Halo Arvin!

Halo Arvin!
Everyone Leaves


__ADS_3

[Nara : Kak Amel, ini nomor Nara yang baru. Gimana lahirannya? Bayinya sehat kan? Ka Amel juga sehat kan?]


[Nara : Kak Naufal, ini Nara. Kak Amel udah lahiran?]


[Nara : Ibu, Ini Nara. Ibu masih marah ya sama Nara? Nara kangen ibu]


[Nara : Bapak, ini Nara. Gimana kabar, bapak? Sehat, kan? Nara boleh berkunjung ga?]


Nara terus melihat ke handphone-nya, setiap kali mengecek hanya kekecewaan yang didapatkan. Tak ada satupun anggota keluarganya yang membalas pesannya. Padahal dia sudah mengirimnya sejak jam 07.00 pagi. 3 jam tanpa balasan apapun, membuat perasaan Nara sangat sedih.


Nara mencoba berpikir positif, mungkin disana mereka sedang repot karena menemani Amelia melahirkan. Makanya tak ada waktu untuk membalas pesan Nara. Meskipun sebenarnya pilu tak bisa disembunyikan. Nara seperti sedang mengambang dilautan luas, sendirian. Menatap langit terus berganti dari siang ke malam, dari malam ke siang kembali. Tak ada orang yang menariknya menepi, mengatakan semuanya akan terlewati. Semuanya akan baik-baik saja. Bahkan keluarganya sendiri sekarang mengabaikannya.


Satu tanggal di google calendar tercetak titik berwarna hijau disana, sejak tadi pula Nara menatapnya. Peringatan yang sudah dia pasang di akunnya bahwa tanggal itu adalah hari spesial dalam hidupnya. Hari pernikahannya dengan Reza, yang sudah berlalu beberapa hari lalu.


Saat ini semua akun-akun email dan sosial medianya sudah Nara tautkan kembali. Dia membuka salah satunya, menemukan foto-foto pre-wedding dengan Reza yang masih tersimpan rapi di akun sosial medianya. Semua foto itu diambil sebelum kejadian dengan Arvin dan masalah-masalah yang timbul setelahnya. Nara tak sanggup menghapus semua foto-foto tersebut. Walapun di akun Reza sudah tak ditemukan jejak kehadiaran Nara disana. Selama 5 tahun Nara mengisi harinya, kini kenangan itu tak satupun ada dalam akunnya.


Rasanya sekarang Nara sudah tidak mampu menangis, setiap hari selama seminggu ini dia melakukannya. Yang ada hanya kekosongan besar dihatinya. Hampa yang tak bisa digambarkan. Melihat kembali masa lalu seperti potongan-potongan film yang tak beraturan.


Selain sibuk melihat galeri di sosial medianya, Nara juga membuka satu persatu pesan yang dikirimkan untuknya. Banyak diantaranya berasal dari rekan kerjanya dulu di perusahaan Arvin. Menanyakan keberadaan Nara dan alasannya resign. Seseorang tiba-tiba menghubunginya saat Nara asik scroll media sosial.


‘Halo, Kak.’


‘Gimana kabar kamu, Ra?’ Tanya Naufal.


‘Baik kok.’ Jawab Nara berbohong, mana mungkin saat ini dia baik-baik saja, ‘Kak Amel udah lahiran?’


‘Udah. Alhamdulillah, lancar. Lahir jam 6. Bayi perempuan, sehat dan lengkap.’


‘Selamat ya kak.’ Kata Nara ikut berbahagia, ‘Kak Amel lahiran di rumah sakit mana? Nanti Nara mau jenguk.’


‘Emm..Ra’ Kata Naufal berhati-hati ‘Sebaiknya kamu jangan dulu jenguk Amel, dan jangan dulu pulang ke rumah ya. Bapak sama Ibu masih menenangkan diri. Mereka juga belum berani keluar dan ngobrol sama tetangga. Kamu ngerti kan, Ra? Mereka masih bingung dan sedih sama kejadian kamu, jadi belum siap ketemu sama kamu.’ Kata Naufal canggung.

__ADS_1


Seperti air dingin yang disiramkan ke kepalanya, Nara tersadar akan kenyataan. Bapak dan ibunya pasti belum bisa melupakan dan memaafkan Nara. Dia mengecewakan. Dia bodoh. Dia orang jahat. Nara lah yang membuat bapak dan ibunya tak mampu lagi menghadapi gunjingan tetangga disekelilingnya. Anak yang membuat malu keluarga.


‘Aku ngerti, kak.’ Jawab Nara lemah.


‘Kamu disana jaga kesehatan ya. Kakak juga mungkin ga akan banyak komunikasi sama kamu soalnya bakal sibuk ngurusin bayi.’


Semua orang pergi. Semua orang mengabaikan Nara. Perasaan sedih menghantam hebat ke dada Nara. Dia menangis tersedu, ternyata masih ada sisa air matanya untuk menangisi kemalangan hidupnya. Nara sangat ingin pulang, meminta maaf bahkan bersujud di kaki kedua orang tuanya. Berharap hubungan mereka bisa membaik kembali seperti sediakala.


Tapi kenyataannya berbeda, orang tuanya belum bisa memberi ruang maaf dihatinya. Entah kecewa sebesar apa yang ditanggung oleh keduanya. Pasti sangat berat, hingga mengabaikan satu-satunya anak perempuan yang sangat mereka sayangi itu.


Nara ingin mencoba memahami perasaan kecewa dan tindakan mereka, tapi dia juga tak sanggup menghadapi perasaannya sendiri. Semua orang pergi dan Nara mengambang sendiri dilaut tanpa tepi. Kesepian menghantam tubuhnya seperti ombak dikala badai.


***


“Lo yakin? Gue ga tanggung jawab kalau ada apa-apa sama lo ya!” Kata Atika berulang kali pada Nara, sambil menyusuri gang-gang sempit di salah satu sudut Kota Jakarta.


“Gue yakin. 100%.” Jawab Nara tegas, mengikuti setiap langkah kaki Atika menuju tempat yang Nara harap bisa menyelesaikan semua masalahnya.


“Lo tau ga gosip soal lo sampe nyebar ke kampung sebelah? Mereka ngata-ngatain lo cewe gak bener. Mau banget dinikahin sama orang kaya, sampe rela dihamilin duluan.” Atika terus mengoceh.


“Yaa berhasil sih tapi gitu, ada yang sampe pendarahan berhari-hari. Padahal sih lo ga usah gugurin kandungan lo. Bapaknya kan udah mau tanggung jawab. Mana kaya raya lagi, ga akan hidup susah. Ga kayak temen-temen gue yang dihamilin pengangguran. Ah pokoknya suram lah hidupnya.”


“Gue ga mau punya anak dari dia.”


“Kenapa sih? Lagian suami lo ganteng gitu. Kalau gue mau dah punya anak dari dia, itung-itung memperbaiki keturunan.”


“ya udah kalau gitu lo aja yang di perk*sa sama dia! Jangan banyak bacot deh, Tik. Gue kesel.”


“Iyee.”


“Lo butuh duit kan buat nebus adek lo yang dipenjara karena nyopet? Kalau lo banyak tanya gue ga jadi kasih lo duit.”

__ADS_1


“Sabar atuh, neng. Kan gue cuma penasaran aja. Jadi lo sama dia tuh bukan mau pada mau gitu? Dia yang maksa?” tanya Atika lagi. Nara memelototinya agar berhenti berbicara.


Mereka sampai di sebuah bangunan yang mirip dengan klinik pengobatan alternatif, bertuliskan bahasa mandarin yang tak Nara pahami. Banyak tempelan iklan tentang pijat, penyubur, pembesar dan entah apalagi lagi tertempel didindingnya. Nara menguatkan hatinya dan masuk bersama Atika.


Hari ini Nara mengambil keputusan paling pahit dalam hidupnya. Dia akan menggugurkan kandungannya, menghilangkan jejak yang ditanamkan Arvin ditubuhnya. Nara membenci kehamilannya dan semua yang berhubungan dengan Arvin. Ingin segera menghapus keberadaannya. Kalau janinnya gugur, Arvin sudah tak ada lagi alasan untuk mengikatnya dalam pernikahan. Dan mungkin juga orang tuanya bisa menerima Nara kembali.


Arvin sudah beberapa lama memberikan kartu kreditnya pada Nara, mengatakan dia boleh membeli apa saja. Baju, perhiasan, tas, pergi ke salon, dan berwisata untuk menghilangkan penatnya karena seharian berada di penthouse. Tapi Nara tidak tertarik. Untuk pertama kalinya dia memakai kartu kredit tersebut untuk menarik uang tunai, membayar Atika dan dokter yang bisa menggugurkan kandungannya.


Ruangan disana cukup bersih, Nara segera mendaftar di tempat pendaftaran. Menuliskan nama, umur, tempat tinggal, dan umur kehamilannya. Namun sampai sekarang dia tidak tahu, tak pernah terpikir untuk memeriksakannya ke dokter. Dia tidak mau.


Setelah itu Nara dan Atika duduk dibangku panjang, bersama dua orang perempuan lain dengan dandanan yang sangat menor dan baju terbuka. Menatap Nara dari atas sampai bawah dengan curiga.


“Ibu Nara Danastri.” Panggi seorang perempuan dari dalam ruangan.


Nara segera mengikuti arah suara tersebut, masuk ke ruangan dokter. Terdapat ranjang periksa dan sebuah meja yang sekarang terisi oleh seorang laki-laki, yang Nara duga adalah dokternya. Menggunakan kacamata, jas putih, rambut cepak, dan bertubuh agak gempal.


“Berapa usia kehamilannya, Bu?” tanya dokter tersebut tanpa basa-basi.


“Saya kurang tau, dok. Tapi kurang dari 3 bulan. Saya ngelakuinnya kira-kira 1,5 bulan yang lalu.”


“Oh, masih kecil itu. Bisa pake obat aja.”


“Ga perlu diambil?” Kata Nara, dia sudah mencari informasi tentang proses pengambilan janin di internet sebelumnya.


“Ga usah. Nih saya kasih obat dan ramuan herbal biar cepet kontraksinya. Diminum 2 kali sehari. Tapi harus hati-hati ya, efeknya bisa beda ke tiap orang. Ada yang kayak datang bulan dan sakit ringan, ada yang sampe pendarahan. Kalau parah, langsung ke klinik ya.”


“Tapi berhasil kan, dok?”


“Bisa. Bisa.” Kata dokter meyakinkan.


Harga yang harus Nara bayar untuk 6 butir pil dan 3 botol ramuan sebesar 3 juta rupiah. Cukup murah ternyata. Nara kira dia harus menyerahkan paling tidak 10 juta untuk melepaskan janinnya.

__ADS_1


Untung saja Nara pulang sebelum Arvin tiba di rumah. Dia tidak akan tahu Nara telah pergi kemana siang tadi. Setelah meminum 1 pil dan 1 botol ramuan seperti anjuran dokter, Nara berbaring dikasur. Menunggu reaksi apa yang akan muncul. Namun setelah menunggu 2 jam tidak ada yang terjadi. Jangan-jangan Nara ditipu oleh klinik tidak jelas itu.


Nara terus menunggu selama beberapa belas menit kemudian. Tiba-tiba perutnya seperti ditarik tiba-tiba, keram dan rasa sakit yang tak pernah Nara bayangkan sebelumnya, semakin lama semakin semakin intens. Nara juga merasakan ingin muntah. Segera saja dia berlari ke toilet, mengeluarkan isi perutnya. Rasa sakit tak tertahankan tak kunjung hilang, hingga Nara sulit berdiri. Panik dan ketakutan menyerangnya, apakah Nara akan mati? Rasanya sangat tak nyaman. Dia terus mencengkram perutnya sambil bercucuran air mata, berharap rasa sakit itu akan segera menghilang, bersama dengan janinnya.


__ADS_2