
“Kalau bapak gak mau dateng, ya udah ibu aja yang dateng!” Bentak Laila emosi pada suaminya, pintu kamar terbanting menutup. Meninggalkan Ahmad sendirian.
Matanya teralih pada ponsel yang istrinya tinggalkan di atas kasur, dia meraih benda tersebut. Sebuah pesan dari anak bungsunya dikirim, mengabarkan Sabtu depan akan menggelar acara 7 bulanan kehamilannya.
Beberapa foto juga disertakan, menampilkan wajah berseri Nara dengan perut mulai membesar. Di sampingnya berdiri wajah tampan menantunya, tak kalah bahagia.
Hatinya merasa tak karuan hanya dengan melihat foto itu. Sedih, kecewa, marah, dan juga rindu. Hingga saat ini yang diingatnya ketika perpisahan dengan anak bungsunya itu adalah raut kesedihan. Tangis yang pecah saat terakhir kali berpamitan untuk meninggalkan rumah.
Sampai sekarang perasaan bersalah dan kecewa masih menghantuinya. Dia merasa gagal mendidik anak. Gagal menjadi orang tua. Gagal melindungi anak gadisnya. Kecewanya juga dia tujukan pada dirinya sendiri.
Kenapa Nara sampai takut untuk mengatakan kejujuran? Padahal jika sejak awal Nara mengatakan padanya bahwa Reza mundur menjelang pernikahan, dia tidak akan menempuh perjalanan curam seperti ini.
Dia tidak akan kecewa, tidak akan malu, tidak akan marah jika pernikahan anak gadisnya gagal karena ketidakcocokan. Di dalam hatinya, dia ingin anaknya itu bisa menjalankan kehidupan rumah tangga yang bahagia. Jika Reza saat itu tidak bisa memberikannya, dia juga rela melepaskan puluhan juta rupiah yang sudah dikeluarkan untuk persiapan pernikahan mereka.
Namun Nara malah pergi ke tempat lain. Menghindar, berlari, bersembunyi. Seakan orang tuanya akan menerkamnya dengan amarah karena seorang laki-laki memutuskan hubungan. Tidak. Ahmad akan memeluknya. Menguatkan anak perempuannya itu agar bisa melanjutkan hidup. Seandainya Nara tahu bahwa selalu ada tempat untuknya setelah patah hati, dibahu ayahnya.
Ceritanya akan lain jika semua itu terjadi. Namun nasi sudah menjadi bubur, Nara memilih jalan yang benar-benar diluar dugaannya. Membawa kabar lebih duka dari sekadar gagal ke pelaminan. Hamil diluar nikah.
Ahmad berbaring di atas kasur, masih menatap foto Nara dan Arvin cukup lama. Mereka terlihat bahagia, melanjutkan hidup, dan bertanggung jawab dengan perbuatannya. Harusnya hatinya juga merelakan dan ikut bergembira. Tapi kenapa maaf masih belum bisa dia berikan untuk keduanya? Atau sebenarnya maaf belum bisa dia berikan untuk dirinya sendiri?
...****************...
“Ibu marah kenapa, Pak?” Tanya Naufal keluar ke teras, kemudian duduk di kursi plastik dekat ayahnya sambil menggendong Dania.
Ahmad mengembuskan napas berat, meminum teh yang mulai dingin dari cangkir melamin.
“Bapak gak mau ikut ke acara 7 bulanan adekmu. Kamu mau datang kesana?”
__ADS_1
Naufal mengangguk, “Katanya Amel mau lihat rumah baru Nara. Mereka sekarang tinggal di daerah BSD. Pada mahal rumah disana tuh, Pak. Kalau aku kayaknya gak sanggup nyicil rumah disana. Baguslah Nara bisa kesampaian tinggal di daerah yang lebih bagus dari kita.”
Ahmad tidak membalasnya. Matanya menatap lurus ke halaman rumah yang sempit. Langsung mengarah ke jalan dengan pemandangan anak-anak berlarian dan berteriak pada temannya.
“Bapak masih belum maafin Nara?” Tanya Naufal memecah lamunan.
“Kamu bakal gimana kalau tiba-tiba tahu Dania ketahuan hamil diluar nikah? Kecewa bapak tuh, Fal.”
Naufal mengerti perasaan ayahnya. Lebih paham lagi karena dia juga sudah menjadi ayah untuk seorang anak perempuan.
“Yang salah kan si Arvin, Pak. Dia yang nyentuh Nara pas lagi mabuk. Gak adil bapak terus marah sama Nara aja.”
“Bapak marah dan kecewa sama keduanya.”
“Pak, pengalamanku jadi orang tua mungkin belum banyak. Ujiannya gak seberat bapak. Tapi aku bisa paham beberapa hal setelah jadi ayah juga. Pas anak kita melakukan kesalahan, wajar kalau kita kecewa dan marah. Kita bisa milih buat terus menghukum mereka untuk kesalahannya. Sama kayak orang lain diluar sana, yang bakal mencaci dan bergunjing soal itu. Tapi anak itu bagian dari kita dan harusnya kita jadi tempat paling aman buat mereka pulang.”
Naufal mengecup kening Dania yang tertidur dipangkuannya. Bayi kecilnya itu suatu saat akan tumbuh dewasa, menjadi seorang gadis. Dia paham betul bagaimana perasaan ayahnya ketika anak gadis yang dicintainya disentuh secara tidak terhormat oleh seorang laki-laki asing. Lebih dari terluka.
“Aku ngerasa bersalah sebagai kakak karena ninggalin Nara pas dunia memusuhinya. Aku jadi salah satu orang jahat juga. Bapak tahu kalau Nara selalu nangis tiap hari karena kesepian? Tiba-tiba semua keluarganya lupa keberadaannya.”
Ahmad menatap sekilas pada Naufal. Dia bisa membayangkan bagaimana anak perempuannya itu menangis dan bersedih setiap hari semenjak meninggalkan rumah. Hatinya ikut merana.
“Suaminya kemana? Emang gak temenin dia?”
“Ada. Cuma Nara kan pingin ketemu kita. Tapi aku bilang bapak sama ibu belum siap ketemu dia lagi. Padahal waktu itu dia butuh kita. Aku juga tahu dari Amel kalau si Arvin selalu ngehubungin dia, mohon-mohon supaya bisa dipertemukan sama ibu atau bapak. Kayaknya tuh anak gak terlalu jahat juga.”
“Penjahat gak selalu kelihatan jahat. Tampang baik aja suka nipu.”
__ADS_1
“Tapi dia bertanggung jawab. Terlepas dari kesalahan fatalnya itu. Dia gak lari. Malah selalu nyari celah buat bisa bikin Nara diterima kembali. Bapak tahu kan ibu pernah nginep di apartemen mereka?”
Mereka terdiam kembali cukup lama. Larut dalam lamunan masing-masing.
“Bapak gak tahu harus kayak gimana. Selama ini kayaknya bapak salah didik anak, salah memperlakukan anak. Sampai rasanya jauh dari kalian. Kalau Nara jujur dan pulang waktu itu, bapak gak akan marah karena dia gagal nikah. Gak sama sekali. Apa bapak bakal mukulin dia? Maki-maki dia karena diputusin laki-laki deket waktu nikahnya? Gak akan.”
Naufal tersenyum sekilas. Mengingat kembali sosok ayahnya yang cukup kaku dan sulit didekati. Dia tahu cintanya besar pada anak-anaknya. Tapi ayahnya adalah laki-laki kolot yang jarang membicarakan perasaan. Pantas Nara takut. Pantas Nara merasa segan untuk membawa kabar itu ke rumah. Dia berpikir orang tuanya akan menyalahkannya atas kegagalan tersebut.
Baru kali ini saja Naufal berani berkata dan mengobrol sesuatu yang sangat pribadi ini. Ayahnya harus berubah, meskipun dia sudah cukup berumur, tapi dia tetap orang tua, yang pantasnya belajar seumur hidup menghadapi anak-anaknya.
Ayahnya harus membuka ruang agar paham bahwa membesarkan anak bukan hanya mencari nafkah dan perkara hadir saja ditengah keluarga, tapi mencoba memahami perasaan-perasaan anaknya. Lewat pembicaraan dari hati ke hati. Menyediakan waktu untuk mendengar dan didengarkan. Agar kelak anaknya tidak takut lagi untuk jujur mengenai segala kesulitan dan kekhawatiran yang menghadangnya.
“Bapak jarang ngomong soal apa yang kita rasakan, apa yang bapak rasakan. Makanya kita rasanya jauh sama bapak. Bukan berarti bapak gak hebat. Aku bersyukur punya bapak yang bertanggung jawab dan sayang sama kita. Tapi kadang, kita butuh bapak buat jadi tempat aman buat cerita. Cuma bapak gak pernah hadir disana. Pas kita jatuh, bahkan kita gak berani buat bilang gimana rasa sakitnya.”
Ahmad berdecak merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Zaman dulu ayahnya juga tidak pernah hadir mendengarkan. Kolot, keras, dan temperamen. Mendidik seperti disebuah kamp militer. Jarang dia bersuara dan mengemukakan perasaannya.
Saat menjadi seorang ayah dia berjanji tidak akan memperlakukan anaknya sekeras didikan ayahnya. Meskipun dia juga tidak mengerti bagaimana seharusnya menjadi seorang ayah yang dibutuhkan untuk Naufal dan Nara.
Padahal imam masjid setelah shalat Jumat banyak sekali membahasnya, mengingatkan orang tua agar mendidik anak sesuai zamannya. Sesuai kebutuhannya. Ternyata anak-anak sekarang bukan hanya butuh sosok ayah yang mencari nafkah, tetapi yang bisa memahami dan mendengarkan perasaannya juga. Hadir sebagai sosok untuk pulang ketika dunia disekitarnya hancur berantakan.
“Kalau gitu bapak gagal jadi bapak yang kalian butuhkan ya, Fal?”
Naufal menggeleng, “Bapak masih punya banyak waktu, dan semoga umur yang panjang buat belajar jadi sosok yang kita butuhkan. Naufal juga harus banyak belajar dari bapak gimana caranya jadi kepala rumah tangga dan bapak yang baik.”
Suara anak-anak yang bermain di jalanan depan rumah semakin berisik. Naufal beringsut dari tempatnya, meniduri Dania di dalam rumah, menghindar dari suara nyaring yang bisa membangunkan bayinya.
Ahmad menatap anak-anak di depannya, yang sekarang sedang menendang bola kotor berdebu kesana-kemari saling bergantian. Sebagian dari mereka kehilangan ayahnya saat bayi, membiarkannya diurus ibu atau nenek kakeknya saja. Saat beranjak remaja anak-anak itu berubah lebih bengal dan liar. Kemudian putus sekolah dan hidup tak tahu arahnya.
__ADS_1
Untung Naufal dan Nara masih memilikinya yang bertanggung jawab pada kehidupan mereka. Tapi itu saja tidak cukup. Materi saja tidak cukup. Seorang ayah harus hadir juga mendidik dan menjadi tempat berteduh untuk anaknya, karena dia adalah tiang kuat, fondasi yang menyokong keluarga.