
Selama seminggu ini Keysa terus terlihat dan berada diperedaran pandang Arvin. Dia bertemu dengannya saat meeting, di lift, di koridor, dan dia selalu datang ke kantornya untuk menyerahkan dokumen atau sekedar menyampaikan pesan dari Rivanno.
Padahal bisa saja Rivanno mengatakannya ditelepon. Tapi jelas, mengirim Keysa padanya adalah tujuannya untuk membuat mereka dekat kembali.
Tidak ada orang yang tahu tentang hubungan masa lalu antara Arvin dan Keysa selain Rivanno dan Angga. Mereka tetap bekerja seperti biasa tanpa adanya masalah ataupun gosip aneh.
Hal yang mengganggu Arvin sebenarnya adalah Nara, dia belum bisa mengatakan apapun padanya. Beberapa saat lalu sebelum Lena berangkat ke Malaysia, Nara melakukan pemeriksaan kembali ke dokter diantar oleh Lena.
Kondisi kehamilannya sedikit mengkhawatirkan, hingga usia kandungannya 24 minggu berat janinnya masih dinilai kurang oleh dokter.
Nara sudah menjalankan pemeriksaan CRP di laboratorium untuk melihat adanya infeksi atau tidak dalam tubunya sehingga mempengaruhi perkembangan berat badan bayinya, semua menunjukan hasil yang baik.
Dokter Yustia sudah mewanti-wanti jika tidak ada perubahan, maka mereka harus bersiap untuk kelahiran prematur atau masalah kesehatan lain yang terjadi pada bayi mereka nanti.
Semenjak pemeriksaan itu Nara dalam kondisi emosi yang kurang stabil, dia terus saja menyalahkan dirinya sendiri dan bersedih. Dia menganggap itu semua kesalahannya karena tidak bisa membuat berat badan bayi dalam perutnya meningkat. Dia juga sering membahas kembali usahanya menggugurkan kandungannya dulu yang mungkin berakibat pada kondisi kehamilannya sekarang.
Hingga saat ini Arvin tidak mampu mengucapkan satu katapun tentang keberadaan Keysa di kantornya pada Nara. Bisa dibayangkan bagaimana setiap hari dia akan tertekan mengetahui bahwa salah satu perempuan yang tidak disukainya berada ditempat yang sama dengan Arvin setiap hari. Tapi merahasiakan ini lebih lama juga akan membuat dampak buruk jika Nara mengetahuinya dari orang lain.
Padahal Arvin mengatakan akan jujur tentang apapun padanya. Tapi sekarang dia tidak sanggup melakukannya. Nara juga terus menerus memikirkan mengenai masalah dan orang-orang yang terus menekannya dikantor.
Arvin tidak tahu Nara mengetahui hal itu darimana. Adam sudah dia peringatkan untuk tutup mulut dan tidak usah membahas apapun dengan istrinya mengenai kondisi yang dihadapinya dikantor.
“Jadi kamu dateng kesini cuma bawa satu dokumen ini aja? Kan saya udah bilang sama Ivan buat push juga laporan dari tim audit. Kenapa sampai sekarang saya belum terima juga? Kamu kasih dia gak sih? Udah saya bilang kan sama kamu dari kemarin?” Cecar Arvin pada Keysa yang berdiri mematung dihadapannya. Kaget dengan perilaku Arvin yang berbeda jauh dari kebiasaannya diluar.
Apakah karena Arvin sekarang sudah membencinya? Makanya dia terus menekannya dan bertingkah menyebalkan sebagai atasannya seperti sekarang? Ataukah begini karakter Arvin sebenaranya saat bekerja? Dia sama sekali tidak bisa menerima toleransi dan kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya.
“Vin..” Ucap Keysa dengan suara bergetar dan wajah memelas.
“Tolong profesional didepan saya. Kamu mau tetep kerja disini, kan? Kalau kamu pikir saya jadi lunak dengan kesalahan karena kamu orang yang saya kenal, kamu salah. Perbaiki kinerja kamu. Catat yang detail semua komunikasi antar section biar atasan kamu juga ngerjain kerjaannya dengan tepat. Ingetin dia kalau ada yang terlewat.”
__ADS_1
Keysa menjadi tidak karuan sejak mendapat teguran dari Arvin tadi. Bukan karena kesalahannya, melainkan tatapan sinis dan dingin dari laki-laki yang dia cintai itu. Kenapa Arvin bisa sangat berbeda seperti itu padanya? Sudah tidak ada lagi Arvin yang hangat dan perhatian seperti dulu. Keysa mempertanyakan kembali semua usahanya untuk meraih hati Arvin.
Apakah dia bisa? Apakah harusnya sekarang dia berhenti?
Dia menghabiskan waktu 30 menit ditoilet, menangis karena merasa sangat asing dengan Arvin yang sekarang. Rivanno terus menelepon dan mengiriminya pesan. Menanyakan dimana dan apa yang sedang dia lakukan. Akhirnya Keysa mengangkat telepon tersebut dan menceritakan apa yang terjadi tadi dan bagaimana perasaannya sekarang.
Keysa menunggu Arvin menyelesaikan dengan bagian Konsumer, seperti yang sudah dia duga Arvin keluar paling belakang. Berbincang dengan Pak Yatmo dari Product Management sebentar, sebelum ditinggal sendirian berjalan dilorong menuju ruangannya.
Mereka saling bertatapan dan berpapasan, tapi Arvin sama sekali tidak menyapanya. Dia terus berjalan melewati Keysa yang sejak tadi menunggunya selesai meeting. Bahkan seulas senyum saja tidak Arvin berikan untuknya. Frustrasi dan sedih melanda hati Keysa. Arvin berubah.
“Arvin!” Ucap Keysa memanggilnya.
Arvin tidak berbalik.
“Vin, aku mau ngomong sama kamu.”
Arvin terus berjalan menjauhinya.
Dia sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya karena sikap dingin Arvin terhadapnya. Dia merindukan Arvin, menginginkannya lebih dari apapun. Mereka sudah lama bersama, selalu sama-sama. Tetapi kenapa mereka harus berakhir seperti ini hanya karena Arvin melakukan kesalahan sattu malam dengan perempuan menyedihkan itu?
Keysa selalu rela berkorban untuk Arvin. Begitupun juga sebaliknya. Dia sering mengunjungi Arvin di Australia hampir setiap tahun, menemaninya dalam keadaan sulit, ada disampingnya saat ayah dan ibu tirinya itu selalu menekan dan menuntutnya. Harusnya Keysa yang sekarang berada disamping Arvin. Harusnya Arvin melakukan itu juga pada Keysa. Dia tidak keberatan harus dihamili oleh Arvin. Memang pikiran tidak waras, tapi perasaannya sudah tidak bisa beralih lagi pada siapapun.
Arvin melihat air mata Keysa yang berjatuhan tak terkendali. Matanya memerah dan sembab. Dia berusaha mengusapnya dengan telapak tangannya berulang-ulang. Sepanjang hidupnya, Arvin sudah terbiasa melihat Keysa menangis seperti ini. Meminta dan memohon perhatiannya. Dia selalu luluh. Tapi anehnya sekarang hanya kebingungan dan keengganan yang berada dihatinya. Sudah cukup. Semua perasaannya sudah mati pada cinta masa mudanya ini.
“Kamu tahu sekarang ini dimana?” Tanya Arvin dingin.
“Aku tahu. Bisa gak sih kamu ngomong yang lembut sama aku? Gak usah kayak gini, Vin. Kamu memperlakukan aku kayak aku ngelakuin hal-hal keji ke kamu.”
“Emang aku ngomong sambil teriak sama kamu? Ngga, kan?”
__ADS_1
“Aku mau kamu ngomong sama aku kayak biasa, Vin. Kayak yang kamu lakuin dulu.”
“Keysa, kita udah gak kayak dulu. Udah aku bilang berulang kali, kita udah selesai. Aku ngomong ke kamu kayak tadi pagi karena kesalahan kamu yang gak profesional kerja. Masalahnya sekarang dimana?”
Keysa menggenggam tangan Arvin dan menuntunnya ke ruang meeting yang tadi dia tinggalkan. Arvin seketika itu menghempaskan pegangan Keysa.
“Kamu gak mau ada yang tahu soal hubungan kita kan, Vin? Aku mau ngomong sama kamu. Please dengerin aku.”
Arvin terpaksa mengikutinya masuk ke ruangan meeting yang tampak lengang. Merek berdiri di dekat pintu saling berhadapan.
“Apa? Mau bahas apa lagi yang menurut kamu kurang jelas? Lama-lama kamu bikin aku jengkel.” Ucap Arvin tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.
Keysa diam menunduk, melihat kearah sepatunya dan memainkan jarinya dengan gusar. Perasaannya campur aduk sekarang. Sedih, takut, kecewa, dan patah hati. Semarah apapun Arvin, dia tidak pernah bersikap sedingin ini padanya.
“Cepetan mau ngomong apa? Aku gak ada waktu banyak.” Arvin mulai kehilangan kesabaran melihat Keysa terus bungkam.
Keysa melangkahkan kakinya mendekati Arvin, mendongak dan mengulurkan kedua tangannya dengan cepat ke leher Arvin kemudian mendaratkan ciumannya dibibir indah laki-laki itu. Keysa bisa merasakan kembali kehangatan dan manisnya kecupan Arvin.
Padahal mereka dulu sering melakukannya. Keysa terus mengingat bagaimana lidah Arvin bergerak menyentuh mulutnya, memagut perasaan berulang-ulang kemudian tertawa setelahnya. Keysa adalah ciuman pertama untuk Arvin, begitupun sebaliknya. Dan seharusnya juga menjadi yang terakhir juga selamanya.
Arvin kaget dengan kecupan tiba-tiba itu, dan mendorong Keysa hingga terjatuh dilantai. Membuat gadis itu meringis kesakitan dan wajahnya yang nyaris menangis. Tapi Arvin tidak peduli. Malah kebencian yang memuncak dikepalanya.
“LO BISA BERHENTI KAYAK GINI GAK SIH? GUE UDAH BILANG KITA SELASAI! JANGAN MAKSA GUE LAGI. GUE GAK AKAN BALIKAN LAGI SAMA LO, BA* *SAT!” Teriak Arvin kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan amarah yang bergolak.
Keysa kaget dengan kata-kata kasar yang Arvin ucapkan padanya. Juga penolakannya yang sangat kentara. Air mata turun dan dia tersedu sambil terduduk dilantai yang dingin. Dia pikir dengan sentuhannya Arvin akan kembali. Dia akan tergoda seperti halnya saat Arvin menyentuh Nara. Tapi yang dia lihat hanya Arvin yang murka.
‘Seret ke ruang meeting kosong terus cium dia. Kalau dikasih sentuhan, dia pasti luluh. Si Arvin kan sa ngean.’ Ucapan Rivanno terngiang dikepalanya.
Usaha apapun sudah gagal dilakukan oleh Keysa.
__ADS_1
Sementara diantara kursi kosong dan meja meeting disana, Rivanno tidak bisa menahan tawa. Berusaha agar suaranya tak terdengar saat Keysa terus tersedu sedan meratapi dirinya yang patah hati.
“Orang bucin emang bodoh. Mau aja disuruh kayak gini.” Ucapnya diantara tawa.