
Hujan mengguyur sepanjang perjalanan. Namun saat mereka sampai di parkiran Groove Bar, untungnya sudah mereda. Menyisakan rintik-rintik yang tak begitu kentara. Jalanan basah dan udara menjadi dingin disekitarnya.
Nara dengan terpaksa menggunakan hoodie milik Arvin. Sebenarnya tidak terpaksa, dia senang saat Arvin melepaskan hoodie-nya untuk Nara pakai. Dia suka wangi Arvin yang menempel dipakaiannya. Hingga saat ini Nara masih tidak mengerti kenapa sangat menyukai wangi laki-laki itu. Malah sekarang sepertinya gejalanya bertambah parah. Nara akan mengambil kesempatan untuk menghirup wangi suaminya itu saat dia memeluk dan mendekatinya.
“Kamu gak apa-apa kan kita kesini dulu? Aku mau ketemu temennya Gege yang mau beli gitar” Kata Arvin saat mematikan mobil.
“Gak apa-apa kok. Tapi jangan lama-lama.”
“Kamu pasti gak sabar ya pingin cepetan melakukan aktivitas yang menghilangkan stress di rumah?”
“Apaan sih dibahas mulu?! Kalau gitu yang lama aja kamu disini, sampe pagi. Nongkrong sama temen-temen kamu!”
Arvin hanya tertawa mendengar kekesalan Nara. “Buat apa nongkrong kalau aku punya aktivitas menyenangkan dirumah?”
Mereka memasuki Bar, seperti biasa tempat itu masih kosong dan belum beroperasi. Hanya ada karyawan dan rekan band Arvin, minus Restu yang sepertinya tidak ikut nongkrong akhir pekan ini. Sebenarnya mereka sudah sangat jarang bertemu dan main band lagi. Kesibukan pekerjaan dan kehidupan pribadi membuat sulit menemukan waktu luang. Tapi Arvin senang melihat teman-temannya disini walaupun tidak janjian.
“Ngapain lo pada disini? Kayak gak punya idup aja.” Kata Arvin menyapa Aldi, Eka, dan Gege.
“Bini gue nginep dirumah mertua. Bisa santai. Nih berdua jomblo doyan banget nongkrong disini tiap weekend, nyari mangsa.” Jawab Aldi.
“Pala bapak lo mangsa. Gue tiap minggu kesini ya karena gue yang punya nih tempat ege. Kalau nih bocah kagak tau dah ngapain. Awas ya lo kalau diem-diem bisnis ilegal ditempat gue.” Bantah Eka.
“Enak aja. Gue masih takut Tuhan Yesus ya bang.” Ucap Gege membentuk signum crucis dengan tangannya. “Eh Nara, tumben mau ikut kesini sama si Upin.” Sapa Gege pada Nara yang bersembunyi dibelakang Arvin, menggandeng tangan suaminya itu dan berdiri canggung.
“Iya. Kepaksa.” Jawab Nara sambil tersenyum.
“Apaan tadi kan kamu mau ikut.” Sanggah Arvin. “Ayo buruan mana temen lo yang mau beli gitar gue?” Lanjut Arvin pada Gege.
“Diatas cuy. Ya udah ayok kesana.”
“Ayang, tunggu disini sebentar ya!” Kata Arvin lembut pada Nara, menggeser salah satu kursi di dekat Aldi untuk duduk.
__ADS_1
“Buahhahahahhaha…” Seketika ketiga teman Arvin terpingkal. Diikuti oleh Ganjar dan beberapa karyawan disana.
“Wadaw hahahaha.. Denger kan lo, Jar? Gue udah bilang si Arvin nih bakal bucin. Gue menang ye, lo bayar go pek ceng ya, Jar. Jangan lupa transfer!” Seru Aldi ribut menunjuk Ganjar yang sedang membersihkan gelas minuman.
“Lo jadiin gue bahan taruhan?” Tanya Arvin bingung dan tidak terima.
“Parah sih lo, Di. Masa temen sendiri dijadiin taruhan. Lo juga bayar ke gue ya 500 rebu, Jar. Potong dari gaji lo hahaha..” Tambah Eka masih tidak bisa berhenti tertawa.
“Ah ampas!” Gerutu Ganjar kesal.
“Kok gak pada ngajak gue sih lo pada?” Kata Gege merasa tersisihkan.
“Ah lo mah lelet otaknya. Gak peka sama yang beginian. Udah sana beresin transaksi lo!” Balas Eka.
Arvin dan Gege langsung menuju lantai 2 bar, menggerutu sepanjang jalan. Nara ditinggal dengan Eka dan Aldi yang masih belum bisa menghentikan tawanya. Memangnya ada yang aneh, kah? Meskipun memang Arvin selalu memanggil Nara dengan sebutan-sebutan menggelikan, tapi rasanya itu masih dalam batas wajar untuk kekasih ataupun suami istri.
“Hebat. Hebat. Diapain tuh si Arvin bisa kayak gitu?” Tanya Eka.
“Bucin. Aneh aja liatnya. Ayang-ayangan segala. Dih geli. Mana pernah dia begitu.” Tambah Aldi.
Nara menautkan alisnya bingung. Sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan kedua teman Arvin tersebut.
“Dia dari dulu kalau pacaran gak pernah kayak gitu. Pokoknya Sok cool, sok keren, sok kaya, si paling dingin dan sok tuan muda banget lah. Sekarang bucin begitu. Aneh sih liatnya. Meskipun yang dulu sama sekarang tetep geli banget gue gak sanggup. Tapi yang sekarang emang Arvin banget kelakuannya.” Kata Eka menjelaskan melihat kebingungan pada Nara.
Nara hanya tersenyum dan tertawa mendengarkan cerita tentang Arvin dari kedua temannya. Masa lalu yang tak pernah Nara ketahui sebelumnya. Eka dan Aldi juga menceritkan aib dan hal-hal menggelikan yang Arvin lakukan dimasa muda. Membuat Nara sedikit paham darimana semua kelakuan anehnya berasal.
Meskipun demikian yang membuat Nara tercengang, Arvin sekalipun tidak pernah menyatakan cinta seumur hidupnya. Dia akan berpacaran dengan perempuan yang maju dan mengungkapkan perasaan lebih dulu padanya. Mungkin termasuk Keysa. Entah Nara harus merasa tersanjung atau tidak, tapi pertama kali Arvin menyatakan perasaannya adalah pada Nara. Saat Arvin menciumnya ditengah penampilan band kala itu. Aldi menyebutnya kejadian luar biasa dihidup Arvin. Nara tersipu mengingat kejadian tersebut.
Aldi dan Eka terus berbagi cerita dengan Nara. Membuatnya merasa nyaman berada ditengah teman-teman Arvin yang tak begitu dekat dengannya. Mereka pasti juga orang-orang yang baik dan sangat tahu tentang masa lalu Arvin, hingga mereka tetap berteman sampai sekarang.
Saat tengah asik berbincang, muncul seorang perempuan yang mendekati meja mereka. Nara langsung terdiam ketika melihat wajahnya. Sangat akrab diingatannya, namun ini pertama kali Nara bertemu langsung dengannya. Keysa.
__ADS_1
Dia mengenakan dress floral berwarna biru muda, rambutnya bergelombang, dan wajahnya yang cantik seperti dalam ingatan Nara. Seperti dalam foto-foto yang sudah Nara hapus di ponsel Arvin. Seketika itu Nara seperti berhenti berfungsi. Kebencian mengambil alih pikirannya. Dia terus menatap Keysa yang baru tiba. Keysa pun terus memperhatikan Nara dan duduk dikursi kosong disebelah Eka. Membuat mereka duduk berhadapan.
“Hai Key, tumben kesini. Nyari siapa?” Tanya Aldi gugup. Tahu betapa intensnya suasana canggung yang terjadi dimeja karena dua orang perempuan yang berhubungan dengan Arvin saling berhadapan.
“Gege. Dia dimana?” jawab Keysa masih tidak bisa melepaskan mata dari Nara yang juga memandanginya. Mereka saling bertatapan, nyaris tanpa berkedip.
Padahal sebenaarnya Keysa datang kesana karena ingin menemui Arvin. Gege mengatakan Arvin akan berada di Groove bar untuk suatu urusan. Dia sudah tidak bisa menghubungi nomor Arvin setelah laki-laki itu mengatakan untuk memutuskan hubungan dengannya. Bahkan tidak akan menghiraukan semua permohonan dan permintaannya lagi. Membuat Keysa sakit hati setengah mati.
Sialnya Arvin hari ini tidak datang sendiri. Dia malah membawa Nara, perempuan yang sekarang menempati posisi teratas sebagai orang yang sangat dibencinya. Nara lah yang menjauhkan Arvin darinya. Merebut kesempatannya untuk bersanding dengan laki-laki impiannya, harapan ibunya.
“Lagi ada urusan sama si Arvin diatas. Lo mau nunggu?” Tanya Eka.
“Iya. Gue nunggu aja disini. Kalian kok jarang manggung sih?”
“Sibuk sama dunia nyata. Lagian sekarang ada band-band pengisi baru yang rutin kesini.”
“Sibuk atau dikekang?” Tanya Keysa sinis, pandangannya lurus kearah Nara. “Kayak Arvin.” Tambahnya dengan penuh penekanan.
“Nggak kok. Gak ada yang kayak gitu. Kita mah sans sih, mau manggung kalau personil oke semua.” Bela Aldi paham maksud sindiran Keysa pada Nara.
“Lo gak dikekang sama Tasya kan, Di? Boleh main sama siapa aja, komunikasi sama siapa aja. Apalagi sama temen lama. Gak insecure sama sahabat lama, apalagi yang butuh bantuan.”
Keysa muak saat Arvin mengatakan dia tidak bisa membantunya lagi karena sudah memiliki Nara dihidupnya. Dia tidak ingin membuat Nara cemburu dan salah paham terhadap hubungan mereka. Harusnya Nara memang salah paham, kemudian meninggalkan Arvin. Perempuan menyebalkan ini tidak memiliki cinta untuk Arvin, dia hanya memanfaatkan perasaan bersalah Arvin yang telah menghamilinya.
“Mungkin jenis sahabat lama kayak gitu gak punya boundaries kali ya. Ga ngerti soal batasan-batasan, apalagi ngehubungin cowok yang udah punya istri buat minta bantuan malam-malam. Entah dia murahan atau emang gak punya etika.” Serang Nara menatap sengit, tahu sindiran itu mengarah padanya.
Arvin miliknya. Suaminya. Tidak ada jenis persahabatan apapun diatas statusnya.
__ADS_1