
Dua minggu terakhir ini cukup sibuk bagi Arvin dan Nara. Semenjak memutuskan untuk pindah rumah, mereka mulai mencari agen dan survei ke beberapa perumahan. Hingga akhirnya menjatuhkan pilihan kesalah satu rumah di daerah BSD pada pencarian hari ketiga dan pindah pada akhir minggu lalu.
Semua memang terlihat seperti tergesa-gesa, tapi mereka memikirkan dengan matang mengenai kepindahan tersebut. Begitupun dengan persiapannya. Tentu saja dengan bantuan uang super banyak yang Arvin miliki. Pindahan mereka berjalan nyaris tanpa hambatan. Untuk pertama kalinya Nara bersyukur menikahi laki-laki kaya ini.
Sekarang mereka menempati rumah—yang bisa dibilang tidak terlalu sederhana. Meskipun menurut ibu mertuanya yang tiba-tiba pulang dari Malaysia menyebutkan rumah tersebut terlalu kecil untuk Arvin, Nara dan si calon penghuni baru. Tapi bagi Nara, ini adalah rumah impian.
Selain pulang untuk mengecek rumah baru Arvin, Lena tentu saja meninggalkan Malaysia dan adiknya yang masih dalam perawatan untuk mencecar keputusan Arvin dengan menyerahkan perusahaan pada Rivanno.
Lena awalnya kecewa dan marah dengan kabar tersebut. Tapi setelah berdiskusi serius dengan Arvin di ruang kerja barunya, Lena sekarang mengerti dan menyerahkan semua urusan tersebut pada anak laki-lakinya itu.
“Ibu tenang aja ya. Jangan terlalu khawatir soal ini. Ibu harus percaya sama aku kali ini.”
Lena menghela napas, “Kalau itu jalan terbaik, ya sudah. Tapi kamu sekarang harus mulai cari kerja dong, Vin! Masa kamu mau makan dari uang warisan terus.” Ucap ibunya khawatir. Takut Arvin memutuskan untuk hidup tak karuan lagi seperti saat dia lulus kuliah S2.
“Aku udah dapat kerja, Bu.” Jawab Arvin santai.
Lena mengangkat sebelah alisnya, menandakan keraguan. Anaknya itu terus berada di rumah semenjak meninggalkan posisinya.
“Dimana? Perusahaan apa? Kata Nara kamu ada terus di rumah.”
“Kerjanya remote. Aku udah hubungi temen kuliah dulu, dia tawarin kerjaan buat ngisi posisi Machine Learning Expert di perusahaan yang HQ-nya di Aussie. Malah aku udah mulai dari minggu lalu.” Jawab Arvin tenang.
Lena menatap anaknya itu penuh selidik, seakan ragu apa yang baru saja didengarnya.
“Ibu takut aku males-malesan dan jadi pengangguran kayak dulu, kan? Tenang aku udah janji sama Nara bakal jadi suami yang bertanggung jawab.” Ucapnya, cengiran lebar dia tampilkan untuk menghindari kekhawatiran ibunya.
...****************...
__ADS_1
Juna sudah berada di depan pintu pukul 10.00 pagi. Berpakaian santai dan membawa bingkisan ditangannya. Saat Nara membukakan pintu, senyum sumringah terkembang dibibirnya.
Meskipun tidak begitu mengenal pribadi Juna karena mereka hanya berteman beberapa bulan saja, tapi Nara cukup tahu bahwa laki-laki itu adalah salah satu adik kelas dan teman lama Arvin. Bisa dikatakan orang kepercayaan yang langsung diminta masuk ke perusahaannya saat pertama kali menjabat disana.
Nara sering berbicara dan bergosip tentang Arvin bersama Juna dan teman-temannya di kantin saat makan siang. Pasti Juna juga merasa janggal saat melihat dirinya sekarang menjadi istri Arvin, yang dulu sangat dibencinya. Dia bisa saja mengejek seperti rekan lamanya dulu, tapi laki-laki itu hanya diam dan tersenyum, tidak peduli apapun.
Segera saja Nara antarkan ke ruang kerja Arvin. Tempat dimana suaminya itu lebih banyak menghabiskan waktu sekarang. Berkutat dengan komputer dan mengerjakan proyek yang Nara tidak pahami.
“Kalau lo udah kesini di jam kerja gini berarti lo udah out dari sana, kan?” Tanya Arvin santai sambil tersenyum melihat Juna yang sekarang duduk di hadapannya.
“Gue baru dipecat kemarin, tanpa pemberitahuan dulu. Tapi beberapa hari sebelumnya mereka masukin lagi Pak Ismail jadi CFO. Beberapa petinggi yang keluar karena lo juga mulai gabung lagi disana. Sesuai dugaan lo, Bang.”
Arvin terkekeh, tentu saja Rivanno dan ayahnya akan membawa orang-orang itu kembali. Keluarnya beberapa petinggi penting yang menolak Arvin menempati posisi pemimpin perusahaan karena perilaku amoralnya, hanya akal-akalan saja. Gertakan agar Arvin merasa tidak layak dan terasing.
Mereka hanya fokus untuk menjatuhkannya dengan isu-isu sensitif dan pribadi tentang perilakunya. Bukan hal substansial mengenai kinerjanya di perusahaan.
“Angga gak mungkin dikeluarin. Malah kayaknya bakal ditahan terus. Gak mungkin mereka rela ngelepasin Corporate Planning secerdas Angga. Om Tio itu serakah tapi kolot. Buktinya dia bawa teman lamanya ke perusahaan lagi.”
“Tapi kalau cuma Pak Angga disana, dia gak mungkin bisa ngelawan orang-orang itu dan jalanin rencana lo, Bang.”
“Siapa bilang cuma Angga doang disana? Lo lupa orang yang harus lo awasin ? Hampir setahun gue kerja, beberapa kartu udah gue balik. Gue bukan anak kemarin sore soal main licik.”
Juna tahu. Kakak kelasnya itu juga sangat piawai membuat strategi. Tidak kalah licik dari orang-orang yang sedang mereka hadapi. Arvin bahkan sangat ahli ketika meyakinkan dirinya untuk meninggalkan pekerjaan yang bergengsi, hanya untuk dijadikan pion untuk rencananya.
Tapi Juna tetap melakukannya dengan senang hati. Kompensasi dan tantangan seperti ini tidak main-main besarnya. Sangat pantas untuk dicoba. Selain itu karirnya juga akan melejit dengan segera jika membantu Arvin.
“Terus abis ini rencana lo cuma nunggu doang, Bang?”
__ADS_1
“Ya, gak ada pilihan lain. Gue tunggu orang-orang yang gue percaya bekerja aja. Cepat atau lambat kita pasti tahu hasilnya. Lo mau ambil kesempatan nyari perusahaan baru emangnya?”
“Ngga. Gue mau fokus sama kehidupan pribadi juga kayak lo, Bang. Sama ngawasin orang yang lo tugasin disana.”
“Kalau semuanya udah beres. Gue janji masukin lo lagi ke perusahaan.”
Juna tertawa, “Lo kayak Pak Tio juga ya, Bang? Susah melepas orang lama?”
“Kalau orang lamanya sekompeten lo sih mana mungkin gue lepasin. Inget rencana ini masih tahap awal. Kita mundur dan kasih mereka celah dulu. Biarin mereka merasa menang baru kita hancurin.”
Pembicaraan serius mereka terhenti saat Nara masuk ke ruangan. Menyajikan camilan berupa kue-kue kecil dan juga teh hangat.
“Ngapain sih bawa kayak gini, kan berat. Kalau si Juna mau minum tinggal aku suruh pergi aja ke dapur.” Protes Arvin ketika Nara membawa nampan berisi makanan dan teh.
“Kamu jangan kayak gitu dong! Juna kan tamu. Gak sopan tahu, gak?” Balas Nara galak.
Juna hanya terkekeh mendengarnya, “Santai aja, Ra. Aku beneran bisa ambil minuman sendiri kok di dapur. Kayak ke siapa aja.”
“Kamu sering main kesini dong, Jun. Ajak istri kamu juga. Kalian kan tinggal gak terlalu jauh.”
“Gue sampe lupa lo pengantin baru. Pantesan sekarang kok kelihatan sumringah banget. Tiap hari dapat booster di ranjang sama istri.”
“Arvin! Gak boleh ngomong gitu!” Kata Nara memelototi Arvin yang berkomentar tidak sopan pada Juna.
Perdebatan kecil terjadi diantara pasangan suami istri tersebut. Juna yang memperhatikan hanya tertawa melihat hubungan kedua orang tersebut. Merasa aneh dan geli sendiri melihat kakak kelas sekaligus atasannya yang sudah lama dikenalnya begitu lepas dan bebas berseloroh dengan pasangannya. Baru kali ini melihat sisi Arvin yang seperti sekarang.
“Bang, kalau gak salah mantan lo masih kerja sama Rivanno disana, kan? Lo gak ngomong apa-apa sama dia? Kalau gak mundur, kemungkinan dia bakal keseret juga.” Ucap Juna saat Nara sudah pergi meninggalkan ruang kerja.
__ADS_1
Arvin terdiam sejenak, “Dia bukan urusan gue lagi.” Balas Arvin dingin.