
Nara menunggu Arvin sejak tadi dengan gelisah, takut suaminya itu masih terjebak macet. Padahal nomor antrian periksanya sudah dekat. Teleponnya juga dari tadi tidak diangkat, membuat Nara memberengut sebal.
Panggilan kesepuluh barulah Arvin mengangkatnya. Mendengarkan suara laki-laki itu disambungan telepon membuat hati Nara lega.
“Aku di parkiran. Sabar dong, Sayang!” ucap Arvin menenangkan.
“Cepetan dong, Vin! Bentar lagi masuk ruang periksa nih. Udah dibilangin dari kantornya jam 3 biar gak kejebak macet,” omel Nara.
“Aku masih ada meeting tadi. Aku lagi jalan nih kesana. Sabar yaa.” Arvin berusaha menghentikan omelan istrinya.
Nara menutup telepon dan masih kesal pada Arvin. Entahlah dia memang setiap hari sangat kesal pada Arvin. Walaupun dia sendiri tidak tahu apa alasannya, hanya saja jika Arvin tiba-tiba menjauhinya karena tidak tahan. Nara akan merengek karena kesepian.
Arvin bergabung dengan Nara dikursi ruang tunggu. Wajah istrinya itu masih cemberut dan sama sekali tidak menoleh padanya yang duduk disebelah.
“Masih mau marah-marah? Mau ditemenin ke dokter gak? Atau aku pulang aja nih?”
“Ih masa pulang sih, Vin?!”
“Ya udah jangan marah-marah lagi kalau gitu dong.” Arvin menggenggam tangan Nara dan mengecupnya. “Jangan-jangan dedeknya cowok nih makanya tiap hari sensi banget sama aku,” lanjutnya menduga-duga.
“Sekarang kayaknya udah bisa lihat dedeknya cewek atau cowok deh, Vin. Aku penasaran juga. Kamu emang maunya apa?” Nara mengelus perutnya yang semakin membuncit.
“Apa aja terserah, yang penting dedek sehat dan lahir sempurna.”
Nara mengangguk. Iya, tidak penting anaknya nanti laki-laki atau perempuan. Hal yang paling penting untuk mereka sekarang adalah kesehatan dan keselamatan bayi dalam perut Nara. Supaya bisa lahir dengan selamat ke dunia.
Perawat memanggil Nara untuk masuk ke ruangan Dokter Yustia. Seperti biasa dokter ramah tersebut menyambutnya dengan ceria.
“Gimana? Ada keluhan apa?” Tanyanya dengan keibuan.
“Saya kadang ngerasa keram di perut bawah,” balas Nara.
“Sering keramnya? Berapa kali dalam sehari?”
__ADS_1
“Kadang-kadang aja, dok. Mungkin sekali atau dua kali, gak tiap hari juga.”
“Gak apa-apa. Kalau setiap hari sering banget dan durasinya lama, apalagi ada bercak, baru kita pantau ya. Sekarang yuk cek dulu. Jadwalnya USG 4D, kan ya?” ucap Dokter Yustia beringsut dari tempatnya. Asistennya dengan sigap mempersiapkan alat.
“Sekarang udah bisa lihat bayinya cewek atau cowok kan, Dok?” ucap Arvin penasaran.
“Bisa dong. Malah bisa lihat muka baby-nya.”
Nara mulai berbaring ditempatnya. Merasakan gel dingin diperutnya seperti biasa dan Dokter yang sibuk dengan alatnya. Bedanya, sekarang bukan tampilan hitam putih yang tertera dimonitor. Tapi menampilkan gambar yang nyaris mirip seperti bayi di layar. Malah sangat terlihat nyata bahwa ada makhluk kecil yang hidup diperut Nara.
“Nih, kelihatan kan wajahnya?” ucap Dokter Yustia memperlihatkan tampilan dilayar pada Nara dan Arvin, “Wajahnya sempurna, gak ada sumbing. Posisi bayinya juga udah baik, plasentanya juga tidak terhalang, dan ini... Wah dedeknya cowok ya sekarang,” ucapnya menjelaskan.
“Cowok, Dok?” Arvin terdengar antusias.
“Sudah dipastikan nih 90% si dedek cowok. Udah kelihatan nih ya?” lanjutnya menunjuk area alat vital bayi yang meringkuk diperut Nara itu. “Tapi... Ini kenapa cairan ketubannya kok sedikit ya? Ibu gak banyak minum?” Dokter Yustia terlihat khawatir.
“Sering minum kok, Dok.” Jawab Nara. “Bermasalah ya, Dok?” lanjutnya.
Penjelasan dari Dokter Yustia menghantui pikiran Nara. Dia menjadi sangat sedih dan khawatir. Ketakutan bertumbuh subur dihatinya, membuat dirinya nyaris selalu menangis.
“Ra, kalau kamu terlalu khawatir kayak gini malah gak bagus nanti buat bayinya,” ucap Arvin yang terbangun dari tidurnya karena mendengar Nara terisak di sebelahnya.
“Tapi aku takut, Vin. Gimana kalau kayak dulu lagi?” Air mata terus saja bercucuran turun ke pipinya.
Arvin memeluk Nara, membuatnya berbaring dan mengecup keningnya. “Nara, kalau kamu semakin mikirin hal buruk. Malahan takutnya kejadian. Selalu berprasangka baik, lagipula kita lagi mengusahakan, ya kan? Kamu rajin minum udah kayak sapi gelonggongan. Dedek juga masih aktif banget diperut kamu.”
“Tapi, Vin—“
“Udah. Syuuut! Tidur!” Arvin menempelkan telunjuknya dibibir Nara. Kemudian memeluknya erat untuk menenangkannya.
Sebenarnya jauh di dalam hatinya Arvin juga memiliki kekhawatiran yang sama. Apalagi mereka pernah mengalami kehilangan sebelumnya. Tapi jika dia ikut sepanik Nara, malah sangat tidak baik untuk kondisi psikologis istrinya.
Yang dia bisa lakukan sekarang hanyalah menemani dan menjaga Nara agar tidak larut dalam kesedihan dan ketakutan, yang mungkin saja bisa membahayakannya.
__ADS_1
...****************...
Seperti yang ditakutkan oleh Nara, kehamilannya bermasalah. Diusia 31 minggu, dia harus menerima perawatan di rumah sakit karena ketubannya merembes dan berkurang.
Dokter melakukan penyuntikan untuk maturasi paru-paru sebanyak 4 kali, dan mereka berdiskusi untuk melahirkannya segera. Paling lambat diusia 34 minggu jika ketuban masih dalam batas aman.
Sayangnya, diusia kehamilan 32 minggu. Nara terpaksa harus melakukan persalinan mendadak. Setelah melahirkan, Nara semakin bersedih karena tidak bisa memeluk bayinya. Makhluk kecil itu harus menerima perawatan terlebih dahulu di NICU karena lahir prematur.
“Kamu mau aku suapin makanan apa?” ucap Arvin yang menemani Nara memompa ASI-nya.
Nara menggeleng, air matanya turun tak terbendung. Arvin menyekanya dengan ibu jarinya. Kondisi Nara semakin hari semakin parah, karena bayinya belum diizinkan untuk keluar inkubator.
Sudah hampir 5 hari anak mereka berada di NICU. Nara akan kesana untuk menyerahkan ASI-nya untuk diberikan pada bayinya lewat cup feeder. Anak mereka bahkan belum bisa menyusu dengan benar pada ibunya karena kemampuan bayi prematur untuk menyusu belum terlalu baik.
“Nara, kamu denger kan penjelasan Dokter Laktasi? Kamu harus makan yang banyak, penuhi nutrisi, dan jangan stress biar ASI kamu lancar. Soalnya itu satu-satunya yang bikin dia kuat disana. Cuma lewat ASI, kamu bisa ngasih dia perlindungan dan kekuatan. Biar dia cepat bisa kita peluk.”
“Dia bakal cepat pulang kan, Vin? Kenapa bayi sebelahnya udah boleh pulang sedangkan anak kita nggak?”
“Aku gak tahu kondisi bayi disebelah kita kayak apa. Kita fokus aja sama bayi kita, oke? Dia berat badannya masih kurang dan belum tahan dingin, jadi gak bisa keluar inkubator dulu. Kita kan udah tahu, apa yang harus dilakukan. Iya kan, Ra?”
Nara mengangguk. Dia harus memenuhi kebutuhan makanan bayi kecilnya lewat ASI yang berkualitas, agar berat badan bayinya cepat menuju ideal.
“Kalau gitu kenapa kamu gak mau makan? Hmm? Kamu mau makan apa, nanti aku beliin. Kalau kamu mau aku masakin makanan juga gak masalah. Asal kamu mau makan.”
“Ngga usah. Aku makan yang ada aja disini.”
Arvin tersenyum. Dia mengambil makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Semua makanan yang disediakan sudah sesuai dengan anjuran dokter gizi. Tampilannya terlihat mewah dan lezat. Tentu saja, karena Nara berada di ruang perawatan VVIP salah satu rumah sakit internasional di Jakarta.
“Aaaa... Cepetan buka mulutnya, pesawat mau lewat,” ucap Arvin memainkan sendok makanan ke arah Nara.
“Apa sih, Vin? Kayak ngasih makan ke bocah, tau gak?” Nara tersenyum melihat kelakuan suaminya. Tangisnya berhenti dan berganti menjadi tawa.
“Soalnya Nara lagi kayak bocah, susah makan,” balas Arvin ikut tertawa.
__ADS_1