Halo Arvin!

Halo Arvin!
Decision


__ADS_3

Tidak ada yang pernah tahu isi hati dan kepala seseorang sebenarnya. Bisa saja orang tersebut terlihat ceria di luar, namun menyimpan banyak kesedihan di dalam dirinya.


Begitupun dengan Nara. Bulan berganti, hingga tahun pun berlalu cepat. tapi hatinya masih tetap sama. Seakan sudah berubah kelabu dan mati. Dia masih menyimpan luka karena kehilangan dan rasa bersalah yang sangat besar.


Dulu dia berharap bisa mengulang waktu, menjadi orang yang lebih baik dan menjaga anaknya dengan sepenuh hati.


Seandainya dia bisa menyingkirkan kebencian dan pikiran untuk mengugurkan kandungannya, mungkin bayi kecil itu sekarang sedang berada dalam dekapannya. Jauh dilubuk hati, Nara belum bisa memaafkan dirinya sendiri.


Arvin mengatakan jika kontrak kerjanya sudah habis mereka akan pindah kembali ke Indonesia, kurang dari 2 bulan lagi mereka akan pulang. Hati Nara semakin gusar, dengan kepulangan ini.


Setiap kali membahas perkara pulang, Arvin selalu menyertakan keinginannya untuk memiliki anak, berandai-andai jika nanti mereka akan diberi kepercayaan kembali. Nara tidak siap. tidak tahu kapan hatinya siap. Bayangan kegagalan dan kehilangan masih mengintai pikirannya.


Dibibir, Nara mungkin bisa mengatakan kesediaannya pada Arvin. Tapi di dalam hatinya, Nara takut. Rasanya ingin terus bersembunyi di sini dan membatalkan persiapan kepulangan. Meskipun hingga sekarang Nara tidak pernah bisa mengatakan keberatan ini pada Arvin, karena suaminya begitu berharap memiliki anak kembali suatu saat nanti.


Nara sudah berada di Baia The Italian sejak 30 menit yang lalu. Restoran di dekat Darling Harbour itu terlihat sepi. Dia  duduk menunggu teman lamanya yang kebetulan bertemu di kelas fotografi 6 bulan lalu. Mereka tiba-tiba deket karena mengalami pengalaman yang hampir sama terkait kehamilannya.


Perempuan berambut pirang dengan perawakan tinggi berjalan dan tersenyum ke arah Nara. Kemudian duduk dihadapannya.


“Thank you for waiting,” katanya dengan aksen kental Australia.


“No problem,” jawab Nara. Mereka kemudian saling bercengkrama setelah berbulan-bulan tidak bertemu.


Nicole 3 tahun lebih tua dari Nara. Mereka berada di tim yang sama saat mengikuti kelas fotografi di salah satu spot di Sydney Harbour. Kemudian mereka menjadi dekat setelah Nicole menceritakan alasan mengikuti kelas fotografinya saat itu, untuk mengalihkan pikiran dari kesedihan karena kehilangan bayi dalam kandungannya.


Dia mengalami keguguran di usia kehamilan 4 bulan. Sebelumnya dia pun merasa sangat terbebani dengan kehamilan tersebut, karena semua tidak direncanakan. Nicole putus dengan pacarnya yang sudah menghamilinya. Meskipun pada akhirnya mereka kembali dan Nicole mulai menyayangi bayinya, sangat disayangkan kehamilannya bermasalah dan bayi tersebut meninggal.


Setelah mendengar itu, Nara juga menceritakan mengenai kehilangannya yang berat. Hingga membuatnya masih bermimpi buruk hingga sekarang. Maka dari itu mereka menjadi dekat dan sering bertukar cerita.saat senggang.


“Kamu akan pulang bulan depan ke Indonesia, kan?”


“Yup. Mungkin sekarang pertemuan terakhir. Aku akan sibuk mempersiapkan kepulangan.”


“Tidak apa-apa. Kita bisa terus mengobrol lewat Skype nanti. Aku tidak sabar dengan ceritamu memulai program kehamilan kembali sepertiku.”

__ADS_1


Nara terdiam sejenak tampak ragu. Saat ini Nicole sudah mengandung kembali anak keduanya. Setelah memulihkan diri dan menerima kehilangannya, Nicole memulai program kehamilan kembali.


“Aku... Merasa tidak yakin ingin memiliki anak kembali,” balas Nara jujur.


“Kenapa? Bukannya kamu dan suamimu sangat menantikan punya anak lagi?”


“Suamiku yang menginginkannya. Aku belum bisa, masih takut untuk hamil kembali. Meskipun aku sudah konsultasi dengan psikolog, aku masih belum bisa melepaskan perasaan bersalah karena pernah menolak keberadaannya.”


“Aku tahu rasanya. Tapi Nara, jika kamu terus merasa bersalah seumur hidup dan tidak mau maju. Kamu akan menyesal melewatkan kesempatan untuk membuat kenangan baru. Kamu lihat aku sekarang? Aku sangat menikmati setiap detiknya, menunggu bayiku tumbuh, dan sangat berbahagia. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi aku berusaha lebih baik lagi menjaganya. Tidak seperti yang dulu aku lakukan.”


Nicole mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Nara juga merasakan kebahagiaan itu terpancar dari wajahnya. Berbeda dengan saat pertama kali bertemu, Nicole terlihat murung.


“Bagaimana jika kamu gagal lagi?”


“Aku akan patah hati. Tapi akan mencoba kembali sampai dokter mengatakan aku tidak bisa hamil lagi.”


Nara tersenyum mendengarnya. Meskipun dia tidak bisa membayangkan jika gagal mempertahankan bayinya seperti dulu, patah hati seperti apa yang akan dia rasakan.


“Kamu masih merasa bersalah karena pernah mencoba menggugurkan kandungan pertamamu meskipun sekarang kamu sudah mengandung kembali?”


Hal yang dikatakan Nicole memang tepat. Nara selalu berpikiran buruk dan takut untuk memulai kembali. Terkunci dalam perasaan bersalah dan ketakutan. Padahal jika dia berani melangkah, mungkin kebahagiaan yang sama yang dirasakan Nicole juga bisa terjadi padanya.


“Kamu tahu, emosi ibu bisa dirasakan oleh janin, membuatnya sulit tumbuh bahkan berpengaruh terhadap kehidupannya setelah lahir. Mungkin itu sebabnya kehamilan kita dulu tidak berhasil dan mereka memilih pergi lebih dulu, karena kita menolak dan tidak berbahagia dengan keberadaannya. Sekarang aku akan lebih memperhatikan apa yang aku rasakan. Tetap positif dan bahagia, supaya bayi yang aku kandung juga merasakannya.”


...****************...


Nara sudah menyiapkan makan malam untuk Arvin saat dia pulang. Sekarang kemampuan memasaknya lebih baik, bahkan bisa sebanding dengan masakan Arvin. Tidak sia-sia dia mengikuti kelas memasak setiap Sabtu siang selama 8 bulan.


Arvin selesai mandi dan langsung duduk di meja makan kecil di pantry. Seperti kebiasaannya, Arvin selalu membiarkan rambutnya basah sehabis mandi. Melihat hal itu selalu saja membuat Nara kesal.


“Bisa gak sih kamu keringin rambut dulu kalau habis keramas? Airnya netes-netes ke makanan, Vin!” ucap Nara kesal. Dia lantas mengambil handuk dan menggosok rambut basah Arvin.


“Sengaja biar kamu yang keringin.” Arvin menyuap minestrone-nya je mulut dengan semangat.

__ADS_1


“Manja banget. Nanti kalau udah jadi ayah gimana coba kalau manja kayak gini?”


Arvin berhenti mengunyah makanan, dia berbalik dan menatap Nara yang masih sibuk mengeringkan rambut. Selama ini Arvin memang sering berbicara tentang keinginannya memiliki anak lagi. Meskipun tanggapan Nara baik, dia tahu bahwa istrinya itu masih memiliki keraguan dan ketakutan di dalam hatinya. Hingga sekarang hanya Arvin saja yang sering membahasnya, sementara Nara mengunci rapat keinginan tersebut di dalam hati.


“Kamu kan masih punya cuti banyak, gimana kalau sebelum pulang ke Indonesia kita jalan-jalan dulu seminggu ke Jepang?” kata Nara mengusulkan. “Sambil bikin adek bayi.” Lanjutnya berbisik ditelinga Arvin. Diakhiri dengan senyuman paling menawan.


“Tanpa pengaman?”


Nara mengangguk.


“Kenapa jauh-jauh ke Jepang? Kenapa gak sekarang aja?”


“Biar ada alasan buat liburan...,” ucap Nara menggoda. “Dan biar kamu penasaran, soalnya kalau sekarang aku lagi red day. Nanti aku kasih kamu yang spesial.” Lanjut Nara sambil terkekeh.


Arvin mengangkat satu alisnya. “Apa sih yang spesial? Kamu mau main ala-ala AV?”


“Dih sembarangan! Dasar pikirannya jorok terus nih, Pak Bos!” Nara menutup mata Arvin dengan handuk basah. Kemudian duduk bergabung untuk makan.


“Ra, aku minta maaf kalau selalu bahas soal anak terus sama kamu. Sebenarnya aku gak maksa kok harus punya anak. Kalau kamu takut buat hamil lagi, aku ngerti.” Arvin menatap lekat istrinya yang sedang mengunyah makanan.


“I made up my mind. Aku mau nyoba lagi, Vin. Kayaknya kalau aku terus sedih dan merasa bersalah sampai gak bisa melangkah maju, mungkin aku gak akan melewatkan ngerasain kesempatan jadi ibu. Meskipun aku gak tau nanti bakal berjalan lancar atau ngga.”


Arvin masih terus menatap istrinya, mencoba mencerna obrolan ini. Nara tampak lebih santai membicarakan ini dibandingkan dulu. Sepertinya dia memang benar-benar sudah membuat keputusan untuk memulai program kehamilan kembali.


“Tapi Vin, kalau suatu saat aku gak dikasih kesempatan buat jadi ibu. Gak dikasih kesempatan punya keturunan dan gagal kayak dulu lagi. Kamu bakal tetap sayang aku, ‘kan?”


“Kamu mau ngelakuin ini lagi karena takut aku gak sayang sama kamu lagi? Kamu takut kalau aku ninggalin kamu karena kamu gak bisa punya anak?”


Nara menggeleng. “Aku cuma kepikiran aja, gimana kalau nasibku sama kaya Bu Lena. Kamu bakal cari penggantiku buat lahirin anak dan lanjutin bisnis kamu gak?”


“Aku gak sama kayak ayahku. Aku suka anak kecil, aku emang mau banget punya anak, dan kita nikah juga karena alasan anak. Tapi aku gak akan pernah ninggalin kamu kalau kamu gak bisa ngasih aku keturunan. Gak masalah soap perusahaan dan kekayaan. Angga bisa melanjutkannya. Hal yang paling penting aku sama kamu terus.”


Nara tersenyum. Kalimat yang sangat berlebihan dan terkesan gombal itu membuat hatinya lebih tenang. Apa yang akan ada di depan mereka, tidak ada satupun yang tahu. Termasuk kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut Arvin, apakah bisa dia buktikan dikemudian hari?

__ADS_1


Nara mencoba mempercayainya.


 


__ADS_2