
Nara meluruskan kakinya. Duduk bersandar di kursi depan minimarket dekat Golden Flower Hotel. Matanya menatap jalanan didepan yang dipenuhi motor dan mobil yang berbaris menunggu lampu merah berganti warna. Sementara tangannya sibuk menyuap es krim ke mulutnya berkali-kali, mendinginkan suasana hatinya dan panas yang cukup terik.
Perasaannya masih tak karuan mendengar cerita tentang Arvin. Mungkin ini memang strategi Arvin agar Nara merasa kasihan padanya, agar perasaannya melunak. Menyingkirkan rasa benci yang mengeras dihatinya. Tapi sialnya itu berhasil.
Sekarang Nara melihatnya dengan cara yang sedikit berbeda. Meskipun keberadaannya masih terasa menyebalkan.
Arvin pasti mengalami hari-hari yang berat setelah tahu bahwa dia anak selingkuhan ayahnya, ibu kandungnya sakit parah saat bertemu pertama kali, dan dia tidak pernah dijemput pulang oleh ayahnya semenjak menemani ibu kandungnya. Seakan dibuang begitu saja.
“Kamu udah gak apa-apa? Masih mau nangisin aku gak?” Goda Arvin yang duduk disebelahnya. Memakan es krim coklat seperti Nara.
“Ngga. Ngapain nangisin lo lama-lama.” Jawab Nara ketus. “Abis ini lo mau ngajakin kemana? Pasti ke tempat aneh lagi, kan?”
“Ngga kemana-mana. Diem aja disini. Aku males kalau jalan panas-panasan tengah hari gini.”
“Makanya pake mobil. Ngapain dituker sih sama motor?”
“Males, macet kalau pake pake mobil. Susah parkir juga.”
“Terus kita jauh-jauh kesini cuma nongkrong depan Alfamart sambil makan es krim murah, gitu?” Ucap Nara kesal. “Giliran sama pacar-pacar lo aja ngajaknya fine dining. Ngabisin duit bokap lo. Lah giliran sama gue, malah jalan-jalannya kayak gembel.”
Arvin tertawa mendengar Nara yang menggerutu kesal, “Ya udah, nanti aku ajak kamu makan malam mewah juga. Mau dimana? Scusa? Namaaz? SKYE?”
“Males gue. Lo gak ada inisiatifnya.” Nara membuka es krim keduanya. Menjilati eskrim vanila dengan saus cokelat diatasnya. “Pasti lo ngajak mereka ke tempat mewah karena mereka cewek-cewek kaya yang high class kan? Beda sama gue cuma orang biasa.”
Ada perasaan iri yang tiba-tiba menjalari hati Nara. Arvin pasti banyak menggoda perempuan dengan mengajaknya ke tempat mewah agar mereka terkesan. Sementara bersamanya, Arvin hanya mengajaknya berkeliling ditempat-tempat aneh jauh dari image dirinya yang senang berfoya-foya.
“Kok ngomongnya gitu? Ya udah, ayo ke Tian Jing Lou sekarang. Aku lagi pingin makanan Chinese.”
“Gak mau. Gue udah males. Pingin balik aja ke hotel.”
“Tunggu gak panas ya. Nanti ayangku kepanasan dan jadi item kulitnya.” Kata Arvin menggoda, sambil mengelus rambut Nara dan merapikan poninya.
Nara membiarkannya saja tanpa protes. Dia juga tidak ingin berkendara di tengah hari terik seperti ini.
“Padahal kamu lagi diperlihatkan Arvin tanpa tipu-tipu loh. Aku hidup sederhana sama nenek. Kita sering jalan-jalan kayak gini dulu. Jajan dan jalan-jalan gak jelas sambil cerita. Baru setelah lulus kuliah aku dapet banyak fasilitas mewah dan duit jajan unlimited dari si kumis.”
__ADS_1
“Terus abis itu lo jadi tukang tipu dan playboy?”
“Kalau dikasih fasilitas kayak gitu ya dimanfaatkan. Aku gak munafik. Si kumis mau baikan dan nebus kesalahannya dengan ngasih aku semuanya. Aku gak keberatan juga. Bisa males-malesan tapi duit ngalir terus, siapa yang gak mau?” Kata Arvin terkekeh.
“Waw. Madesu” (Masa Depan Suram)
“Tapi sekarang kan ngga. Aku udah berubah jadi versi yang lebih baik. Biar dedek bangga punya ayah ganteng, rajin bekerja, keren, lucu, dan pinter kayak aku. Iya kan, dek?” Kata Arvin sambil mengelus perut Nara yang mulai membuncit.
Kali ini Nara juga membiarkan Arvin menyentuhnya semaunya. Dia malah menyukai saat Arvin mengelus-elus perutnya. Rasanya aneh tapi menyenangkan.
“Bayinya udah gerak belum sih? Bukannya 4 bulan harusnya udah gerak-gerak ya?”
“Gak tau. Belum. Gue gak ngerasa apa-apa.”
“Mungkin harus ditengokin dulu sama ayahnya.”
“Jangan sembarangan ya lo!” Kata Nara memelototi Arvin.
Es krim kedua yang dimakan Nara sudah habis. Sekarang dia membongkar isi kantong plastik kemudian membuka camilan keripik kentang. Arvin melihat semua gerak-gerik Nara sambil mengulum senyum. Senang karena Nara sekarang tidak mudah mual dan makan lebih lahap.
“Aku dulu pingin banget jadi ahli konservasi, terus kerja ditaman nasional. Keluar masuk hutan, meneliti dan melindungi hewan yang tinggal disana. Aku pingin tinggal di hutan, jauh dari manusia.”
Nara tergeletak. Teringat kata-kata ibunya yang mengatakan Arvin mungkin saja adalah orang yang akan memberi makan singa. Iya dia ternyata punya cita-cita liar seperti itu juga. Sangat cocok untuknya.
“Kalau kamu mau jadi apa?”
“Gak tau. Pokoknya dulu gue pingin kuliah biar bisa dapet kerjaan bagus, gaji gede, dan kehidupan yang nyaman. Gak perlu mikirin utang dan gak kekurangan.”
“Udah tercapai dong. Kehidupan yang nyaman ditambah suami yang ganteng banget.”
Nara terdiam sejenak. Menyadari kalau hidupnya selama beberapa bulan terakhir memang sangat nyaman secara materi. Kehidupan yang mungkin diinginkan oleh banyak perempuan. Tapi entah kenapa hatinya masih gusar dan tidak utuh. Apa karena dia bersama dengan Arvin bukan dengan orang yang dicintainya?
Sekarang Nara sendiri bingung harus mendeskripsikan cinta itu seperti apa. Seperti perasaannya pada Reza yang sekarang perlahan menjadi dingin dan nyaris hilang? Atau perasaannya pada Arvin yang terasa aneh, asing, tapi sekarang bentuknya berubah-ubah tak terduga.
Diluar dugaannya, sekarang Nara jarang menghubungi Reza dan memintanya bertemu. Dia lebih banyak bersama dengan Arvin. Berbicara, berjalan-jalan, bertengkar, seperti menemukan teman baru ditengah kesepian dan kegiatannya yang lebih monoton.
__ADS_1
Nara yakin perasaannya pada Arvin bukanlah cinta, tapi terbiasa. Semua hal aneh dan kedekatannya dengan Arvin sekarang bukanlah cinta. Dia belum sejauh itu dan tidak mau sejauh itu memiliki perasaan pada Arvin. Belum. Nara belum mau melepaskan perasaan bencinya pada Arvin. Dia juga tidak tahu caranya bagaimana.
“Pulang yuk! Udah mulai mendung nih. Cuacanya gak jelas banget. Tadi panas, sekarang mendung.” Kata Arvin mengomel sendiri.
Nara mengikuti Arvin dibelakang menuju motor yang terparkir tak jauh dari sana. Hatinya tiba-tiba terasa tak nyaman. Bagaimana kalau dia sampai jatuh cinta dengan Arvin? Kenapa rasanya dia seperti mengkhianati dirinya sendiri dengan membiarkan hatinya jatuh pada orang yang membuat hidupnya berantakan. Dia tidak ingin perasaannya luluh pada Arvin yang telah menyentuhnya dan tanpa izin menanamkan benih ditubuhnya. Menjijikkan.
Belum sampai 5 menit mereka berkendara, tiba-tiba hujan turun tak terduga. Cukup deras hingga membuat baju mereka basah. Untung saja Arvin segera menepi ke deretan toko-toko yang sekarang tutup dan sepi.
Hanya ada mereka di trotoar antah berantah yang sesekali dilewati mobil. Memercikkan air hujan yang menggenang dijalanan. Hujan semakin deras. Tak memberi mereka celah untuk menembusnya.
Mereka kini hanya berdiri, bersisian. Menunggu hujan reda, entah untuk berapa lama. Arvin melepaskan jaketnya kemudian memakaikannya pada Nara. Tentu saja Nara tidak menolaknya, dia kedinginan karena bajunya basah. Jaket Arvin setidaknya memberikan sedikit kehangatan dan juga aroma candu dari si pemiliknya. Nara mungkin sudah gila karena terlalu menyukai wangi Arvin.
“Dingin gak?” Tanya Arvin khawatir.
“Banget. Baju gue basah.”
Arvin menggenggam tangan Nara, membuatnya berhadapan dengannya. Kemudian mengarahkan kedua tangan tersebut ke saku belakang celana jeans-nya. Nara terperanjat dan menolak. Tapi Arvin tidak membiarkannya. Kini kedua tangan Nara berada di saku Arvin, tubuh mereka mereka saling memeluk. Arvin menyandarkan dagunya di kepala Nara.
Mereka berpelukan seperti itu cukup lama. Hingga Nara merasakan hangat mulai menjalari tubuhnya. Nyaman, hangat, dan wangi. Arvin benar-benar membuat hati Nara gentar. Padahal dia sudah mengatakan tak akan jatuh hati pada Arvin. Tapi kenapa hatinya meronta-ronta tak karuan hanya karena ini?
“Kamu pulang duluan ya? Aku pesenin grab.” Kata Arvin tiba-tiba.
“Hah?”
“Kamu pulang duluan ke hotel. Baju kamu basah, nanti kamu sakit karena kedinginan.”
“Terus lo gimana?”
“Aku nungguin sampe hujannya reda. Abis itu balikin motor si Galih ke rumah Enin. Nanti baru balik ke hotel.”
Arvin memesan taksi online dari ponselnya. Cukup lama karena hujan deras membuat driver malas menerima orderan. Tapi untungnya ada yang langsung bersedia dan segera menuju lokasi mereka.
“Mandi air anget dan ganti baju ya. Jangan sampe kedinginan.” Ucap Arvin ketika taksi online sudah datang.
Nara hanya mengangguk. Tiba-tiba rasanya tidak rela melepaskan pelukan Arvin yang hangat dan meninggalkannya sendirian dijalanan tak dikenalnya. Meskipun tubuhnya dingin dan kulit dijemarinya mulai berkerut, Nara masih ingin menunggu hujan reda bersama Arvin disana. Ternyata memang benar, dengan Arvin hatinya seperti berubah-ubah tak terduga.
__ADS_1