Halo Arvin!

Halo Arvin!
Aktivitas Penghilang Stress


__ADS_3

Ruang tunggu tampak penuh oleh ibu-ibu hamil dan suaminya yang sedang menunggu panggilan perawat untuk masuk ke ruangan dokter. Nara juga salah satunya.


Dia duduk disalah satu bangku panjang yang berderet disana. Menggenggam tangan Arvin yang sekarang sibuk membalas pesan mengenai pekerjaan dari Adam. Hatinya terasa tenang dan bahagia.


Padahal kegiatan ini sudah dilakukan berkali-kali bersama Arvin. Namun kali ini Nara benar-benar merasa mereka adalah pasangan suami istri. Dan pengalaman seperti ini adalah yang diimpikannya. Duduk berdua menunggu giliran diperiksa dokter dan bergandengan tangan.


“Papa..” Terdengar suara mungil dari seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari memeluk kaki Arvin.


“Eh bukaan. Itu bukan papa.” Kata ibunya panik kemudian menghampiri.


Arvin tertawa dan menggendong anak perempuan kecil tersebut. Dengan penurut anak tersebut duduk dipangkuannya. Sambil terus berceloteh dan memanggil Arvin dengan papa. Meskipun ibunya terus mengatakan bukan, dan mengajarinya memanggil om.


Anak kecil bernama Aisha itu terus menempel dan tidak mau turun dari pangkuan Arvin. Ibunya terus meminta maaf karena perilaku anak berusia 2 tahun itu.


“Gak apa-apa. Bentar lagi om juga jadi papa kok. Udah kelihatan kayak papa muda ya, Aisha?” Kata Arvin pada Aisha yang sekarang menatapnya dan tertawa ceria.


“Aisha udah genit ya. Tau aja omnya ganteng. Maafin ya, Bu.” Ucap ibu Aisha pada Nara meminta maaf.


Nara hanya tertawa melihatnya sedari tadi. Dia juga tidak keberatan malah menganggap kejadian itu lucu dan menggemaskan. Setelah dibujuk cukup lama, akhirnya Aisha melepaskan pelukannya dari Arvin dan menghilang. Menunggu kembali di bangku tunggu bersama keluarganya.


“Tuh kan anak kecil aja tau kalau aku ganteng aura papa muda. Sampe gak mau lepas gendongan dan disayang-sayang. Cuma kamu doang yang gak mau. Aneh banget.” Gerutu Arvin.


“Dih apaan sih, Vin.”


“Kamu gak mau digendong dipangkuanku kayak anak kecil tadi?” Bisik Arvin.

__ADS_1


“Males. Ngapain sih?”


Arvin terus melihat Nara sambil cemberut. Sejak kejadian 2 hari lalu saat mereka mulai jujur dengan perasaan masing-masing, Arvin terus memberikan kode-kode untuk Nara manjakan. Hingga sekarang Nara belum berani melakukannya. Dia takut dan juga malu.


Meskipun hampir melakukannya saat di Bandung dan semua rasanya terjadi begitu alami tanpa bisa dicegah, namun Nara belum terpikirkan untuk melakukannya lagi.


Entah kalau keadaan menuntunnya tiba-tiba seperti saat itu. Rasanya masih aneh saat Arvin menyentuhnya di bagian-bagian yang rahasia menurut Nara. Biarpun Nara tahu, Arvin juga sudah menjelajahinya dulu. Tanpa disadarinya.


Perawat memanggil mereka masuk ke ruangan Dokter Yustia, yang dengan ramah disambut saat masuk kesana. Seperti biasa, Nara sudah berbaring di ranjang periksa dan Dokter Yustia sudah siap dengan peralawatan USG-nya. Sibuk memencet tombol-tombol kendali dan muncul tampilan hitam putih bergerak-gerak dan sudah terlihat seperti bayi manusia di monitor.


Nara tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya melihat penampakan buram tersebut. Senyuman melengkung dibibirnya. Dokter Yustia mulai menjelaskan mengenai perkembangan bayinya.


“Hmm.. berat taksiran bayinya masih 152 gram. Buat usia kehamilan 18 minggu sebenernya masih kurang ideal ya, Bu. Apalagi ibu BB-nya malah turun nih sampe 2 kilo dari pemeriksaan sebelumnya.”


“Bisa jadi masalah ya, dok?” Tanya Arvin khawatir.


Senyuman langsung hilang dari bibir Nara mendengar penjelasan Dokter Yustia. Dia menatap Arvin yang berdiri tak jauh dari sisinya dengan wajah khawatir.


Mungkin benar yang dikatakan Dokter Yustia, Nara sempat stress saat dia bertengkar dengan Arvin dan mendiamkannya selama seminggu penuh karena masalah Keysa. Membuatnya hilang selera hingga lupa makan. Sekarang Nara merasa bersalah dan khawatir pada bayinya.


“Tuh dikasih tau malah jadi tambah cemas, ya?” Tanya Dokter Yustia melihat kekhawatiran tergaris diwajah Nara “Gak apa-apa. Saya kasih booster dan vitamin bisa naik kok pasti, selain BB sih perkembangan yang lainnya kan bagus. Tuh sekarang udah kelihatan nih jenis kelaminnya. Mau dikasih tau sekarang atau nanti?” Lanjutnya menenangkan Nara.


“Sekarang aja, dok.” Kata Nara senang mendengarnya.


Dokter Yustia mengotak atik sebentar alatnya, “Wah selamat ya, ini bakal nemenin ibunya masak-masak dirumah nih. Cewek nih dedeknya.”

__ADS_1


Arvin dan Nara seakan lupa kabar kurang menyenangkan yang didengarnya tadi setelah megetahui jenis kelamin anak mereka. Sebenarnya Nara tidak keberatan jika anaknya laki-laki atau perempuan. Dia dengan senang hati menerimanya. Tapi Arvin pernah mengatakan ingin memiliki anak perempuan. Sepertinya keinginannya terkabul.


“Inget jangan stress, istirahat cukup, makan makanan bergizi. Ibu hamil harus selalu happy. Diajak jalan-jalan, liburan, atau mungkin karena udah 4 bulan lebih udah bisa melakukan aktivitas suami istri. Itu bisa melepas stress loh.” Ucap Dokter Yustia sambil menuliskan resep vitamin dan obat di mejanya.


“Ehemm.. jadi udah bisa di gas ya, dok?” Tanya Arvin sambil tersenyum.


Dokter Yustia tertawa mendengarnya, “Kalau yang kayak gini bapaknya seneng nih. Boleh. Asal aman, perhatikan aturan-aturannya. Kalau sampai perutnya sakit dan kram berlebihan jangan dilanjutin, jangan tiap hari juga kasihan.”


“Siap, dok.”


Nara memelototi Arvin dengan sebal. Bahkan hingga keluar ruangan praktik Dokter Yustia. Pasti Arvin merasa mendapatkan lampu hijau untuk rencana mesumnya. Sekuat tenaga Nara menggeplak lengan Arvin saat sudah berada diluar ruangan. Dia hanya meringis dan mengelus lengan yang baru saja dipukul oleh Nara.


“Ngapain sih nanya kayak gitu? Malu-maluin tau gak?” Kata Nara kesal.


“Loh kok malu? Wajar kali, kan nanya sama ahlinya. Lagian Dokter Yustia duluan yang mancing.” Jawab Arvin sambil terus tersenyum. “Oke. Kalau gitu berarti malam ini kita langsung melakukan aktivitas menghilangkan stress, kan?” Lanjutnya menggoda.


“Dih siapa bilang?”


“Aku barusan yang bilang.” Arvin terlihat sangat ceria. Dia merangkul kemudian membungkuk dan menggosokkan hidung ke pipi Nara. “Kamu jangan stress. Kalau sering stress aku nanti malah jadi sering berkunjung loh.” Lanjutnya berbisik.


“Aku gak stress kok. Cuma sekarang lagi sebel aja sama kamu!”


“Ayang tenang aja. Kalau lagi banyak pikiran dan stress bilang ya. Nanti Bang Arvin bikin ayang keenakan dan bahagia. Dedek dalem perut juga pasti seneng ayahnya nengok. Jadi.. Kita malam ini maunya dirumah aja atau dihotel?”


“Arvin!” Teriak Nara kesal dan memelototinya dengan galak. Dia menyingkirkan rangkulan Arvin, bergegas jalan mendahuluinya menuju instalasi farmasi untuk mengambil vitaminnya.

__ADS_1


Arvin hanya tergelak melihat reaksi Nara yang kesal dan marah-marah seperti itu. Dia sangat senang menggoda istrinya. Apalagi ketika berhubungan dengan topik ini.


Sekarang Nara tidak bisa menghindar lagi. Arvin sudah membulatkan tekad untuk melancarkan aksinya untuk mendapatkan keinginan yang sudah dia simpan berbulan-bulan semenjak mereka menikah. Waktunya beraksi.


__ADS_2