Halo Arvin!

Halo Arvin!
Kunjungan Ibu Mertua


__ADS_3

Lena membawa banyak buah tangan saat berkunjung ke penthouse. Es krim, buah-buahan, dan beraneka kue yang terlihat lezat. Nara tanpa sadar menelan ludah melihat kue-kue yang cantik tersebut. Mereka menyajikannya sambil meminum teh.


“Ibu sengaja bawa banyak makanan manis dan tinggi kalori gini, Arvin bilang kamu lagi susah naikin berat badan karena banyak pikiran. Udah rileks aja. Jangan sampai kepikiran hal yang aneh-aneh.” Ucap Lena ramah.


Untuk pertama kalinya dinding tak kasat mata yang memisahkan dirinya dengan Lena benar-benar lenyap. Perempuan yang selalu terlihat tegas, arogan, tapi dalam waktu bersamaan terlihat elegan berubah menjadi sangat lembut. Selama bekerja dengan Candra, tidak sekalipun Lena memperlihatkan sisi ini padanya. Pun ketika dia sudah menikah dengan Arvin. Tapi hari ini kecanggungan tiba-tiba menguap begitu saja.


“Arvin cerita sama ibu soal itu?”


Lena mengangguk, “Dia cerita banyak sama ibu. Tenang aja, dia masih simpen hal-hal personal yang gak harus dia ceritakan ke orang lain soal kalian berdua kok. Arvin ceritain soal kehamilan kamu karena mungkin beberapa waktu kedepan dia bakal terlalu sibuk ngurus kerjaan. Makanya dia minta tolong ibu buat ngejagain kamu sebentar.”


“Umm.. Arvin juga nyeritain masalah yang dihadapi dikantor sama ibu? Aku dapat kabar yang kurang enak soal Arvin disana.”


“Ibu tahu dari Angga sebagian. Tapi ibu gak merasa khawatir. Ibu yakin Arvin bisa mengatasinya kok. Kasih dia waktu dan kamu juga jangan terlalu mikirin itu.”


“Tapi—“


“Candra gak pernah salah pilih orang buat gantiin posisi dia. Bukan karena Arvin anak kandungnya, tapi karena dia memang kompeten sebagai pemimpin. Mungkin kedengeran berlebihan dan sulit dipercaya, karena Arvin memang anak kandung Candra, sudah jelas pasti dibanggakan dan dibela. Tapi Candra selalu punya cara sendiri buat mengintervensi hidup Arvin, biar dia bisa jadi pemimpin. Bahkan sejak zaman sekolah. Jadi hal kayak gini bisa dia atasi.”


Lena selalu tahu apa yang dilakukan Candra untuk mendidik Arvin dari jauh. Menggunakan orang-orang dan kenalannya untuk mendorong anaknya itu menempati posisi-posisi penting semasa sekolah, bahkan saat menyalurkan bakatnya sekalipun.


Candralah yang mendorongnya menjadi Ketua OSIS, membentuk band Fortunata, menjadikannya siswa olimpiade, dan banyak hal lain yang dia lakukan karena dorongan-dorongan kecil Candra lewat orang-orang kepercayaannya. Selama ini Candra menjaga Arvin dengan caranya sendiri, termasuk mengirim Nara untuk menangani Arvin.


“Biarpun kamu belum terlalu lama kerja bareng Arvin, kamu pasti tahu dia kayak gimana, kan? Tertekan dan kesulitan sudah pasti. Tapi kalau dia gak ngalamin hal-hal kayak gitu, dia gak mungkin berkembang dan belajar. Yang harus kamu lakukan sebagai istri cuma kasih dia dukungan dan tempat aman buat pulang. Makanya kamu juga harus ngurus diri kamu sendiri, jadi kuat dan sehat. Biar perhatian Arvin buat menyelesaikan masalahnya gak terpecah, oke?”


Nara mengangguk, “Makasih buat nasehatnya, Bu.” Balas Nara. Merasa lebih lega.


Semua perkataan Lena ada benarnya. Nara tahu Arvin mengalami kesulitan, dan hal itu membuatnya khawatir juga bersimpati padanya. Tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara meringankan beban Arvin, urusan tentang perusahaan sudah berada diluar kemampuannya. Meskipun pernah bekerja disana, Nara hanya pegawai biasa serta awam tentang bisnis.

__ADS_1


“Ibu udah lebih berpengalaman buat hal kayak gini. Namanya kerjaan pasti ada masanya bermasalah dan pasang surut. Kamu juga sedikit demi sedikit harus tahu tentang apa yang dikerjakan dan dihadapi Arvin, tapi bukan buat jadi penasehat. Melainkan hanya teman berbagi aja. Kalau kamu expert dibidangnya, baru kamu bisa ngasih saran-saran yang rasional buat dia.”


Memasuki jam makan siang mereka memutuskan untuk memasak bersama. Rasanya seperti memasak dengan ibu kandungnya. Mereka terus berbincang hangat dan sesekali Lena memberinya nasehat untuk Nara dalam menghadapi rumah tangga, juga menghadapi karakter Arvin. Nara juga memang membutuhkannya, selama ini pasti banyak hal yang belum dia ketahui tentang suaminya itu.


Lena sangat berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas. Memang matanya tak pernah salah menilai orang lain, nara semakin kagum dengan sosok Lena. Candra memang hebat, tapi ternyata Lena lebih hebat dari yang Nara bayangkan. Terutama mentalnya yang kuat terus mendampingi Candra dan perselingkuhannya.


“Inget ya, Ra. Kalau kamu nanti mendengar hal-hal buruk tentang Arvin. Sebisa mengkin kamu harus tenang dulu, pastikan kebenarannya terutama sama Arvin, tetap bersikap rasional dan jangan bikin keputusan karena emosi. Jangan biarin berita buruk bikin kesehatan kamu dan bayi kamu terancam.”


Makanan sudah tersaji dimeja. Lebih dari satu jam mereka memasak dan mengobrol. Menyenangkan punya teman lain selain Bi Marni yang menemaninya akhir-akhir ini. Tapi Nara tetap merindukan waktunya dengan Arvin hingga saat ini.


“Lain kali kamu yang ke rumah, nginep disana. Audrey tuh sekarang juga jarang banget bisa masak-masak kayak gini. Sibuk kerja. Malah katanya dia mau lanjut kuliah lagi tahun depan.” Ucap Lena sambil menyuap makanan ke mulutnya.


“Emang Kak Audrey kerja dimana, Bu?”


“Di salah satu institusi riset independen gitu lah. Ibu juga gak paham. Dari dulu dia senengnya yang kayak gitu, ke lapangan, cari data, ikut seminar internasional. Paling beda sendiri. Adek kakak ga ada yang sama. Kamu juga punya kakak, kan ya? Sering pada berkunjung kesini gak?”


“Ibu aja yang pernah berkunjung kesini, yang lain gak pernah.” Jawab Nara murung.


“Ayah kamu gak pernah kesini juga?”


“Aku gak pernah komunikasi lagi sama bapak setelah nikah dan keluar dari rumah.”


Lena bisa melihat kesedihan tiba-tiba tergambar diwajah Nara. Dia tahu pasti orangtuanya belum menerima keadaannya yang hamil diluar nikah. Hal seperti ini adalah aib dimasyarakat, terutama bagi keluarga pihak perempuan.


Awalnya Lena juga bereaksi yang sama terhadap kabar yang dibawa oleh Arvin. Saat itu Lena sangat marah pada kabar yang dibawa oleh Arvin, tidak sudi memberikan restu ataupun datang kepernikahannya karena kecewa dengan perbuatan Arvin.


Lena menghembuskan napas berat melihat Nara yang menjadi murung tidak bersemangat setelah disinggung masalah orang tuanya. Padahal tadi dia ceria dan baik-baik saja. Nara dan Arvin memang salah.

__ADS_1


Orang tua pantas menghukum perbuatan mereka. Tapi kedua orangtua Nara belum melihat bagaimana anak-anak ini bertanggung jawab pada kesalahannya, bahkan lebih dari pada itu. Membuka hubungan yang baik antara keduanya.


“Ibu tahu kamu sedih, tapi jangan berlarut-larut. Inget kamu lagi hamil. Usahakan selalu berpikiran baik dan positif. Orangtua kamu bukannya udah gak sayang sama kamu karena kejadian ini, mereka butuh waktu untuk diyakinkan kalau kamu udah berubah jadi lebih baik dan bertanggung jawab sama kesalahanmu.”


Nara mengangguk memahaminya. Ibunya juga sering mengatakan untuk memberikan ayahnya lebih banyak waktu untuk menerima keadaan Nara dan memaafkan kesalahannya.


Meskipun demikian, Nara tidak tahu bagaiman cara meraih hati ayahnya. Dulu Arvin membantunya berbaikan kembali dengan ibu. Tapi kali ini ayahnya tidak akan semudah itu Arvin dan Nara luluhkan.


...****************...


Pintu ruang kerja terbuka, seorang laki-laki usia 40 tahuan masuk kesana. Mengenakan kemeja dan celana dengan rapi. Kemudian menghadap Lena yang sedang membaca buku dimeja milik Candra. Melihat Yanuar masuk, Lena menurunkan buku dan kacamata bacanya.


“Ini yang Bu Lena minta kemarin.” Ucap Yanuar menyerahkan secarik kertas di meja.


“Gimana menurut kamu?” Tanya Lena, dia mengambil kertas tersebut dan menatapnya sekilas kemudian menghadap Yanuar yang telah duduk pada kursi di depannya.


“Soal yang Bu Lena bicarakan ditelepon tadi pagi?”


Lena mengangguk.


“Menurut saya, kita ikutin aja dulu. Kalau Pak Candra mungkin bakal langsung bertindak, tapi hemat saya lebih baik ikuti alurnya dulu, Bu.”


“Kamu percaya masalahnya gak akan jadi gede?”


“Saya pikir begitu. Kalau bertindak sekarang buktinya juga gak akan kuat, karena belum kejadian.”


“Tapi saya khawatir loh, Yan.”

__ADS_1


“Saya akan terus info sama Bu Lena kalau mulai ada pergerakan.”


__ADS_2