Halo Arvin!

Halo Arvin!
It's easier for us


__ADS_3

“Dimana?”


“Lagi di ruang tunggu Dokter Yustia.”


“Oke.”


Kursi-kursi panjang berkapsitas 4 orang berjajar di depan poli kandungan. Penuh dan riuh berisi ibu-ibu hamil dan suaminya, tak jarang juga melihat anak-anak yang berkeliaran menunggu ibunya diperiksa.


Terkadang melihat mereka masih balita, sedangkan si ibu sudah hamil lagi anak kedua. Nara mencibir didalam hati, bisa-bisanya mereka hamil lagi tanpa memperhatikan jarak seperti itu. Apa mereka semua menikmatinya? Kehamilan kan tak mudah dan banyak menyebalkannya.


Tapi ibu-ibu itu terlihat tertawa, berbahagia bersama suami-suaminya. Kalau Nara hamil anak Reza, apakah seperti itu pemandangan yang akan dilihat orang padanya?


Kenyataannya sekarang dia malah membawa-bawa benih dari Arvin. Membuatnya sama sekali tidak menikmati momen kehamilannya.


Setiap hari Nara harus merasakan mual, pusing, dan muntah-muntah dipagi buta. Kelaparan di tengah malam, dan emosi yang naik turun tak terkendali.


Tentu saja Nara mengambil kesempatan ini untuk memperbudak Arvin. Nara tidak mau menderita sendirian, Arvin juga harus merasakan ketidaknyaman seperti yang dia rasakan setiap hari.


“Antrian nomor berapa sih?” Kata Arvin seraya duduk di kursi samping Nara yang kosong. Dia masih mengenakan kemeja, celana, lengkap dengan dasinya sama seperti yang dilihat Nara tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.


“Lo bolos?” Tanya Nara kaget melihat Arvin muncul disebelahnya tiba-tiba.


“Pulang duluan.”


“Ngapain? Gue ga dianterin juga gak apa-apa.”


“Gue pingin lihat kondisi anak gue.”


“Dih.” Cibir Nara.


“Kenapa sih? Kan gue bapaknya. Nih.” Kata Arvin memberikan susu pren*gen kotak pada Nara.


“Gue gak suka rasa strawberry.” Nara menyingkirkan susu kotak yang diberikan Arvin. Tapi Arvin mengeluarkan kotak lain ditangan satunya. Rasa cokelat. Nara mengambilnya dengan terpaksa.


Kalau tidak meminumnya, Arvin pasti langsung berceramah panjang lebar tentang kebutuhan nutrisi ibu hamil sampai Nara ingin menyumpal mulutnya dengan lap kotor.


Akhir-akhir ini Arvin tambah menyebalkan. Dia jadi sok tahu dan suka memaksanya makan makanan yang tidak Nara sukai. Semua dengan dalih, makanan bergizi untuk ibu hamil.


“Lo pingin anak cewe atau cowo?” Tanya Arvin tiba-tiba.


“Apa aja terserah.”

__ADS_1


“Gue pingin anak cewe. Tapi yang mirip sama gue, soalnya gue ganteng.”


“Terus menurut lo gue jelek, gitu?” Ucap Nara sebal.


Arvin hanya tersenyum. Bukan, bukan karena Nara jelek. Menurut Arvin, Nara cantik. Sangat cantik. Tapi dia tidak ingin anaknya nanti mirip dengan Nara. Takut jika nanti ketika mereka harus berpisah, anak itu terus mengingatkan Arvin pada kesalahan besar yang sudah diperbuatnya pada Nara.


Arvin mengakui kecantikan Nara, bahkan sempat mencoba menggodanya. Sayangnya waktu itu dengan tegas dia mengatakan telah memiliki tunangan.


Meskipun demikian Nara bukan jenis perempuan yang akan Arvin dekati untuk dijadikan pacar, apalagi dijadikan istri. Dia hanya penasaran saja.


 Mereka seperti kutub yang berbeda. Nara anak rumahan, ambisius, pekerja keras, teratur dan hidupnya selalu berada dijalan yang lurus. Hanya karena Nara tersesat saja yang mempertemukan mereka hingga takdir saling berbenturan seperti sekarang.


Pasti dulu saat sekolah Nara adalah salah satu murid yang akan ditemukan di perpustakaan kalau jam kosong atau si ruang guru setelah jam istirahat untuk bertanya materi yang tidak dimenegerti di kelas.


Berbeda dengan Arvin, yang akan diam dikantin, merokok dibelakang sekolah, dan nongkrong bersama teman-temannya sepulang sekolah menyewa studio kecil untuk bermain band.


Kebetulan saja dia dulu ditunjuk Pak Haris, wakasek kesiswaan untuk menjadi anggota OSIS dan sekonyong-konyong di daftarkan menjadi calon ketua OSIS. Kepopulerannya sialnya malah membuatnya terpilih, semenjak itu Arvin berubah menjadi siswa paling berbudi baik disekolah.


“Gue masih ngga ngerti kenapa lo ngotot banget buat pertahanin kehamilan gue, padahal kayaknya buat cowok lebih gampang buat ga peduli, dan setuju aja kalau ceweknya minta buat gugurin. Lo jadinya gak harus tanggung jawab dan nikahin gue.”


“Gue bukan kucing yang abis kawin terus pergi gitu aja, kan? Gue manusia punya adab dan pikiran. Kalau ngelakuin kesalahan ya harus minta maaf dan tanggung jawab. Dan gue pingin punya keluarga beneran.”


“Gue gak bakalan jadi keluarga lo.”


“Lo masih punya keluarga lengkap.”


“Mereka bukan keluarga beneran.”


“Lo gak tau kalau Pak Candra sayang banget sama lo?”


“Sekarang. Dulu ngga. Bentukan gue udah bagus kayak gini baru ngakuin. Gue juga anak haram kayak yang di dalam perut lo. Bukan keluarga mereka.”


“Ibu Nara Danastri.” Panggil perawat.


Nara mengurungkan niatnya untuk menanggapi perkataan Arvin. Dia mengatupkan mulutnya kembali yang sempat terbuka. Menyimpan semua pertanyaan yang rasanya sudah berada diujung lidahnya, dan banyak tanya lain dikepala.


Arvin lebih dulu beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke ruang praktik Dokter Yustia. Nara menyusulnya dibelakang.


Tempat itu masih sama seperti yang diingatnya minggu lalu, dan Dokter Yustia yang ramah menyambutnya. Hanya saja sekarang dokter senior itu terlihat agak lelah dan berantakan. Kerudung berwarna navy-nya tampak miring.


Setelah menanyakan kondisi Nara selama seminggu kebelakang setelah keluar dari rumah sakit, Nara mulai berbaring di tempat yang sama seperti dulu. Merasakan gel dingin diperutnya, gambar hitam-putih-abu muncul dimonitor.

__ADS_1


Perasaan Nara menjadi sangat aneh setiap kali melihat gambar dimonitor tersebut. Khawatir, takut, senang, dan penasaran. Minggu ini pasti dia sudah tumbuh dan banyak perkembangan. Nara berharap dia tidak melakukan kesalahan lagi yang membahayakannya.


Dokter Yustia mengatakan janinnya normal, sudah berbentuk sebesar raspberry dengan berat 1.1 gram. Kecil dan mungil. Tapi keberadaannya sangat luar biasa untuk Nara.


Meskipun seminggu terakhir kondisi tubuhnya terasa sangat tidak nyaman, setelah melihatnya lewat layar monitor dan mendengarkan dokter tentang perkembangannya yang baik membuat Nara tak keberatan sama sekali.


Setelah melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan Dokter Yustia, mereka berkendara pulang. Saat keluar parkiran hujan mulai turun, kini disertai angin yang cukup kencang.


Musim hujan seperti ini sangat menyebalkan. Bukan hanya membuat banjir dan macet, tapi hujan seringkali membuat perasaan Nara tiba-tiba menjadi sedih dan mellow. Mungkin juga bukan karena hujan, tapi karena keadaannya, karena emosinya, karena kata-kata Arvin yang tadi di dengarnya.


Lagu keepyousafe dari Yahya terdengar di pemutar musik. Mobil terjebak macet di depan rumah sakit, tertahan cukup lama disana.


Hujan, lagu sendu dan mereka yang terdiam sepanjang kemacetan. Nara melirik kearah Arvin yang sedang menatap lurus jalanan, menunggu mobil lain bergerak. Banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Arvin.


Sejak dulu potongan-potongan tentang hidupnya jadi pembicaraan rekan-rekan di kantor. Hingga sekarang, orang ini berada duduk disampingnya dan setiap hari tidur bersamanya, tak pernah sekalipun Nara tahu tentang dirinya.


“Lo mau pertahanin bayi ini karena dia mirip sama nasib lo?” Tanya Nara memecah hening diantara mereka.


Arvin tersenyum sekilas, matanya masih memandang ke depan “Kenapa? Lo mulai penasaran sama hidup gue?”


“Ngga. Siapa bilang? Gue cuma nanya kok.”


“Nanya ya berarti penasaran. Hati-hati kalau udah mulai penasaran sama gue, nanti lo jatuh cinta.”


“Najis. Mana mungkin gue jatuh cinta sama cowok br*ngsek kayak lo.”


Arvin tersenyum kembali, “Biarpun menurut lo gue br*ngsek. Gue bakal jadi satu-satunya yang ada disamping lo pas lo susah dan lindungin lo, sampe anak itu lahir. Orang-orang dan keluarga lo mungkin sekarang ninggalin lo, tapi gue ngga.”


Nara menganggap kata-kata Arvin hanya omong kosong. Tapi bohong kalau dia tidak tersentuh dengan hal tersebut. Mereka terdiam kembali. Kemacetan mulai terurai, mobil kini telah berjalan di tengah hujan yang terus mengguyur.


Nara menatap jendela yang buram dipenuhi embun. Bayangan-bayangan mengabur seiring perjalanan. Sama halnya dengan dunia yang ditempati oleh Nara, dan masa depannya yang tak jelas arahnya.


Seperti lirik lagu yang sekarang sedang terputar di mobil. Arvin berjanji pada dirinya untuk terus berada disisinya dan menjaganya. Dia benar-benar menyadur liriknya dan mengatakan itu seperti tanpa beban.


Benar-benar pembual paling handal!


Tapi hati Nara tenang mendengarnya. Entah untuk alasan apa.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Novel ini sebenarnya dibikin cuma akal-akalan author nya doang biar bisa ngasih tau orang lagu-lagu yang disuka hahaha


Andai aja di noveltoon bisa baca sambil dengerin musik. Tiap episode pasti author kasih lagu 😂


__ADS_2