
Pertama dan terakhir kalinya Nara menemui bayinya adalah di ruang pemulasaraan jenazah. Dia sudah berbalut kain putih, kecil, ringkih dan membiru.
Nara nyaris tak sadarkan diri kembali ditinpa perasaan berat dan sesak dalam dadanya. Bayi kecil cantik—miliknya, kini sudah kembali pada Pencipta. Tak sempat menyapanya atau sekadar menangis di dekat telinga.
Sekuat apapun berusaha, Nara tidak bisa menahan tangisnya. Kesedihan yang melarutkan hidupnya menjadi tak karuan bentuknya. Pada siapa kecewa dan sedih seperti ini harus dia tujukan?
Selama lebih dari 30 menit, Nara tidak bisa mengendalikan isakannya. Tapi bayi itu harus lekas dibawa dan diistirahatkan ditempat terakhirnya. Mereka tidak ingin menahannya begitu lama didunia, dan harus segera merelakannya.
Semua keluarganya sudah datang, sebagian ikut mempersiapkan pemakaman bersama Arvin. Sementara Nara masih harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.
Nara kembali ke ruang rawat inap, ditemani oleh ibunya. Arvin sekarang bersama Lena, Angga, Audrey, Naufal dan ayahnya mungkin sedang berada dipemakaman, mengantarkan bayi kecilnya beristirahat selamanya. Bahkan saat ini saja Nara tidak bisa mendampinginya, tidak bisa melihatnya.
Kesedihan bertumpuk-tumpuk menghimpit hatinya. Ibu mana yang bisa tegar saat kehilangan anak yang dikandungnya, bahkan tanpa sempat melihat senyumannya. Nara begitu jatuh terpuruk ke dalam pilu.
“Dek, makan dulu ya. Kamu harus minum obat biar luka operasinya cepat sembuh,” ucap Laila lembut.
Nara tidak menjawabnya. Tidak punya energi untuk sekadar menanggapi ibunya berbicara. Apalagi harus makan, dia sama sekali tidak berselera menyentuh makanan. Rasa laparnya juga menghilang seketika.
Ibunya menghela napas berat, dia tahu percuma saja memaksa Nara untuk makan. Kehilangan bayi dalam kandungan adalah peristiwa terberat bagi seorang ibu. Percuma saja mengatakan dan menguatkan agar Nara bersabar. Saat ini dia hanya butuh diberikan waktu untuk meramu kesedihan dan kehilangan dalam hatinya, memberikan ruang untuk menerima peristiwa tersebut.
“Ibu gak pernah tahu rasanya kehilangan anak. Meskipun Ibu bilang ngerti perasaan kamu, sebenarnya ngga. Ibu hanya menduga-duga. Kamu yang paling tahu, kamu yang paling ngerti rasanya. Kalau kamu ngerasa terlalu berat, nangis aja yang kenceng. Teriak dan bersedih sampai kamu gak punya energi lagi. Ibu gak akan bilang buat bersabar dan mengikhlaskan. Kamu bakal bisa melakukannya tapi butuh perjalanan yang panjang. Gak instan dan tiba-tiba jadi tegar.”
__ADS_1
Laila menggenggam tangan Nara, menepuk-nepuk lembut. Meskipun anak perempuannya itu tidak bereaksi apa-apa. Hanya menatap sendu pada jendela, yang terang benderang ditimpa cahaya siang.
“Bu, aku belum pantas jadi ibu ya? Makanya anakku diambil lagi sebelum lahir,” ucap Nara.
Batinnya bergulat hebat antara perasaan sedih, bersalah, takut, tidak pantas, marah, dan entahlah begitu banyak perasaan asing yang menyeruak keluar.
“Punya keturunan dan dapat kesempatan melahirkannya itu hak istimewa yang dikasih Allah SWT. Bukan ranahnya manusia untuk bilang pantas dan gak pantas. Meskipun dengan mata telanjang saja banyak orang tua yang memang gak layak punya anak dan membesarkannya. Kamu cukup jalani apa yang udah dituliskan buat kamu.”
“Aku pernah mencoba buat gugurin anakku, tapi dia ngasih kesempatan lagi dengan terus tumbuh sampai aku ngerti rasanya menyayangi. Sekarang mungkin waktunya aku dapat hukuman karena berbuat jahat sama dia.”
Laila sedetik terperanjat mendengarnya, baru pertama kali mendengar hal tersebut. Nara memang dulu sangat membenci kehamilannya. Tak heran dia berusaha untuk melenyapkan bayinya. Tapi Laila tidak punya hak untuk menghakimi, dia tahu begitu terlukanya Nara saat awal kehamilan.
“Kamu jangan mikirin hal yang udah lama. Udah Ibu bilang jangan menghukum diri sendiri dengan perasaan bersalah. Meskipun hal yang kamu lakukan dulu adalah hal jahat, kamu udah buktikan kalau kamu tumbuh dewasa dan memperbaiki diri. Gak ada yang tahu ini hukuman atau ujian. Tapi kamu harus yakin, kalau ada hal-hal yang kamu dapatkan dari semua kejadian ini.”
“Dek, ikhlas itu sulit. Sabar itu gak mudah. Tapi Ibu yakin suatu saat kamu bakal dituntun buat mengikhlaskan dan diberikan kesabaran. Sama kayak kamu belajar buat memaafkan dan bertanggung jawab.”
...****************...
Selama 3 hari Nara dirawat di rumah sakit. Keadaan tubuhnya memang berangsur pulih, namun hatinya tidak pernah utuh lagi.
Orang tuanya khawatir pada keadaan Nara yang terguncang akibat kehilangan anaknya, mereka menyuruhnya untuk tinggal sementara di rumah orang tuanya. Nara mengikutinya saja, terlalu lelah untuk berpendapat.
__ADS_1
Mungkin memang lebih baik berada di rumah orang tuanya untuk sementara waktu. Mengistirahatkan perasaannya yang bergelut dengan pilu. Semenjak kejadian itu dia juga belum terlalu banyak berbicara dengan Arvin. Hampir tidak pernah ada waktu untuk mereka berdua berbicara, karena keluarga silih berganti berjaga di sana.
Aneh rasanya berada di kamarnya kembali. Memang tidak sama lagi seperti saat dia tinggalkan, beberapa barang milik Dania disimpan disana. Mungkin karena kamar kakaknya terlalu penuh dengan peralatan bayinya.
Nara berbaring berjam-jam menatap langit-langit kamarnya. 7 bulan yang lalu, Nara juga melakukannya. Berbaring terlentang seperti sekarang, bedanya dulu dia berharap kabar kehamilannya hanya mimpi buruk. Membenci makhluk yang tumbuh diperutnya sepenuh hati. Berpikir ribuan kali untuk mengenyahkannya saja.
Hari ini dia malah mati-matian ingin diberi kesempatan lagi, untuk bisa mempertahankan kehamilannya. Berharap sepenuh hati agar bayi yang dikandungnya bisa terus hidup. Hati manusia memang aneh.
“Kak, boleh gak anterin aku pulang?” Nara beranjak dari kamarnya menuju ruang tengah menemui Naufal.
“Kok mau pulang? Udah disini aja sampai kamu sembuh,” kata ibunya.
Nara menggeleng. “Aku gak mau ninggalin Arvin sendirian.”
Orang yang kehilangan bukan dirinya saja, tapi Arvin juga. Pasti saat ini dia juga sama terpuruknya dengan Nara. Sama seperti dulu, saat kejadian buruk itu menimpa mereka. Orang yang terluka, takut, dan bersalah bukan hanya dirinya saja.
Perjalanan menuju rumah hampir lebih dari 2 jam, kemacetan menahannya dimana-mana. Arvin sudah berdiri di depan pagar menunggunya. Tersenyum saat Nara turun dari mobil, kemudian melepas Naufal dan kedua orangtuanya yang langsung pulang setelah mengantar.
Rumah tampak gelap, tidak ada lampu yang Arvin nyalakan. Bahkan lampu luar saja masih mati. Nara tidak mau berkomentar. Dia juga lebih nyaman berada dalam gelap, berbaring di kasur saling berhadapan satu sama lain. Cahaya lampu tidur tampak remang-remang, mengaburkan air mata yang turun dari keduanya. Menangis tanpa suara.
“Aku minta maaf gak bisa jaga anak kita. Aku pantas dihukum. Kamu boleh kok marah dan benci sama aku,” ucap Nara pasrah. Dia merasa amat bersalah. Masih menganggap semua ini adalah kesalahannya.
__ADS_1
Arvin menyentuh pipi Nara dengan ibu jarinya, menyingkirkan air mata yang turun. “Kamu jangan merasa bersalah, semuanya bukan karena salah kamu. Mungkin Alyosha hadir bukan buat kita rawat, tapi dia datang buat jadi penghubung nasib kita. Makasih udah pulang. Aku sekarang takut kalau sendirian.”