Halo Arvin!

Halo Arvin!
Penghubung


__ADS_3

“HP lo dari tadi bunyi terus. Berisik!” Kata Nara sambil mengunyah buah melon. Arvin baru selesai mandi, dan baru sempat mandi dari tadi malam. Bi Marni pagi ini membawakannya baju ganti untuk Arvin dan Nara.


Arvin segera mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di meja dekat sofa. Adam berkali-kali meneleponnya. Sekretaris barunya itu pasti kelimpungan karena jam segini Arvin belum datang. Sebenarnya hari ini ada meeting dengan bagian finance lagi. Namun Arvin tak bisa meninggalkan Nara di rumah sakit sendirian.


‘Halo, Dam. Kenapa?’


‘Halo, Selamat Pagi Pak Arvin! Bapak hari ini masuk kantor, kan? Ada jadwal internal meeting untuk jam 10 nanti.’ Kata Adam.


‘Bisa reschedule gak, Dam? Saya lagi di rumah sakit jagain istri saya.’


‘Hah? Gimana, Pak?’ Tanya Adam bingung. Istri? Seingat Adam bosnya itu masih single dan belum berkeluarga.


‘Istri saya sakit. Saya harus jagain dia di RS.’ Ulang Arvin. Dia lupa kalau orang kantor belum ada yang tahu tentang pernikahannya, selain Angga tentunya. Wajar kalau Adam bingung ketika Arvin mengatakan sedang menjaga istrinya.


‘Saya nanti bicarakan sama tim yang lain dulu untuk jadwal barunya.’ Kata Adam akhirnya. Meskipun Arvin tahu, banyak pertanyaan yang ada dikepala sekretarisnya itu.


“Siapa? Adam?” Tanya Nara yang kebetulan mendengar percakapan Arvin di telepon. Arvin mengangguk memberi jawaban. “Ke kantor aja, Vin. Gue gak apa-apa kok disini. Udah enakan. Lagian ada Bi Marni yang nemenin gue. Jangan suka skip meeting dan reschedule semaunya, bikin hancur jadwal orang.” Lanjut Nara yang sangat paham tentang pekerjaan Arvin. Bagaimanapun dulu Nara adalah sekretaris Arvin yang sering mengalami kesulitan saat Arvin tiba-tiba ingin menjadwalkan ulang meeting, karena tak semua tim apalagi manager punya jadwal yang luang.


“Beneran lo gak apa-apa gue tinggalin?” Kata Arvin tidak yakin, dia masih khawatir dengan kondisi Nara. Meskipun sekarang dia terlihat lebih baik. dia sudah tidak menolak untuk makan, malah sekarang dengan lahap memakan buah-buahan yang Bi Marni kupaskan.

__ADS_1


“Gak apa-apa, Pak. Biar saya yang jagain Neng Nara. Saya pulang lebih sore dari jadwal biasanya juga gak apa-apa. Kalau ada masalah saya nanti telepon bapak, yang tenang kerjanya.” Kata Bi Marni menyetujui saran Nara.


Sebenarnya Arvin enggan untuk pergi, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan pekerjaannya begitu saja. Dia sudah menyetujui perannya sebagai pengganti ayahnya untuk sementara waktu. Kewajibannya untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.


Akhirnya Arvin berangkat ke kantor. Itu lebih baik. Nara lebih suka ditemani oleh Bi Marni dibandingkan dengan Arvin. Perasaan benci pada Arvin belum juga menghilang dari dalam hatinya. Nara juga ingin menenangkan diri sebentar karena memikirkan rencananya yang gagal total. Sudah jelas tubuhnya belum membaik karena upayanya menggugurkan kandungannya. Perutnya masih terasa kram tak karuan dan mual yang muncul tiba-tiba. Nara mencoba terus mengunyah buah yang manis menghilangkan rasa mual dan tidak enak di mulutnya.


...****************...


Arvin masuk ke ruang inap Nara sore itu, ekspresinya gelap dan tak bisa dijelaskan. Dia melihat Nara masih berbaring di ranjangnya, berbicara dan tersenyum dengan Bi Marni. Menyadari kehadiran Arvin, kedua perempuan itu menoleh ke arahnya.


“Maaf ya, Bi. Aku sore banget kesininya. Banyak kerjaan banget di kantor.” Kata Arvin pada Bi Marni.


Sekarang hanya tinggal mereka berdua di ruangan. Nara berhenti tersenyum, suasana menjadi dingin dan suram diantara mereka. Arvin juga tak berusaha mencairkan keheningan. Dia hanya duduk dikursi sebelah ranjang Nara, memperhatikan istrinya yang sekarang sibuk mengalihkan fokus pada layar TV di depannya.


“Lo kemarin minum ini, Ra?” Tanya Arvin tenang namun dengan nada yang dingin, membuat Nara menjadi awas dan menoleh padanya. Arvin memperlihatkan pil dan botol ramuan yang Nara beli dari dokter tidak jelas kemarin.


Nara kaget melihat benda itu sekarang berada di genggaman Arvin. Kenapa Arvin bisa mengetahui itu? Seingat Nara dia sudah mengamankannya di dalam tasnya di rumah. Nara juga sudah membuang botol bekas ramuan ke tong sampah makanan, menimbunnya dangan sisa sayuran serta membungkusnya dengan rapi.


“Jawab pertanyaan gue! Lo minum ini kemarin?” Bentak Arvin.

__ADS_1


Nara sangat takut mendengar Arvin membentaknya, sehingga tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Nara hanya bisa memandangi pil di genggaman Arvin dan tatapan mata Arvin yang sangat tajam secara bergantian.


“Gue gak tau it—”


“Jangan bohong sama gue!” Potong Arvin marah, “Gue baru ngecek ini di instalasi farmasi. Obat ini ga boleh dikonsumsi sama ibu hamil, bisa menyebabkan keguguran. Tapi lo sengaja kan minum ini ditambah obat gak jelas yang dibotol ini? Kenapa, Ra? Lo sampe bertindak sampe sejauh ini, kenapa?”


Air mata tiba-tiba jatuh ke pipi Nara. Rasa takut, marah, benci bercampur jadi satu saat melihat Arvin. Bisa-bisanya dia mempertanyakan hal yang sudah sangat jelas.


“Menurut lo kenapa gue sampe bertindak sejauh ini, Vin? Hah? Lo tau sendiri jawabannya. GUE GA MAU PUNYA ANAK DARI LO!”


Perasaan Arvin hancur, dia benar-benar bingung harus memperbaiki hubungannya dengan Nara dari arah mana. Tak ada yang bisa dijangkaunya dari Nara. Perasaannya, pemikirannya. Mereka tidak akan pernah bisa bersatu sebagai pasangan. Tidak ada landasan apapun yang bisa menyatukan mereka. Bahkan anak sekalipun. Hari ini Nara membuktikannya, dia melakukan apa saja untuk menyingkirkan satu-satunya penghubung diantara mereka.


Punggung Arvin sekarang bersandar dikursinya, mengkerut dan melorot disana. Dia menghembuskan napas berat. Menutup matanya dengan perasaan yang terluka. Dia sangat tahu jawaban dari Nara, bahkan semenjak dia menggeledah dan menemukan pil ini di dalam tas Nara. Tapi kenapa sulit sekali mencernanya.


“Bisa-bisanya lo gak ngerasa bersalah mencoba bunuh anak lo sendiri. Dia hidup, Ra. Dia hidup dalam perut lo!”


“Anak gue? Gue ga pernah ngizinin lo nanem benih sialan lo di gue, Vin. Ini anak lo dan dia belum idup.” Nara tak bisa menutupi kebenciannya lagi terhadap kehamilannya, “Lo sih enak, bisa kemana aja abis ini tanpa beban, tanpa keliatan pernah ngelakuin perbuatan bejad lo. Tapi gue ngga, Vin. Gue bakal bawa dia 9 bulan dan terus dapet hujatan dari orang! Gue jadi bahan omongan di lingkungan gue, orang tua gue mengabaikan gue, ga pernah sekalipun mereka bales chat gue, bahkan gue disuruh buat gak pulang. Cuma sekedar berkunjung liat keponakan gue yang baru lahir aja gak bisa. Semua itu karena gue hamil dan bawa benih sialan lo di perut gue!”


Arvin hanya diam menghadapi kemarahan Nara. Kekecewaan dan rasa bersalah berkumpul menghantamnya. Dia tahu bahwa sangat egois meminta Nara untuk mempertahankan kehamilannya. Dia tidak siap. Tak pernah siap untuk mengandung anak Arvin.

__ADS_1


Tak ada lagi yang bisa mereka bicarakan hari itu. Semakin mereka membuka mulut dan memaksakan pikiran pada satu sama lain, maka mereka akan semakin terluka. Mereka membiarkan perasaan kecewa, amarah, kebencian, dan rasa bersalah mengendap dihati masing-masing. Tahu bahwa semua itu akan menghancurkan mereka. Hubungan mereka berakhir tanpa pernah dimulai.


__ADS_2