
6 Bulan Kemudian. Sydney, Australia.
Satu bulan lalu mereka memutuskan pindah ke Sydney karena Arvin mulai bekerja di Australia, di kantor pusat salah satu perusahaan IT yang di rekomendasikan teman kuliahnya. Selain itu mereka mengambil kesempatan ini untuk memulai kembali hidup mereka, mengganti suasana, dan berpetualang setelah menghabiskan berbulan-bulan untuk menyembuhkan kehilangan anak pertamanya.
Ide mengenai kepindahan mereka sebenarnya kurang disetujui oleh kedua keluarga. Mereka menganggap semua itu hanya pelarian dari perasaan sakit yang mereka alami karena meninggalnya Alyosha. Bisa jadi benar. Mungkin juga salah.
Saat ini mereka belum siap untuk memiliki anak kembali. Inilah saat yang tepat untuk terlebih dulu saling mengenal dan mencintai, agar kelak benar-benar siap memulai perjalanan menjadi orang tua kembali.
7 Bulan pernikahan mereka penuh dengan pergulatan emosi. Meskipun sebagian kisah hidup dan perasaan mereka sudah diketahui satu sama lain, sebenarnya mereka belum sepenuhnya saling mengenal. Sebagai dua orang yang dipersatukan oleh pernikahan dan sebagai pasangan.
Nara menunggu Arvin bersiap untuk pergi ke Winter Festival di Sydney, tak jauh dari apartemen tempat tinggal mereka. Tangannya sibuk menggulir laman berita di internet dari iPad miliknya. Matanya kemudian terpaku pada satu berita yang sangat mencengangkan.
Sebuah headline news ditampilkan disana bertuliskan “Petinggi Aditama Corp Ditahan Pihak Kepolisian Karena Dugaan Penggelapan Uang”, berita yang lain menyebutkan “52 Orang Ditangkap: Petinggi C-Level, Manager Hingga Staff Aditama Corp Diperiksa”. “Tio Rahmadi dan Anaknya Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Penggelapan Uang.” Banyak judul lain bermunculan disana, membuat Nara kaget dan tidak percaya.
Apakah ini yang dimaksud Arvin tentang sesuatu yang besar terjadi diperusahaannya? Kasus penggelapan uang oleh Tio dan Rivanno yang membuatnya harus mengundurkan diri. Nara sampai sekarang tidak mengerti tentang kata-kata Arvin waktu itu.
“Yuk berangkat! Kalau terlalu malam nanti makin dingin. Kamu kan belum kuat dimusim dingin kayak gini.” Arvin keluar dari kamar, memakai pakaian tebal dan beanie dikepalanya.
“Vin, kamu udah lihat berita ini?” Nara menyodorkan iPad pada Arvin. Hanya sekilas saja Arvin melihatnya dan tersenyum.
“Udah, tahu dari Angga.”
“Kok bisa? Kenapa aku gak pernah tahu yang kayak gini? Jadi ini maksud kamu dulu bilang ada sesuatu yang besar terjadi diperusahaan? Terus alasan kamu keluar dari perusahaan itu kenapa?” Nara mengajukan banyak pertanyaan dan rasa penasaran yang menggebu.
“Aku ceritakan nanti. Kita cari makan dulu yuk di foodmarket. Lapar nih.” Arvin menggamit lengan Nara dengan manja.
Udara bulan Agustus di Sydney cukup menusuk, dingin membuat tulang-tulang Nara bergemeletuk. Mereka pindah kesini ditengah musim dingin. Membuat Nara cukup kaget dengan perubahan cuaca yang terlalu ekstrem dibandingkan dengan Indonesia. Maklum, ini pertama kalinya Nara tinggal di luar negeri. Meskipun sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan cuacanya.
__ADS_1
Mereka sampai di Darling Harbour dan disambut dengan kemeriahan festival. Dimulai dari food stall yang berjejer menyediakan banyak makanan, panggung untuk acara musik, permainan untuk anak-anak, bianglala, hingga penampilan kembang api nanti malam.
Nara benar-benar sangat senang melihat ini semua. Baru pertama kali dia datang ke tempat seperti ini. Arvin tersenyum melihat Nara begitu excited dengan sekelilingnya. Nara menunjuk dengan bahagia hal-hal yang dianggapnya menarik, berfoto bersama beberapa band penampil, dan bermain ice skating. Melihatnya tersenyum dan tertawa kembali selepas ini membuat Arvin sangat bahagia.
Setelah lelah berkeliling, mereka memutuskan untuk makan di restoran berbentuk iglo. Kemudian memesan truffle arancini, chicken schnitzels dan cheese fondue. Berdua menikmati momen seperti ini nyaris seperti sebuah honeymoon yang selama ini mereka lewatkan.
“Aku mau kamu ceritain semuanya!” Tagih Nara saat mulai memakan hidangan di depan mereka.
“Dari bagian mana dulu?” Kata Arvin tersenyum melihat rasa penasaran Nara yang kembali meluap.
“Kapan kamu tahu ada yang gak beres sama perusahaan?”
“Pas pertama masuk kerja.” Kata Arvin tenang, menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulut. Nara mengerucutkan bibirnya tanda tidak puas dengan jawaban Arvin.
Arvin terkekeh sebelum melanjutkan. “Kamu inget pas pertama aku masuk apa yang aku perintahkan?”
“Buang semua barang Pak Candra ke gudang.”
“Selama beberapa minggu aku pelajari semua dokumen yang kamu sisakan. Meskipun aku bukan anak finance atau accounting, dan gak terlalu paham tentang audit. Tapi aku menemukan hal yang gak beres tentang laporan keuangan dan nilai proyek yang seharusnya. Aku akhirnya meyakinkan Juna buat masuk ke perusahaan. Menempatkan dia di finance , hingga beneran terbukti kalau ada permainan di laporan keuangan yang dibuat oleh Pak Ismail serta bawahannya. Tapi Pak Ismail sadar kalau aku itu ancaman, karena mengawasi dia lewat Juna. Bukan berarti setelah penemuan itu aku menang. Mereka justru lebih ahli dan solid menutupi kebusukan, sampai aku tahu yang terlibat bukan satu atau dua orang saja. Melainkan seluruh petinggi, level assisten manager keatas.”
Disaat Arvin mulai menemukan celah untuk menggertak mereka, hal yang tidak terduga muncul. Gosip tentang dirinya yang menghamili sekretarisnya sendiri. Tiba-tiba semua orang menjadi sangat berani menentang dan berusaha menyingkirkannya atas nama moral. Sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kinerjanya.
Semua penolakan padanya diperparah dengan datangnya Rivanno, yang secara tidak langsung mengambil alih sebagian pekerjaan Arvin. Meskipun Arvin tahu ayahnya melakukan hal tersebut untuk meredam para rekan kerja lamanya agar tetap diam dan tenang. Tanpa tahu Rivanno juga terlibat dalam pengkhianatan yang menyerang dirinya sejak lama.
Candra terlalu percaya pada Tio, bawahannya yang selalu mendukungnya, dan keponakannya. Lebih percaya dibandingkan pada anaknya sendiri yang punya sejuta keputusan tidak biasa dalam menjalankan perusahaan.
“Terus alasan kamu keluar karena apa? Harusnya bakal lebih mudah menangkap mereka dari dalam dibandingkan dari kuar perusahaan?”
__ADS_1
“Siapa bilang?” Arvin tersenyum, memiringkan kepalanya dan menatap Nara. “Setelah mereka sadar kalau aku mengetahui permainannya. Fokus mereka alihkan buat nyingkirin aku, tiba-tiba mereka menghentikan permainan sementara supaya semua tuduhanku gak punya bukti. Sebenarnya itu hal bagus, mereka berhenti. Tapi kalau aku gak ada, pasti mereka lakukan lagi. Aku juga gak bisa pakai data lama buat laporkan mereka, buktinya minim. Juna bilang laporan itu gak akan sah dipengadilan. Jadi momen munculnya gosip dengan Keysa menurutku tepat buat keluar dari perusahaan, bikin mereka merasa menang. Kemudian praktek ilegel mereka akan berjalan kembali, lebih berani dan lebih besar karena mereka yang menguasai perusahaan.”
“Tapi gimana caranya kejahatan mereka terungkap kalau kamu gak ada disana? Mereka justru bakal lebih jago buat memainkan uang perusahaan.”
“Ada Pak Ismail dan dan Pak Akmal yang jadi pionku disana setelah Juna dikeluarkan.”
“Kenapa kamu yakin banget mereka bakal setia sama kamu?”
“Jelas bakal setia lah. Aku bersihkan nama baik keluarga mereka dan kasih bantuan pelunasan utang. Anak Pak Ismail melakukan investasi bodong yang membuatnya berutang banyak, sampai Pak Ismail juga menipu para rekan jahatnya dengan ngambil bagiannya sendiri. Anak Pak Akmal pengguna dan pengedar, harusnya dia ditahan. Aku punya kenalan pengacara buat bantu kasusnya.”
“Pak Ismail dan Pak Akmal akan jadi saksi kunci dipersidangan. Mereka juga punya bukti dokumen dan percakapan selama hampir 10 bulan terakhir, yang otentik dan Juna periksa setiap bulan. Kalaupun mereka harus ditahan, aku janji sama mereka buat kasih bantuan hukum. Meskipun kasus penggelapan uang tetap diproses dan mereka bakal terseret menjadi tersangka. Seenggaknya hukumannya gak akan terlalu berat.”
Nara menatap Arvin lama. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia juga kaget dengan strategi Arvin yang sepertinya sangat matang, ketajaman penilaiannya terhadap kasus yang menggerogoti perusahaan ayahnya dari lama.
Candra terlalu percaya pada rekan-rekan lamanya, apalagi kepada adik iparnya yang sangat berpengalaman diperusahaan. Meskipun Arvin berulang kali mengatakan ada hal yang harus Candra waspadai diperusahaannya, dia tidak mendengarkan. Malah memperburuk keadaan dengan melempar Rivanno untuk menenangkan rekan lamanya yang berulah menolak anaknya sendiri.
Tapi Arvin tidak pernah menyerah menyelamatkan perusahaan, karena tempat itu adalah tanggung jawabnya dan salah satu peninggalan ayahnya. Dengan menghabisi semua orang yang berkhianat sekaligus, perusahaannya akan memulai babak baru dengan orang-orang baru yang lebih kompeten.
Nara tidak pernah menyangka, laki-laki yang dia seret dari tempat tidur menuju meeting dadakan dan CEO sementara, sekarang menjelma jadi pemimpin sesungguhnya. Semenjak pertama kali mendengar Arvin berbicara pada meeting pertamanya, Nara meyakini bahwa laki-laki tersebut lebih hebat dari yang terlihat. Jauh didalam dirinya banyak hal yang mengagumkan lain, makanya setiap hari Nara selalu jatuh cinta dengannya.
“Kamu keren banget,” ucap Nara saat mereka sudah berada di kerumunan menunggu pertunjukan kembang api.
“Hah? Apa? Gak kedengeran!” Balas Arvin sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Kamu keren banget. Aku makin sayang sama kamu!” Teriak Nara.
Arvin mengerutkan dahinya, masih tidak bisa menangkap apa yang Nara ucapkan karena suara kembang api yang bising serta sorak-sorai penonton yang melihat pertunjukan tersebut.
__ADS_1
Dengan kedua tangannya, Nara meraih wajah Arvin. Mendekatkan pada dirinya. Sambil sedikit berjinjit, Nara mencium bibir Arvin, memainkan lidahnya dengan semangat disana, yang kemudian disambut suka hati oleh suaminya. Diantara kembang api dan kerumunan orang, mereka saling memeluk dan menyatukan bibir dengan mesra. Lupa akan dunia dan sekelilingnya.