Halo Arvin!

Halo Arvin!
Celah


__ADS_3

5 Bulan Sebelumnya


Pelayan menyajikan beef tenderloin, bresaola salad, pan seared salmon dan patio burger di meja salah satu ruang private yang direservasi para eksekutif kaya raya.


Berlawanan dengan keceriaan laki-laki paling muda disana yang terus menatap ponsel, Ismail terlihat sangat tertekan. Dasinya sudah longgar dan tidak beraturan menempel di lehernya. Rambutnya yang setengah beruban kini tampak acak-acakan, dia jambaki karena pusing dan stres.


“Mail, tenang. Jangan stres! Nih minum dulu.” Ujar Tio menyodorkan segelas red wine pada Ismail.


“Gimana aku bisa tenang, Bang? Kamu gak lihat tadi siang dicecar sama tuh bocah gara-gara laporan keuangan yang kita rekayasa? Aku pikir bocah itu bakal jinak kayak yang kamu bilang.” Kata Ismail emosi.


“Aku juga gak nyangka si Arvin ternyata ambisius dan setajam itu. Padahal tuh anak susah diatur dan selalu nolak buat gabung diperusahaan.” Ucap Tio menyesap minumannya.


“Aku harus gimana, Bang? Dia kayaknya udah mencium ada yang gak beres diperusahaan. Apalagi semua proyek kerjasama sekarang dia yang handle dan dia tahu persis berapa nilai kerjasama termasuk rinciannya. Gak kayak Pak Candra yang percaya banget sama kita. Dia juga masukin si Juna jadi bawahanku. Makin sulit aku ngatur mau kamu itu, Bang.”


“Mail, aku butuh 8 Milyar bulan ini. Si Edi udah oke sama kerjasama dengan vendor. Tinggal laporan kamu aja yang butuh diotak-atik.”


“Gak bisa, Bang! Bisa mati aku kalau ketahuan pas ada audit keuangan.”


“Semuanya kan orang-orang kita. Tenang aja, yang internal atau dari KAP juga udah temenan sama kita. Gak akan ada masalah.”


“Bang, denger! Aku lagi diawasi sama si Arvin. Dia kemarin bilang mau ganti auditor mulai dari sekarang. Gak akan bisa aku otak-atik sesuai mau kita lagi. Mending kita udahan dulu aja deh, Bang. Sampe Pak Candra masuk lagi dan si Arvin pergi, sebaiknya kita main aman aja.”


“Bah..Gila kamu! Aku butuh duit cepet buat investasi apartemen mewah yang aku bilang itu.”


“Kalau Bang Tio belum bisa nyingkirin si Arvin. Aku gak mau ikutan permainan ini lagi.”


“Alah cupu kamu! Kalau dilawan bareng-bareng tuh bocah pasti mundur. Kalau dia udah tau ada yang mainin dana perusahaan, berarti dia udah siap lawan kita semua.” Kata Akmal sambil mencomot salmon dari piring.


“Tapi aku setuju sama Ismail, mendingan hati-hati dan tendang dia dari perusahaan secepatnya. Kamu harus terus yakinkan Candra biar serahkan perusahaan sama anakmu.” Kata Bambang dari internal audit.


“Masalahnya susah nyari celahnya tuh. Dia kerjanya bagus, gosip yang bilang dia urakan, semaunya, dan kurang ajar itu juga gak terbukti. Dia profesional-profesional aja tuh pas kerja.”


“Hadeh.. Mail, Mail. Jadi sebenernya kamu tuh muji atau benci sama dia sih?”

__ADS_1


“Ya kenyakataanya gitu. Pokoknya kalau dia gak keluar dari perusahaan. Aku gak akan lanjut. Gak mau ngambil resiko buat sekarang.”


“Ck.. Tenang dong, Pak.” Kata Rivanno membuka mulutnya. Dia dari tadi hanya diam dan memainkan ponsel saja. “Ada kabar baik nih kayaknya buat kita. Aku baru dikasih tahu sama ibu, kalau Arvin beberapa hari lagi bakal nikah karena ngehamilin sekretarisnya. Kita bisa pakai alasan perilaku gak bermoral itu buat nyingkirin dia. Tekan terus dengan gosip-gosip soal kehidupan pribadinya. Lama-lama dia bakal nyerah juga kalau kita serang mentalnya. Aku bakal terus sebarin gosip jelek kayak yang dulu-dulu. Biar dia makin gak betah dikantor.” Lanjutnya sambil tersenyum.


...****************...


Ruangan sudah dicat dengan warna pink. Nara juga sudah menggambar bunga dan awan di dindingnya. Awalnya Arvin keberatan ketika Nara ingin menggambar seluruh ruangan. Dia tidak ingin istrinya itu kelelahan. Akhirnya hanya salah satu dinding saja yang digambari.


“Aku udah lihat-lihat tempat tidur bayi di toko online. Terus ketemu yang lucu. Boleh aku pesan sekarang gak, Vin? Atau nunggu kamu gajian?” Kata Nara pada Arvin yang berjalan sambil mengantuk ke kamar mandi.


“Pesen aja. Ngapain nunggu sampai aku gajian? Kayak aku beneran jatuh miskin aja.” Balas Arvin santai


“Iya. Iya. Orang kaya macem kamu biarpun kerjanya gak jelas tapi tetap kaya.”


“Gak jelas apa maksudnya? Sembarangan! Sekarang kerja tuh gak melulu harus berpakaian rapi, ke kantor, berangkat pagi pulang sore. Zaman maju kayak gini, apalagi yang jago IT kayak aku bisa kerja dimana aja dan digaji gede. Bahkan bisa sambil bikin anak.”


“Tapi aku lebih suka kamu pakai baju rapi pagi-pagi. Wangi dan kelihatan ganteng.”


“Ngga. Kelihatan kayak abang-abang tukang nongkrong gak jelas. Mana suka lupa cukuran kumis lagi.” Kata Nara pura-pura kesal.


Arvin memang sedikit malas merapikan penampilannya akhir-akhir ini. Mungkin karena dia tidak bertemu banyak orang dan tinggal di rumah saja, merasa tidak perlu terlalu memperhatikan dirinya.


“Sini aku cukurin kumis sama janggutnya.” Kata Nara menggandeng tangan Arvin agar mendekat.


“Emang kamu bisa?”


“Kenapa harus gak bisa?”


“Awas ya kalau wajah ganteng paripurna aku kena sabet pisau. Aku bakal marah sama kamu.”


“Mana coba aku pingin dimarahin. Kangen dimarahin Pak Bos.” Ucap Nara menggoda.


Dia mulai mengoleskan shaving foam ke wajah Arvin. Membuatnya seperti Sinterklas karena ditutupi busa berwarna putih. Nara harus mendongak ketika melakukannya, karena perbedaan tinggi mereka yang kentara. Arvin mendudukkannya dimeja wastafel, agar Nara tidak kesulitan membantunya mencukur.

__ADS_1


“Kamu mulai jago ya nantangin aku.”


Arvin mulai merasakan alat pencukur manual tersebut bergerak diwajahnya. Cukup lembut. Ternyata Nara jago juga melakukannya.


“Orang kayak kamu harus ditantangin biar gak sok jago.”


Arvin terkekeh, matanya hanya fokus menatap wajah Nara yang jaraknya tak lebih dari 10 cm darinya. Dia bisa melihat setiap detail kecantikan Nara. Mata, hidung, dan bibirnya yang indah.


“Aku gak akan sok jago kalau depan kamu. Soalnya hatiku jadi lemah tiap lihat kamu.”


“Uweek. Gombal. Jijik.”


Nara telah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Sekarang wajah Arvin sudah bersih dari kumis dan janggut tipis yang dibiarkan tumbuh. Handuk basah Nara sapukan ke wajah Arvin, menyeka sisa shaving foam dari sana.


“Nah kalau gini udah ganteng. Aku suka kalau kamu kelihatan rapi dan bersih gini. Jadi pingin ci—“


Terlambat. Arvin sudah melakukannya terlebih dahulu sebelum Nara menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya sudah bergerak dengan nakal, memagut mesra Nara.


“Hadiah udah cukurin kumis sama janggut aku. Hasilnya bagus dan wajah gantengku selamat gak kena pisau.” Bisik Arvin saat melepaskan ciumannya.


Wajah Nara seketika tersipu mendengar pujian tersebut. Sebenarnya ini pertama kalinya untuk Nara mencukur kumis dan janggut seorang laki-laki.


“Mau mandi bareng gak?” Tanya Arvin menggoda.


“Ngga. Kalau aku mandi bareng sama kamu nanti kita gak jadi buat kontrol ke dokter. Bisa-bisa aku diajakin buat bercocok tanam.” Tolak Nara.


“Kan emang itu tujuannya.” Balas Arvin dengan senyuman sejuta watt yang cerah dan menawan.


“Minggir! Aku mau turun dan siap-siap.” Ucap Nara tidak peduli.


Dia turun dari meja wastafel, kemudian bergegas pergi meninggalkan Arvin yang masih mematut diri di depan cermin. Melihat hasil kerja Nara yang sempurna pada wajahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2