
Pintu ruangan terbuka, Keysa masuk dengan tergesa. Rambut panjangnya berkibar seiring langkahnya yang cepat mengarah ke meja Rivanno. Saat berada di depannya, dia langsung menyerahkan selembar kertas ke atas meja.
“Aku mau resign,” ucap Keysa menatap Rivanno.
“Why?” Balas Rivanno tenang, tersenyum dan memiringkan kepalanya.
“Aku udah keterima kerja di perusahaan lain yang benefitnya lebih gede dari sini.”
“Masa? Bukan karena kamu takut sama aku, kan?” Rivanno bangkit dari kursi, mendekati Keysa dan memeluknya dari belakang. “Kamu mau melarikan diri karena udah tahu apa yang aku lakukan, ya kan?” Bisik Rivanno, terdengar sangat menakutkan ditelinga Keysa.
“Maksudnya apa aku gak ngerti,” jawab Keysa gugup.
“Kamu ngerti, karena sekarang kamu terlibat juga soal aliran dana perusahaan yang masuk ke para petinggi. Kamu resign karena takut terseret kasus ini, kan?”
Keysa membisu. Dia tidak berani menjawab apapun. Ya, dia memang sangat takut. Tidak menyangka akan terlibat ke delam konspirasi ilegal yang dilakukan oleh orang-orang di kantor ini. Apalagi sekarang Keysa adalah Personal Assistant dari Rivanno, paham betul mengenai semua kejahatan yang dilakukannya. Semua aliran dana, penipuan dan permainan licik mereka.
“Aku beneran gak ngerti apa-apa, Van.”
“Key, aku tahu kamu bukan orang bodoh. Kamu pasti tahu apa yang aku mainkan disini. Sayangnya aku gak mau lepasin kamu.”
“Ivan!” Bentak Keysa menyingkirkan tangan Rivanno yang memeluknya. Mereka sekarang saling menatap sengit.
“Kamu kerja disini tujuannya buat merebut hati Arvin, kan? Sekarang tujuan kamu belum tercapai, masa kamu mau nyerah sih?” Rivanno menyeringai, membuat Keysa seketika merasakan merinding disekujur tubuh.
“Aku ... udah gak punya perasaan apa-apa sama Arvin. It’s not worth the fight. Aku lahi deket sama cowok lain,” ucap Keysa menjelaskan dengan terbata. Berbohong tentang perasaannya.
Meskipun Keysa masih belum melupakan Arvin, dia sudah tidak ingin memaksakan cintanya lagi. Dia terlalu lelah dan merasa sakit sendirian. Mengemis cinta dan perhatian Arvin hanya membuatnya kehilangan dirinya sendiri. Keysa ingin pergi jauh melupakan Arvin dan terbebas dari Rivanno.
“Bohong banget. Ckck...” Rivanno duduk dipinggiran meja kerjanya, masih menatap Keysa. “Kamu tahu kalau Arvin baru aja kehilangan bayinya? Anaknya meninggal dalam kandungan. Kabar bagus kan, Key? Ini harusnya jadi kesempatan kamu buat masuk lagi dikehidupan Arvin. Cewek yang kamu benci gak bisa ngasih Arvin keturunan, Key. Aku bisa bikin rencana baru biar kamu bisa dapetin Arvin,” bujuk Rivanno.
Keysa menatap laki-laki di depannya dengan pandangan nyalang. “Aku mau serahin surat resign-ku sekarang ke HR dan izin makan siang di luar.” Keysa tidak menggubris bujukan dari Rivanno.
Sekarang dia tahu, ternyata keberadaannya hanya dimanfaatkan untuk menyingkirkan Arvin dari perusahaan dengan gosip murahan.
__ADS_1
Perasaan cintanya malah dimanfaatkan oleh Rivanno untuk menjatuhkan sepupunya, menguasai perusahaan, dan menggelapkan uang bersama para petinggi yang tidak bertanggung jawab. Keysa benar-benar mati kutu setelah mengetahui semua itu. Dia tidak mau terjebak dalam kejahatan Rivanno.
“Keysa! Kamu pikir bisa lari dengan resign dari perusahaan? Kamu gak akan bisa ngapa-ngapain diluar sana!” Rivanno mengancamnya.
Keysa tidak memedulikan omong kosong Rivanno lagi. Segera saja dia keluar dari ruangan itu, menyerahkan surat resign-nya ke HR dan menuju parkiran mobil. Dia menghubungi Eka untuk meminta nomor baru Arvin dan menceritakan semua kebusukan Rivanno.
Rivanno tampak gusar setelah kepergian Keysa. Dia tahu gadis itu pasti langsung memberitahukan Arvin tentang semua praktek ilegal yang dia dan rekan-rekannya lakukan di perusahaan. Malah, bisa saja dia sudah mengumpulkan bukti untuk diserahkan pada Arvin.
“Kenapa belum siap-siap sih, Van? Kita kan mau makan siang sama tim auditor dari KAP di PA.SO.LA Ritz-Carlton.” Tio baru saja masuk ke ruangan anaknya, kesal melihat Rivanno malah duduk-duduk dengan santai.
“Yah, Keysa tahu soal permainan kita. Sekarang dia minta resign. Pasti dia juga bakal bocorin soal kita ke si Arvin,” ucap Rivanno agak takut.
Mata Tio langsung memicing, dia menekan bibirnya membuat garis tidak senang. Sebelum akhirnya menghela napas.
“Itu salah kamu masukin amatiran kayak dia. Apalagi cewek itu tergila-gila sama si Arvin. Dari awal dia gak akan ada dipihak kita.”
“Tapi dia satu-satunya kartu yang bisa jatuhin si Arvin biar keluar dari perusahaan, Yah.” Rivanno terlihat panik.
“Ayah mau ngapain?”
“Tutup mulut dia biar gak bocorin rahasia kita selamanya.”
...****************...
Ruangan Dokter Yustia terasa lebih dingin dari biasanya. Murung dan kelabu. Padahal setiap datang mereka selalu menantikannya, berbahagia karena bisa melihat anak dalam kandungan Nara.
Sayangnya sekarang tidak. Mereka datang kesana untuk memeriksa Nara setelah kelahiran, untuk melihat kondisi pasca operasi 10 hari yang lalu. Luka diperutnya berangsur sembuh, tapi hatinya belum. Nara masih terus dihimpit kesedihan yang mendalam setelah kehilangan Alyosha.
Hingga sekarang Nara masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. Meskipun Arvin sudah meyakinkan bahwa semua itu bukan salahnya dan diluar kendalinya.
Arvin sangat tahu bahwa Nara menginginkan bayi itu sama seperti dirinya, walaupun dulu dia dengan tega berniat menggugurkannya. Semua itu sudah berlalu. Menghukum diri sendiri karena yang sudah diperbaikinya, sangat tidak adil.
Dokter Yustia menjalankan banyak prosedur untuk melihat melihat perkembangan luka diperut Nara. Setelah itu mereka duduk kembali di meja sambil meresepkan obat untuk pemulihan.
__ADS_1
“Semua pemeriksaan udah oke. Lukanya juga udah mulai kering ya dan gak ada keluhan lain setelah nifas. Saya resepkan untuk diminum nanti. 3 Minggu lagi datang kesini buat check up lagi.” Dokter Yustia menuliskan resep pada secarik kertas.
“Aku bisa hamil lagi kan, dok?” Tanya Nara ragu.
Dokter Yustia tersenyum, mengerti kekhawatiran Nara yang sekarang menjadi tidak percaya diri dan takut tidak bisa memiliki anak dan mempertahankannya dalam kandungan.
“Bisa, sudah pasti bisa. Ibu masih muda, sehat, gak ada masalah apapun. Cuma lebih aman kita tunggu sampai 2 tahun lagi setelah operasi ya. Supaya tubuhnya lebih siap dan pulih. Termasuk pulih secara psikologi juga,” ujarnya menjelaskan.
“Gimana kalau kejadian kayak kemarin lagi?” Nara tampak sendu dan sedih.
Dokter Yustia menggeser kursinya, kini berhadapan langsung dengan Nara dan mengenggam tangannya.
“Ibu, sebenarnya gak ada yang pasti akan seperti apa. Kita sudah melakukan pemeriksaan dan diagnosa terkait IUFD atau stillbirth yang kemarin ibu alami, mengarah ke diagnosis lepasnya plasenta dari rahim yang menyebabkan bayi Ibu gak dapat pasokan oksigen, makanya bisa meninggal dalam kandungan. Penyebabnya apa? Banyak,” ucap Dokter Yustia menatap lekat pada Nara. “Bisa dicegah dan diobati? Bisa. Dengan riwayat seperti kemarin. Kita bisa lebih memperhatikan untuk kehamilan kedua nanti. Biar lebih hati-hati dan tahu apa yang harus diwaspadai. Jadi Ibu jangan khawatir lagi. Oke?” Lanjutnya dengan lembut dan keibuan.
Dokter Yustia pasti tahu dan mungkin banyak menangani kasus kehamilan seperti itu. Tentunya juga menghadapi ibu-ibu yang sangat khawatir dan tidak percaya diri untuk bisa mengandung kembali. Dia terus menyemangati dan memberikan penjelasan yang ibu-ibu itu butuhkan disaat seperti ini.
“Saya tahu Ibu masih berduka. Gak ada yang langsung ceria dan kuat sehabis ini. Tapi Saya yakin karena udah lihat banyak orang tua melaluinya, mereka punya semangat kembali buat dapat keturunan. Riwayat kehamilan Ibu kemarin cukup berat memang, tapi bukan berarti akan seperti itu juga nanti, karena saya gak melihat adanya kelainan apapun. Untuk kehamilan nanti, Saya harap Ibu dan Bapak udah dalam keadaan siap secara fisik dan mental untuk menghindari kejadian seperti kemarin. Hamil itu gak mudah, bukan perkara fisik aja yang berubah tapi psikologis kedua orang tuanya juga. Makanya selain menunggu tubuh Ibu siap lagi. Saya harap Bapak dan Ibu juga sembuh dari kehilangan, dan bisa lebih banyak persiapan.”
Nara dan Arvin mengangguk dan mendengarkan penjelasan yang sangat menenangkan dari Dokter Yustia. Merasakan bahwa dia bukan cuma handal dalam profesinya, namun sangat manusiawi terhadap pasiennya.
Setelah sesi konsultasi dengan Dokter Yustia, perasaan mereka menjadi lebih lega. Mereka mungkin saja pernah merasakan kehilangan yang rasanya membuat semua harapan terkubur dalam. Selama seminggu kebelakang, mereka merasa ragu dan takut untuk mencoba kembali memiliki anak.
Sekarang mereka rasanya punya harapan lagi, dan akan selalu punya harapan. Meskipun pernah gagal, tapi kegagalan tersebut adalah riwayat dan pelajaran berharga untuk melakukannya lebih baik nanti. Bukan hanya perkara medis yang membuat mereka waspada terhadap kemungkinan kejadian berulang, namun juga perkara mental agar lebih siap untuk menjadi orang tua.
Dulu keduanya sangat awam dan kehamilan Nara adalah hal yang paling tidak pernah mereka rencanakan. Meskipun mereka banyak belajar dari kejadian tersebut bukan berarti semua hal akan berjalan dengan mudah dan tanpa kendala. Semua itu mungkin ujian dan juga hukuman untuk keduanya, agar hidup lebih baik lagi dimasa depan.
Arvin masih berada di mobil, memarkirkan mobilnya di garasi, sementara Nara sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Ponsel di saku celana Arvin bergetar saat mobil sudah sepenuhnya terparkir.
[Eka: Vin, Sorry. Gue tau lo lagi berduka soal anak lo. Tapi gue cuma mau ngasih tau kalau Keysa meninggal karena kecelakaan tunggal di Tol JLB siang tadi.]
__ADS_1