
Arvin memasuki rumah Nara, wajah ayahnya yang dulu ramah menatap dingin dirinya. Bagaimana tidak, dia sudah menghancurkan masa depan putrinya dan juga menaruh malu pada keluarga ini. Perasaan bersalah berkumpul dihati Arvin. Dia ternyata tidak sesiap itu untuk menghadapi orang tua Nara. Keberaniannya ciut.
Di ruang tamu bukan hanya ada ayah Nara, melainkan 2 pria paruh baya yang sepertinya tokoh penting masyarakat. Kemudian 2 orang lagi yang lebih muda, menatap penuh kebencian pada Arvin. Sekarang Arvin duduk canggung disofa. Tapi tentu daja dia tetap bersikap tenang seperti biasanya.
Pria tua itu menarik napas panjang sebelum berbicara, “kamu pasti tau kenapa diundang datang kesini, kan?” Pandangannya menelisik jauh kedalam mata Arvin, menuduh dan melabelinya dengan nama “penjahat” dengan sekali lihat.
Arvin mengangguk, mempertahankan semua perilakunya agar terlihat tenang dan tetap berwibawa. Dia salah, tapi tak ingin kehilangan harga dirinya dengan terlihat gentar dihadapan ayah Nara.
“Saya ga nyangka kamu bisa berbuat kayak gitu sama anak saya. Padahal kamu orang terpandang, punya pendidikan yang bagus, orang penting. Tapi perbuatan kamu keji.” Ayah Nara sepertinya juga berusaha tetap tenang, meskipun emosi meletup-letup didalam dadanya yang menua.
“Saya benar-benar menyesal atas perbuatan yang saya lakukan pada Nara. Saya minta maaf.” Kata Arvin tulus.
Iya, dia bodoh dan ceroboh. Andai saja waktu bisa diputar kembali, tak sejengkalpun dia akan menyentuh Nara. Mungkin. Hingga sekarang Arvin terus mencari alasan kenapa dia bisa begitu terpikat pada Nara malam itu. Apakah karena untuk pertama kalinya dia melihat seorang wanita membuka baju dihadapannya. Gila! Imannya lemah sekali!
“Kamu tahu permintaan maaf aja gak cukup atas perbuatan kamu? Kamu bikin anak saya ga punya masa depan, batal nikah dengan calonnya, dan bikin malu keluarga saya.” Jelas nada bicara Ayah Nara kini berubah, setiap kata mengandung emosi yang tak terbendung. “Saya bisa aja melaporkan kamu. Tapi bikin kamu dipenjara itu gak cukup dan ga menyelasaikan masalah. Nara juga salah datang sama kamu pas lagi ga sadarkan diri. Perbuatannya juga gak pantas, minum hingga mabuk.”
Arvin mulai panik mendengar perkataan tersebut. Memang seharusnya untuk kasus seperti ini keluarga Nara sangat berhak melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pelecehan. Dia juga tidak akan membela diri karena semua itu 100% kesalahannya. Arvin merasakan lututnya lemas. Apakah 4 orang yang menemani Ayah Nara ini anggota kepolisian?
“Janin yang dikandung Nara gak bersalah. Dia harus punya orang tua utuh untuk tumbuh, pertimbangan itu yang saya pikirkan sehingga ga bisa laporin kamu ke polisi. Kalian harus bertanggung jawab atas perbuatan kalian sendiri, meskipun ga adil dan sulit buat kalian berdua. Saya mau kamu bertanggung jawab atas kehamilan Nara.”
Arvin merasa lega karena Ayah Nara tidak melanjutkan idenya dengan melapor ke polisi, kalau untuk bertanggung jawab pada kondisi Nara sekarang. Arvin sangat siap.
__ADS_1
“Saya siap bertanggung jawab dan nikahin Nara secepatnya.” Jawab Arvin sangat yakin.
Saat dia mengucapkan kalimat itu, bersamaan dengan seorang laki-laki masuk ke dalam rumah. Memakai jaket dan menenteng tas besar, berisi baju-bajuyang dibawanya untuk dinas ke Riau. Pandangan matanya langsung tertuju kearah Arvin, kemarahan menggelegak di dalam dirinya. Tanpa kata-kata di maju berjalan menuju tempat Arvin duduk, kemudian melayangkan pukulan ke wajah Arvin.
“NAUFAL!!” Teriak Ayah Nara.
Belum puas pukulan itu dia berikan, Naufal melancarkan serangan kedua. Tapi dengan cepat Arvin menahannya. Kedua laki-laki muda yang sedari tadi duduk sekarang menahan tubuh Naufal, yang terus menggeliat melepaskan diri. Dia ingin sekali membunuh laki-laki yang menodai adiknya.
“Tanggung jawab lo bilang? Gampang banget lo ngomong gitu? Cowok br*ngsek kayak lo ga pantes dikasih kesempatan kayak gitu! Lo mending mati aja! Sini biar gue remukin kepala lo!” Teriak Naufal marah.
Arvin bisa merasakan aroma anyir dan cairan merah keluar dari mulutnya. Pukulan Naufal melukai bibir Arvin. Dia menyeka da rah dibibirnya dengan tangan. Menatap Naufal yang masih terus mencoba melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya.
“NAUFAL BERHENTI!!” Ayahnya memperingatkan.
“Naufal! Nara lagi hamil dan dia butuh suami. Kamu mau dia ngelahirin sendiri dan anaknya gak punya bapak? Biarin dia tanggung jawab sama perbuatan dia!” Bentak Ayahnya.
“Bapak nyetujuin orang ini tanggung jawab sama Nara karena dia kaya, kan? Kalau sekarang aja dia berani berbuat jahat seperti ini hanya karena dia bos Nara dan orang kaya, apa bisa Nara hidup bahagia sama orang macem gini?”
“Udah. Bapak ga mau denger lagi omongan kamu. Nara lebih baik nikah sama dia dan pergi dari rumah. Bapak udah terlanjur malu sama kelakuannya.”
Naufal jelas masih emosi. Amarahnya belum mereda dan masih bergejolak, tapi dia tidak bisa lagi membantah ayahnya. Dia menyayangi Nara dan selalu melindunginya, mana bisa dia menerima adiknya itu diumpankan pada laki-laki bejad macam Arvin. Namun ayahnya sudah terlanjur malu, dia tidak ingin Nara tetap dirumah hingga perutnya membuncit dan tanpa suami yang akan bertanggung jawab padanya.
__ADS_1
Dengan berat hati Naufal duduk ikut berdiskusi dengan Arvin. Tatapannya penuh dengan kebencian. Namun Arvin tidak memedulikannya. Seumur hidupnya, Arvin sudah terlatih bersikap tenang dihadapan orang-orang yang membenci, mencemooh, ataupun membicarakannya. Seluruh hidupnya adalah bahan pembicaraan dan gunjingan. Bahkan saat dia belum lahir. Makanya Arvin sudah sangat ahli menghadapi orang seperti Naufal.
“3 hari lagi kamu kesini, bawa orang tua kamu. Kita langung adain akad di rumah.” Kata Ayah Nara menutup pertemuan hari itu.
Mereka sudah menemukan kesepakatan apa yang akan dilakukan kedepannya. Tentang pernikahan, tentang Nara, dan semua teknis untuk acara dadakannya itu. Ayah Nara ternyata adalah salah satu orang terpandang dilingkungan itu, dia sudah membicarakan tentang penggantian calon mempelai pria dengan pihak KUA. Semua urusan kecil namun penting telah diselesaikannya. Arvin hanya tinggal membawa dirinya 3 hari lagi untuk menikahi Nara. Dia juga sudah bersedia membayar ganti rugi yang orang tua Reza tagihkan pada keluarga Nara karena gagalnya pernikahan mereka.
Semua hal sudah menemukan titik terangnya. Namun ada sedikit kekecewaan dihati Arvin. Hari ini dia tidak melihat Nara. Dia bersembunyi entah dimana dirumah itu. Padahal Arvin sangat ingin bertemu dengannya.
...****************...
Nara bisa mendengar semua pembicaraan orang-orang di ruang tamu dari kamarnya. Bisa mendengar suara menyebalkan Arvin yang berkata siap menikahinya.
Benar-benar memuakkan!
Andai saja Naufal tidak dicegah oleh ayahnya dan kedua sepupunya. Saat itu Nara akan dengan senang hati melihat Arvin dihajar habis-habisan oleh kakaknya. Dia sangat ingin melihat Arvin menderita dan terluka, seperti yang dialaminya saat ini. Bergulung dikasur, entah sudah menghabiskan berapa jam untuk meratapi dan menangisi nasibnya.
“Dek, ada chat buat kamu.” Kata Amelia menyerahkan handphone.
[Arvin: Lo kenapa ga temuin gue tadi? Gue kesini buat liat lo.]
Hah? Buat apa bertemu dengannya? Apa Otaknya sudah tidak waras?
__ADS_1
Mana mungkin Nara mau bertemu dengan orang yang telah menyakitinya. Seumur hidup dia tidak ingin melihat wajah Arvin. Apa dia pikir tidak cukup dengan membuatnya terpaksa menikahinya?
Nara mendengus sebal. Menyerahkan handphone itu kembali pada Amelia. Tentu saja pesan tersebut tidak akan pernah Nara balas.