
Ghofar melambaikan tangan pada Arvin, membukakannya pintu ke Groove Bar. Disana seperti biasa sudah ada rekan band-nya dan karyawan-karyawan yang sedang bersiap untuk buka nanti malam. Arvin kesana hanya untuk menghilangkan suntuk, dia benar-benar tidak tahan berada di rumah karena sikap Nara.
Selama seminggu ini mereka terus saja berdebat hal-hal tidak penting. Dia selalu saja sensitif di dekat Arvin, seakan-akan setiap saat dia akn berbuat jahat padanya. Malah yang lebih beberapa hari ini Nara dengan sengaja mengabaikan keberadaan Arvin, tidak menyahut ketika dipanggil dan tidak merespon ketika diajak bicara. Lama-lama Arvin bisa kehilangan kesabarannya.
Arvin duduk disalah satu kursi, menghela napas panjang. Teman-temannya yang sudah mengenal Arvin sejak SMA sangat hapal dengan kebiasaan Arvin saat ada masalah. Setelah itu Arvin bercerita dengan jujur pada mereka.
“What? Anj*ng serius lo, Vin? Lo ngehamilin anak orang?” Tanya Gege kaget saat Arvin menceritakan tentang Nara dan pernikahan mereka.
“Cewe yang lo pernah bawa kesini itu? Yang mabok?” Sambung Aldi tak kalah kaget.
Arvin mengangguk, “Mabok gara-gara dikasih minum sama si Ganjar. B*ngke lo!” Ucap Arvin kesal pada si bartender yang sekarang sibuk mengelap gelas sambil mendengarkan obrolan anak band Fortunata itu.
“Dih nyalahin gue. Lo yang ga bisa kontrol burung lo, malah nyalahin orang lain. T*i lo!” Balas Ganjar.
“Terus lo sekarang udah kawin sama dia, gitu?” Tanya Restu.
“Hmm.. Udah seminggu.” Arvin menghela napas berat, seminggu yang menjengkelkan dalam hidupnya.
“Wah gue ga nyangka sih lo sampe bisa kayak gitu, apalagi ceweknya tuh bukan tipe lo banget deh.”
“Iyee, ini mah tipenya si Eka. Cewe rumahan, polos, berada dijalan yang lurus.” Ucap Aldi menunjuk Eka yang dari tadi diam dan berekspresi serius.
“Gue kayaknya emang salah circle deh. Penjahat semua lo pada.” Kata Eka menyahuti, “Terutama sih lo, Vin. Beneran gue ga nyangka temen gue sebejad itu.”
“Gue kebawa suasana, lagian gue udah tanggung jawab kok. Gue udah nikahin dia.” Kata Arvin berkilah.
“Terus dengan lo nikahin dia masalah langsung selesai, gitu?”
__ADS_1
“Ya makanya gue kesini, gue pusing harus kayak gimana ngadepin istri gue. Dia beneran ga mau gue pegang, ga mau ngomong sama gue, ga nganggap gue, marah-marah terus, nangis-nangis terus. Capek gue jadinya.”
“Bawaan orok juga kali cuy. Si Tasya pas hamil juga ga mau deket-deket gue, katanya bau badan gue bikin mual pingin muntah.” Kata Aldi yang sudah berpengalaman dan satu-satunya yang sudah memiliki anak.
“Tapi bener, bau badan lo kayak ****** badak.” Kata Gege berseloroh yang kemudian disambut geplakan Aldi dikepalanya.
Eka menghela napas, “Gini, Vin. Lo berharap dia baik-baik aja setelah lo hancurin masa depannya? Ga jadi nikah sama pacarnya, hamil anak lo, orang tuanya ngusir dia dan lo masih berpikir dia bakal bilang ‘wah gue beruntung Arvin mau tanggung jawab sama perbuatannya’ gitu kan? Da*mn you such a j*rk man.” Lanjut Eka.
Arvin mengusap wajahnya dengan kasar. Memejamkan mata dan mengakui semua yang dikatakan oleh Eka memang benar. Dia tidak pantas dimaafkan. Sekarang dia malah mencari pembenaran diri dengan mengeluhkan semua sikap Nara padanya.
“Kalau cewek itu anggota keluarga gue, lo udah gue laporin biar dipenjara sih, Vin.” Serang Eka.
“Hati-hati, Vin. Lo bakal dapat kuliah 4 SKS sama si Eka soal women’s right, gender equality, dan materi s*xual abuse. Bokapnya kan pengacara.” Kata Gege mengompori menepuk pundak Arvin.
“Eh lo emangnya mau cici lo yang cakep itu tiba-tiba gagal kawin karena diperk*sa orang?” Kata Eka berapi-api menunjuk Gege.
“Ya emang harusnya dia tanggung jawab lah. Tapi ga serta merta bikin mental tuh anak jadi bagus lagi, kan? Lo kira ini sinetron in*siar, cewe mudah memaafkan cowo yang ngelakuin hal bejad ke dia tanpa consent gitu?”
Arvin semakin terpuruk dan merasa bersalah mendengarnya. Iya, Eka sejak tadi berkata benar. Arvin merasa jumawa karena berani bertanggung jawab atas perbuatannya yang jahat itu. Tanpa mau tahu bagaimana kondisi mental Nara. Dia ingin sekali memeluk Nara, mengatakan dia akan melakukan apa saja untuknya agar dia menjadi baik-baik saja. Tapi tentu saja semua itu tak dibutuhkan Nara darinya. Sumber utama semua perasaan sakit yang Nara rasakan adalah Arvin.
“Gue ngerti. Gue tau. Makanya gue mau minta saran harus kayak gimana? Jujur gue buntu banget harus ngelakuin apa sama dia.” Arvin sekarang benar-benar putus asa. Seumur hidupnya, banyak perempuan yang mengejarnya. Tanpa berpikir apapun mereka pasti mau dan akan melakukan apa saja untuknya, tanpa perlu Arvin berjuang untuk mendapatkannya. Sekarang Arvin seperti kena karma, dia harus mengumpulkan semua pikirannya untuk mendapatkan perhatian dari satu perempuan. Arvin benar-benar benci merasa diabaikan.
“Kuncinya sih ya sabar. Ga ada cara lain lagi.” Kata Restu santai. “It takes time to heal wounded heart. Sampe dia menerima dan berdamai sama hatinya, sama keadaannya. Masih seminggu kan, Vin. Masih berdarah-darah tuh dia.” Lanjutnya dengan bijaksana.
“Bener sih itu. Apalagi dia lagi hamil, Vin. Makin hari dia bakalan butuh lo sebagai suami yang taking care sama keadaan dia. Percaya deh sama gue, udah pengalaman ngadepin cewek hamil.” Kata Aldi menambahkan.
“Nasi udah jadi bubur, Vin. Perbaikin diri lo dan bangun hubungan lo sama dia. Mau lo sekarang digampar, dicakar, diludahin sama dia, tahan-tahan dulu lah. Eventually it will be alright for both of you. Gue percaya sebenernya lo ga jahat-jahat banget, meskipun kayak anj*ng aja sampe bisa ngehamilin anak orang gitu. Tapi dengan lo nunjukin tanggung jawab apalagi berusaha nyari solusi biar hubungan lo jadi baik dengan dia kayak gini, lo udah buktiin kalau lo cowok baik.” Kata Eka, “Meskipun gue ga akan pernah membenarkan perilaku lo ya, anj*ng!”
__ADS_1
“Inget ya, Vin. Cewek yang tau kalau dia hamil padahal hubungan suka sama suka dengan pacarnya aja pasti depresi banget, apalagi pas keluarganya tau. Nah ini, cewek lo hamil dan lo ngelakuin perbuatan itu ke dia tanpa consent dan kesadaran dia, gimana mau baik-baik aja?” Lanjut Gege.
Arvin mengendapkan semua kata-kata temannya itu di dalam hati dan pikirannya. Menguatkan diri agar bisa menghadapi Nara. Padahal berualang kali dia juga meyakinkan bahwa hubungannya dengan Nara tak akan berlangsung sehari atau dua hari saja, tapi selamanya. Arvin siap bertanggung jawab selamanya terhadap kehidupan Nara, saat dia mengucapkan kesediaan menikahinya. Dia tidak boleh menyerah dan terbawa emosi seperti sekarang.
***
Nara berbaring di sofa, menyalakan televisi namun tidak benar-benar menontonnya. Pikirannya jauh melayang entah kemana. Setiap hari rasanya dia seperti kehilangan dirinya sendiri. Merasa sedih, sepi, dan asing di dunia barunya. Apalagi sekarang Nara berhenti menanggapi ocehan Arvin, laki-laki itu juga mulai berhenti berbicara padanya. Mereka hanya akan menatap sekilas dan saling memalingkan pandangan.
Rumah tangga macam apa ini?
Nara juga tak pernah menganggap semua ini adalah kehidupan rumah tangga. Dia selalu menganggap dirinya sedang menginap ditempat Arvin, yang suatu saat bisa pindah kapan saja. Entah kapan, mungkin segera. Nara tak ingin tinggal disini lebih lama. Bertemu dengan Arvin setiap hari membuat perasaannya aneh. Dia tidak bisa menjelaskan itu apa, kebencian kah? Perasaan takut kah?
Arvin yang baru tiba, melihat Nara di sofa. Terkulai tak bersemangat. Setelah mendengar perkataan teman-temannya tadi, Arvin semakin ingin memeluk Nara dan mengatakan padanya, dia akan selalu ada untuk Nara meskipun perempuan itu membencinya. Perasaan bersalah ternyata juga bisa menyakiti Arvin sedemikian dalam.
“Gue beliin lo es krim. Lo mau makan es krim ga?” Tanya Arvin lembut, kemudian duduk di sofa sebelah Nara.
Sekilas Nara memandang Arvin kemudian mengalihkan tatapannya pada es krim yang dibawakan Arvin. Haagen-Dazs rasa cookies & cream dan dulche de leche. Kemudian Nara bangkit untuk duduk, mengambil salah satu diantaranya. Arvin tersenyum sekilas, merasa senang karena Nara tidak menolak tawarannya. Segera Arvin mengambilkan sendok agar Nara bisa menyantap es krim tersebut. Mereka duduk diantara keheningan.
“Kakak ipar lo hari ini masuk rumah sakit. Udah pembukaan katanya. Mungkin besok dia udah lahiran.” Kata Arvin mencairkan hening diantara mereka.
“Kok lo tau?” Tanya Nara.
“Dia kirim chat ke nomor gue. Dia ga tau kalau lo udah punya hp. Emang lo ga menghubungi keluarga lo?”
Nara menggeleng. Dia tidak pernah membuka handphone yang Arvin berikan padanya. Pesan dari Arvin yang dia kirimkan setiap hari untuk mengecek keadaan Nara saat Arvin di kantorpun tak pernah Nara balas. Karena itu sekarang Arvin akan menanyakan keadaan Nara pada Bi Marni, pembantu yang Arvin pekerjakan dan datang setiap pagi untuk mengurus penthouse-nya.
Setelah semua kejadian tak beruntung dihidupnya, Nara seperti terdisosiasi dari kehidupan. Sekarang dia tidak bekerja, tidak punya teman, tidak ada keluarga yang dia hubungi. Sesekali dia akan berbicara pada Bi Marni yang sangat ramah dan perhatian. Mengobati sedikit sepi, yang entah sampai kapan memenuhi harinya kini.
__ADS_1