Halo Arvin!

Halo Arvin!
Sekali Setiap Hari


__ADS_3

Arvin tidak bisa berhenti tersenyum karena perbuatan Nara. Benar-benar tidak menyangka dia secara impulsif menciumnya. Semua pikiran buruk dan beban yang membuatnya sulit tertidur kini menghilang begitu saja. Seakan dia diingatkan kembali bahwa semua perasaan bersalah pada Keysa dan ibunya bukanlah tanggung jawabnya, yang menjadi tanggung jawab Arvin hanya Nara. Hanya Nara saja dan bayinya.


Selama beberapa jam Arvin tertidur dengan nyaman. Tanpa beban apapun yang mengganggunya. Suhu tubuhnya juga sudah kembali normal. Mungkin karena obat yang diminumnya bekerja dengan baik atau mungkin juga karena ciuman Nara yang menyembuhkannya.


Jam 01.00 Arvin terbangun karena merasa haus. Dia baru menyadari Nara tidak ada disebelahnya. Melainkan tertidur di sofa ruang tengah. Mungkin karena kejadian tadi, Nara jadi tidak mau tidur bersamanya. Apa karena dia merasa malu tertangkap basah menciumnya?


Lucu.


Mungkin Nara juga tidak menyadari perasaan yang tumbuh diantara mereka. Arvin juga awalnya begitu. Perhatian dan rasa khawatirnya tiba-tiba berubah bentuk, semakin lama dia terobsesi dengan Nara. Menginginkan dia terus berada didekatnya. Pertama untuk alasan anaknya, yang kedua untuk dirinya sendiri. Sekarang dia merasa keinginan itu hanya perasaan egoisnya saja, menginginkan Nara hanya memperhatikannya. Hanya Arvin saja.


Arvin yakin Nara juga akan merasakan hal yang sama seperinya nanti. Pelan-pelan. Harapan tumbuh dihatinya setelah melihat apa yang dilakukan Nara hari ini. Nara akan membalas perasaannya juga.


Arvin berjongkok di samping sofa. Memperhatikan Nara yang tertidur pulas. Mengelus kepalanya lembut.


“Kenapa tidur disini?” Bisi Arvin ditelinga Nara.


Nara menggeliat, matanya sedikit terbuka, namun menutup kembali. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak Arvin pahami. Kemudian tertidur lagi. Arvin tersenyum melihatnya. Dia menggendongnya agar berpindah tidur di kamar. Membaringkan dikasur dan menyelimutinya.


“Lo udah sembuh?” Bisiknya setengah mengigau. Matanya masih tertutup.


“Udah. Makasih ya. Aku boleh minta cium lagi gak?” Balas Arvin ikut berbisik.


“Gak mau.”


“Kenapa?”


“Rasanya aneh.”


“Aneh kayak gimana?”


“Disini aneh.” Kata Nara menepuk-nepuk dadanya.


Arvin tertawa melihatnya, “Ooh. Mungkin kamu udah sayang sama aku jadi ngerasa kayak gitu.”


“Gak tau.”


“Ya udah tidur ya. Besok aku cium lagi yang banyak biar ga kerasa aneh lagi. Sekali setiap hari juga gak apa-apa. Janji?”


Nara mengangguk. Arvin tidak bisa menahan tawanya karena pembicaraannya dengan Nara yang mengigau. Harusnya dia merekamnya, agar bisa menjadi bukti kalau Nara bersedia melakukannya lagi nanti saat terbangun.

__ADS_1


...****************...


“Apa lo liat-liat?” Tanya Nara kesal saat Arvin terus memperhatikannya.


Dia tidak berhenti menatapnya kemampuan Nara pergi. Sekarang Nara duduk di meja makan menyantap sarapannya dengan perasaan tak enak. Malu dan canggung karena perbuatannya semalam. Rasanya ingin bersembunyi dan menghilang saja. Awas saja Arvin membahasnya sekarang!


“Perut kamu udah keliatan buncit.” Kata Arvin memperhatikan perut Nara dibalik kaosnya.


“Ya kan gue emang lagi hamil. Gimana sih? Udah mau 4 bulan, ya udah agak kelihatan lah. Kenapa? Lo pasti mau ngeledekin gue gendutan kan abis ini?”


“Ngga kok. Kamu kelihatan sama aja.”


“Dih gombal. Basi. Gue nambah berat badan 5 kilo, ya gak mungkin gak kelihatan gendut.”


“Buatku kamu tetep sama kok. Malah kelihatan lebih seksi.”


Nara mencibir jijik mendengar ucapan Arvin. Benar-benar laki-laki penuh tipu muslihat. Pasti kata-katanya adalah gombalan yang biasa dia ucapkan untuk memuji mantan-mantannya.


“Liburan yuk ke Bandung! Aku ada business trip Kamis dan Jumat minggu depan. Weekend-nya kita bisa sekalian liburan.”


“Tumben mau business trip. Biasanya ogah dan minta diwakilkan Pak Andra.”


“Siapa bilang gue mau ikut?”


“Jadi gak mau nih?”


Nara terdiam sejenak, “Mau kok. Gue udah lama gak kemana-mana.”


Nara menyelesaikan sarapannya. Tapi Arvin belum beranjak dari tempat duduknya. Masih menatap Nara sedari tadi. Lama-lama rasanya semakin risih terus diperhatikan seperti itu.


“Kenapa sih lo dari tadi liatin gue terus? Sana buruan berangkat kerja!”


“Tadi malam kamu—“


“Jangan bahas yang tadi malam. Gue lagi gak waras aja.” Potong Nara cepat.


“Maksud kamu gak waras gimana? Aku mau ngomongin nasi tim yang kamu bikin semalam” Goda Arvin sambil tersenyum. “Aku suka banget rasa ayamnya, kalau ditambah jamur merang kayaknya lebih enak. Bikinin aku lagi dong.”


“Ogah. Gue bikinin lo karena kemarin lo sakit. Gue gak kuat nyium bau nasi. Bikin mual. Males bikin lagi yang kayak gitu.”

__ADS_1


“Kalau nyium aku gak mual, kan?”


Nara terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Arvin yang sangat memalukan itu. Nara salah tingkah sendiri, mengalihkan pandangan dari tatapan mata Arvin, yang sekarang tersenyum jahil. Pasti sekarang Nara terlihat konyol di depannya. Mukanya pasti memerah seperti tomat matang.


Tiba-tiba Nara berdiri dari kursinya, berjalan cepat menuju kamar. Meninggalkan Arvin yang tertawa terbahak-bahak. Dia lekas menyembunyikan dirinya dibalik selimut. Mengerang kesal karena kebodohan yang sudah dia lakukan.


Arvin menyebalkan!


Harusnya Nara tahu Arvin akan membahas hal-hal seperti itu dan mengejeknya. Dia memang kekanakan dan menyebalkan. Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak karena panik. Pasti Arvin akan berpikir macam-macam tentangnya sekarang.


Arvin masuk ke kamar dan duduk disamping ranjang. Masih tidak bisa menahan tawanya. Tapi dia berusaha menenangkan dirinya agar Nara tidak semakin kesal padanya.


“Kenapa sih kamu? Aku suka kok. Sering-sering kayak gitu juga gak masalah.” Kata Arvin tenang.


“Gue yang ada masalah, yang semalem gak kayak yang lo kira.”


“Emang kamu tahu aku ngira apaan?”


“Ga tau! Udah gak usah dibahas!”


“Aku bakal nagih janji kamu yang semalam.”


“Hah janji apaan?” Tanya Nara bingung. Menyingkap selimut yang menutupinya.


“Waktu aku pindahin kamu ke kamar, aku minta kamu buat sering-sering cium aku. Terus kamu setuju.” Kata Arvin santai.


“Dih apaan gue gak pernah inget. Jangan ngada-ngada ya lo. Manfaatin kesempatan karena kesalahan gue kemarin.”


“Cium aku sekali sebelum berangkat kerja.”


“Ogah. Najis!”


Nara berdiri dari tempat tidur, hendak berlari keluar kamar. Tapi Arvin menangkapnya terlebih dahulu. Memojokkannya ke tembok di dekat pintu. Nara meronta-ronta dengan panik. Tapi tangannya sudah terkunci oleh genggaman Arvin disisi tubuhnya.


“Gak boleh ingkar janji. Sekali aja setiap hari cukup kok. Sebelum aku berangkat kerja.” Bisik Arvin lembut.


Arvin menundukkan kepala, mulai menyentuh bibir Nara. Semua gerakan penolakannya kini hilang. Nara lebih tenang berada dalam dekapannya.


Menyebalkan! Arvin menyebalkan!

__ADS_1


Nara merasakan perasaan ini lagi. Membuatnya memggila dan sulit menghentikannya. Arvin benar-benar laki-laki jahat. Tapi Nara menyukai sensasinya. Kenapa bibirnya lembut dan manis? Kenapa wanginya tak bisa terlupakan? Kenapa tubuhnya hangat dan menenangkan? Kenapa Nara seperti sedang dihipnotis?


__ADS_2