Halo Arvin!

Halo Arvin!
Teman


__ADS_3

Cafe kecil tersebut cukup ramai dikunjungi anak-anak sekolah yang baru pulang. Setelah lama tidak melihat pemandangan tersebut karena sekolah online, sekarang mereka menikmati waktu bersama teman-temannya lagi, bermain, nongkrong, belajar kelompok seperti dulu.


Suasana cafe sangat nyaman, beberapa daftar menu ditempel di dinding beserta harga yang tertera. Sangat terjangkau untuk ukuran anak sekolah. Suara musik yang diputar disana juga tak berlebihan hingga memekakan telinga. Terdengar lagu-lagu hits yang digemari oleh remaja sekarang.


Nara mengambil kursi di bagian outdoor, tepatnya di teras yang langsung menghadap ke sekolah yang berada di sebrang. Beberapa anak-anak keluar gerbang. Meskipun sebenarnya sudah lewat jam pulang.


“Jemput adek, Mbak? Jam segini mah udah pada pulang atuh. Paling yang pada ikut ekskul doang sisanya.” Kata seorang ibu-ibu sambil menyimpan buku menu di meja tempat Nara duduk. Mungkin dia memperhatikan kalau Nara sejak tadi melihat ke arah sekolah disebrang jalan.


“Ngga. Cuma lewat aja. Lagi istirahat.” Jawab sambil tersenyum. Kemudian memesan Thai Tea dan Set Burger. Tak lebih dari 10 menit pesanan sudah tersaji di mejanya.


Sebenarnya otaknya sudah mengatakan untuk menghentikan saja semua ini. Tapi hatinya tidak bisa. Nara ingin memastikan bahwa Reza sudah tak berada dalam jangkauan tangannya. Baru Nara rela melepaskannya.


Cerita yang Atika sampaikan kemarin sangat menganggunya. Membuatnya sulit tidur semalaman. Nara tahu kesalahannya sangat fatal. Tak mungkin Reza akan memaafkannya, melihatnya saja mungkin tak mau. Dia memutus semua komunikasinya tepat dihari Nara dinyatakan hamil oleh dokter. Membatalkan pernikahan dihari itu juga.


Gila memang jika Nara masih mengharapkan cintanya bisa bersambut kembali. Tapi dia memang gila. Sudah segila ini. Hingga memutuskan untuk jauh-jauh kemari. Demi melihat sosok yang sangat dirindukannya itu, walau sedetik saja.


Nara pun tidak tahu apakah dia siap menerima, jika semua cerita tentang Reza ternyata benar adanya. Dia sudah memiliki orang lain dihatinya. Karena bagi Nara, dia belum siap membuka lembaran baru apalagi mencintai orang lain setelah ini.


Sudah hampir setengah jam Nara dengan gusar memperhatikan kearah sebrang. Sosok tersebut akhirnya keluar, menggunakan motor Vespa yang sudah Nara kenal sepanjang hidupnya. Berkendara sendiri melewati gerbang, kemudian berhenti di dekat trotoar depan sekolah.


Hati Nara berbunga hanya dengan melihat sosok Reza dari kejauhan. Masih laki-laki yang sama yang dia cintai. Sekarang dia menggunakan baju coklat yang sering dikenakan para PNS, helm biru, tas ransel hitam.


Selama 5 tahun Nara setiap hari memeluknya dari belakang saat dibonceng pulang dan pergi ke kantor. Merasakan punggung yang hangat, derai tawa saat mereka bercerita dimotor, mendengar cerita-ceritanya. Nara merindukannya. Sangat merindukan Reza hingga rasanya dadanya sakit. Seandainya waktu bisa diulang kembali. Semua hal ini tidak akan terjadi.


Reza tersenyum dari tempatnya, melirik ke belakang ke arah seorang perempuan berhijab yang menggunakan seragam yang sama seperti dikenakan Reza. Muncul dengan senyum yang sumringah menenteng tas laptop. Reza memberikan helm hitam yang selalu Nara pakai dahulu. Kemudian perempuan tersebut naik dibelakang motor Reza. Memeluknya, sama seperti yang sering dilakukan Nara.


Air mata tiba-tiba saja keluar tanpa aba-aba. Sekarang Nara duduk sendirian menangisi kekasih yang dicintainya menemukan cinta baru.


Entah berapa lama dia duduk disana, yang jelas beberapa siswa yang berada di cafe tersebut dengan penasaran melirik kepadanya.


Musik dilatar belakang terdengar cukup kencang, memutar lagu Love Back dari Why Don’t We. Seakan sedang mengejeknya. Mengatakan bahwa dia tidak bisa mencintai yang lain dan meminta seluruh cintanya kembali karena cintanya sudah sepenuhnya habis Nara berikan pada Reza. Benar. Sangat benar.


...****************...


Sebelum menyebrang, Nara sudah memastikan jalanan di kiri dan kanannya. Tak ada mobil atau motor yang melintas. Dia bisa melihat zebra cross berada dibawah kakinya. Setiap langkah yang diambil penuh dengan keraguan, rasa sakit, dan kebodohan.


Nara bodoh. Dia tahu. Nara gila. Dia sangat tahu. Dia berencana menghabiskan semua stok kebodohan dan kegilaan dikepalanya untuk ini. Agar hatinya lega.


“Reza, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Nara pada Reza yang sekarang sedang memarkir motor di trotoar depan sekolah. Sama seperti yang dilihatnya kemarin. Mungkin menunggu guru perempuan kemarin lagi.


Reza tampak kaget melihat Nara yang tiba-tiba muncul. Dia tidak menjawab, hanya menatap Nara dengan bingung. Seakan keberadaan Nara disana hanya ilusi dan bayangannya saja.


“Aku mau ngomong sama kamu, bisa?” Ulang Nara lagi.


“Kok kamu disini sih?” Kara Reza yang berhasil menguasai rasa bingungnya.


“Aku mau jelasin sesuatu sama kamu. Please.” Kata Nara memohon. Nyaris menangis.


“Pak Reza!” Panggil guru perempuan yang keluar dari gerbang sekolah. Kemudian dengan canggung menatap Nara dan Reza secara bergantian.

__ADS_1


“Bu Putri, kayaknya saya gak bisa nganterin hari ini. Saya ada urusan dulu sama teman.” Kata Reza.


Teman?


Nara tertohok dengan satu kata itu. Iya benar, teman. Apa yang Nara harapkan dari Reza sekarang? Yang jelas bukan sebuah hubungan romantis seperti yang pernah terjalin dulu. Nara hanya butuh keberadaan Reza saja disekelilingnya. Tak perlu jadi kekasih. Dia hanya butuh Reza jadi temannya. Titik.


“Naik.” Kata Reza singkat, menyerahkan helm. Nara memakainya, kemudian naik ke motor Reza. Memeluknya dari belakang, kembali merasakan perasaan yang dia rindukan.


Reza berhenti di sebuah cafe tak jauh dari sekolah. Memarkirkan motornya. Kemudian mereka berjalan ke lantai dua. Tempat tersebut sepi, suasananya cukup tenang. Playlist yang diputar disana hanya musik instrumental saja, mungkin sejenis musik-musik Kenny G dan Dave Koz. Mengingatkan Nara pada lagu-lagu yang sering diputar di Gramedia.


Setelah pesanan diantarkan oleh pramusaji. Mereka tetap saling diam. Tanpa sepatah katapun terucap. Canggung. Padahal dua sosok ini pernah saling mencintai sepenuh hati dulu.


“Jadi kamu mau ngomongin apa?” Tanya Reza akhirnya. Mengakhiri kebisuan.


“Aku mau minta maaf. Aku udah ngecewain kamu.” Kata Nara penuh penyesalan. Reza hanya membuang napas berat, tidak tahu harus bereaksi apa. Sudah jelas dia sangat kecewa.


“Aku tau kamu ga mau ngomong lagi sama aku, mungkin penjelasan aku juga ga bakal mengubah apa-apa. Tapi kamu harus tau cerita yang sebenarnya soal aku dan Arvin.” Lanjut Nara.


Reza menjengit saat mendengar nama Arvin disebut. Jelas tidak menyukainya. Sejak pertama bertemu dengan Arvin, Reza sudah tidak menyukai sosok Arvin dengan mulut tajamnya yang menyebalkan.


“Aku ga suka sama Arvin. Sampai sekarang pun aku gak suka sama dia. Malam itu aku mabuk dan Arvin ngelakuin itu pas aku ga sadar. Pas bangun aku udah ternoda.” Nara menghela berat, mencoba untuk tidak menangis di depan Reza.


Meskipun sangat sulit. Hingga sekarang Nara masih mengingat dan merasakan apa yang terjadi hari itu saat dia terbangun. Dinginnya suhu AC yang menggigit tubuhnya dan  perasaan tidak nyaman dan nyeri di area sensitifnya.


Hingga sekarang Nara kadang tiba-tiba terbangun dengan panik. Memastikan dia masih mengenakan pakaian lengkap, mengecek apakah Arvin tertidur disampingnya tanpa melewati batas bantal dan guling yang setiap malam Nara pasang. Nara benar-benar takut Arvin akan melakukan itu lagi tanpa sepengetahuannya.


“Aku tau aku juga salah. Aku malah dateng nyari Arvin setelah kita putus. Percaya bahwa dengan dengerin dia nyanyi kamu bisa balik lagi, kayak dulu pas kita berantem. Aku salah karena nyoba minum, padahal aku gak pernah ngelakuin itu sebelumnya. Berharap bisa lupain semua kata-kata kamu hari itu. Kamu gak tau kan soal itu? Kamu pasti nuduh aku selingkuh sama Arvin, kan?” Sekarang air mata Nara sudah tidak terkontrol, berjatuhan dan susah payah dia menyekanya dengan tisu.


“Kamu mau ngomong kayak gini juga ga ngubah apa-apa, Ra. Kamu hamil anak dia dan sekarang udah nikah sama dia. Terus kamu mau apa dari aku?”


“Aku bakal cerai sama dia, Za. Setelah anak ini lahir aku bakal cerai sama dia. Arvin yang akan urus anak ini.”


“Gila kamu! Masa kamu tega ninggalin anak kamu sendiri buat diurus ayahnya doang?”


“Aku emang udah gila. Kamu pikir ada yang masih waras setelah di perk osa bosnya, hamil anaknya, ditinggalkan keluarga, ga jadi nikah sama orang yang dia cinta, dan masih dapat hujatan dari orang kalau yang salah dan jahat itu aku?”


“Kamu mau aku kayak gimana sama kamu? Aku udah ga bisa balikan sama kamu, Ra. Keluarga aku juga pasti ga setuju.”


“Aku ga minta kamu balik sama aku kok, Za. Aku ga punya siapa-siapa sekarang. Seenggaknya kamu bisa jadi temenku. Aku ngerasa udah gak waras dan ga bisa ngelewatin 7 bulan ke depan harus hamil anak dia.”


Entah untuk keberapa kali Reza menghela napas berat. Sulit mencerna permintaan Nara. Berteman? Maksudnya apa? Apa yang harus dia lakukan? Tapi Reza tidak bisa berbohong kalau dia sangat bersimpati dengan Nara.


Reza terlalu mengenal Nara. Dia tidak mungkin membual tentang kejadian hari itu bersama Arvin, juga tentang semua perasaannya. Nara selalu jujur. Jika memang benar Arvin telah merenggut kesucian Nara saat dirinya tak sadar, Reza tahu pasti sekarang Nara sangat tertekan berada di dekat Arvin setiap hari.


Apalagi ketika bekerja dulu Arvin adalah orang yang sangat tidak menyenangkan bagi Nara. Reza sangat khawatir dia tidak diperlakukan dengan baik oleh laki-laki dingin bermulut menyebalkan itu.


Reza mengangguk menyetujui. Menggenggam tangan Nara dan menenangkannya. Hanya teman. Nara butuh teman. Tak ada yang lain lagi diantara mereka yang tersisa selain perasaan saling mengerti. Reza ingin melindungi Nara, meskipun hanya dengan ini saja cara yang dia ketahui.


...****************...

__ADS_1


“Lo kenapa sih sering pake baju gue?” Tanya Arvin saat melihat Nara mengenakan kaosnya. Tubuh kecil Nara tenggelam dikaos yang kebesaran itu.


“Baju gue sekarang pada sempit.”


“Ya udah beli. Kan gue udah kasih lo cc gue. Atau lo mau belanja bareng gue ke mall sekarang?”


“Ogah. Gue udah beli online kok. Belum pada nyampe aja. Pelit banget sih lo. Nanti baju lo gue cuci.”


“Ya bukan gitu. Gue ga keberatan kok.”


“Lah terus kenapa lo ngoceh terus?”


Arvin sebenarnya sangat tidak keberatan. Tapi melihat Nara menggunakan bajunya membuat pikiran Arvin berlarian tak karuan. Nara terlihat sangat.. Ah Sial! Arvin selalu saja berpikiran kotor saat melihatnya seperti itu.


Rasanya ingin mendorong gadis itu ke dinding. Menciumnya, mengangkat kaos itu dari tubuhnya dan melakukan perbuatan yang paling menegangkan.


Arvin! Tenang!


Tarik napas!


Nara memakai baju Arvin karena sangat menyukai aroma yang muncul samar-samar saat mengenakannya. Aroma khas Arvin. Dia tidak mungkin meminta Arvin untuk memeluknya, agar bisa mencium aroma parfum yang bercampur aroma tubuhnya yang menyenangkan.


Menyebalkan!


Akhir-akhir ini seleranya benar-benar aneh dan merepotkan. Hidungnya menjadi sangat sensitif dengan bau-bauan, terutama bau makanan. Membuatnya hilang selera makan. Semua itu bisa netral setelah mencium aroma Arvin.


Gila! Nara benar-benar gila!


“Gue bilang jangan makan sereal!” Bentak Arvin saat Nara mengambil kotak sereal dari lemari.


“Gue mual pingin sarapan yang manis-manis.”


“Ya udah lo mau gue bikinin apa? Pancake? Waffle? Croffle?”


“Gue mau sereal aja.”


“Nara! Ck.. Gue buang lama-lama nih makanan.” Kata Arvin merebut kotak sereal dari tangan Nara.


Akhirnya Nara sarapan dengan waffle dengan dua scoop es krim vanilla dan buah-buahan segar. Dia menikmatinya. Arvin benar-benar jago masak. Semua makanan buatannya enak.


Arvin merasa akhir-akhir ini suasana hati Nara menjadi lebih baik. Dia terlihat lebih ceria dan segar. Dia sempat khawatir karena beberapa waktu lalu Nara sangat gelisah dan sering menangis tiba-tiba lagi seperti saat pertama tinggal disini. Semoga Nara terus seperti ini. Arvin sangat suka melihatnya tersenyum.


[Reza: Halo Nara! Selamat pagi! Udah sarapan?]


Nara tersenyum melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Membuat hatinya menjadi cerah. Dia ingin merasa seperti ini selamanya. Melihat pesan Reza setiap hari, berteman dengannya, sama seperti yang sering dia lakukan ketika mereka masih bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bab aja author-nya lagi sakit 🥲

__ADS_1


 


__ADS_2