
Nara sudah berbaring di tempat tidur. Perasaannya nyaman, hangat, dan kelelahan sekaligus. Tapi dia menyukainya. Apalagi sekarang Arvin berbaring disampingnya mengelus pipi dengan tangannya yang hangat, membuat kantuknya semakin tidak bisa tertahan.
Disaat seperti ini rasanya dunianya sempurna. Dicintai orang seperti Arvin membuatnya sangat bahagia. Dia tidak takut apapun lagi hanya dengan berada disamping laki-laki yang terus memberikan perhatian serta cintanya seperti ini.
Rasa khawatirnya juga perlahan menguap begitu saja, melihat Arvin yang kini kembali menjadi dirinya yang biasa. Tidak lagi sibuk bekerja, pulang larut, dan penuh tekanan. Hari ini dia terlihat sangat santai.
Mungkin memang benar Nara harus mempercayai Arvin dan kemampuannya menyelesaikan masalah di kantor. Dia akan fokus kembali untuk memperbaiki kesehatan serta merawat kehamilannya yang sekarang cukup bermasalah.
“Nara, kamu udah ngantuk banget?” Bisik Arvin, udara hangat berembus diwajah Nara saat laki-laki itu berbicara.
“Hmm.. Aku cape, pingin tidur banget.” Matanya mulai mengatup tertutup.
“Tapi yang tadi asyik, kan?” Goda Arvin. “Kita bisa sering-sering kayak gitu nanti.”
“Gak mau sering-sering. Akunya cape, Vin.”
“Aku kasih istirahat kok.”
“Udah ah ngomongin itu mulu. Cowok mesum!” Kata Nara kemudian tersenyum.
Arvin masih memperhatikan wajah Nara yang nyaris terlelap dengan damai. Menyingkirkan anak rambut yang terurai jatu menutupinya. Terlihat sangat cantik. Arvin tidak mengira akan sejatuh cinta ini padanya.
Memandanginya cukup lama memberikan kedamaian dihatinya. Namun sedetik kemudian teringat tentang kejadian yang mengganggunya. Pembicaraannya tadi sore dengan Rivanno membuat seketika hatinya gusar. Dia tidak ingin Nara tersakiti oleh gosip-gosip yang tidak jelas diluar sana.
“Nara..”
“Hmm?”
“Aku mau ngomong sesuatu. Kamu mau dengerin?”
“Apaan? Aku ngatuk banget, Vin.”
“Ya udah kalau gitu besok aja.”
Nara mulai tidak bisa mempertahankan kesadarannya dan terus terjatuh dalam mimpi. Meninggalkan Arvin dan semua pikiran buruknya yang sekarang berkejaran liar didalam kepalanya. Bagaimana reaksi Nara jika mengetahui Keysa bekerja dikantornya? Bagaimana jika.. Ah Menyebalkan! Arvin tidak ingin membayangkannya.
“Ra, kamu percaya kan sama aku? Kamu percaya aku sayang banget sama kamu, kan?” Bisik Arvin di telinga Nara. meskipun sudah berada didunia mimpi dan nyaris tenggelam didalamnya, Nara masih bisa mendengar pertanyaan tersebut. Dia mengangguk memberikan jawaban.
__ADS_1
“Aku gak akan bikin kamu kecewa berulang kali. Aku sayang sama kamu.” Lanjur Arvin berbisik lirih. Kini Nara tidak merespon. Dia sudah sepenuhnya terlelap.
Ponsel Arvin berdering di nakas. Dia segera duduk dan menjawab telepon tersebut setelah melihat sekilas siapa yang menghubunginya malam-malam begini.
“Lo udah tahu kabar terbaru, Vin? Foto lo sama mantan lo yang lagi ciuman udah kesebar ke semua karayawan. Lo tahu efeknya kayak gimana sama orang-orang yang oposisi sama lo di kantor?”
“Gue udah tau.”
“Lo tahu siapa yang nyebarinnya?”
“Ivan. Gue gak peduli kalau foto itu kesebar disemua karyawan, gak penting. Malah bagus kan, Ga? Selanjutnya gue mau minta tolong sama lo.”
“Hah? Maksud lo apa?”
“Gue mundur dari jabatan gue. Tadi hari terakhir gue di kantor.”
“Lo gila! Gak kayak gini caranya, Vin. Kita udah sepakat buat—”
“Please, Ga. Percaya sama gue kali ini aja.”
Pagi-pagi Nara sudah disambut aroma lezat yang mengudara dari dapur. Arvin sibuk dengan alat masaknya, begitu cekatan dan terampil. Hari ini dia membuat avocado sandwich dengan keju, telur, grilled beef bacon, dan sayuran. Ditambah dipping sauce spesial terbuat dari jamur dan keju. Arvin juga tidak lupa membuatkan jus buah.
Nara sudah biasa melihat pemandangan seperti ini setiap pagi, melihat Arvin mempertontonkan keahlian memasaknya. Dulu Arvin melakukannya karena Nara sama sekali tidak ingin merawatnya, berpura-pura menjadi istri yang baik melayani Arvin. Juga karena alasan kehamilannya yang membuat paginya penuh peperangan karena mual. Tapi sekarang saat mereka dalam hubungan yang baik, Nara selalu menawarkan untuk memasak untuk Arvin atau sekadar membantunya.
Arvin hanya akan tersenyum dan berkata “Just sit and relax.” Mungkin memang masakan Nara tidak seenak buatan Arvin. Hanya saja terkadang Nara juga ingin membuat Arvin terkesan dengannya. Tapi Arvin selalu saja mengatakan kalau yang diinginkannya adalah membuat istrinya berhenti bekerja dan menjadi seorang putri ditempatnya. Dia tidak membutuhkan usaha apapun agar Nara terlihat berkesan untuknya. Karena Nara sudah sangat spesial, apalagi mau mengandung anaknya. Penggombal sejati.
Setelah selesai sarapan, Arvin mengulat diruang tengah. Menyalakan TV sambil membuka laptopnya. Nara menghampiri dengan heran. Tidak biasanya Arvin masih dirumah jam segini.
“Kamu gak ngantor? Kok belum siap-siap?” Tanya Nara bingung.
“Duduk. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Jawab Arvin tenang. Nara mengikuti perintah Arvin dan duduk di sofa saling berhadapan. “Kamu harus dengerin penjelasan aku sampe beres. Tenang.” Lanjutnya lagi.
Nara mengangguk bingung.
“Aku mulai hari gak menjabat sebagai pimpinan di Aditama Corp dan juga melepas seluruh hak waris aku dari keluarga Aditama.”
“Hah? Kok bisa? Kenapa?” Nara kaget mendengar penuturan Arvin.
__ADS_1
Arvin mengangkat satu tangannya membentuk tanda agar Nara tenang, dia tersenyum sekilas sebelum menjawab. Kekhawatiran jelas tergambar diwajah istrinya.
“Aku nyerahin semua sama Ivan, sekarang aku gak punya hak apa-apa lagi sama perusahaan itu ataupun aset yang ditinggalkan ayah. Semua aku lakuin karena berpikir Ivan yang lebih mampu mengelola semua itu dengan baik.” Jelas Arvin dengan tenang.
“Tapi, Vin—”
“Nara, ada sesuatu yang besar terjadi di perusahaan aku. Buat saat ini aku gak bisa menanganinya. I have to retreat dan menyerahkan semua ini sama orang lain. Biar nanti jadi lebih jelas dan perusahaan gak akan mengalami kondisi yang sulit.”
“Aku gak ngerti.”
“Buat sekarang kamu gak usah ngerti dulu. Ini kedengaran gak masuk akal dan aku sendiri kayak lagi melakukan pertaruhan. Tapi kamu percaya sama yang aku lakukan sekarang, kan?”
Nara tidak menjawabnya. Dia hanya menatap Arvin dengan alis yang bertaut bingung. Apakah masalahnya sepelik itu hingga Arvin harus keluar dari perusahaan? Apakah orang-orang jahat itu terus menyerang Arvin dan tidak menerima keberadaanya hingga Arvin terpojok? Nara benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
“Selain itu ada yang harus aku jelasin ke kamu. Aku gak bermaksud buat menutupi ini dari kamu sebelumnya, cuma kondisi kamu lagi gak baik beberapa hari kebelakang. Sekarang aku lihat kamu udah mendingan, jadi aku mau bilang sama kamu sekarang. Keysa udah lebih dari seminggu ini kerja di perusahaan sebagai PA-nya Ivan.”
Arvin bisa melihat perubahan ekspresi Nara yang bingung menjadi penuh amarah. Dia menatap Arvin lekat, dan bernapas dengan cepat. Ternyata kebenciannya pada perempuan itu belum juga menyurut.
“Aku gak tahu kamu udah dapat informasi ini atau belum. Aku juga gak tahu kamu dapet info soal aku darimana selain Adam. Tapi ada gosip jelek yang menyebar antara aku sama Keysa sekarang di kantor. Hal ini juga salah satunya yang bikin aku memutuskan mundur dari sana.”
“Kamu ngapain sama dia?” Tanya Nara kesal.
Arvin mendengus, mencoba menenangkan dirinya. “Ciuman. Dia tiba-tiba nyium aku dan entah kenapa fotonya kesebar begitu aja.”
Nara membeku mendengarnya. Arvin dan Keysa berciuman? Dia tidak bisa membayangkannya. Bibir lembut yang menyentuhnya berulang kali tadi malam, ternyata bekas perempuan paling dia benci di dunia. Entah kenapa perasaannya menjadi gelap. Air matanya turun tiba-tiba.
“Nara… Nara.. Dengerin aku!” Kata Arvin mencoba mengambil perhatian Nara kembali yang sekarang mulai terisak. “Ivan menjebak aku dengan masukin Keysa ke perusahaan dan nyuruh dia ngelakuin hal-hal kayak gitu biar skandal soal aku makin panas. Sentimen soal aku yang amoral bakal naik lagi dan bikin orang-orang disana semakin membangkang dan gak terkendali. Tapi butuh mereka buat stay diperusahaan karena sesuatu. Makanya aku mundur dari sana. Kamu ngerti yang aku jelasin?”
Nara menyeka air matanya dengan kedua tangannya, “Ngga.” Jawabnya. Pikirannya tiba-tiba menjadi kalut.
Arvin beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Nara. Tubuh kecil istrinya itu dia dekap dengan hangat. Sementara kini Nara semakin terisak karena perasaan cemburunya tidak bisa dia kendalikan.
“Kamu percaya sama aku kan, Ra? Aku sayang sama kamu. Aku relain jabatan aku, semua kekayaanku diambil oleh sepupuku bukan cuma karena masalah kantor aja, tapi karena aku gak mau terus-terusan ketemu Keysa disana.”
Nara tidak tahu kenapa dia begitu terluka bahkan saat Arvin sudah berkata jujur padanya. Dia benar-benar tidak menyukai semua hal tentang Keysa. Dia tidak mengerti sama sekali kata-kata Arvin dan keputusannya meninggalkan perusahaan. Semuanya membuat kepalanya pening dan dadanya sesak. Lena mengatakan, jika dia mendengar hal buruk tentang Arvin sebisa mungkin dia harus tetap tenang. Nyatanya Nara gagal.
__ADS_1