
“Ibu udah gak ada, Vin.” Ucap Keysa sesaat sebelum tangisnya pecah. Dia melorot jatuh di depan ruang ICU.
Arvin masih terengah karena berlari menuju tempat Keysa berada. Melihatnya hancur dan bersedih seperti itu membuatnya bersimpati. Arvin segera menarik tubuh Keysa hingga berdiri dan memeluknya. Tubuh ringkihnya bergetar hebat karena tangisan kehilangan.
Keysa nyaris tak bisa berkata apa-apa selain menjerit histeris. Kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang dia punya. Meskipun saat ini dia masih memiliki om dan tante serta sepupu-sepupu di luar kota, rasanya tidak akan sama. Karena saat ini Keysa baru saja kehilangan ibunya, dunianya.
Semua kejadian ini masih membuat Keysa shock. Dia hanya duduk di kursi ruang tunggu ICU. Tatapannya kosong, dia hanya mematung dan termenung disana. Sementara Arvin sibuk mengurus kepulangan jenazah ibunya. Menelepon orang-orang yang bisa membantu mempersiapkan rumah duka, dan juga menghubungi keluarga Keysa yang lain.
Saudara jauh Keysa tiba dari luar kota pukul 03.00 dini hari. Langsung menangis menghampiri jenazah ibu Keysa yang telah dikafani. Om dan tantenya satu persatu memeluk dan menguatkan hati Keysa. Tapi dia hanya diam tak merespon apapun.
Dia tidak beristirahat, tidak tertidur, hanya menatap wajah ibunya yang terbaring tak bernyawa dikelilingi orang-orang yang mendoakannya. Sambil terus menggenggam erat tangan Arvin yang berada disisinya
Ibu Keysa dikebumikan pukul 07.00 pagi. Suasana duka meliputi pemakaman tersebut. Keysa yang sepanjang malam diam, menangis histeris kembali setelah sedikit demi sedikit tanah mulai menutupi tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa. Keysa tak sadarkan diri karena menahan kesedihan.
Semua proses pemakaman berjalan lancar selain itu. Kini Keysa sudah sadar dan berada di dalam kamar bersama sepupunya serta saudaranya yang lain. Setelah terus mendampingi Keysa semalaman, Arvin bisa sedikit terbebas sekarang. Dia memilih duduk di kursi plastik yang sudah disediakan diteras.
Masih banyak tetangga yang berada disana. Mengobrol setelah pemakaman usai. Beberapa tamu juga baru hadir disana. Mengucapkan belasungkawa pada keluarga.
“Lo disini dari kapan, Vin?” Tanya Restu yang baru tiba beserta anak Fortunata lain.
“Dari malem, pas Key ngasih tau ibu masuk ICU. Lo tau darimana?” Balas Arvin. Dia belum sempat menghubungi siapa-siapa karena menemani Keysa dan membantu mengurus pemakaman ibunya.
“Liat story IG-nya si Key tadi pagi. Telat ya? Udah dimakamin?” Sambung Gege.
“Hmm.. Baru aja sih. Kedalem dulu sana.”
Mereka segera berjalan masuk ke dalam rumah untuk menemui Keysa dan mengucapkan belasungkawa juga, seperti tamu lain yang hadir kesana.
“Lo dari malem disini, Istri lo gak apa-apa nih?” Tanya Aldi yang berada di barisan paling belakang, menepuk dada Arvin kemudian berlalu mengikuti yang lain.
Mati!
__ADS_1
Arvin sampai lupa belum menghubungi Nara. Dia terlalu fokus mengurus dan menemani Keysa. Tadi malam Arvin juga tidak memberi tahu Nara bahwa dia pergi, Arvin tidak ingin membangunkan Nara yang sedang tertidur malam itu. Dia kira akan kembali dalam beberapa jam tanpa disadari oleh Nara. Ternyata Arvin malah terjebak hingga pagi karena saat sampai ibu Keysa sudah meninggal.
Perasaan panik mulai menguasai Arvin saat mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Jam dilayar menunjukkan sudah pukul 08.00. Nara jelas sudah bangun sejak pagi. Dia pasti bingung melihat Arvin tiba-tiba menghilang. Tapi Nara sama sekali tidak menghubunginya untuk bertanya keberadaannya. Arvin merasa aneh dan resah.
“Ngapain lo kesini?” Tanya Arvin kaget saat melihat Rivanno datang. Dia menunda sejenak panggilan telepon yang akan dia lakukan untuk Nara ketika melihat wajah sepupunya itu.
“Takziah lah. Lo ngapain sendiri kesini? Istri lo mana?” Tanya balik Rivanno.
Arvin tidak menjawab. Dia merasa kesal pada sepupunya itu dan kesal pada dirinya sendiri yang sesaat melupakan keberadaan Nara.
“Ah ga usah dijawab deh. Gue sebelum kesini telepon Key dulu. Katanya lo nemenin dia dari malem. Duh so sweet banget sama mantan. Gak inget lo udah kawin?” Kata Rivanno sambul tersenyum puas.
“Coba gue tebak. Nara gak tau lo kesini kan? Wah gawat. Lo udah mulai ada gejala-gejala kayak bokap lo, Vin.” Lanjutnya sambil terkekeh, kemudian meninggalkan Arvin yang masih kesal.
Arvin dengan cepat menekan tombol telepon, menghubungi Nara. Tapi tak ada jawaban apapun. Ponselnya aktif, tapi Nara tidak mengangkat panggilan tersebut.
[Arvin: Kamu udah bangun? Maaf aku gak ngasih tau kamu dulu tadi malam pas pergi. Aku lagi dirumah temen. Ibunya meninggal]
[Arvin: Nara, kamu kenapa gak angkat teleponnya? Kamu udah bangun, kan?]
Pesan kali ini pun tidak dibaca oleh Nara.
Arvin semakin panik dan bersalah. Dia segera masuk ke dalam rumah, menemui Keysa yang masih duduk lemah di ranjangnya bersama sepupunya.
“Key, aku mau pamit pulang.” Kata Arvin dari ambang pintu.
Keysa menatap Arvin sedih dan tak rela. Seperti memohon agar Arvin terus berada didekatnya. Keysa menyuruh sepupunya meninggalkannya berdua dengan Arvin. Kini Arvin duduk disalah satu kursi dekat meja rias Keysa.
“Kamu mau tinggal sebentar lagi gak, Vin? Sampe sore ini aja. Please.” Kata Keysa memohon nyaris menangis sambil mendekat ke arah Arvin.
“Ngga. Aku harus pulang, Key. Aku tadi malem gak ngasih tau dulu sama Nara kalau aku pergi ketemu kamu.”
__ADS_1
“Bisa gak kita gak ngomongin dia dulu? Yang lagi berduka dan butuh kamu itu aku, Vin!” Ucap Keysa frustrasi.
“Key, diluar banyak sepupu, saudara, dan temen-temen kamu. Kamu udah gak butuh aku lagi, mereka bisa nemenin kamu sekarang. Kamu bakal baik-baik aja sama mereka.”
“Aku gak baik-baik aja kalau gak sama kamu, Vin!” Bentak Keysa. “Please sehari ini aja, Vin!” Lanjut Keysa mulai menangis.
“Jangan kayak gini, Key. Aku gak bisa terus ada buat kamu, aku udah nikah dan punya istri.” Kata Arvin menggenggam tangan Keysa yang berdiri dihadapannya.
“Kamu gak tau kan, Vin? Ibu terus-terusan manggil kamu sebelum gak sadar dan masuk ICU. Dia terus nanyain kamu, nanyain kapan kita nikah, kapan kamu ke rumah ngelamar aku. Sampe dia meninggal, dia gak pernah bisa liat aku nikah sama kamu, Vin.”
“Aku minta maaf karena gak bilang yang sejujurnya sama ibu kamu kalau aku udah nikah dan bikin dia berharap sejauh itu. Tapi kamu tahu dari awal hubungan kita gak akan sampai situ kan, Key?”
“Kenapa, Vin? Aku udah bilang aku bisa jadi istri kedua kamu. Aku gak dapat pengakuan apapun juga gak apa-apa. Kita cuma nikah siri juga gak masalah. Aku butuh kamu, Vin. Aku udah gak punya siapa-siapa.”
Arvin menghela napas, “Keysa, stop! Aku gak mungkin ngelakuin hal yang sama kayak ayahku. Nikah sama dua perempuan sekaligus. Aku udah gak punya perasaan apa-apa sama kamu. Jadi berhenti memohon kayak gini sama aku.” Kata Arvin, bangkit dari kursinya dan menatap lekat mata Keysa.
“Aku bersimpati sama kesedihan dan kehilangan kamu karena kita udah kenal dari lama. Kamu dulu spesial buatku. Tapi kita udah dewasa dan perasaan kita juga udah berubah. Aku udah gak bisa jalanin hubungan apapun sama kamu.”
“Hati aku gak berubah sama kamu, Vin.”
“Kalau gitu aku doang yang berubah, dan aku gak bisa lanjutin buat terus ngasih kamu harapan. Aku pamit ya.” Arvin memeluk Keysa yang sekarang menangis menjadi-jadi. Baru akhirnya dia bisa meninggalkan tempat itu.
Arvin merasa bersalah, sedih, kasihan. Keysa selalu spesial dihatinya. Ada sudut didalam hatinya khusus untuk gadis itu. Tapi perasaannya tak sebesar obsesinya pada Nara untuk saat ini.
Padahal berulang kali Nara menolaknya. Berulang kali Nara menyakitinya. Tapi anehnya Arvin tidak bisa berhenti terus mengejarnya. Memaksanya untuk jatuh hati juga seperti yang Arvin rasakan.
Mungkin karena malam itu, ketika untuk pertama kali Arvin menyentuhnya. Dia merasa saat itu juga Arvin telah memiliki Nara. Hanya untuk dirinya sendiri.
Telepon masih tertempel ditelinga Arvin. Berkali-kali menghubungi ponsel Nara tapi tak ada balasan juga. Bahkan hingga dia sudah berjalan dilorong menuju penthouse-nya, Arvin terus menelepon.
Tapi ketika sampai disana, hanya hening yang menyambutnya. Nara tak ada dimana-mana.
__ADS_1