sekarang.


“Lo kalau bahas Key sekali lagi, gue—”


BRUUUK


“Nara!”


Tubuh Nara jatuh ke lantai, tidak bisa mempertahankan kesadarannya. Terkulai tak berdaya dan membuat kehebohan disana.

__ADS_1


__ADS_2