
Arvin sulit didebat dan dibujuk. Begitu kira-kira keadaannya sekarang. Dia memilih tidur dan tidak memedulikan keadaan ayahnya yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit.
Begitu besar perasaan bencinya mengakar dalam hati, hingga Nara saja sulit untuk menembusnya. Tapi Nara selalu yakin. Ada cinta disetiap kebencian Arvin pada ayahnya. Arvin bukan laki-laki jahat tanpa perasaan. Dia lembut dan penuh kasih sayang.
Kebenciannya berasal dari kekecewaan dan hal lain yang tidak Nara ketahui tentang hubungan antara anak dan orang tua tersebut. Hal-hal yang masih disimpan rapat dalam hati Arvin dan di ingatan kedua orangtuanya.
Mungkin perasaan dan intuisinya sudah melangkah terlalu jauh. Tapi Nara sekarang menginginkan Arvin untuk pergi menjenguk ayahnya. Dia meyakini bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka bertemu dan saling melepaskan masa lalu. Meskipun Candra tak sadarkan diri, dan Arvin enggan datang. Entah kenapa rasanya dengan berada disana mereka akan menemukan titik terang.
“Kamu hari ini bakal jenguk Pak Candra?” Tanya Nara hati-hati saat sarapan.
Dia bisa melihat suasana hati Arvin saat ini sedang tidak baik. Sejak pagi Arvin tidak banyak berbicara, tidak menggodanya, dan dia juga tidak tersenyum semenjak bangun tidur. Rasanya dingin, seperti menghadapi Arvin si atasan sensitif dan mudah marah yang selalu dikenalnya saat bekerja.
“Gak tau. Aku sibuk sama kerjaan dikantor.” Jawab Arvin tanpa menatap Nara.
“Sebentar aja gak bisa ya, Vin?”
“Hmm.. Jadwalku padet sampe sore.”
“Kalau aku jenguk sendiri, gak apa-apa?”
Arvin akhirnya menatap Nara, kemudian mengangguk menyetujui. Dia tahu tidak bisa melarang Nara untuk menemui ayahnya. Lagipula Nara memang tidak punya masalah apapun dengan keluarganya. Hanya Arvin saja yang hingga sekarang masih menolak semua hal yang berhubungan dengan keluarga Aditama.
“Kamu—“ Kata Arvin ragu, “Gak jadi.” Lanjutnya, kemudian menaruh piring kotor di kitchen sink. Kemudian bersiap untuk pergi.
“Vin, aku gak akan nyuruh kamu baikan sama orang tua kamu atau maksa kamu buat cerita hal-hal yang kamu simpen sendiri. Tapi mau gak kamu jenguk Pak Candra sebentar aja?” Ucap Nara saat melepas Arvin berangkat ke kantor.
__ADS_1
Dia menggenggam tangan Arvin dan mengelusnya. Merasakan kehangatan tangan besar dan kokoh tersebut. Tangannya hangat sama seperti hatinya, yang membuat Nara aman dan terlindungi.
“Aku selalu berterima kasih sama kamu karena ngebujuk ibu buat dateng kesini dan maafin aku. Tapi aku gak bisa kayak kamu, aku gak ngerti harus bantu apa. Aku juga gak tahu gimana rumitnya hubungan kalian.”
“Kamu gak usah ngapa-ngapain. Gak ada yang bisa kamu lakuin juga biar hubungan aku sama keluargaku jadi baik lagi. Ini udah belasan tahun, aku sendiri pun ga ngerti harus mulai memperbaiki darimana. Nanti sore aku sempatkan dateng buat jenguk.”
Arvin tersenyum sekilas. Meskipun hatinya tiba-tiba menjadi kacau dan tak karuan karena ucapan Nara. Dia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa pada ayahnya. Mereka sudah terlalu jauh. Dia juga bingung bagaimana bersikap pada ibunya. Memperbaiki hubungannya yang dulu memanas, karena masalah ibu kandungnya dan Keysa.
...****************...
Bibir merahnya terus mengerucut kesal. Benci dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. Nasibnya begitu sial hingga mengalami banyak kehilangan. Ibunya dan sekarang cinta matinya.
Dia benci sekaligus teramat cinta pada Arvin. Laki-laki yang dulu siap melakukan apa saja untuknya bahkan rela melawan ibu tiri yang sangat dibencinya itu, kini sudah tak lagi dalam genggamannya. Dia direbut dengan hina oleh perempuan tak tahu etika yang sekarang dijadikan istri sahnya.
“Jangan cemberut gitu. Nanti cantiknya ilang loh.” Goda Rivanno
“Aku gak bisa lama-lama kayak gini terus, Van. Nanti kalau Arvin tambah susah pisah sama cewek itu gimana?” Keysa makin kesal melihat Rivanno yang sangat santai dan terkesan tidak peduli dengan perasaannya.
“Kamu kalau ribut kayak gitu malah jadi berakhir jelek loh, Key. Gak inget gimana Arvin marahin kamu depan temen-temennya dan Nara?”
“Gak usah nyebut nama dia. Najis dengernya.”
Rivanno terkekeh. Merasa lucu dengan tingkah Keysa yang merajuk seperti itu. Selama beberapa bulan ini Keysa terus menerornya untuk menjauhkan Arvin dari Nara.
Dia kira pekerjaan tersebut harusnya berjalan sangat alami. Mereka tidak saling mencintai dan menikah karena kesalahan. Tidak mungkin bertahan lama, terutama karena Arvin selama ini enggan menikah. Seperti yang Keysa ceritakan padanya. Tapi ternyata Rivanno salah. Sepupunya itu semakin dekat dengan Nara.
__ADS_1
Apalagi dengan semua kabar jelek dan tekanan-tekanan yang dipantik oleh Rivanno ditempat kerja. Orang-orang yang dia pengaruhi sudah hampir membuat Arvin kewalahan. Dia kira sepupunya itu akan melampiaskan amarah dan emosi terpendamnya pada istrinya yang begitu menolak pernikahan itu juga. Ternyata Rivanno salah lagi. Mereka malah semakin dekat sekarang. Sepupunya itu memang selalu diluar dugaannya.
Tapi sepertinya itu juga malah menguntungkannya. Dari banyak informasi yang didapatkannya minggu lalu tentang kedekatan Arvin dan Nara, serta bagaimana dia membela di depan karyawan yang menghina istrinya. Rivanno akhirnya tahu harus memainkan kartu yang mana.
Keysa.
Gadis posesif yang selalu mengikuti Arvin dan terobsesi dengannya adalah formula yang sangat pas untuk membuat Arvin menjadi tak berdaya. Cacat dan sama buruknya dengan ayahnya.
“Key. Aku janji kamu bisa dapetin Arvin lagi. Kayak yang dulu-dulu. Percaya deh sama aku. Asal kamu ngerti kan apa yang harus kamu lakukan?”
Keysa mengangguk, “Aku mau ngelakuin apa aja buat memenuhi keinginan ibu biar aku bisa nikah sama Arvin.”
“Good. Kamu anak yang berbakti.” Ucap Rivanno tersenyum puas.
“Jangan terlalu lama ya, Van. Aku gak bisa nunggu sampe anak haramnya lahir.”
“Sabar ya, Sayang. Semuanya butuh timing yang tepat. Sekarang kayaknya jalan kita lagi dipersiapkan dengan baik oleh takdir. Emang orang baik dan bermoral kayak kita selalu dikasih kemudahan sih.”
"Aku mau ngelakuin apa aja. Gak masalah. Gak ada yang harus aku takutkan juga sekarang, setelah aku kehilangan banyak orang. Aku gak mau kehilangan Arvin juga."
"Gak akan. Dari dulu dia emang cocok sama kamu, kan? Gak ada satupun cewek yang cocok dan ngertiin dia kayak kamu, Key. Tenang aja."
Rivanno tersenyum senang. Iya. Semua keinginannya dan Keysa sebentar lagi akan terwujud. Hanya harus bersabar dan memainkan semuanya dengan hati-hati.
Keysa menatap Rivanno yang tidak bisa berhenti tersenyum didepannya. Terkadang melihat laki-laki itu seperti melihat versi Arvin yang lain karena keduanya hampir mirip. Tidak. Sebenarnya Arvin lebih tampan, lebih keren, lebih berwibawa dan lebih mempesona. Keysa hanya mencintai Arvin saja seumur hidupnya.
__ADS_1