Halo Arvin!

Halo Arvin!
Utuh


__ADS_3

Memikirkan tentang masalah sikap dan penolakan Nara membuat Arvin dadanya sesak dan kepalanya nyaris pecah. Dia juga tidak mengerti kenapa merasa harus mempertahankan hubungan tak jelasnya dengan Nara. Mereka dipersatukan di pernikahan hanya karena seorang bayi sedang tumbuh di dalam perut Nara. Selebihnya tak ada alasan lain lagi.


Tapi setiap hari Arvin semakin meragukan dirinya sendiri. Semua yang dirasakannya bukan hanya perasaan bersalah, bukan pula tentang tanggung jawab. Namun perasaan khawatir yang lama kelamaan tumbuh menjadi kasih sayang. Akhirnya Arvin harus mengakui, hal yang dia inginkan bukan hanya melihat anaknya lahir dan tumbuh. Melainkan melihat Nara juga hidup bersamanya.


Arvin meyakini Nara akan baik-baik saja berada disisinya. Harus baik-baik saja. Dia akan menyingkirkan semua hal yang membahayakannya, membuatnya sedih, dan terluka. Meskipun hingga sekarang Nara masih tetap memalingkan perasaannya.


Sekali ini dalam hidupnya. Dia akan mengejar seorang perempuan. Karena dia sekarang menempati posisi paling istimewa. Sebagai ibu dari anaknya. Sebagai satu-satunya orang yang membuat hatinya tergerak hingga hilang rupa.


Arvin tidak peduli dengan sorak sorai dan keriuhan yang didengarnya dibelakang. Teman-temannya sekarang malah memainkan musik latar seakan Arvin sedang beradu peran dan berdrama. Dia tidak peduli.


Saat ini yang sangat penting adalah perasaan lembut yang dinikmatinya saat menyentuh Nara. Selalu saja seperti ini, seperti mengapung ke udara. Menyentuh bibir Nara yang lembut dan manis membuat Arvin tak bisa fokus pada hal lain disekelilingnya. Dia terus memagutnya lama. Membuat kupu-kupu beterbangan di perutnya.


Arvin menghentikan ciumannya. Memberikan napas untuk Nara yang masih terkesiap. Terlihat bingung dengan yang terjadi. Arvin sekarang bisa melihat wajah Nara dari dekat matanya yang bening berair mata, hingga meleleh ke pipinya. Bibirnya masih merah bekas tanda cinta yang diberikan Arvin tadi.


Sial!


Melihatnya kebingungan seperti ini sangat lucu. Arvin tidak bisa menahannya. Dia mendaratkan kembali kecupan ke bibir Nara. Kali ini lebih dalam, lebih berperasaan. Sekilas Arvin bisa melihat mata Nara terpejam, menikmati sentuhannya. Tangannya sekarang mencengkram lengan kemeja flanel Arvin dengan erat.


Iya. Iya.


Arvin tahu Nara menikmatinya. Dia akan membuatnya jatuh seperti apa yang dirasakan Arvin sekarang. Semakin dalam dihubungan yang tak terduga ini.


Arvin melepaskan Nara. Menatapnya lekat ke matanya.


“Gue bakal maksa lo buat sayang sama gue. Sama kayak lo maksa gue biar gantiin bokap gue di perusahaan. Gue tau lo persisten banget. Gue juga bisa lebih dari itu. Ayo besarin anak kita bareng-bareng.” Bisik Arvin. Tak ada jawaban dari Nara. Dia masih mencerna semua hal yang terjadi padanya di momen tersebut.

__ADS_1


Semua orang sepertinya menggila karena aksi Arvin kali ini. Bagaimana tidak, orang seperti Arvin menyatakan perasaan, mencium seseorang, dan menantang orang yang bergunjing tentang istrinya dipublik seperti sekarang. Sangat jauh dari kebiasaannya. Riuh dan seruan terdengar nyaring meneriakkan namanya.


“Cium lagi ciuum!” Terdengar teriakan dari beberapa orang yang menikmati drama manis tersebut. Arvin hanya menyunggingkan senyum puas. Sementara Nara masih belum sadar dan menapaki bumi setelah diterbangkan oleh kecupan Arvin.


Tak semua orang berbahagia tentu saja. Seorang perempuan cantik yang berada di salah satu kursi penonton mendengus kesal melihat tontonan barusan. Dia segera pergi dari kerumunan. Meninggalkan acara musik tersebut dengan perasaan yang galau.


...****************...


Nara langsung membaringkan diri dikasur setelah pulang dari acara musik. Hati dan pikirannya riuh, kacau, dan kalut. Semua kejadian tadi membuatnya bingung. Perasaan aneh bermunculan dihatinya.


Untuk saat ini Nara tidak ingin berkata apapun pada Arvin. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Meskipun Arvin sedari tadi terus memanggil Namanya. Nara hanya ingin istirahat tanpa memikirkan kejadian tadi.


Kenapa Arvin mengatakan hal-hal seperti itu?


Kenapa Arvin menciumnya di depan orang banyak?


Selama hampir setengah jam Nara mencoba memejamkan mata. Tapi bayangan Arvin berkelebatan membuatnya terjaga dan tak bisa menghentikan tangisnya.


Nara masih mengingat wajah Arvin yang mendekat kearahnya. Matanya yang coklat menenggelamkannya begitu dalam. Bibirnya yang lembut dan lidahnya menelusurinya penuh perasaan.


Ini pertama kalinya untuk Nara merasakan semua sensasi itu secara sadar. Arvin jelas telah melakukannya berulang-ulang padanya ketika dia tidak sadar. Tapi bagi Nara ini yang pertama seumur hidup. Arvin selalu mengambil semua hal pertama dihidupnya.


Pintu kamar terbuka. Cepat-cepat Nara menutup mata, pura-pura tertidur. Dia belum siap menghadapi Arvin lagi dan berbicara padanya malam ini. Barikade bantal dan guling yang Nara tempatkan di tengah ranjang Arvin singkirkan.


Sekarang dia berbaring memeluk Nara dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di rambut Nara. Embusan napasnya terasa di tengkuk, membuat Nara merinding. Tapi Nara berusaha tidak bereaksi dan tetap terlihat terlelap, tidur membelakangi Arvin.

__ADS_1


Tangan Arvin menelusuri perut Nara. Mengelusnya berulang-ulang, pada perut yang sekarang sudah tidak lagi rata itu. Meskipun belum membesar, tapi perubahan diperutnya kentara.


“Nara, aku mau besarin anak ini bareng sama kamu.” Ucap Arvin lembut, Nara hampir bisa mendengar deru napasnya ditelinga. “Aku gak bisa kalau sendirian. Dia butuh ibu. Butuh kamu. Mungkin dia bisa punya ibu tiri, punya pengasuh yang baik. Tapi tetep ga bisa gantiin ibu kandungnya, kan?”


Nara tak menjawab. Masih berpura-pura tertidur. Meskipun sebenarnya kini dia merasa sangat kacau dan bersalah.


“Kamu ngerti kan gimana rasanya diabaikan sama ibu sendiri?” Lanjut Arvin.


Seperti sebuah luka yang baru sembuh kemudian dikorek kembali. Kata-kata terakhir Arvin lantas membuat Nara terisak. Perasaan sakit tiba-tiba meranggas, luruh bersama air mata.


Nara sangat tahu. Selama hampir 2 bulan ini, Nara kehilangan sosok ibunya. Orang yang sangat dicintainya, yang paling dekat dengannya. Nara diabaikan, dibuang, dan dicampakkan di dunia antah berantah. Tanpa sekalipun berkomunikasi lagi dengannya.


Padahal Nara besar dikeluarga yang lengkap. Merasakan kasih sayang orang tua sepanjang hidupnya. Tiba-tiba saja orang tuanya berhenti memedulikannya. Hidupnya nyaris gelap. Tanpa pelita disetiap perjalanannya kini.


Nara tak sanggup membayangkan jika anaknya nanti juga merasakan kegelapan yang sama. Tanpa hadir dirinya dikehidupannya kelak.


Arvin memeluk Nara dengan erat. Merasakan tubuh kecil Nara yang gemetar karena tangisnya pecah. Arvin sangat paham luka Nara yang kehilangan kehangatan orang tua karena semua kejadian ini menimpanya. Karena kesalahan Arvin.


“Aku kira aku akan bisa ngurus anak itu sendirian. Tapi aku gak mampu dan kasih sayangku aja gak akan cukup. Dia butuh kita berdua agar tumbuh utuh."


"Aku sayang kamu, tolong jangan biarin aku ngelewatin ini sendirian. Aku juga sama takutnya kayak kamu, Ra."


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Ayooo ada yang bisa menebak ga apa yang beda dari Arvin di bab ini? 😆


__ADS_2