Halo Arvin!

Halo Arvin!
Sebuah Saran


__ADS_3

Keputusan Nara untuk mempertahankan kehamilannya adalah kemajuan dihubungan mereka. Arvin tidak akan meminta lebih daripada itu. Cukup hanya itu saja.


Keinginannya yang lain seperti memiliki keluarga yang harmonis, menjadi ayah dan ibu yang baik, anaknya tumbuh dengan orang tua yang lengkap adalah permintaan paling utopis. Apalagi yang dihadapinya adalah Nara.


Selama beberapa bulan bekerja dengan perempuan itu, Arvin sangat tahu bagaimana sifat Nara. Persisten dan keras kepala. Mungkin karena hal itu juga yang membuat ayahnya mengirimkan Nara untuk memaksanya bekerja menggantikannya.


Jauh sebelum ayahnya tumbang karena penyakit jantungnya kambuh, Nara sudah lebih dahulu menerornya dengan pesan dan telepon setiap hari. Menanyakan kesediaannya bergabung dengan perusahaan.


Puncaknya adalah saat Nara datang ke penthouse-nya. Membuat Arvin tak punya pilihan lain untuk mengikutinya, dia terlalu lelah dengan semua teror yang dilakukan Nara.


Sialnya pertemuan itu malah membuat hidupnya semakin digulung kerumitan hingga hari ini. Berhadapan dengan Nara adalah salah satu bencana untuk Arvin. Apalagi sekarang dia menikahinya. Dunianya nyaris kiamat.


Tapi tetap saja Arvin melakukannya, bertanggung jawab pada perbuatannya yang jahat. Dia tahu sedang menghadang ombak sebesar apa, tapi nilai moralnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kemarahan Nara.


Dia akan terus bertanggung jawab, bukan semata-mata karena ingin menjadi pahlawan. Bukan juga untuk Nara. Tapi mungkin untuk dirinya sendiri. Arvin tidak ingin merasa bersalah seumur hidupnya karena meninggalkan Nara dalam keadaan sulit seperti itu, apalagi mendorongnya mengakhiri kehamilannya.


Dia ingin terus berada disisinya sampai akhir, sampai anaknya lahir. Arvin juga akan merawat anak itu sendiri kalau Nara tak mau.


...****************...


Hooeeek Hoeeek


Seluruh isi perut Nara tumpah ke lubang kloset. Dia terduduk lemas karena terus-terusan muntah hampir setengah jam. Kini dia hanya memuntahkan air saja, tak ada apa-apa lagi yang bisa dikeluarkan. Tapi rasa mualnya tak kunjung hilang.


Sekarang baru jam 3 pagi, Arvin berdiri di samping Nara. Bersandar ke dinding dengan muka mengantuk dan rambut yang acak-acakan. Menggamit botol air minum dan berbagai minuman kemasan rasa buah. Ditangannya dia sudah menggenggam handuk bersih dan minyak aroma terapi.


Sesekali tangannya yang lain memijat tengkuk Nara, yang sekarang tertunduk menghadap kloset dan memuntahkan cairan bening. Nara berhenti mengeluarkan isi perutnya. Berbalik kemudian bersandar di dinding dekat Arvin.


“Udah?” Tanya Arvin ikut berjongkok disebelah Nara. Kemudian menyeka bibir Nara dengan handuk bersih.


Wajah Nara pucat, kepalanya pusing, perutnya rasanya tak karuan. Mengingatkan Nara pada satu penggal lirik lagu Joshua Suherman, diobok-obok. Seperti itu mungkin tepatnya sekarang keadaan perut Nara.


Dia ingin mengeluarkan semua isinya, bahkan organ-organnya sekalian kalau bisa. Seluruh tubuhnya sangat tidak nyaman. Apa semua perempuan hamil seperti itu? Gila! Nara rasanya tidak sanggup.


“Nih minum dulu.” Kata Arvin menyerahkan botol air mineral pada Nara yang kelelahan.


“Gak mau yang ini.” Protes Nara, menyingkirkan botol air mineral dan mengambil minuman rasa apel ditangan Arvin yang lain. Kemudian meminumnya hingga habis.

__ADS_1


Nara lelah dan masih mengantuk. Perlahan rasa mualnya mulai berkurang setelah meminum minuman rasa apel tadi. Dia enggan beranjak. Masih menyandarkan punggung dan kepalanya di dinding toilet. Tapi matanya sedikit demi sedikit mulai tertutup.


“Ck.. Jangan tidur disini dong! Gimana sih. Ayo pindah!” Kata Arvin.


“Ga mau, gue pusing jalannya. Gue disini aja biar gampang kalau mau muntah lagi. Capek tau bolak-balik ke toilet!” Kata Nara kesal.


“Ya udah, nanti gue gendong lo kalau mau muntah lagi. Jangan tiduran disini!”


“Ih lo bawel banget sih! Ya udah lo aja sono pergi. Gue gak minta ditungguin juga.”


Arvin langsung menggendong Nara, membaringkannya di tempat tidur. Walapun rambutnya dijambak dan dia harus menerima cubitan serta cakaran protes dari Nara dileher dan lengannya. Arvin tidak peduli, dia sangat mengantuk. Ingin segera tertidur lagi.


...****************...


“Woow.. Liat nih, gengs. Leher Arvin merah-merah. Kayaknya abis main permainan seru nih tadi malem.” Kata Gege berseloroh.


“Pala lo permainan seru!” Balas Arvin galak sambil menyimpan gitarnya di dekat meja bar. “Gue beneran di cubit dan di cakar. Rambut gue kayaknya bakal botak dijambakin sama dia terus.” Lanjut Arvin bersungut-sungut.


“Wow dijambak, bro. Gila, liar juga ya istri lo. Kelihatan kayak pendiem gitu tapi agresif di ranjang.” Kata Gege bertambah berani.


“Sekali lagi lo buka mulut. Gue timpuk lo pake kursi!”


“Ngga. Sama aja. Cuma sekarang dia udah menerima kehamilannya. Ga nyoba buat gugurin lagi kayak dulu. Tapi tetep dia gak suka sama gue.”


“Jadi lo berharap dia suka sama lo?” Kata Eka kemudian tertawa.


 “Ya bukan suka kayak gitu maksud gue. Seengaknya ga usah marah-marah, atau bar-bar lah sama gue. Padahal gue udah tahan-tahan dan baik banget sama dia.” Protes Arvin.


“Susah sih cuy. Dia dasarnya udah benci banget sama lo.”


“Nggak juga ah. Benci sama cinta tuh cuma kepisah garis tipis doang. Awalnya benci bisa jadi cinta loh, Vin.” Kata Aldi sok bijaksana.


“Lo sendiri gimana, perasaan lo sama dia?”


Arvin berpikir sejenak, dia tidak pernah memikirkan tentang perasaannya pada Nara. Semua hal yang dilakukannya untuk Nara hanyalah bentuk tanggung jawab dan berasal dari perasaan bersalahnya saja. Tak lebih dari itu.


“Gue biasa aja sama dia.”

__ADS_1


“Yakin? Ga ada perasaan deg deg serr gitu?”


“Ngomong apa sih lo, Nj*ng? Pake istilah manusia coba kalau ngomong tuh!”


“Kalau sa nge?”


“Tiap hari.” Jawab Arvin enteng sambil tertawa. Mereka semua ikut tertawa mendengarnya.


Arvin tidak berbohong. Semenyebalkan apapun Nara, tetap saja dia sangat cantik dan menggairahkan. Matanya tidak buta dan Arvin juga laki-laki yang normal. Melihatnya tertidur setiap malam dengan gaun tidur tipis, setipis iman Arvin saat melihat lekukan tubuh Nara.


Apalagi melihat kulit putihnya. Arvin tahu bagaimana rasanya, lembut seperti awan. Kalau dia sedang tidak waras, rasanya ingin menerkam Nara yang tidur disebelahnya setiap malam. Tapi dia berusaha menahannya. Untuk kedamaian bersama.


“Tapi kan sekarang lo udah halal, Vin. Minta jatah sesekali gak apa-apa dong.”


“Iyee. Paling gue langsung di gaplok. Terus dia ngedrama lagi gak abis-abis kayak cerita komik One Piece. Cape gue ngadepinnya. Ogah.”


“Sumpah liat lo kayak gini lucu sih, Vin. Biasanya paling cuek urusan cewe.”


“Yaa gimana. Gue cowo yang bertanggung jawab.”


“Najis! Hahaha”


“Biasanya dikejar, sekarang pingin mengejar dan caper sama cewe. Wah istri lo ras terkuat berarti ga langsung suka sama lo.”


“Gue gak ngejar dia ya . Mohon maaf.”


“Ah tapi menurut gue lo juga demen sih sama dia. Kalau ngga, pasti udah lo tinggalin kayak mantan-mantan lo kalau udah bikin lo pusing.”


“Gak tau ah, yang penting dia lahiran lancar. Udah. Gue ga mau mikirin apa-apa lagi.”


“Tapi kalau dia ga enjoy dan stress mulu bareng lo nanti bahaya buat kandungan loh, Vin.”


“Tuh dengerin petuah Mas Aldi, bapak of the year. Bawa kesini aja, Vin. Liatin lo nge-band, kan biasanya cewe-cewe langsung nyangkut gitu abis liat lo maen. Apalagi kalau lo nyanyi dipersembahkan khusus buat istri tercinta. Wah udah lah langsung kayak kupu-kupu tebar feromon.” Usul Gege.


“Iya ajak sini aja. Cewek hamil butuh banyak dikasih hiburan.”


Mungkin saran dari teman-temannya ada benarnya juga. Mengajak Nara menonton acara music dan mendengarkannya menyanyi bisa membuat hatinya terhibur.

__ADS_1


Meskipun Nara sekarang tidak menangis setiap malam seperti minggu pertama mereka menikah, dia tetap saja belum berubah. Masih saja sensitif berhadapan dengan Arvin. Bukan berarti Arvin ingin diperlakukan romantis seperti layaknya pasangan. Setidaknya mereka bisa berhubungan baik hingga anak dalam kandungan Nara lahir.


__ADS_2