Halo Arvin!

Halo Arvin!
Jangan Takut


__ADS_3

Seharusnya setelah malam pergumulan yang panas itu, hubungan akan mengarah pada hal-hal baik dan lebih romantis. Dugaan Arvin salah. Semalaman dia tidak bisa menghilangkan perasaan kesal dalam hatinya. Sementara Nara menjadi bungkam. Mereka tidur saling membelakangi, seolah tak ada apapun yang terjadi sebelum ini.


Hingga pagi menjelang Nara tetap tak bersuara. Bahkan hingga mereka pulang ke Jakarta Nara tidak mengatakan apapun padanya.


Amarah Arvin sudah mereda, dia sudah tidak memikirkan kejadian tadi malam lagi, yang gagal dengan luar biasa. Apa yang Arvin harapkan? Padahal sudah jelas melampiaskan hasratnya adalah hal terakhir dalam daftarnya untuk mengambil hati Nara.


Arvin terlalu terburu-buru. Selalu seperti itu. Atau Nara yang sangat sulit membuka hati dan membiarkan Arvin menaklukannya? Dia tidak tahu yang mana jawabannya. Sekarang paling jelas terlihat adalah keengganan Nara untuk berbaikan kembali dengan Arvin.


Hatinya sungguh lelah. Kenapa bisa sesulit ini mendapatkan hati Nara? Kenapa dia tidak bisa merobohkan tembok kebencian yang dibangun tinggi untuk memisahkan mereka?


Baru saja dia merasa senang dengan keintiman hubungan mereka, sekarang sudah porak poranda. Nara memilih menggulung dirinya kembali dalam diam dan pengabaian.


“Sekarang aku salah apa lagi sih sampe kamu gak mau ngomong sama aku?” Ucap Arvin lelah, setelah 2 hari penuh didiamkan tanpa kata oleh Nara.


Nara hanya menggeleng. Dia tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan Arvin. Dia tidak mengerti bagaimana menjelaskannya. Hatinya benar-benar tak karuan setelah malam itu.


Semua hal dilakukannya diluar kendali dan rencananya. Nara sangat ketakutan karena bertindak sejauh itu, membiarkan Arvin menjelajahi tubuhnya lagi, dan dia menikmatinya. Nara merasa bersalah pada dirinya sendiri.


“Kamu gak bisa kalau tiap kali ada masalah sama aku ngediemin kayak gini. Bukannya ngomong dan nyari solusi. Aku gak ngerti salah aku dimana, Ra. Apa karena masalah kemarin di Bandung?”


“Gak usah ngomongin lagi yang kemarin.” Nara enggan membahasnya. Dia ingin melupakan dan mengubah waktu agar dia tidak melakukan tindakan tak terkendali itu lagi. Mustahil memang.


Nara beranjak dari meja makan. Namun Arvin menahannya agar tetap duduk disana dengan mencengkram pergelangan tangan Nara.


“Duduk! Obrolin masalah ini sampe beres!” Perintah Arvin tegas.


Nara duduk kembali, menciut dikursinya. Menatap gusar permukaan meja makan yang bening. Dia ingin ditinggalkan sendirian sekarang dibandingkan diinterogasi seperti ini. Pikirannya riuh, tak bisa berpikir apa-apa.


Suasana hening yang tak nyaman muncul diantara mereka. Arvin memandangi Nara yang masih tak mau membuka mulutnya, menjelaskan apa yang terjadi dengannya. Dia mendengus kesal setelah beberapa waktu berlalu masih sama seperti itu.


“Aku minta maaf.” Kata Arvin pasrah, meskipun tak paham salahnya dimana. Nara menyetujui semua hal yang dilakukan Arvin malam itu, dia juga meminta izin terlebih dahulu, dan berhenti saat Nara enggan melanjutkannya. Arvin juga tidak memulai menyerang Nara seperti sebelumnya. Salahnya sekarang dimana?


“Aku minta maaf karena kebawa suasana. Aku ngerti kamu gak mau ngelakuin itu sama aku. Lain kali aku gak akan kayak gitu lagi.” Lanjut Arvin, meskipun sekuat hati meredam amarah dan rasa kesal karena merasa tidak adil.

__ADS_1


Arvin akan merasa bersalah dan juga bertanggung jawab ketika semua kejadian itu salahnya. Tapi yang terjadi waktu itu bukanlah kesalahannya.


“Lo gak salah kok, Vin.” Balas Nara membuka suara.


“Terus kenapa kamu ngediemin dan ngehindarin aku terus? Aku kira setelah ini aku punya kesempatan buat bangun hubungan baik sama kamu. Kenapa rasanya kayak aku harus mulai dari awal lagi?” Ucap Arvin dengan jujur. Semua hal yang dilakukannya seperti sia-sia saja.


Nara menatap sendu pada Arvin, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan Arvin dan pertanyaan untuk dirinya sendiri.


Apa yang dirasakan pada Arvin?


Saat ini dia masih takut untuk membuka hatinya untuk Arvin. Malam itu nalurinya seperti menuntun dirinya sendiri. Ada bagian dalam diri Nara yang menginginkan Arvin. Laki-laki itu begitu asing.


Nara tidak menyukai perasaan yang ditimbulkan saat bersama dengan Arvin. Rumit. Hingga sekarang Nara mempercayai perasaan rumit seperti itu bukanlah cinta. Makanya Nara menghindari Arvin, memblokir semua perasaan yang timbul ketika berada di dekatnya.


“Gue takut.” Balas Nara lemah. Tatapannya redup sambil memainkan jemari tangannya dengan gelisah. “Gue takut punya perasaan sama lo.” Lanjutnya jujur.


“Kenapa?” Tanya Arvin mengerutkan dahi bingung. Itu memang tujuannya dari awal kan? Membuat Nara jatuh hati padanya. Tapi sekarang dia terang-terangan menolaknya.


“Gue gak bisa dan gak mau punya perasaan sama lo. Jadi lupain aja yang kemarin dan yang sebelumnya. Gue gak ngerti kenapa ngelakuin itu.” Pikiran Nara lelah, dia tidak ingin membahasnya lagi dengan Arvin. Dengan mengatakan ini mungkin Arvin akan mengerti bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan.


Tidak. Nara pasti punya perasaan juga padanya. Dia tahu malam itu Nara ingin memberikan hatinya untuk Arvin. Tapi sesuatu masih menahan hatinya hingga sekarang.


“Kamu masih belum maafin aku sampai sekarang, Ra? Kamu masih mikir kalau aku yang ngehancurin hidup kamu? Bikin kamu gagal nikah? Bikin hubungan sama orang tua kamu hancur, gitu? Makanya kamu menyangkal perasaan kamu sendiri, kan?” Serang Arvin kesal.


Nara tak menjawab. Dia tidak menyangkal apa yang dikatakan oleh Arvin.


“Kejadian kemarin bukti kalau sebenernya kamu udah punya perasaan sama aku, kan? Tapi kamu milih buat terus bohong sama diri kamu sendiri kayak gini. Dengan cara menghindar, dengan diemin aku.”


“Gue gak mau bahas ini lagi, Vin. Please stop!” Kata Nara menghindar, dia beranjak dari tempat duduknya melangkahkan kaki ke toilet.


“Bahas ini sampe beres, Ra. Aku gak suka di diemin.”


Arvin mengejar Nara, menghentikannya mengurung diri di toilet dengan menahan pintu tetap terbuka.

__ADS_1


“Gue gak ngerti perasaan gue kayak gimana. Semuanya rumit. Kasih gue waktu, Vin. Lo bilang kita jalanin pelan-pelan aja. Jangan maksa gue kayak gini.” Ucap Nara histeris, air matanya meluruh. Dia sangat frustrasi dengan hati dan perasaannya sendiri.


“Terus aku harus gimana ngadepin kamu, Ra? Kamu diemin aku gitu aja, ga mau komunikasi yang bener, bohong sama diri kamu sendiri. Terus kita mau jalanin pelan-pelan tuh kayak gimana?” Paksa Arvin. Dia tidak ingin mentoleransi semua perilaku Nara lagi.


“Ga bisa, Vin. Gue takut.” Nara mulai terisak. Kepalanya pening. Dia tidak bisa bersikap biasa lagi terhadap Arvin setelah kejadian malam itu. Sekarang yang dilakukannya hanya ingin menghindar dan tak diganggu.


Arvin mendorong pintu toilet hingga terbuka lebar. Nara limbung dan hampir terjatuh. Tapi Arvin segera menangkap pergelangan kiri dan pinggang Nara. Kemudian menyudutkannya ke washbasin cabinet.


“Kamu harus takut kenapa sih, Ra? Jangan takut punya perasaan sama aku. Aku gak bakal ninggalin kamu, aku bakal bertanggung jawab sama hidup kamu dan bayi kita. Kamu gak bakal hidup kekurangan. Aku bakal kasih kamu semuanya, termasuk hati aku buat kamu.”


Arvin menatap mata Nara yang berair dipenuhi oleh air mata. Merengkuh wajahnya dan mendaratkan ciuman lembut ke bibir Nara.


Arvin tidak suka ditolak. Tidak pernah mengalami penolakan oleh wanita manapun seumur hidupnya. Kali ini dia tidak akan menerima penolakan dari Nara. Meskipun sempat ingin menyerah karena sikap Nara yang tidak dia pahami, tapi sekarang Arvin ingin melanjutkannya kembali. Memaksa Nara untuk mencintainya. Arvin kesal dan mulai tidak sabar.


“Kamu gak benci atau takut. Kamu bingung. Perasaan rumit yang kamu rasain sama aku itu cinta, Ra.” Bisik Arvin saat melepaskan ciumannya.


“Ngga. Bukan.” Sanggah Nara.


“Terus kenapa kamu waktu itu nyium aku, Ra? Sekarang kamu juga mau, kan?”


Tangan Arvin menyingkap rok yang dikenakan Nara. Menyentuhkan jemarinya ke pahanya yang halus. Menelusurinya hingga keatas. Menjamahh bagian tubuh yang masih tertutup dalaman. Nara terkesiap.


“Arvin! Stop! Please, jangan kayak gini!” Pinta Nara putus asa. Tangannya berusaha menyingkirkan Arvin dari tubuhnya. Perasaannya berdesir hebat ketika Arvin mulai menggesekkan jemarinya disana. Membuat bagian tersebut seketika basah. Lututnya menjadi lemas tak karuan.


“Jangan diemin aku. Kalau ngga, aku bakal lakuin yang lebih parah dari ini.” Ancam Arvin kemudian melepaskan Nara dan beranjak pergi dari sana.


Meninggalkan Nara dengan perasaan yang aneh. Sekujur tubuhnya gemetar. Takut, kalut, dan nikmat yang tidak bisa dijelaskannya.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 bab aja yaa. Author-nya lagi sibuk wehehe

__ADS_1


 


__ADS_2