
Suara merdu Koes Plus menyanyikan lagu Andaikan Kau Datang terdengar dari radio di mobil. Sepanjang perjalanan Lena hanya diam. Matanya memerah dan bengkak. Arvin yakin ibunya itu menangis semalaman, mood-nya pagi ini jelek sekali. Angga sampai dimarahi hanya karena meminta izin tak ikut les renang sore nanti karena diajak main futsal oleh teman sekelasnya.
Arvin jadi tak berani menolak saat diajak pergi sekarang. Entah kemana. Padahal ada banyak film kartun hari minggu yang harus dia tonton. Arvin tidak ingin merusak mood Lena yang tak bagus. Lebih baik diam dan menurut saja. Dia mencoba mendistraksi pikirannya dengan memainkan lego yang dia bawa dari rumah. Menanti mobil berhenti ditujuannya.
Tak berapa lama mobil berhenti di parkiran Rumah Sakit Kanker Dharmais. Mereka melangkah kedalam, berjalan diantara lorong-lorong dan berpapasan dengan dokter-dokter berkemaja putih dan pasien-pasien. Terus hingga lorong ramai tadi beralih ke sebuah lorong yang cukup sepi pengunjung. Arvin yang sejak tadi mengikuti Lena heran ketika melihat plang ‘Rawat Inap’ di salah satu penunjuk jalan.
“Bu, siapa yang sakit?” Tanya Arvin akhirnya, tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Lena berhenti, terdiam ditengah lorong panjang rumah sakit. Kemudian ambruk berjongkok didepan Arvin. Hatinya begitu terluka harus mengatkan kebenaran yang begitu menyakitkan pada Arvin. Air matanya turun membasahi pipi, dia terisak sesaat. Menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah, sebelum akhirnya menguasai diri kembali.
Helaan napas panjang dia ambil guna memenuhi paru-parunya dengan udara. Mencoba tenang menghadapi Arvin yang masih berdiri kebingungan.
“Nenek sakit ya?” Tanya Arvin lagi.
Lena menggeleng. Menelan ludah, mencoba berbicara dengan suara yang bergetar.
“Ibu mau kasih tau kamu sesuatu. Arvin jangan nangis ya!”
“Apa?”
“Hari ini ibu mau ngajak Arvin ketemu sama ibu kandung kamu. Ibu gak pernah ngasih tau sama kamu sebelumnya, kalau kamu bukan anak kandung ibu. Kamu ibu rawat sejak bayi, dan udah ibu anggap kayak anak sendiri.” Lena menjeda kata-katanya. Melihat ekspresi bingung dari Arvin. Keningnya berkerut dan matanya gelisah. “Sekarang ibu kandung kamu lagi sakit parah dan udah gak sadarkan diri, butuh kamu buat nemenin. Arvin mau kan nemenin mama?” Lanjut Lena.
Arvin diam mencerna perkataan Lena. Sebelum akhirnya menangis dan memeluknya. Tangis histeris dan ketakutan.
“Maafin aku, Bu… Aku janji gak nakal dan ngerjain PR yang rajin… Gak akan bolos les sempoa lagi..” Ucapnya terbata.
Arvin berharap ibunya hanya mengatakan kebohongan sekarang, karena dia nakal dan tidak menurut. Alih-alih meyakinkannya bahwa ini semua hanya candaan, Lena malah ikut menangis memeluk erat Arvin. Dia jatuh terduduk dilantai terus mendekap Arvin. Berharap bisa menenggelamkan rasa sakit dan perasaan bersalahnya.
Rivanno selalu mengejek Arvin bahwa dirinya anak haram, dia bukan anak kandung ibunya. Semua itu tak mengganggu Arvin, karena kedua kakaknya Angga dan Audrey akan siap menggeplak kepala Rivanno ketika mengatakan hal tersebut. Arvin juga tak pernah menceritakan ejekan-ejekan itu pada ibunya. Tapi mengetahui bahwa semuanya adalah kebenaran, Arvin begitu takut dan sedih.
Tidak mungkin ada ibu lain selain ibunya. Selama ini hanya Lena lah ibu bagi Arvin. Tidak ada yang lain. Meskipun terkadang Lena sering memarahinya karena malas mengerjakan tugas, tapi Arvin sangat menyayanginya dan Arvin juga tahu Lena juga menyayanginya. Dia tidak butuh ibu lain selain Lena. Meskipun semua orang mengatakan dia bukanlah ibu kandungnya.
__ADS_1
“Ini Arvin ya?” Sapa seorang nenek ketika Arvin memasuki ruang rawat inap.
Arvin tidak membalas sapaannya. Matanya langsung terfokus pada perempuan yang berbaring dengan selang dan kabel-kabel yang membelit tubuhnya. Menopang kehidupan yang berada diujung jurang.
Hari itu kali terakhir Arvin bisa merasakan pelukan dan genggaman tangan Lena. Dunianya tiba-tiba berubah. Perasaan sedih, takut dan bingung menghantamnya bertubi-tubi. Tapi ada satu perasaan yang tumbuh kuat didalam hatinya. Kebencian. Pada Lena, ayahnya, ibu kandungnya, dan pada dunia beserta isinya. Kehidupan nyaman dipenuhi oleh orang-orang yang dicintai tiba-tiba menghilang menguap keudara.
“Arvin! Vin, lo gak apa-apa?” Nara mencoba menggoyangkan tubuh Arvin yang masih tertidur, dia mengigau dan tampak tak tenang. Nara sangat khawatir melihat Arvin seperti itu. “Arvin!” Teriak Nara.
Arvin tersentak dan terbangun. Menatap langit-langit kemudian beralih pada Nara yang berada di sebelah ranjangnya. Perasaannya campur aduk setelah memimpikan kejadian yang sudah lama berlalu itu. Kenapa akhir-akhir ini dia jadi sering bermimpi tentang Lena dan ibu kandungnya? Membuat hatinya tidak nyaman.
“Lo mimpi apa sih, sampe nangis-nangis gitu? Di kejar hantu?”
Arvin tidak menjawab. Dia malah menarik tubuh Nara hingga tertidur dan memeluknya. Menenggelamkan semua kekhawatiran dan perasaan tak nyaman kedalam dekapan hangat istrinya itu. Saat ini hanya pelukan Nara yang dia butuhkan agar menjadi tenang kembali. Aroma segar dari shampo pada rambutnya membuat Arvin nyaman.
“Untung ada kamu sekarang.” Bisiknya.
“Lo mimpi apa?”
“Makanya doa dulu kalau mau tidur. Jadinya kan lo mimpi setan.”
Arvin terkekeh, “Kayaknya aku sekarang tidur harus sambil meluk kamu biar nyenyak dan gak mimpi yang aneh-aneh.”
“Dih alesan.”
Arvin tidak membalasnya. Dia mencoba tertidur kembali sambil terus memeluk Nara. Dia mengenyahkan semua pikiran buruk dalam otaknya. Semua yang ada dimimpinya hanya masa lalu. Hubungan antara dirinya dan Lena sudah rusak semenjak itu dan sulit diperbaiki kembali. Arvin akan mengendapkan perasaan bersalah dan bencinya dalam hati.
“Kalau lo ada masalah yang bikin kepikiran mending ceritain aja. Siapa tau bisa ringanin beban pikiran lo. Nanti lo mimpi buruk kayak tadi terus.” Ucap Nara.
Setelah malam saat Arvin mabuk, dia tak pernah menjelaskan atau menceritakan apapun kesulitan yang dihadapinya pada Nara. Sepertinya Arvin juga tak mengingat pernah mengeluarkan isi hatinya malam itu. Tapi Nara menjadi khawatir karena Arvin sangat gelisah selama beberapa hari ini ketika tertidur. Apa mungkin semua tekanan dikantor akibat ayahnya membuat Arvin seperti sekarang?
Arvin terperanjat dengan ucapan Nara. Dia langsung membuka matanya kembali yang nyaris hilang kesadaran dan terlelap. Baru kali ini Nara begitu perhatian padanya. Senyuman tersungging dibibir Arvin. Dia melepaskan pelukan, bergeser dari tempatnya agar bisa sejajar menatap wajah Nara yang tidur disebalahnya.
__ADS_1
“Gak ada masalah apa-apa. Makasih udah khawatir sama aku.” Katanya tenang.
Arvin menempelkan keningnya pada Nara, menatap lekat matanya dari dekat. Kemudian mengecup singkat bibirnya. Anehnya Nara tak keberatan. dia hanya diam saja dengan tingkah Arvin ini. Arvin sekali lagi terperanjat kemudian terkekeh.
“Lo jangan bohong. Kan lo bilang sendiri kalau ada masalah tuh diselesain, cari solusi. Lo kepikiran masalah kantor kan sampe mimpi gak jelas terus?”
“Ngga ada masalah apa-apa, semua terkendali. Si Adam tuh suka berlebihan nyeritainnya.” Bantah Arvin.
“Gue tau bukan dari Adam tapi dari lo sendiri. Lo yang cerita pas lo mabok.”
Arvin menegakkan tubuhnya dan duduk, Nara mengikuti Arvin. Duduk saling berhadapan diatas kasur. Menatap satu sama lain. Arvin masih mengerjap-ngerjap tak percaya dengan yang Nara katakan.
“Aku ngomong apa aja pas mabuk?”
“Hmm.. banyak. Soal kantor, soal Pak Candra, dan sepupu lo.”
“Aku udah gak apa-apa.”
“Gak usah bohong dan sok keren. Gue tau lo juga sama menderitanya sama gue, kan? Gue gak butuh lo pura-pura dan sok kuat. Katanya lo mau hidup bareng gue, kenapa yang kayak gini aja dirahasiain? Gue udah lebih lama kerja disana, lebih tau lingkungan disana dibandingkan lo dan sepupu lo yang baru seumur jagung kerja. Pinter dan berkarisma aja gak guna, kalau lo gak bisa mainin politik kantor. Gue tau siapa yang harus lo deketin biar dapet simpati dan gak kalah sama Ivan. Lo emang gak bermoral, tapi kalau lo tau. Semua petinggi disana sama gak bermoralnya kayak lo. Mereka cuma sok suci aja.” Jelas Nara kemudian mencibir.
Arvin tertawa. Tak percaya Nara mengatakan ini.
“Lo tau kan Pak Bambang dari Internal Audit? Dia punya istri 2, tapi masih genitin anak magang. Sampe ada gosip dia ngajakin ke hotel. Terus lo tau Pak Handoko dari Planning? Dia sering karoke dan kalau lagi perjalanan dinas suka minta ditemenin cewe.” Nara mulai bergosip.
“Semua orang gak bermoral. Tapi mereka juga paling jago jadi polisi moral buat orang lain, ngerasa dirinya suci. Padahal tujuannya biar dia ngerasa lebih baik aja, ada sasaran tembak biar semua gosip fokus sama lo. Karena lo lebih muda, kurang berpengalaman disana, dan gak punya kawan.”
Sekarang jam 2 pagi, tapi Nara mulai berceloteh panjang membagikan gosip-gosip panas tentang prang-orang penting diperusahaan dan siapa saja yang harus Arvin dekati untuk mendapatkan suara agar tak kalah berpengaruhnya dari Vice CEO-nya, Rivanno.
Sedikit demi sedikit beban Arvin meluruh seketika, mendengar Nara yang begitu bersemangat mendorong Arvin membalas orang-orang yang membelot memberi dukungan pada Rivanno agar Arvin tersingkir. Ternyata berbagi kekhawatirannya tak seburuk yang Arvin duga, Nara sekarang lebih lepas dan terbuka. Membuat Arvin seketika nyaman dan aman.
Apakah ini pertanda baik?
__ADS_1
Apakah hubungan mereka sudah melangkah kearah yang lebih baik?