Halo Arvin!

Halo Arvin!
Redefining Love 1


__ADS_3

“Aku mau perbaiki kesalahan aku, Ra. Aku minta maaf.”


Mungkin sejak awal Nara seharusnya tidak menaruh simpati pada Arvin. Kebaikan, perhatian, dan semua kata-kata manisnya tak begitu tulus. Sekarang Nara malah tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena merasa mudah ditipu.


Seumur hidupnya, Nara tidak banyak berhubungan dengan laki-laki. Hanya 2 kali saja. Perasaannya dalam dan menyenangkan. Meskipun keduanya berakhir menyakitkan. Tapi selama itu pula Nara belajar tentang laki-laki dan perasaan mereka.


Banyak yang menyebutkan pula laki-laki adalah makhluk sederhana yang mudah ditebak. Mereka akan menunjukkan perhatian dan ketertarikan pada perempuan yang mereka sayangi.


Arvin menunjukkan itu pada Nara, dengan seluruh kemampuannya. Meyakinkan berulang-ulang bahwa ada tempat spesial dihatinya untuk Nara. Hingga sebagian dirinya percaya. Arvin mencintainya.


Tapi Nara lupa, Arvin juga bisa melakukan itu pada banyak perempuan lainnya. Pada Keysa, yang nyatanya masih menempati posisi penting dihidupnya. Orang waras mana yang akan pergi secepat kilat ketika mendapat telepon meminta bantuan dari mantan pacarnya. Sedangkan dia sudah memiliki istri. Kalau bukan perasaan yang tertinggal dan belum usai, lantas apa?


Apakah Nara juga sama belum bisa melepas masa lalu? Karena kini dia berhadapan kembali dengan Reza. Hanya untuk memastikan tidak ada perasaan yang tersisa diantara mereka.


“Aku bulan depan nikah, sama salah satu rekan kerjaku disekolah.” Ucap Reza menyerahkan selembar kartu undangan dimeja.


“Guru yang suka pulang bareng kamu?” Tanya Nara tenang. Aneh memang. Tak ada perasaan apapun saat mendengarnya. Apakah Nara sudah selesai mencintai Reza? Tidak sepertinya bukan begitu. Nara hanya sedang mencoba terlihat kuat saja.


“Hmm..” Reza menangguk. “Aku gak tau kamu bakal datang atau ngga. Tapi aku seenggaknya udah ngasih tau kamu.”


Nara mengangguk setuju. Dia juga tidak akan datang. Meskipun sebagian dirinya sudah rela melepaskan Reza, tapi belum sampai ke tahap sanggup melihatnya bersanding dengan perempuan lain.


“Kamu dari kapan pacaran sama dia?”


“Kenapa? Kamu mau memastikan pas kita putus karena aku selingkuh?” Tanya Reza sambil tersenyum.


Nara mengalihkan pandangan pada gelas jus dimeja, sambil melepas senyum. Iya. Dia setidaknya ingin punya alasan untuk membenci Reza. Kemudian melepaskan dengan tenang.


“Dia baru ngajar disekolah seminggu sebelum kita gagal nikah. Sebelumnya aku gak kenal sama sekali dengan dia. Tapi kita jadi deket karena di cengcengin murid dan sering dapet jadwal piket bareng. Kita dulu putus karena kita emang gak cocok aja, Ra. Kamu gak usah nyari alasan lain buat lupain aku. Tapi kamu harus lupain aku, gimanapun caranya.”


“Aku gak ngerti kenapa kamu berpikir kita gak cocok, Za. Padahal kita udah lama bareng. Kita udah kenal satu sama lain. Kenapa hari itu kamu bisa mutusin aku gitu aja?” Tidak ada kemarahan dihati Nara, hanya pertanyaan dan rasa bingung saja.

__ADS_1


“Aku udah bilang kita udah gak satu pemikiran lagi.”


“Emang itu penting?”


“Salah satu hal yang penting. Aku juga ngerasa kalau kita gak saling menerima apa yang kita butuhkan.”


“Maksudanya?”


“Kamu coba nanya sama diri kamu sendiri. Apakah cinta yang kamu butuhkan itu dari aku, atau pasangan kamu yang sekarang?”


Nara termenung. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Reza.


“Kata orang sih gini, kita pada akhirnya bakal dipersatukan sama cinta yang kita butuhkan. Aku gak menerima hal itu dari kamu. Aku butuh orang yang gak bikin aku terus jalan menengadah, karena mereka terlalu tinggi. Pemikirannya, finansialnya, dan perilakunya. Setelah kita bekerja dilingkungan yang berbeda aku ngerasa jauh dari dunia kamu. Makanya cinta yang aku butuhkan gak ketemu dikamu. Sekarang aku tanya. Ada gak sesuatu yang kamu butuhkan, dan aku gak bisa kasih?”


Mereka diam beberapa saat.


Nara mengulang kembali semua pertengkaran dan perselisihan mereka selama beberapa bulan sebelum hubungan hancur. Apa yang Nara inginkan dari Reza. Apa yang sebenarnya dia harapkan dari laki-laki ini agar membuatnya merasa berharga dan dicintai.


Selama perselisihan mereka, Nara lah yang harus mengikuti ego Reza yang saat itu sangat terpuruk dan rendah diri. Setiap pertengkaran, Nara hanya ingin Reza berjuang lebih keras agar mereka bisa menyelesaikan masalah. Bukan membiarkannya merasa berjuang sendiri mempertahankan hubungan. Tapi Reza selalu menyerah ditengah jalan.


“Aku harap kamu dapat itu dari Arvin, Ra.”


Ya. Arvin. Laki-laki keras kepala yang selalu memaksa Nara agar jatuh hati padanya. Dia tidak pernah sekalipun menyerah memperjuangkannya. Tak peduli berapa kali Nara menolak. Dia terus datang. Menawarkan banyak perhatian. Membuatnya merasa berharga dan layak dicintai setelah begitu banyak perasaan kecewa menghantamnya.


Tapi Arvin juga baru saja mematahkan hatinya. Semua perjuangan yang dia lakukan untuk meyakinkannya, bisa jadi adalah usaha yang sama yang dia lakukan juga untuk Keysa. Bagaimana dia sangat khawatir dan melindungi mantan pacarnya itu. Nara ragu bahwa cinta yang dia butuhkan berasal dari Arvin.


“Aku gak ngerti perasaanku sendiri sama Arvin. Dia banyak mengecewakan, menyikiti, dan aku gak bisa percaya sama dia.”


“Kamu belum kenal dia. Makanya kamu gak bisa ngasih toleransi sama hal-hal buruk yang dia lakukan. Padahal kamu ngasih aku cinta yang banyak, gak peduli aku semengecewakan ini. Bahkan sampai sekarang belum bisa ngelepasin, kan? Kamu emang beneran udah paham tentang dia, sampai bilang kayak gitu?”


Nara tak menjawab. Dia tidak mengenal Arvin hingga bisa memberinya toleransi dan kesempatan agar dia bisa menjelaskan tentang dirinya sendiri. Mungkin ada alasan yang tidak Nara tahu. Sama seperti saat Arvin menyembunyikan rasa khawatirnya karena masalah dikantor.

__ADS_1


Nara mengerti pada akhirnya bahwa Arvin juga menderita. Apakah Nara mau mengerti saat Arvin bersikap sangat berlebihan pada Keysa? Nara tak mau memikirkannya. Hatinya belum siap.


“Inget kata lagunya Sherina, lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti..”


“Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti..”


Ucap mereka bersamaan kemudian tertawa.


“Setelah kamu lihat lebih dekat dan ngerti, kamu pasti tau apa yang harus kamu lakuin. Entah ngasih kesempatan buat memperbaiki diri, atau harus ngebuang dia.” Kata Reza sambil tertawa.


“Aku berharap dulu kamu juga mentoleransi dan ngasih aku kesempatan buat memperbaiki diri, Za.”


“Aku juga berharap begitu, Ra. Tapi waktu mencoba lagi setelah kita putus. Aku malah dapat kabar yang lebih mengecewakan. Kamu pasti gak percaya kalau aku juga patah hati dan nangis berhari-hari karena kehamilan kamu. Sampai sana hubungan kita gak bisa diperbaiki.”


“Maafin aku, Za.”


“Aku juga minta maaf. Mungkin sekarang waktu yang tepat buat kita saling melepaskan masa lalu. Mulai mendefinisikan kembali soal cinta dihidup kita kayak apa, bukan tentang berapa lama menjalin hubungan, bukan cuma soal rasa nyaman, bukan hanya saling menerima. Tapi mungkin soal berjuang, soal memaafkan, dan saling jujur. Yang sama-sama gak kita dapatkan dari satu sama lain. Semoga aku sama kamu, ketemu hal itu dipasangan masing-masing ya, Ra.”


Nara tidak menyangka bahwa melepaskan Reza akan semudah ini. Tentu ada bagian dihatinya yang nyeri, saat untuk terakhir kalinya bisa memeluk laki-laki itu. Pelukan yang sebenarnya jarang  dilakukan karena mereka jarang saling berkontak fisik. Naufal akan sangat murka jika tahu Reza berani memeluk atau mencium adik kesayangannya.


Setelah saling berpamitan dan mungkin bertemu untuk terakhir kali, Nara memilih mengelilingi Kota Jakarta dengan Transjakarta, yang mulai lengang karena hari beranjak malam. Para pekerja sudah surut dan pulang ke rumah masing-masing.


Sepanjang perjalanan Nara memikirkan ulang apa yang dikatakan oleh Reza. Mendefinisikan kembali tentang cinta. Apakah Arvin orang yang tepat dan dia butuhkan? Bagaimana dengan hubungan Arvin dengan Keysa? Haruskah Nara mulai memahaminya juga? Haruskah dia memberi Arvin kesempatan untuk memperbaiki diri setelah membuatku kecewa? Bisakah Nara memaafkan Arvin?


Pertanyaan tersebut saling bersahutan dikepalanya. Disertai rasa sakit dan kehilangan yang tiba-tiba menghancurkannya. Reza dulu spesial. Kini tidak akan ada lagi tentangnya dihidupnya. Dan percayalah, meskipun ikhlas melepaskan. Hatinya tetap terasa berserakan.


Lagu Ocean & Engine terputar di aipods Nara, suara indah dari Niki memberikan isyarat untuk melepaskan bayangan tentang masa lalu dan merelakannya pergi menemui cinta yang baru.


 


...----------------...

__ADS_1


Maafin kemarin gak update. Author-nya sakit 🥲👌


__ADS_2