Halo Arvin!

Halo Arvin!
Memaafkan


__ADS_3

Hal tidak biasa yang baru pertama kali Nara lihat adalah sinar mata Arvin yang meredup. Terlihat sedih. Setelah membersihkan diri, mereka berbaring di kasur. Saling menatap dan diam. Nara tahu bahwa Arvin tidak benar-benar menatapnya, tapi termenung terbawa oleh pikirannya yang entah kemana.


“Arvin, kamu gak apa-apa?” Bisik Nara sambil mengelus rambut Arvin, membuatnya tersadar dari lamunannya.


Arvin terdiam sejenak sebelum mengangguk, “I’m okay.” Jawabnya lemah.


“Kamu gak kelihatan baik-baik aja. If you have anything to tell, I’m all ears.”


Arvin tersenyum sekilas dan terdiam kembali cukup lama. “Kamu..benci gak sama aku karena aku anak durhaka?”


“Aku gak benci kamu karena itu kok. Kamu punya alasan sendiri kenapa kayak gitu, kan?”


“Kalau aku udah tahu hal yang sebenarnya terjadi tapi tetap jadi anak durhaka dan gak mau maafin mereka, gimana?”


“Aku mau denger alasan kamu gak maafin mereka. Baru aku bisa nilai itu baik atau buruk.”


“Entahlah, mungkin karena ngerasa sakit hati aja. Selama ini mereka sesuka hati ngebohongin aku, mengabaikan aku, dan ngelempar aku kesana kemari seakan aku cuma barang. Aku benci ayahku yang jahat dan gak setia, sampai nyakitin ibu dan mama. Aku benci mama karena dia mau aja jadi selingkuhan sampai ngelahirin anak. Aku benci ibu yang relain aku diambil nenek karena dia ngerasa bersalah udah misahin aku sama mama. Padahal aku butuh ibu waktu itu, butuh diakui kalau aku juga anaknya. Aku nunggu bertahun-tahun buat dijemput pulang atau dihubungi, tapi pernah. Sampe aku mikir ibu benci sama aku karena aku anak selingkuhannya ayah dan aku juga jadi benci sama ibu karena itu.”


Tangis luruh dari mata Arvin, mengaburkan pandangannya. Baru kali ini dia membicarakan semua kebencian dan rasa sedihnya pada orang lain. Sebagian orang tahu tentang hubungan buruknya dengan keluarga Aditama. Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan semua perasaannya, yang Arvin simpan sendiri. Kesepiannya, ketakutannya, dan kebenciannya yang tumbuh mengakar selama 8 tahun, setelah meninggalkan rumah keluarga Aditama.


“Bu Lena sayang banget sama kamu. Dia juga berharap punya keberanian buat mempertahankan kamu dan ngehubungi kamu. Dia mengira kamu benci sama dia karena udah misahin kamu dan ibu kandungmu.”


Arvin mengangguk, dia tahu. Akhirnya tahu.


“Pak Candra juga sayang sama kamu. Merasa bersalah seumur hidupnya sama semua orang karena perselingkuhannya.”

__ADS_1


Arvin mengangguk lagi, di juga tahu. Akhirnya tahu.


“Kalau kamu udah tahu semuanya, alasan apa yang bikin kamu gak bisa maafin mereka?”


“Aku gak tahu.”


Nara tersenyum sekilas, “Mereka berdua pasti merasa bersalah banget seumur hidupnya karena kesalahan-kesalahan yang udah mereka perbuat, juga ketidakjujuran mereka yang bikin kalian jadi jauh. Bayangin hidup berpuluh-puluh tahun merasa bersalah kayak gitu. Ketika mereka mencoba buat memperbaikinya, kamu menghindar terus sampai sekarang. Kamu bisa gak hidup kayak mereka, Vin?”


Arvin menggeleng.


“Kamu dulu pernah bilang pas lagi mabuk di hotel, kalau tiap hari rasanya mau mati karena ngerasa bersalah sama aku. Aku juga, tiap hari rasanya mau mati karena benci sama kamu yang selalu kelihatan santai dan gak peduli sama dampak yang kamu perbuat sama aku. Tapi ternyata, aku gak tahu kalau kamu juga mengalami banyak hal sulit karena skandal kita. Karena kamu akhirnya jujur, malam itu aku maafin kamu, Vin.”


Nara merekatkan jemarinya ke jemari Arvin. Ukuran tangan mereka terlihat kontras. Tapi lewat tangan tersebut, mereka saling bertukar kehangatan. Sebelum akhirnya saling menggenggam.


“Kamu pernah berada diposisi mereka, yang terus-terusan merasa bersalah. Kamu juga pernah berada diposisiku, yang terus-terusan berprasangka dan benci. Kalian cuma butuh saling mendengarkan dan jujur. Sama kayak yang kita lakuin. Kita janji akan terus saling jujur sama perasaan kita. Baru setelah itu kita bisa saling memaafkan dan saling sayang.”


Dia menerima banyak perasaan cinta dan haus akan hal tersebut, dari banyak perempuan disekelilingnya. Padahal yang dia butuhkan seumur hidupnya adalah cinta dari ibunya, dari Lena. Yang hilang karena prasangka satu sama lain. Mengira saling membenci, ternyata mereka saling merindukan.


Padahal yang dia butuhkan seumur hidupnya adalah cinta dari ibu kandungnya, dari Kartika. Yang hilang karena kesalahan masa lalu dan ketidakjujuran. Selain itu Arvin juga membutuhkan cinta dari ayahnya, yang seumur hidup terus bungkam memegang janjinya tapi malah menyakiti semua orang disisinya. Semua pengkhianatannya, ketidak tegasannya, dan kejahatannya yang membuat hidup semua orang menjadi rumit pada akhirnya.


...****************...


Ruangan itu sepi, hanya suara dari monitor perekam jantung yang terdengar nyaring. Menandakan Candra masih bernyawa dan berada pada tubuhnya. Meskipun kesadaran sudah hilang meninggalkannya. Arvin menyuruh Audrey yang berjaga semalaman untuk sarapan dan menghirup udara segar, agar dia bisa punya waktu berdua dengan ayahnya.


Arvin duduk dikursi sebelah ranjang. Menggenggam tangan lemah dan keriput laki-laki yang sudah jarang ditemuinya. Entah sejak kapan uban memenuhi seluruh kepalanya, tak menyisakan satupun rambut hitam dan lebat seperti yang dikenalnya dulu. Entah sejak kapan pula tubuh tegapnya berubah menjadi ringkih dan lemah seperti sekarang. Keriput dan kulit berkerut dimana-mana.

__ADS_1


Padahal yang diingatnya adalah sosok gagah yang setiap pagi mengulurkan tangan untuk diciumnya. Aneh memang, sejak kecil bahkan mereka jarang berbincang. Candra yang sibuk dan menenggelamkan diri dengan pekerjaan. Hanya ada saat sarapan dan makan malam. Sepanjang hari Arvin hanya bersama Lena dan kedua kakaknya. Candra tidak pernah mengajaknya mengobrol ataupun bermain seperti ayah pada umumnya.


Sekarang juga akhirnya Arvin menyadari, Candra dan Lena tidak pernah menampilkan kemesraan atau kedekatan apapun sepanjang masa hidupnya. Mereka hanya ada disana, mengobrol seperlunya. Arvin pikir semua itu normal dan terjadi pada semua keluarga. Mungkin sejak pengkhianatan ayahnya, seperti yang dikatakan oleh Angga, orang tuanya hanya menjalani pernikahannya sekadarnya. Tidak terlalu serius.


Apakah ayahnya menderita selama itu?


Arvin tidak pernah tahan diabaikan oleh Nara selama berhari-hari. Terus merasa bersalah karena pernah memilih menemani Keysa. Merasa berkhianat karena masih tidak bisa tegas dengan perasaannya terhadap Keysa. Merasa bersalah karena terus menyakiti Nara.


Jika dipikirkan kembali, dia juga tidak pernah begitu dekat dengan laki-laki ini. Setiap tahun selama dia tinggal di rumah neneknya, Candra selalu mengirimkan kue ulang tahun untuknya. Tapi tidak pernah bertanya kabarnya, dan tidak berusaha memintanya pulang. Arvin membencinya karena Candra mengabaikannya juga seperti Lena. Namun mungkin semua kue ulang tahun yang dikirimkannya adalah satu-satunya cara yang dia tahu untuk menggapai Arvin, dengan terus memegang janji kepada neneknya.


“Ayah, aku minta maaf udah jadi anak durhaka, yang selalu menghindar kalau disuruh ketemu, dan gak pernah jawab kalau ditelepon. Soalnya ayah juga gitu pas aku masih tinggal dirumah nenek. Ayah pasti benci aku kan? Karena aku lahir dan bikin semuanya jadi rumit. Kalau aja yang meninggal itu aku, bukan anaknya ibu. Pasti semuanya gak akan kayak gini. Ayah bisa balik lagi sama ibu, dan mutusin hubungan sama mama dengan mudah.”


Arvin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terisak. Dia tidak peduli lagi tentang menjaga citra sebagai cowok keren. Saat ini dia hanya ingin menangis dan jadi anak kecil didepan ayahnya.


“Aku juga maafin ayah kok, karena udah nyakitin ibu, mama dan aku. Tapi sekarang aku sedikit ngerti, karena pernah berada diposisi ayah. Punya perasaan sama dua orang perempuan sekaligus. Untungnya aku masih waras, aku lebih milih salah satunya. Aku akan terus milih Nara. Ayah jangan khawatir, aku selalu baca pesan norak dan kolot yang ayah kirimin tiap hari kok. Malah gak pernah aku hapus satupun. Aku bakal jadi laki-laki yang lebih baik dari ayah, bertanggung jawab, gak ingkar janji, dan setia. Aku juga bakal sering pulang dan ketemu ibu, kayak yang ayah selalu bilang, biar ibu gak sedih. Ayah juga cepetan pulang ke rumah, ya?”


Arvin menghabiskan 1 jam untuk berbicara dan menangis di depan ayahnya yang terus membisu. Dia tidak tahu apakah ayahnya bisa mendengarkan semua hal yang dia ucapkan. Tapi perasaannya lega. Harusnya dari lama dia melakukan ini. Harusnya setiap saat dia bisa melakukannya. Sekarang ayahnya tidak bisa mendengarkannya dengan baik, memeluknya, dan mengatakan semua hal akan baik-baik saja.


Setelah berkunjung menemui ayahnya, Arvin melanjutkan perjalanan ke kantor. Langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya. Karena pada akhirnya beban berat yang terus dipikulnya sudah dia lepaskan.


Akhirnya dia bisa meminta maaf dan memaafkan ayahnya, atas semua perbuatan yang pernah dilakukannya dimasa lalu. Mulai hari ini Arvin akan memperbaiki hubungan dengan orang tuanya. Dia berharap ayahnya bisa sadar kembali, dan hadir ditengah keluarga lagi.


Arvin baru saja tiba dikantor. Tapi Adam sudah dengan sigap menyerahkan banyak dokumen yang harus diperiksanya di meja. Sebelum pergi, sekretarisnya itu hanya menyunggingkan cengiran yang dibalas dengan embusan napas berat oleh Arvin. Setiap hari pekerjaannya bertambah banyak saja. Belum sempat duduk dikursinya, ponselnya bergetar. Pesan dari Audrey masuk.


[Audrey : Vin, ayah baru aja meninggal.]

__ADS_1


                                        


__ADS_2