Halo Arvin!

Halo Arvin!
Hari Pernikahan


__ADS_3

Sejak siang Amelia sudah sibuk merias wajah Nara. Dulu Amelia aktif mengikuti kelas kecantikan dan sempat menjadi MUA untuk tambahan biaya kuliah. Makanya dia sudah mahir merias wajah Nara. Meskipun sebenarnya Amelia tidak pernah merias pengantin, hanya berani mengambil sampingan untuk make-up wisuda atau pertunangan saja. Tapi Nara tidak keberatan, dia hanya ingin dirias sederhana saja. Malah sebenarnya dia ingin mengenakan daster dan berpenampilan kucel saja, alih-alih dirias dan menggunakan kebaya.


Ini adalah hari yang sangat dibencinya. Harusnya 2 hari lagi dia menikah dengan Reza, tapi sekarang dengan terpaksa harus menikahi Arvin. Nara melihat pantulan wajahnya sendiri dicermin, muram, sedih, dan penuh kekecewaan. Semua orang memang pantas kecewa padanya. Bahkan sejak hari dimana Nara dinyatakan hami, ayah dan ibunya tidak pernah berkata sepatah katapun padanya. Mereka tiba-tiba membisu saat melihat Nara, mengabaikannya seperti udara yang tak terlihat.


Ayah menyuruhnya membereskan semua bajunya ke koper, setelah acara hari ini selesai Nara akan langsung ikut ke tempat Arvin. Tentu saja dia tidak mengatakan itu langsung namun lewat Amelia. Semua yang ingin dikatakan orangtuanya pada Nara sekarang harus dihubungkan oleh Amelia, bahkan Naufal pun melakukan hal yang sama. Selama beberapa hari ini adalah waktu yang sangat menyiksa bagi Nara. Tak ada lagi tempat baginya di rumah ini.


“Kak Amel lahirannya kapan?” Tanya Nara sambil memperhatikan perut buncit kakak iparnya. Amelia terlihat bahagia dan cantik saat hamil, berbeda dengan Nara yang sangat suram.


“HPL-nya sih 2 minggu lagi. Sekarang kadang suka mules-mules gitu. Mudah-mudahan gak lama lagi.” Balas Amelia ceria.


“Kak Amel gak takut?”


“Ya takut, tapi seneng. Akhirnya bisa ketemu sama bayi yang udah lama diperut. Udah ga sabar buat lihat dia yang selama 9 bulan suka pingin yang aneh-aneh dan bertingkah terus didalam.” Amelia kini sibuk merapikan alis Nara dengan spoolie. “Tapi kamu bagus loh, ga muntah-muntah, mual, sakit kepala. Padahal tau kan aku gimana pas hamil muda.”


Nara tidak merasakan apapun pada dirinya selama sebulan ini, makanya dia selalu mengira bahwa semua akan baik-baik saja. Tak satupun tanda-tanda kehamilan yang dirasakannya. Entah itu bagus atau tidak, yang jelas Nara tetap membenci kehamilannya.


“Dulu setiap pagi aku muntah-muntah, udah bikin heboh serumah. Apalagi kalau Naufal dirumah, makin deh. Suka tiba-tiba banyak yang kerasa dan banyak maunya. Mungkin bawaan bayi, pingin dimanjain ayahnya.” Lanjut Amelia mengenang.


“Waktu itu Kak Amel juga ngidamnya aneh-aneh. Pingin mangga muda depan rumahnya Pak Budi yang pelit.” Kata Nara sambil tersenyum, dia mengingat semua permintaan ajaib kakak iparnya. Terdengar lucu sekarang, namun dulu malah merepotkan.


“Ya kaan.. Sampe Naufal ngedrama banget minta sama Pak Budi dan dijudesin terus nih sampe sekarang.” Amelia tertawa mengingat kejadian tersebut, Nara juga ikut tertawa, sudah beberapa hari tidak mendengar tawanya. “Mungkin kamu juga nanti bakal kayak gitu, ngidam aneh-aneh dan manja sama Ar—“ Amelia berhenti saat menyebutkan mana Arvin, senyum Nara langsung menghilang.


“Aku gak akan kayak gitu sama Arvin kok.” Kata Nara murung.


Amelia hanya menanggapinya dengan senyum sekilas. Dia menyimpan pendapatnya sendiri tentang Arvin. Selama beberapa hari kebelakang, Arvin selalu menghubungi ke nomor ponselnya, dia mengirimkan banyak chat menanyakan keadaan Nara. Tapi Amelia tahu, Nara tak mau membalasnya. Semua pesan itu dia endapkan sendiri.


Entah kenapa Amelia merasa bahwa Arvin tidak sejahat yang orang lain kira. Dia sebenarnya sangat perhatian dengan kondisi Nara, merasa bersalah dan berulang kali mengatakan tidak akan lari dari tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah. Semua pesan itu tak pernah Amelia sampaikan pada si penerima, Nara begitu emosi dan menolaknya. Sampai tadi malam Amelia baru memberitahu Arvin kalau Nara selama ini tidak memegang alat komunikasi apapun.


***


Acara akad dilaksanakan pukul 16.00. entah apa yang dipikirkan ayah Nara saat memintanya datang sore untuk pernikahannya. Padahal biasanya pernikahan diadakan lebih pagi. Tapi Arvin tidak keberatan, yang penting dia bisa menikah secara sah dengan Nara. Memenuhi kewajibannya untuk bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya.


Audrey dan Candra hari ini datang menemani. Hanya mereka bertiga saja yang hadir. Jelas bahwa ibunya dan Angga memilih untuk diam di rumah. Tak peduli tentang pernikahan Arvin.


Arvin memarkirkan mobilnya dibadan jalan seperti saat biasa, begitupun juga mobil Audrey dibelakangnya. Hari ini jalan disekitar rumah Nara ramai. Mungkin tetangga-tetangga yang hadir dalam acara pernikahan sederhana ini. Saat turun dari mobil, sudah jelas Arvin, Audrey dan ayahnya menjadi pusat perhatian. Berita tentang batalnya pernikahan Nara dan Reza serta kehamilannya pasti sudah menjadi makanan utama yang disajikan ditiap meja tukang gosip.


Ruangan sudah ramai oleh orang-orang saat Arvin masuk. Hiasan sederhana bertema putih sudah dipasang disana. Sofa-sofa di ruang tamu dan ruang tengah juga sudah disingkirkan, berganti dengan karpet berwarna merah bercorak cokelat yang terhampar. Di tengah ruang tamu terdapat meja kecil tempat penghulu, para saksi dan ayah Nara duduk berkumpul. Arvin dipersilakan untuk menempati sisi yang kosong.


Tiba-tiba saja hatinya menjadi riuh dan menciut. Setelah ini kehidupan lajangnya akan berakhir. Semua kesalahan dan perbuatannya yang tanpa pikir panjang itu malah membuatnya terjebak dalam pernikahan. Arvin memang siap bertanggung jawab, sangat siap. tapi sebenarnya tidak punya bayangan memiliki keluarga untuk waktu sekarang.


Nara memasuki ruangan tersebut, dengan mengenakan kebaya putih sederhana dan riasan yang tak terlalu tebal. Arvin melihatnya sekilas dari sudut matanya. Dia terlihat cantik. Selama ini Nara memang cantik, tapi bukan salah satu tipe yang Arvin biasa dekati. Wanita seperti Nara menurutnya membosankan untuk dipacari. Anak rumahan, ambisius dalam pelajaran, tidak pernah nongkrong bahkan ke acara music saja tak pernah. Hanya malam itu saja Arvin merasa semua dugaannya tentang Nara berubah. Dia cantik, dan sekonyong-konyong membangkitkan gairahnya.


Duduk disamping Arvin untuk ijab kabul membuat Nara ingin sekali menjerit dan menangis. Dia benar-benar benci laki-laki disebelahnya. Bukan Arvin! Harusnya bukan dia yang mengucapkan kalimat itu di hadapan penghulu dan ayahnya. Bukan Arvin yang menerima kata “SAH” dari para saksi yang menghadiri. Bukan! Nara tidak menginginkan pernikahan yang seperti ini. Tidak ingin berakhir dengan pernikahan dengan orang menyebalkan ini.

__ADS_1


Setelah selesai ijab kabul dan menandatangani dokumen serta surat untuk buku nikah, semua orang memberi selamat pada kedua pengantin tersebut. Tapi tak ada yang tersenyum diantara mereka, semuanya sangat suram. Para tamu yang kebanyakan adalah tetangga sekitar dan saudara-saudara dari pihak ibu dan ayahnya masih berkumpul di ruang tamu dan ruang tengah. Menikmati jamuan sederhana dan mengobrol. Nara segera masuk ke kamarnya, karena merasa sangat pusing dan kepanasan. Dia berbaring di kasurnya, melucuti semua ikatan di rambutnya yang ditata oleh Amelia.


Pintu terbuka, seseorang masuk kedalam. Nara tidak menggerakan tubuhnya untuk repot-repot melihat siapa yang datang. Mungkin hanya Amelia yang mengecek keadaannya.


“Lo gak apa-apa?” Tanya Arvin yang sekarang duduk di tepian ranjang.


“Ngapain lo kesini?” Kata Nara terperanjat saat mendengar suara Arvin.


“Lo sakit? Mual?”


“Keluar cepetan gue ga mau liat lo! Kalau ngga, gue teriak.”


“Gue suami lo sekarang.”  Mendengar kata-kata Arvin seperti itu, membuat Nara merinding. Suami katanya? Seumur hidupnya Nara tidak akan menerima Arvin sebagai suaminya.


“Najis. Gue ga mau punya suami kayak lo!”


Arvin tidak memedulikan kata-kata Nara, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Melihat kamar yang ditempati Nara.


Sangat cewek.


Warna pink mendominasi, dinding, rak-rak buku, lemari, dan banyak aksesoris memiliki warna tersebut. Kamar Nara mengingatkan Arvin tentang model kamar-kamar remaja di FTV tahun 2000-an. Dipojok telah siap sebuah koper dan tas besar berisi baju dan keperluan milik Nara.


“Kita berangkat jam 7.” Kata Arvin sambil menatap tumpukan tersebut.


“Tapi lo ga bisa tinggal disini lagi. Bapak lo udah ngusir lo.”


“Gue bisa ngekost kok.”


“Jangan macem-macem ya lo. Awas aja kalau lo kabur.” Ancam Arvin.


Nara tahu dia tidak bisa kabur. Bukan karena takut, tapi dia tidak punya uang sama sekali. Persiapan pernikahannya dengan Reza menghabiskan tabungannya, yang sekarang berakhir lenyap dan hangus. Selama sebulan ini juga Nara berhenti bekerja, tak ada pemasukkan sama sekali. Nara bisa saja mencairkan uang dari asuransi ketenagakerjaan, tapi dia harus meminta paklaring ke perusahaan lamanya, artinya dia akan berhubungan dengan Arvin dan rekan kerjanya dulu. Nara ingin menghilang dari mereka. Keputusan untuk kabur terlalu bodoh dan gegabah. Nara masih ingin hidup. Meskipun bukan hidup seperti ini yang dia bayangkan.


***


Arvin sudah memasukkan koper dan tas Nara ke dalam mobilnya. Kemudian berpamitan pulang. Dia melihat Nara yang masih berpamitan dengan kedua orangtuanya. Ibunya menangis tersedu, memeluk Nara. Tentu saja gadis itu juga menangis tanpa henti. Ayahnya hanya diam, memalingkan wajah dari anak perempuannya itu. Amarah dan kekesalan masih memenuhinya. Dengan melepas Nara bersama suaminya. Dia berharap bisa meredam efek besar kehamilan Nara.


“Kalau dia macem-macem sama kamu, hubungi kakak. Biar kakak patahin lehernya.” Kata Naufal pada Nara sambil menatap tajam ke arah Arvin.


Setelah semua adegan mengharukan itu Nara masuk ke mobil. Masih tersedu, berulang kali menyeka air mata yang jatuh berguguran kepipinya. Mereka melanjutkan perjalanan dengan saling diam.


“Gue lapar.” Ucap Arvin tiba-tiba. Setelah hampir 30 menit penuh keheningan. “Lo mau makan ga?”


Nara hanya diam. Tak sedikitpun dia ingin melihat wajah Arvin. Terus menatap jalanan lewat kaca disampingnya. Arvin menghela napas, kemudian membelokan kemudi ke arah mall dan masuk ke parkiran di basemen.

__ADS_1


“Ayo turun.” Kata Arvin.


“Gue disini aja. Gue ga mau makan.”


“Yakin lo di parkiran sendirian? Gelap-gelap kaya gini? Lo gak tau soal cerita serem di mall ini?”


Nara akhirnya melihat ke arah Arvin untuk pertama kalinya. Menatap galak suaminya itu.


“Jadi dulu pegawai supermarket yang suka beresin troli belanjaan diparkiran ini pernah ngeliat poc—”


“Diem ga lo!” Bentak Nara, kemudian membuka pintu mobil dan bergegas turun. Arvin tersenyum penuh kemenangan. Sudah pasti Nara ketakutan. Perempuan sepertinya sudah bisa ditebak, takut dengan hal-hal seram.


“Gue pesenin lo i fu mie sama hakau.” Kata Arvin setelah memesan makanan di food court dan duduk di hadapan Nara.


Tak lama makanan pesanan Arvin diantar kemeja mereka. Arvin segera melahapnya dengan penuh semangat, sementara Nara melihat sebal kearahnya. Tak menyentuh makanan yang ada di depannya.


“Lo kok bisa sih setelah kejadian ini masih santai dan tenang buat makan kayak sekarang?” Cibir Nara.


“Lah emang kenapa? Gue harus kayak gimana? Sekarang gue lagi laper, masa gue harus nangis-nangis sih?”


“Lo udah bikin pernikahan gue gagal, ngelakuin hal bejad ke gue, bikin gue berantem sama orang tua gue. Bisa-bisanya lo masih hidup kayak gak terjadi apa-apa.” Ucap Nara kesal.


Arvin berhenti menyantap makanannya, “Terus gue harus kaya gimama? Jadi depresi kayak lo, ga bisa makan, nangis-nangis, ga mau hidup, dan jadi emosian kayak lo gitu? Kenapa sih lo ga coba berdamai sama keadaan? Toh keluarga lo ga akan malu lagi soalnya gue juga siap tanggung jawab.”


“Gampang banget lo ngomong kayak gitu. Hanya dengan nikahin gue lo ngerasa udah menyelamatkan gue dan bertanggung jawab, gitu?”


“Ya emang. Gue tanya, ada gak yang langsung nanyain ceweknya pas abis ngelakuin itu dan bilang bakal nikahin? Banyak cowok yang langsung ninggalin pas abis maen, ngebiarin mereka hamil dan ngelahirin sendirian. Lo harusnya bersyukur gue masih mikirin lo. Tapi lo sendiri kan yang tolak mentah-mentah niat baik gue dulu. Sok-sok mau balik sama cowok lo yang insecure-an dan mutusin lo sepihak itu.”


Sekarang mereka saling menatap sengit. Nara benar-benar tak habis pikir, padahal sumber semua masalah itu dari Arvin. Sudah sepantasnya dia merasa bersalah dan perlu bertanggung jawab, itu bukan hal yang membanggakan.


“Cepetan makan. Nanti makanan lo keburu dingin.”  Kata Arvin melanjutkan makannya.


“Gue ga selera makan.”


“Lo mual?”


“Bisa berhenti ga nanyain gue mual apa ngga?”


“Ya kan lo lagi hamil. Biasanya cewek hamil ga mau makan karena mual, kan?”


“Berisik! Ga usah bahas-bahas kehamilan gue.”


Tak ada lagi yang mereka bicarakan setelah itu. Arvin menikmati makanannya dan Nara yang terus melihat sebal kearahnya. Mereka pulang ke penthouse Arvin dengan tetap saling mengunci bibir. Entah pernikahan macam apa yang akan dihadapi oleh mereka.

__ADS_1


 


__ADS_2