
Selama tinggal ditempat Arvin, Nara tidak pernah menerima tamu sekalipun. Baru kali ini ada orang yang berkunjung dan membunyikan bel. Ketika melihat di layar interkom, Audrey sudah berdiri di depan pintu. Lekas saja Nara membukanya.
Sepanjang karirnya sebagai sekretaris Candra maupun Arvin, Nara tak pernah terlalu dekat dengan keluarga Aditama. Tentu saja selain Lena, yang sesekali mengawasi jadwal dan menanyakan tentang kondisi suaminya yang beberapa tahun terakhir kurang sehat karena penyakit jantungnya.
Melihat Audrey datang membuat Nara agak bingung. Sudah jelas dia kemari bukan untuk menemui Arvin. Dia bisa saja langsung ke kantor karena sekarang Arvin setiap hari kerja berada disana.
Nara mempersilakan Audrey masuk, kemudian menyajikan minuman untuknya yang sekarang sedang duduk di sofa. Mengedarkan pandangan menyelidik ke tempat adiknya tinggal.
“Wah sekarang lebih rapi ya tempatnya, dulu biarpun ada Bi Marni yang suka dateng beresin tetep aja keliatan berantakan.” Kata Audrey berkomentar. “Bagus deh, sekarang Arvin udah ada yang ngurusin.” Lanjutnya sambil tersenyum menatap Nara.
Nara hanya bisa membalas dengan senyum canggung. Mungkin memang benar, sekarang penthouse ini lebih layak ditinggali dan sangat rapi.
Bi Marni datang dan membersihkannya 3 kali seminggu, tapi Nara yang lebih banyak mengatur barang-barang Arvin hingga lebih teratur seperti sekarang. Padahal sebelumnya, tempat tersebut nyaris seperti kontrakan tak terurus.
Arvin sangat jago memasak apa saja, bahkan semua yang dia masak rasanya lebih enak dibandingkan dengan buatan Nara. Tapi dia sangat jorok dan tidak teratur. Terkadang Nara kesal sendiri karena dia sering menyimpan barang-barangnya sembarangan dan tidak merapikannya kembali.
Sebenarnya Nara tidak bertingkah sebagai istri dengan merapikan semua kekacauan yang dibuat Arvin, dia hanya risih saja melihat tempat yang dia tinggali tidak tertata rapi.
“Gimana kabar kamu? Kandungan kamu sehat, kan? Sekarang udah berapa bulan sih?” Kata Audrey penasaran.
“Baik kok. Sekarang usianya sekitar 9 minggu.” Jawab Nara canggung.
“Pantesan belum kelihatan gede.” Kata Audrey sambil bercanda menunjuk perut Nara, “Aku sebenernya kesini mau ngasih titipan dari Ibu buat kamu. Katanya sih hadiah pernikahan. Maaf ya baru ngasih sekarang, ayah sempet drop kondisinya sekitar semingguan, jadi sibuk ngurusin ayah deh.” Lanjutnya sambil menyerahkan paper bag berwarna putih pada Nara.
“Dari Bu Lena?”
__ADS_1
“Iya lah, emangnya ibuku siapa lagi.”
Nara menerima hadiah tersebut dengan canggung. Seingat Nara, saat pernikahannya dengan Arvin, Lena dan Angga tidak hadir. Hanya Arvin, Audrey dan Candra saja yang datang ke rumah. Nara juga sudah menduga bahwa Lena tidak akan menerimanya sebagai menantu, hal tersebut sebenarnya tidak pernah Nara pikirkan sama sekali. Dia tidak terlalu peduli.
Namun melihatnya mengirim hadiah seperti ini, Nara sedikit bingung dengan maksud Lena sebenarnya. Arvin dan Lena jelas tidak memiliki hubungan yang baik.
Mengingat bagaimana dia mengabaikan Arvin saat dia harus di rawat di rumah sakit dan kenyataan bahwa Arvin adalah anak dari selingkuhan suaminya. Semua informasi tersebut membuat Nara juga tidak terlalu memusingkan hubungan menantu-mertua dengan perempuan tersebut.
“Arvin baik kan sama kamu?” Tanya Audrey tiba-tiba.
Nara terdiam sejenak, mencoba mencerna pertanyaan tersebut. Apakah perilaku Arvin terhadapnya akhir-akhir ini? Atau keseluruhan perilakunya berdasarkan penilaian Nara?
Menurutnya Arvin br*ngesk. Makhluk bejad yang sangat Nara benci dan ingin sekali keberadaannya Nara lenyapkan. Tapi dia tidak bisa mengatakan itu pada kakak Arvin. Tentu saja. Hanya anggukan pelan yang bisa dia berikan.
Audrey tersenyum lega melihat anggukan ragu dari Nara, “Kita kaget banget pas Arvin ngasih kabar mau nikah karena ngehamilin cewek. Keluarga udah hapal dari dulu Arvin pacaran sama banyak cewek, entah siapa ceweknya kita juga gak pernah tau, karena ga pernah dikenalin dan paling cuma pacaran sebentar, abis itu putus. Beberapa kali juga ada yang ngaku dihamilin sama Arvin, dan gak terbukti kebenarannya. Kabar kayak gini tuh rasanya semacam lelucon aja buat kita. Cuma kali ini karena Arvin sendiri yang bilang, bukan dari gosip, desas-desus, atau laporan orang. Kita jadi percaya. Meskipun masih susah buat menerima.”
“Aku minta maaf karena udah ngerusak nama baik keluarga Aditama.” Kata Nara merasa bersalah. Dia adalah bagian dari kekacauan dan aib keluarga tersebut. Perbuatannya yang sembrono mengarahkannya pada kejadian tak diinginkan ini.
“It’s okay. Nasi udah jadi bubur dan si Arvin emang t*lol banget sih sampe ga bisa mengendalikan diri kayak gitu.” Kata Audrey tertawa geli, “Aku gak mau bahas itu lagi, what’s done is done. Sekarang fokus kedepan aja. Karena kamu udah resmi jadi bagian dari keluarga, kita mau ngadain.. mungkin sejenis penyambutan kali ya. Menantu pertama keluarga Aditama. Kita udah nyiapin acara makan malam sama keluarga besar dan beberapa rekan bisnis ayah. Hari sabtu ini, gimana?”
Nara terperanjat dengan undangan tersebut. Makan malam dengan keluarga besar dan rekan bisnis Candra. Terdengar seperti arena yang khusus disediakan untuk mengejek dan mencaci seonggok aib keluarga ini.
Nara tidak mau!
Jelas tidak mau menghadiri acara seperti itu.
__ADS_1
Memikirkan harus berkenalan dengan seluruh keluarga Arvin, menjadikannya sasaran tembak untuk segala hinaan karena perbuatan tak beradabnya bersama Arvin. Nara tidak bisa. Hatinya masih lemah karena semua pembicaraan buruk tentangnya seperti yang dia dengar saat acara musik kemarin.
Apalagi ini adalah acara keluarga. Hinaan yang akan dia dapatkan bahkan 1000 kali lebih pedas daripada yang diterimanya kemarin. Bayangkan saudara-saudara Arvin akan menyebutnya apa. Penggoda, si gila harta, penipu, wanita murahan, apalagi? Nara tidak sanggup membayangkannya.
“Harus ya ada acara kayak gitu?” Tanya Nara ragu.
“Sebenernya ibu sih yang mau. Biar kalian bisa kenal dengan keluarga dan rekan bisnis ayah yang udah kita anggap keluarga. Arvin calon penerus keluarga Aditama selanjutnya, karena kamu istrinya otomatis kamu juga harus dikenalin dong sama mereka.”
Arvin calon penerus keluarga Aditama?
Tunggu!
Bukankah seharusnya Angga yang melanjutkan legasi keluarga tersebut? Angga lah anak laki-laki tertua keluarga Aditama? Kenapa harus Arvin?
Nara memang tahu bahwa Candra sangat menginginkan Arvin masuk ke perusahaan. Hingga Nara harus meneror laki-laki itu setiap hari agar bersedia bekerja. Bahkan saat Candra jatuh sakit orang pertama yang ditunjuk menggantikannya adalah Arvin, bukan Angga.
Setelah melihat bagaimana kinerja Arvin, Nara sebenarnya mengerti kenapa dia menunjuk Arvin. Hanya saja tak pernah terpikirkan bahwa Arvin juga yang akan ditunjuk sebagai penerus keluarga, yang seharusnya diturunkan pada Angga. Anak laki-laki tertua keluarga tersebut.
Banyak pertanyaan sekarang muncul dikepala Nara, selain keraguan dan ketakutan yang tiba-tiba membumbung tinggi dihatinya karena undangan acara keluarga tersebut. Dia tidak tahu harus bagaimana. Rasanya ingin lari saja dan bersembunyi ditempat paling terpencil dibumi.
Berhadapan dengan publik adalah salah satu ketakutan Nara sekarang. Setelah kejadian di Groove Bar, saat semua mata menatap kearahnya. Memberinya label-label menakutkan. Nara ingin semua keberadaannya rahasia. Hingga anak ini lahir, Nara berharap tidak ada yang mengusik atau memperhatikannya.
Jelas acara seperti ini amat sangat merepotkan untuk Nara. Dia tidak mau. Nara sangat ingin menolaknya. Tapi dia segan untuk mengatakan hal tersebut pada Audrey. Mereka belum terlalu dekat. Nara juga sangat takut jika harus menolak acara yang disiapkan khusus oleh Lena.
Sial!
__ADS_1
Kenapa hidupnya tiba-tiba dipenuhi masalah seperti ini? Baru saja Nara merasa lega dan sedikit berbahagia karena bisa kembali berkomunikasi dengan Reza. Sekarang dia harus menghadapi pertemuan menyebalkan dengan salah satu keluarga konglomerat dari laki-laki yang sangat dibencinya.