
Keanehan Nara tidak berhenti sampai disana. Ternyata beberapa hari berikutnya dia punya keinginan-keinginan makan yang lebih macam-macam. Terkadang menyulitkan Arvin dan Bi Yayah—ART baru di rumahnya.
“Hari ini kita cari tempat makanan yang jual papeda yuk!”
“Vin, kamu tahu gak? Kalau belalang bisa dimakan? Tuh lihat aku nonton di youtube ada yang makan belalang goreng!”
“Seblak kayaknya enak ya siang-siang gini.”
“Rasanya makan ulat sagu kayak gimana sih?”
“Aku lihat mukbang orang Korea, dia makan Ganjang Gejang. Kepiting mentah yang dimarinasi pake kecap asin. Di Jakarta ada yang jual gak ya?”
“Aku pingin banget makan dendeng batokok, Vin. Cariin dong!”
“Es pisang ijo kayaknya segerrr….”
Bi Yayah menyajikan semangkuk kolak pisang di depan Nara. Hari ini majikannya itu minta dibuatkan kolak pisang dengan tiba-tiba, padahal sekarang belum memasuki bulan puasa. Selama beberapa hari ini dia juga banyak menerima permintaan Nara memasakkan sesuatu yang diluar kebiasaan makannta.
Bahkan majikannya itu pernah tiba-tiba bangun pagi dan mengajaknya ke pasar kaget untuk jajan cemilan pasar.
“Bu Nara jangan-jangan lagi ngidam ya? Sekarang selera makannya aneh-aneh. Abis kolak pisang, apa gak mau sekalian dibikinin opor ayam sama ketupat biar kayak lebaran?” Ucap Bi Yayah sambil bercanda.
Seketika Nara dan Arvin—yang kebetulan duduk juga di meja makan—menoleh pada Bi Yayah dengan cepat. Wajah mereka tampak kaget. Kemudian saling menatap tanpa berbicara apapun.
Ngidam? Nara rasanya jarang mengalaminya saat kehamilan pertama. Terkadang dia memang menginginkan suatu makanan tertentu, tapi tidak pernah punya referensi makanan yang macam-macam. Sepanjang kehamilannya dulu, dia hanya sangat emosional dan tubuhnya terasa tidak nyaman tak karuan.
“Aku … Telat 8 hari, Vin.” Ucap Nara setelah mengecek kalender bulanannya di ponsel.
“Tuh kan, kayaknya bener lagi ngidam itu, Bu.” Seru Bi Yayah senang saat mendengar ucapan Nara.
Tapi Arvin masih diam tidak bereaksi apa-apa, dia malah menggaruk dahinya dan terlihat bingung. Padahal mereka belum sebulan pulang ke Indonesia lagi dan baru akan merencanakan kontrol ke dokter kandungan bulan depan setelah senggang, untuk merencanakan program kehamilan kembali. Apakah mereka sekarang sudah diberikan kepercayaan kembali tanpa program apapun?
“Bi Yayah, boleh minta tolong beli testpack di apotek deket sini?” Kata Arvin sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
“Siap, Pak! Laksanakan!” Ucap Bi Yayah bersemangat. Perempuan berusia 40 tahunan dan berbadan gempal itu lantas dengan segera keluar membeli barang yang diperintahkan majikannya.
__ADS_1
Nara mengaduk-aduk kolak di depannya tanpa berbicara. Hatinya terasa aneh dan bingung. Dia memang mengatakan siap untuk memulai kembali dan memiliki anak lagi, tapi rasanya terlalu cepat untuk mendapatkan kabar ini.
“Vin, kalau aku beneran hamil gimana?” tanya Nara ragu.
“Emang kenapa? Kan kamu sekarang ada suaminya pas hamil. Gak kayak dulu.” Arvin menatap Nara dan tersenyum. “Atau… jangan-jangan kamu masih takut hamil?” Lanjut Arvin bersimpati.
Nara mengangguk menyetujui. “Sedikit. Aku ngerasa khawatir aja.”
Arvin mencondongkan tubuhnya, menggenggam kedua tangan Nara di meja. “Tenang aja. Kehamilan ini udah kita nantikan. Kita sekarang udah jadi dua orang yang berbeda dari dulu. Lebih siap, lebih bijak, dan lebih bahagia. Kamu punya aku dan punya banyak orang yang bakal terus mendukung kehamilan kamu. Jangan takut, kita bisa menjaga dia kali ini.”
Nara menatap balik ke arah Arvin. Dia benar. Sekarang Nara punya segalanya disisinya. Suami yang baik dan bertanggung jawab, kehidupan yang tercukupi, dan keluarga yang damai serta saling menyayangi. Harusnya kabar tentang kehamilan ini adalah pelengkap dari semua hal baik yang terjadi pada hidupnya. Tidak ada lagi perasaan tersesat dan kesedihan yang merundungnya seperti saat mendengar dirinya hamil seperti dulu.
...****************...
Ruangan Dokter Yustia tetap sama seperti terakhir kali mereka mengunjunginya. Tapi setiap kali datang mereka membawa perasaan berbeda. Saat melihat Nara dan Arvin masuk, Dokter Yustia langsung tersenyum dan mengenali pasiennya itu. Jelas dia akan sangat hapal, karena kasus stillbirth yang dialami oleh Nara sebenarnya tidaklah umum, serta meninggalkan kesan disetiap orang. kematian bayi dalam kandungan dengan usia 8 bulan kehamilan. Sungguh tragedi.
“Eeeh… Udah kesini lagi. Siap mulai lagi ya?” Kata Dokter Yustia menyambut mereka berdua.
“Sebenernya kita kemarin udah sempat tes mandiri di rumah. Hasilnya postif, Dok.” Kata Nara dengan senyuman mengembang dibibirnya.
Nara sudah berbaring untuk diperiksa. Gel dingin menyentuh kulit, kemudian alat USG yang bergerak-gerak diperutnya. Semua terasa familiar, membuatnya sedih tapi sekaligus senang bisa merasakan sensasi itu kembali.
Layar hitam putih menunjukkan penampakan gambaran buram mahkluk yang sedang tumbuh di tubuh Nara. Sosok yang masih belum terlihat sebagai manusia, namun keberadaannya sudah menggetarkan hati Nara.
“7 weeks 1 day, panjangnya 1,26 cm ya, Bu. Plasentanya juga mulai terbentuk dan oke.” Ucap Dokter Yustia menginformasikan. “Sekarang kita dengerin detak jantungnya ya.” Lanjutnya.
Terdengar suara degup yang kencang dan beraturan memenuhi ruangan. Nara teringat pertama kali mendengarkan detak jantung seperti ini juga dulu, menguatkannya untuk mempertahankan kehamilannya meskipun hatinya begitu berat.
Kali ini dia mendapatkan kesempatan kedua untuk mendengar ini lagi, dalam situasi yang jauh berbeda dari dulu. Tapi ada satu hal yang sama yang dia rasakan, hatinya seketika bertaut pada makhluk yang masih berbentuk bulatan tidak jelas dilayar monitor itu. Menyapa dirinya kembali dengan cinta yang lebih besar.
Seketika tangis Nara pecah mendengarkan detak jantung calon bayinya, kali ini dia tidak menyembunyikan apapun. Rasa bahagia, terharu, dan rindunya pada sosok yang bahkan belum sempurna menjadi manusia itu. Tidak seperti yang dilakukannya dulu. Di ruangan ini, menutupi betapa takjub mendengar detak jantung itu. Perasaan naluriah sebagai seorang ibu bangkit saat pertama kali mengetahui keberadaan makhluk kecil diperutnya.
“Alhamdulillah. Seneng ya dengerin ini lagi? Kali ini kita sama-sama jaga baik-baik kehamilannya. Kalau ada masalah segera konsultasikan dengan saya, Ya.” Pungkas Dokter Yustia.
Mobil keluar dari parkiran rumah sakit, menerjang hujan yang mengguyur diluar. Mereka tertahan sebentar di depan rumah sakit karena kemacetan dan lampu merah. Lagu indah terputar di pemutar musik. Terdengar suara indah dan menenangkan dari vokalis grup band Mocca.
__ADS_1
A simple I love you
That’s how I feel for you
Arvin memandang Nara dan tersenyum. Nara memandang dan mengelus lembut perutnya sambil tersenyum. Mereka merasakan kebahagiaan yang melingkupi hati dan hidupnya. Sama seperti yang dilagukan dalam musik yang mereka dengar kali ini, semua kebahagiaan mereka sebenarnya sederhana, karena mereka saling menyayangi.
Betapa berbeda keadaan mereka dulu dan sekarang. Meskipun dalam situasi yang hampir mirip. Hujan, terjebak kemacetan di depan rumah sakit, dan mendengarkan sebuah lagu dari pemutar musik. Tapi kali ini hati mereka dipenuhi kedamaian, karena sesungguhnya kehamilan saat ini adalah hal yang paling mereka nantikan.
Mereka telah belajar banyak hal berharga hingga berada di titik ini. Lewat kesalahan dan kesedihan, yang tidak akan pernah mereka ulang kembali, dan yang akan menjadi pelajaran untuk anaknya kelak.
...----------------...
...~Tamat~...
...----------------...
Terimakasih yang sudah mengikuti dan membaca sampai akhir ya. Karya kedua yang masih jauuuuuh dari sempurna.
Terimakasih dukungannya, komentar, hadiah, ataupun vote-nya, bikin aku terharu. Kok ada yang mau baca karyaku? Baik banget kalian 😭❤️❤️❤️
Maafin author-nya suka labil, semangatnya naik turun, update-nya suka seenaknya, dan gampang ngedrop terus ga update bab baru 😶
Sebenarnya aku belum puas dengan ending-nya. Kayak ada yang kurang. Entah apa. Kurang seru mungkin 😆
Tapi otakku udah keburu mau meleduk karena baru pertama kali bikin novel yang babnya sampe nyentuh 100-an.
Kemungkinan akan ada beberapa episode bonus dilain hari. Mungkin aja ada yang penasaran gimana Arvin dan Nara kalau udah beneran jadi orang tua. 👀😁
Btw, mungkin bisa dengerin lagu terakhir yang aku rekomendasikan. Simple I Love You dari Mocca. Biar kayak lagi lihat ending film-film 😆🤣🤣
Semoga bisa ketemu lagi di karya berikutnya yang sebentar lagi meluncur ya~~~
Di follow aja akunnya biar gak ketinggalan (Sumpah bukan promosi kok 😆✌️)
^^^Love,^^^
__ADS_1
^^^Lian^^^