
Jika tidak mengingat kondisi Nara yang sedang hamil, juga nasehat Dokter Yustia untuk bermain aman, mungkin Arvin akan terus melanjutkan aksinya hingga tangki kosong dan dia kehabisan energi.
Tapi Nara sudah protes dan memohon untuk berhenti. Tentu saja Arvin tidak bisa mengabaikannya demi kesenangan pribadinya saja. Dia berhenti setelah beberapa kali menyentuh puncak. Tidak apa-apa. Masih ada esok hari, esoknya lagi, dan lagi sampai seumur hidupnya.
Bohong jika Arvin mengatakan dia tidak ingin melakukannya dengan agak liar dan kasar. Dia sangat menginginkannya. Bermain dengan lebih berani. Mungkin memang bukan sekarang, melainkan saat anaknya sudah lahir. Sehingga Arvin bisa bebas berpetualang sesukanya dalam permainan menegangkan ini.
Sekarang waktunya berhenti. Membiarkan Nara mengendapkan kenikmatan yang belum pernah dialaminya, yang pertama kali dia rasakan saat sadar. Meskipun sebenarnya ini pengalaman kedua.
Nara berbaring di kasur. Mengenakan hoodie Arvin yang dia kenakan sembarangan setelah permainan usai. Tanpa apapun didalamnya, hanya hoodie yang menutupinya. Nara bergulung dibalik selimut merasakan lelah luar biasa dan nyeri yang aneh di antara kedua kakinya. Mengingatkan kembali pada malam saat dia terbangun dengan bingung dikamar ini.
Sekarang pun sama, Arvin sudah terlelap disampingnya. Bertelanjang dada dan terlihat damai. Seakan dia tidak pernah melakukan perbuatan paling berbahaya padanya tadi. Nara sebal melihatnya. Dia menjambak rambut Arvin, tapi laki-laki itu sama sekali tidak terbangun.
Apakah semua laki-laki seperti itu? Tertidur setelah melancarkan aksi mesumnya dan bertingkah seperti tak terjadi apa-apa? Mengucapkan selamat tidur atau terimakasih saja tidak. Benar-benar tidak romantis! Arvin menyebalkan!
Tapi Nara pun begitu lelah dan mengantuk. Nyaris tak bisa mempertahankan kesadarannya. Dalam hitungan detik dia terlelap begitu saja.
...****************...
Nara melihat pantulan dirinya dicermin kamar mandi. Air menetes turun dari wajahnya yang baru saja dicuci. Dia mengingat kembali kejadian semalam dan termenung. Tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan.
Gue pasti udah gak waras!!
Bisa-bisanya dia melakukan itu dengan Arvin. Menikmatinya pula. Kemudian semalaman dia berharap Arvin terbangun dan memeluknya setelah menuntaskan permainan mereka.
Sekarang Nara merasa malu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan di depan Arvin. Bagaimana dia bisa menghadapinya setelah semua ini? Kenapa Nara merasa canggung dan malu?
Pintu kamar mandi terbuka. Arvin masuk dengan wajah bangun tidurnya, rambut acak-acakan, bertelanjang dada dan handuk bertengger dipundaknya. Dia tersenyum lebar saat melihat Nara disana.
“Mandi bareng yuk!” Katanya santai dan ceria.
__ADS_1
Nara membeku ditempat, tak tahu harus merespon apa. Permintaan anehnya dan ingatan kejadian semalam membuat Nara tersipu seketika.
Arvin mendekati Nara, memeluknya dari belakang. Mereka menatap pantulan dicermin. Nara tidak memalingkan tatapan dari mata Arvin yang sekarang menggosokkan pipi di rambutnya.
“Kamu kenapa? Perutnya sakit gara-gara aku ya?”
Nara menggeleng dan mengalihkan pandangan ke wastafel. “Ngga.” Jawabnya cepet. Terlalu malu untuk menatap Arvin.
“Terus kenapa cemberut terus? Masih bad mood karena Keysa?”
Bukan. Nara bahkan sudah melupakan kejadian dengan Keysa. Sekarang setelah diingat kembali, semuanya memang terasa menyebalkan. Hanya saja pikirannya sedang tak karuan saat ini karena Arvin.
Arvin yang tadi malam, dan Arvin yang sekarang sedang menyentuh paha dalamnya. Tangan tersebut terus mengelus paha mulus itu, dan bergerak jauh hingga keatas. Menyentuh dan menekan sesuatu yang membuat Nara terlonjak tiba-tiba.
“Arvin!” Teriak Nara kaget. Mencoba menyingkirkan tangan Arvin yang mulai menggosokkan jemari ditempat rahasia miliknya.
“Wah gawat! Kamu melakukan kejahatan pagi-pagi gak pake daleman gini. Suruh siapa kayak gini, hmm? Mau dapat serangan pagi ya?” Ucap Arvin sambil tersenyum. Dia bisa melihat wajah panik Nara dari pantulan cermin.
Salah satu tangan Arvin yang bebas, menyentuh dagu Nara. Mengarahkan wajahnya untuk lurus menatap cermin. Menatap Arvin yang tersenyum nakal. Nara harus melihatnya sendiri bagaimana wajahnya saat sentuhan Arvin membuat dirinya merasakan kenikmatan yang aneh dan menggelitik tersebut.
“Beneran gak mau? Bohong ah!” Arvin tersenyum melihat ekspresi Nara yang memelas “Udah basah loh.” Lanjutnya berbisik.
“Gak mau.. Arvin.. please.. udah..” Nara membenci dirinya sendiri karena menjadi bodoh seketika. Hanya bisa mengucapkan kata-kata tidak jelas seperti itu.
“Telat. Si bos udah bangun. Gak apa-apa, cuma sebentar kok. Aku kan harus berangkat kerja.”
Arvin meregangkan kedua kaki Nara hingga terbuka. Menuntun tubuhnya hingga membungkuk bertumpu pada kedua siku di meja wastafel. Bodohnya Nara mengikuti semuanya seperti terhipnotis. Termasuk, mencopot hoodie yang dikenakan sepanjang malam untuk menutupi tubuhnya. Dari cermin dia bisa melihat dirinya sendiri tak mengenakan busana. Polos dan penuh peluh.
Perlahan namun pasti, Arvin mulai memasuki tubuh Nara dari belakang. Membuat perempuan itu mende sah dan terisak seketika. Tangannya mencengkram pinggiran meja wastafel yang terbuat dari marmer hitam.
__ADS_1
Nara merasakan Arvin yang terus bergerak memasuki tubuhnya berulang-ulang. Rasa perih, ngilu, dan kenikmatan berbenturan hingga tubuh Nara panas dan menggeliat tak terkontrol.
Dia tak sanggup berdiri dikedua kakinya. Akhirnya merebahkan kepalanya di atas meja wastafel. Menjatuhkan shampo, sabun, dan beberapa produk skincare-nya ke wastafel dan lantai.
“Uhhm.. Arvin.. Uhh.. udah..”
Kedua lengan Nara ditarik ke belakang. Tubuhnya ditegakkan dan dia bisa melihat pantulan dirinya kembali di cermin. Keringat memenuhi wajah dan tubuhnya. Mengkilap diterpa cahaya lampu kamar mandi. Anak rambut berjatuhan di wajah Nara yang basah.
Dia tidak ingin melihat dirinya seperti itu. Aneh sekaligus menjijikkan, karena sekarang dia seperti sedang berbohong dengan kata-kata yang diucapkannya tadi, menyuruh Arvin berhenti. Padahal sudah jelas, wajahnya terlihat menikmati sensasi dari gerakan Arvin yang menghujamnya dibawah sana. Berulang terus hingga tubuh Nara bergetar mengikuti ritme permainannya.
“Bilang enak dulu baru aku berhenti.” Ucap Arvin sambil terengah. Suaranya rendah nyaris menggeram ditelinga Nara.
“Ngga.. sakit..udah..”
“Jangan bohong!” Geram Arvin. Matanya menatap Nara dari pantulan kaca.
“Iyaa.. enak..please berhenti..” Ucap Nara akhirnya.
Arvin tersenyum. Mengecup rambut Nara. Dia mulai mempercepat gerakannya. Erangan dan desa han Nara semakin kencang terdengar, membuat Arvin seperti disoraki dan diberi semangat. Hingga akhirnya mereka berdua melepaskan perasaan nikmat secara bersamaan dan meninggalkan rasa lengket serta kehangatan.
Nara seketika jatuh terduduk dilantai kamar mandi. Kakinya lemat tak mampu menopang berat tubuhnya. Arvin memakaikan handuk pada tubuh Nara. Mengecup pipinya.
“Aku mau mandi. Kamu mau istirahat dulu dikamar?”
Nara mengangguk. Tubuhnya kemudian diangkat dan digendong oleh Arvin menuju kamar. Kemudian dibaringkan ditempat tidur. Matanya mengantuk tiba-tiba setelah menyentuh kasur.
“Makasih yaa. Pagi-pagi udah bikin semangat. Lain kali kita main yang lebih seru.”
“Gak mau kayak gitu lagi.”
__ADS_1
“Jangan bohong. Tadi kamu bilang enak.”
Nara tidak menjawab. Suara Arvin terdengar samar dari kejauhan. Dia terlalu lemas menanggapinya dan hanya ingin tertidur sekarang.