Halo Arvin!

Halo Arvin!
Lovable


__ADS_3

Nara masih belum puas memandangi ibunya. Dia terus mengikuti kemanapun ibunya pergi. Tak ingin kehilangan satu detikpun. Bahkan saat ibunya sekarang sedang sibuk didapur memasak makan siang. Nara terus bergelayut manja padanya. Sama seperti yang sering dia lakukan dulu saat di rumah.


“Kamu jarang masak ya? Terus kalian beli diluar gitu buat makan?”


“Arvin yang masak. Kadang kalau Bi Marni kesini suka masakin makan siang.” Jawab Nara malu.


Ibu terlihat kaget, kemudian tersenyum. “Arvin yang masak?” Katanya tak percaya.


“Dia lebih jago masak dari aku. Masakannya lebih enak.” Jawab Nara sambil cemberut. “Tapi aku yang beres-beres kok, Bu. Kalau Bi Marni gak kesini. Arvin kan jorok.” Lanjutnya membela diri.


“Ya gak apa-apa. Siapa aja yang ngerjain asal dua-duanya rela. Bagi-bagi tugas biar kerjaan rumah tangga lebih ringan. Bapak juga kan dirumah bagian nyuci-nyuci.”


Nara terdiam sejenak, “Bapak masih marah ya sama aku?”


“Kasih bapak waktu dulu. Bapak-bapak kan gak sama kayak ibu. Tapi bapak sebenernya sayang banget sama kamu. Terus mikirin kamu.”


Nara hanya mengangguk. Mungkin saat ini hatinya sudah mulai serakah. Menginginkan ayahnya memaafkan sebagaimana yang dilakukan ibunya. Tentu butuh waktu yang lama untuk ayahnya bisa menerima keadaan dan kekecewaan yang sudah dibuat oleh Nara.


“Ibu kok bisa kesini? Bapak ngizinin emangnya?”


“Arvin yang minta ibu dateng kesini. Dia terus ngehubungi Amel, minta ibu biar dateng. Katanya kamu lagi gak baik-baik aja. Jadinya Amel dijemput nginep ke rumah kakaknya di Tangerang tadi pagi, biar ibu bisa pura-pura ikut kesana. Padahal ibu nginep dikamu. Biar bapak gak curiga.” Kata ibunya tersenyum jahil.


Nara terhenyak sesaat, mendengar ibunya mengatakan pertemuan hari ini karena Arvin yang memintanya datang. Dia melakukannya hingga sejauh ini. Untuk membuat perasaan Nara menjadi lebih baik.


Nara tahu Arvin rela melakukan apa saja untuknya, karena dia menginginkan bayi yang ada di dalam perutnya. Selain itu karena laki-laki itu juga tidak ingin merasa bersalah karena perbuatannya. Nara tidak pernah terpikirkan motif lain selain itu. Tapi pernyataan Arvin kemarin membuatnya meragukan semua dugaan terhadapnya. Hati Nara semakin dilanda dilema.


Mereka selesai makan siang. Duduk berdua dimeja makan. Memakan masakan ibunya lagi, membuat Nara semakin bersemangat dan bahagia. Meskipun akhir-akhir ini dia tidak selera makan dan sering mual-mual mencium bau makanan. Hari ini untung saja dia tidak mengalaminya.


“Bu.” Panggil Nara ketika mereka sedang memakan buah semangka untuk penutup. “Ibu emang udah maafin Arvin?” Lanjutnya.


“Awalnya ibu juga marah dan benci sama perbuatan Arvin. Susah buat maafin orang yang berbuat kayak gitu sama anak ibu. Bisa-bisanya ngelakuin hal kayak gitu sama kamu. Tapi sekarang Ibu udah ga punya alasan buat ga maafin dia.”

__ADS_1


“Kenapa? Padahal Arvin udah berbuat jahat sama aku. Kenapa gampang banget ibu maafin dia?”


“Karena dia berani minta maaf dan bertanggung jawab sama perbuatannya. Gak lari ataupun sembunyi. Hal kayak gitu sebenarnya memang seharusnya dilakukan, tapi kenyataannya gak semua orang bisa. Dengan posisi dan status keluarganya yang lebih tinggi dari kita, Arvin bisa aja pakai semua itu buat lari dari masalah. Tapi dia malah datang ke rumah, kan? Dan dia ngerawat kamu dengan baik sampai sekarang.”


Nara memang mengakui semua hal yang Arvin lakukan hingga saat ini mengesankan. Dia tidak abai terhadap tanggung jawabnya. Bisa saja dia lari, menggunakan uangnya agar Nara tutup mulut. Tapi Arvin malah mencarinya, mengatakan akan akan bertanggung jawab. Dia juga tidak menolak untuk datang ketika dihubungi. Hingga sekarang dia tetap bersikeras memepertahankan kehamilannya dan malah memintanya untuk terus bersamanya.


Semua hal baik itu Arvin lakukan untuknya. Tapi kenapa hatinya sangat sulit menerimanya? Dengan semua perhatian dan kebaikan Arvin yang seperti itu, Nara sangat ingin membalasnya. Hanya saja perasaannya belum bergerak kearahnya.


“Aku gak sayang sama Arvin. Belum bisa sayang sama dia.”


“Kamu ga perlu langsung sayang sama dia. Mulai maafin dulu aja, hilangin praduga jelek kamu tentang Arvin. Terus mulai lihat kebaikan yang nyata, yang dia lakukan buat kamu, dan yang ga semua orang mampu lakuin itu.”


“Kenapa sih kayaknya ibu ngebela dia banget?” Kata Nara merengut.


“Karena Ibu ngerasa dia anak baik. Terlepas dari kesalahan dia, Arvin laki-laki baik. Ga mudah loh menundukkan ego, minta maaf, sampai mohon-mohon sama ibu biar ibu bisa dateng kesini ketemu kamu. Ibu juga belum mau kesini awalnya, tapi Arvin terus maksa dan menghubungi Amel. Dia bilang kamu butuh ibu. Dia peduli banget sama kamu. Jadi Ibu gak punya alasan buat terus menghukum dia karena kesalahan masa lalunya. Ada satu laki-laki yang ngelakuin sampai sejauh ini buat kamu, Ibu ngerasa kamu bakal baik-baik aja sama dia.”


Semua yang dikatakan ibunya benar dan masuk akal. Semakin hari hatinya semakin bimbang tentang Arvin. Dia ingin mulai melepaskan masa lalu dan rasa nyamannya dengan Reza, kemudian memulainya bersama Arvin. Tapi hatinya terlalu takut. Arvin sangat asing untuk perasaannya.


Sejak pertama mengenal Arvin, hanya hal buruk yang Nara ketahui. Sikapnya yang menyebalkan, kata-katanya yang tidak sopan, skandal-skandalnya dengan wanita, dan hubungan jelek dengan keluarganya. Tak sedikitpun dari hal-hal itu membuat Nara bersimpati pada Arvin. Bagaimana mungkin dia bisa memulai menautkan hati pada laki-laki antah berantah itu?


Hari itu ibunya menginap di penthouse. Memasakan makanan enak untuk Arvin dan Nara saat makan malam. Entah sejak kapan ibunya sangat dekat dengan Arvin. Mereka mengobrol dengan nyaman seakan semua hal buruk tidak pernah terjadi diantara mereka. Sedikit membuat Nara sebal, melihat ibunya bisa tertawa dan terlihat bahagia. Padahal Arvin bagi Nara masih seperti penjahat dihidupnya.


Arvin juga seperti itu, tertawa dan tersenyum seakan Ibu Nara adalah ibunya sendiri. Padahal tak satu senyumanpun Arvin sunggingkan saat berada di kediaman Candra dan berhadapan dengan Lena. Dia selalu bermuka masam di depan ibu tirinya tersebut. Nara tidak tahu bagaimana cara Arvin meyakinkan ibunya untuk bisa datang kemari. Jelas sekali ibunya sudah memberikan hatinya pada Arvin yang menyebalkan ini.


...****************...


“Bu, kalau sampai akhir aku gak sayang sama Arvin gimana?” Kata Nara berbisik sambil memeluk ibunya dikasur. Mereka tidur bersama lagi setelah sekian lama. Nara terus mengeratkan pelukannya pada ibunya. Mencium pipinya terus selagi ada kesempatan. Sedangkan Arvin dibiarkan tidur disofa ruang tengah.


“Emang kamu mau ngasih hati kamu buat siapa?” Tanya Ibu sambil menatap Nara.


“Aku masih sayang Reza.”

__ADS_1


“Terus Reza masih sayang kamu?”


“Aku gak tau. Tapi aku masih temenan sama dia sampai sekarang.”


“Sejak awal Reza sempat mikir buat ninggalin kamu, hatinya udah ga sama kamu lagi, dek. Apalagi setelah kejadian kayak gini. Temenan mungkin bisa. Tapi buat jadi pasangan, ibu ragu. Dia dan keluarganya sangat marah dan kecewa pas tau kamu hamil. Gak pernah ibu merasa sakit hati kayak gitu sama ucapan Ibu Reza pas batalin pernikahan kalian. Ibu gak mau kalau harus menyambung hubungan lagi sama mereka.”


Nara menghela napas dan memejamkan mata sejenak. Berpikir dan mendalami hatinya yang sangat rumit. Dia tidak pernah tahu tentang pembatalan pernikahannya dengan Reza dan kata-kata Ibu Reza yang diucapkan saat itu. Orang tuanya yang menerima semua komunikasi itu. Pun beserta tagihan dan biaya-biaya atas kerugian yang harus orang tuanya bayarkan pada keluarga Reza.


“Menurut Ibu, Arvin bukan orang yang susuah buat dicintai. Lama-lama kamu bakal sayang sama dia. Meskipun kamu tuh dari dulu keras kepala banget dan selalu teguh sama apa yang kamu mau, tapi Arvin tuh.. apa namanya.. Ck ibu lupa bahasa inggrisnya apa” Kata Ibunya  berusaha mengingat, “hmmm.. lopebel.” Lanjutnya dengan nada lucu.


“Lovable.” Kata Nara mengoreksi sambil tertawa.


“Nah itu. Memikat dan mudah dicintai.”


“Karena dia ganteng, keren, kaya?”


“Salah sekiannya, tapi yang jelas dia orang yang hangat dan menyenangkan. Ibu suka cowok-cowok kayak gitu.”


“Reza emang ngga?”


“Reza baik, tapi kadang dia tuh orang yang peragu. Meragukan dirinya sendiri dan orang lain yang sayang sama dia. Gak seberani Arvin. Kayaknya kalau kerjanya dikebun binatang, dia yang bagian masuk kekandang dan ngasih makan singa.”


Nara tertawa mendengar komentar ibunya, “Apa sih, Bu. Ga jelas.”


“Kamu tau gak, dek? Kalau kita ga berjodoh sama seseorang bisa jadi kita lagi dihindarkan dari sesuatu dimasa depan. Entah itu sifatnya, sikapnya, cobaannya, yang mungkin kamu ga akan kuat menjalaninya. Makanya Ibu selalu doanya, biar kamu dapet jodoh yang baik dan sayang sama kamu. Ibu gak pernah sebut nama orangnya siapa. Bisa jadi orang yang dikirimkan buat kamu itu Arvin.”


“Emang Ibu pikir aku berjodoh sama dia?”


“Bisa jadi.” Balasnya lembut.


“Gak tau ah. Aku ngatuk.”

__ADS_1


Nara membenarkan posisi selimutnya. Mengecup pipi Ibunya. Tak lama dia tertidur. Pertama kalinya semenjak tinggal disini tidurnya terasa sangat nyaman. Hatinya pun sangat ringan. Mungkin karena ada ibu disampingnya. Kekhawatirannya seketika hilang. Tapi entah kenapa dimimpinya hanya wajah Arvin yang bermunculan.


__ADS_2